
Setelah tau kalau dia diisengin oleh Fadil, Ulil yang merasa cukup kesal, dia jadi cemberut. Namun, wajah Ulil yang seperti itu, malah membuat Fadil semakin terkekeh.
'' Tau kayak gitu, saya gak jadi nanya mas! Nyesel saya, nanyain itu sama mas Fadil.'' gerutu Ulil dengan muka cemberut.
'' Hhh.. maaf Lil! aku cuma bercanda sama ente. Soalnya, aku kangen liat muka lucu ente.'' ucap Fadil masih terkekeh.
Meskipun merasa kesal, namun Ulil yang memang hafal betul sifat Fadil, dia tidak marah kepadanya. Setelah beberapa saat, tawa Fadil, Nadia, dan juga Tiarapun berhenti. Ulil yang masih penasaran dengan kemunculan Fadil dan Alan, diapun kembali bertanya. Namun dia tidak lagi ingin mengetahui jawaban dari pertanyaannya yang tadi.
'' Mas Fadil. Sebenarnya, bagaimana mas Fadil dan mas Alan bisa kembali lagi ke dunia ini. Bukankah jasad mas Fadil sudah dikuburkan. Juga ruh mas Alan juga sudah pergi Ke alam lain?'' tanya Ulil merasa penasaran, begitu juga dengan Tiara dan juga Nadia.
Fadil lalu menceritakan kepada Ulil, Tiara dan Nadia. Sebenarnya, setiap hari dia berdoa, meminta kepada yang Maha Kuasa, supaya dia dapat menyempurnakan hidupnya dengan jasad miliknya sendiri. Bagaimanapun juga, dia tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya selalu berada pada jasad milik orang lain.
Sedangkan untuk ruh Alan yang sekarang ini berada kembali pada jasad miliknya, itu semua juga atas permohonan Fadil. Dia kembali membuat permohonan, agar untuk terakhir kalinya, Alan bisa bertemu dengan keluarganya. Rupanya, doa Fadil terkabulkan. Meskipun dia harus kembali mengorbankan umurnya sendiri.
'' Jadi, kak Alan akan kembali meninggalkan kami semua?'' tanya Nadia kepada Fadil.
'' Kamu benar Nadia. Takdir baginya memang sudah tidak bisa lagi berada di dunia ini.''
'' Tengah malam nanti, ruhnya akan kembali ketempat dimana seharusnya dia berada. Sedangkan jasadnya, akan berada pada tempat dimana jasadku dulu dikuburkan.'' ucap Fadil sambil menatap jauh ke depan.
Mendengar perkataan Fadil, air mata Nadia tiba tiba mengalir begitu derasnya. Dia terkejut dengan penuturan Fadil tersebut. Nadia mengira kalau Alan kakaknya, benar-benar akan kembali hidup bersama mereka. Namun ternyata, kemunculan Alan hanya sekejap mata.
Sambil menangis, Nadia lalu berlari masuk kedalam hotel. Melihat Nadia seperti itu, Tiara jadi ikut panik. Dia ingin mengejar Nadia, namun Fadil mengatakan kepada Tiara, agar tidak perlu mengkhawatirkannya.
'' Tiara, biarkan saja dia. Nadia tidak apa-apa kok.'' ujar Fadil, mencegah Tiara yang ingin mengejar Nadia.
Sepeninggal Nadia yang pergi masuk ke dalam hotel, Fadil, Ulil, dan juga Tiara, mereka kembali melanjutkan obrolan mereka di taman depan hotel tersebut. Baik Ulil maupun Tiara, mereka beberapa kali bertanya sesuatu kepada Fadil. Apa yang diceritakan oleh Fadil, begitu banyak hal-hal yang hampir tidak masuk di akal. Namun, begitulah kuasa sang Maha Pencipta. Mungkin itulah yang disebut dengan keajaiban.
'' Ma, kak Alan ma! kak Alan! huhu..'' seru Nadia langsung memeluk Sintya, sambil berlinang air mata.
'' Nadia, kamu kenapa Nadia? kok tiba-tiba kamu nangis gitu! Mana Fadil dan yang lainnya?'' tanya Sintya yang keheranan melihat Nadia.
'' Kak Alan ma! kak Alan mau pergi lagi. Dia akan meninggalkan kita lagi untuk selama lamanya.'' ujar Nadia, tidak menjawab pertanyaan Sintya.
'' Apa maksudmu Nadia? Siapa yang mengatakan itu padamu?'' tanya Arya Wijaya yang berada didekat mereka.
'' Kak Fadil kek! Dia yang mengatakan, kalau tengah malam nanti, kak Alan akan pergi meninggalkan kita lagi.'' jawab Nadia masih sesenggukan.
Arya Wijaya, Sintya, Andika, dan semua orang yang berada ditempat tersebut menjadi terkejut. Mereka lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah Alan. Dalam hati mereka bertanya-tanya, benarkah apa yang dikatakan oleh Fadil melalui Nadia. Ingin sekali rasanya mereka menanyakan hal itu langsung kepada Alan, namun ada rasa tidak tega kepadanya.
'' Itu semua memang benar ma, pa, kakek! Alan memang tidak bisa berlama lama disini. Kehadiran Alan disini sekarang, hanyalah untuk menyempurnakan kembalinya Alan ke alam yang seharusnya Alan berada.''
'' Tolong kalian jangan bersedih! ikhlaskan kepergian Alan dengan lapang dada. Dan jangan bebani kepergian Alan, dengan tangisan kalian yang berlebihan.'' ujar Alan memandangi Sintya, Andika, Nadia dan juga kakeknya Arya Wijaya.
__ADS_1
'' Alan, tidak bisakah kamu tinggal bersama kami lebih lama lagi?'' tanya Sintya sambil memohon.
'' Maaf ma, Alan tidak bisa! Kesempatan yang diberikan kepada Alan, hanya sebatas tengah malam nanti. Meskipun Alan ingin, tapi Alan tidak mungkin melawan kehendak-Nya.''
'' Bahkan, andai bukan karena mas Fadil, Alan juga tidak mungkin bisa bertemu kalian lagi disini. Tapi kalian jangan khawatir. Masih ada kesempatan untuk kita semua bertemu di kehidupan yang sebenarnya.''
'' Tetaplah kalian menjadi orang yang baik. Taat dan patuhlah kepada Allah. Semoga disana, kita bisa berkumpul dan bersama lagi.'' ucap Alan sembari memandang kearah mereka.
...----------------...
Tanpa terasa, waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam. Fadil, Tiara, dan juga Ulil sudah kembali kedalam hotel, tidak lama setelah Alan menjelaskan tentang waktu yang dimilikinya bersama mereka. Malam itu, semua keluarga Arya Wijaya dan juga keluarga Chan, serta George Rooney dan istrinya, mereka tetap berkumpul bersama disana.
Sepertinya, mereka ingin menghabiskan waktu bersama Alan, sekaligus ingin mengucapkan salam perpisahan kepadanya. Utamanya lagi, semua orang dari keluarga Chan yang dulu ikut mencoba untuk melenyapkan Alan. Mereka benar-benar menyatakan penyesalan mereka, atas apa yang telah mereka lakukan terhadap Alan.
'' Ma, pa, kakek! Sudah waktunya bagi Alan untuk pergi. Jaga diri kalian baik-baik. Jangan lupa, kirimkan do'a untuk Alan.''
'' Nadia, jadilah gadis yang baik. Jaga mama, papa, dan kakek. Bila kamu menikah nanti, taat dan patuhlah kepada suamimu. Dan bila Allah menitipkan kepadamu anak anak, bimbing dan ajari mereka ilmu agama. Jangan biarkan mereka seperti kita!''
Mendengar kata-kata dari Alan tersebut, Nadia tidak bisa membendung air matanya. Dia terisak dan ingin memeluk Alan untuk terakhir kalinya. Namun dia teringat kata-kata Fadil. Bahwa dia dan Alan bukan mahram. Hingga diapun akhirnya menjatuhkan diri dalam pelukan Sintya.
Alan kemudian pergi untuk mengambil air wudhu, lalu sholat dua rakaat dikamar hotel tersebut. Usai sholat, dia kembali ke ruangan dimana semuanya masih berkumpul disana.
'' Mas Fadil! Seperti permintaanku yang dulu. Meskipun mas Fadil tidak mau jadi pewaris keluarga kami, tapi tolong! Tetaplah menjadi keluarga ini. Tetaplah menganggap keluarga ini sebagai keluarga mas Fadil sendiri.''
Alan lalu berjalan mendekati Fadil. Fadil tersenyum kepada Alan. Mereka lalu saling berpelukan. Semua mata tertuju kepada mereka berdua. Saat Alan dan Fadil sedang berdekatan seperti itu, mereka hampir tidak bisa dibedakan. Seperti kata pepatah: " bagai pinang dibelah dua", itulah yang terlihat dalam pandangan semua orang ditempat tersebut.
'' Insyaallah Alan. Saya akan melakukan seperti yang kamu inginkan, tapi tentunya hanya sebatas kemampuanku.'' ujar Fadil setelah mereka saling melepaskan pelukan mereka.
Saat Fadil dan Alan saling melepaskan pelukan mereka, waktu menunjukkan tepat tengah malam. Tiba-tiba, sebuah cahaya dari langit, turun dan menembus kedalam ruangan tersebut. Cahaya itu lalu menyentuh tubuh Alan. Saat cahaya itu menyentuh tubuh Alan, tiba-tiba tubuh Alan berubah menjadi cahaya. Cahaya yang turun dari langit tersebut, kemudian membawa pergi tubuh Alan yang telah berubah menjadi cahaya.
Sesampainya cahaya itu berada di angkasa, cahaya yang tadi merupakan tubuh Alan tersebut, tiba tiba membelah menjadi dua. Salah satu dari cahaya itu kemudian melesat kearah dimana jasad Fadil dikuburkan. Sedangkan cahaya yang satunya, terus naik bersama cahaya yang turun dari langit tersebut hingga hilang dari pandangan mata.
Bersamaan dengan hilangnya cahaya tersebut, suasana diruangan itu menjadi sunyi. Hanya terdengar isak tangis dari Sintya dan Nadia dan juga beberapa wanita yang ada di ruangan tersebut. Bagi Sintya dan keluarganya, mereka memang pernah kehilangan Alan saat pertukaran nyawa Alan dengan Fadil. Namun, mereka masih tetap bisa melihat dan bersama tubuh Alan. Tapi kali ini, mereka bukan hanya kehilangan jiwa Alan, tapi juga dengan jasad Alan juga.
Maka dari itu, Sintya, Nadia, Andika dan Arya Wijaya, mereka benar-benar merasakan kehilangan yang cukup mendalam dihati mereka atas kepergian Alan kali ini. Arya Wijaya dan Andika terduduk lemas di kursinya. Sementara Sintya masih terisak sambil memeluk Nadia yang juga sedang terisak dalam pangkuannya.
'' Ma, pa, kakek, Nadia, sudahlah! Ingat pesan Alan tadi kan? kalian tidak boleh terlalu sedih dengan kepergiannya. Alan sudah tenang disana, jangan membuat dia menjadi berat karena kesedihan kalian.''
'' Sebaiknya sekarang kita istirahat. Bukankah besok kita harus melakukan hal yang lain yang juga tidak kalah penting.'' ucap Fadil mengingatkan Arya Wijaya dan yang lainnya.
Setelah dibujuk dan ditenangkan oleh Fadil, Sintya dan yang lainnya akhirnya kembali ke kamar mereka untuk beristirahat. Malam itu, Arya Wijaya dan keluarganya merasakan dua hal yang berlawanan sekaligus. Yaitu: bahagia karena kembali bertemu dengan Alan, sekaligus bersedih karena harus ditinggalkan olehnya untuk selama lamanya.
Esok paginya, Arya Wijaya tampak tidak bersemangat. Begitu juga dengan Sintya dan Andika. Mereka masih merasakan kehilangan atas kepergian Alan. Di tambah lagi, Fadil juga telah membuat satu permintaan kepada mereka untuk tidak dijadikan penerus keluarga ini. Satu-satunya harapan bagi Arya Wijaya sekarang hanyalah kepada Nadia. Tapi, selain Nadia hanyalah seorang perempuan, dia juga masih terlalu muda.
__ADS_1
'' Kek.. percayalah! saya akan membantu Nadia dalam mengurus semua ini. Saya akan tetap membantu kakek, seperti saat saya masih berada didalam tubuh Alan.''
'' Saya hanya tidak ingin, kakek menjadikan saya penerus keluarga ini. Karena selain saya tidak punya hak, saya juga tidak terbiasa dengan kehidupan mewah seperti kehidupan keluarga kalian. Saya terlahir dari keluarga sederhana, dan menyukai kehidupan saya yang seperti ini.''
'' Tapi Fadil, kakek ini sudah tua. Kakek sudah ingin beristirahat dan tidak lagi sibuk dengan urusan pekerjaan-pekerjaan ini. Sementara kamu sendiri tau. Nadia hanya seorang perempuan dan masih terlalu muda untuk menjadi penerus kakek.'' ucap Arya Wijaya dengan lesu.
'' Kek, percayalah! Meskipun Nadia seorang perempuan dan masih muda, tapi tidak berarti dia tidak punya kemampuan.''
'' Apa kakek lupa, bukannya nenek juga seorang perempuan! Tapi dia mampu mendirikan usaha bersama kakek hingga seperti ini bukan?''
'' Kek! Menurut saya, Nadia mempunyai kemampuan seperti nenek, walaupun dia masih muda. Hanya saja, dia perlu bimbingan dan orang yang selalu bisa memberinya support supaya dia bisa mengembangkan bakat dan kemampuannya.''
Meskipun Fadil belum pernah bertemu dengan Susi Wijaya dan tidak begitu mengenal Nadia, namun dengan kemampuan batin yang dimilikinya, Fadil bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa. Kemampuan yang dimilikinya tersebut, memang sudah menjadi bawaan diri Fadil sejak lahir.
'' Tapi kek, Nadia masih mau melanjutkan sekolah dulu.'' ujar Nadia.
'' Nadia, kamu kan bisa mengurusnya sambil kuliah! Apalagi, mama, papa, kakek dan juga saya masih bisa membantu kamu dalam mengurus semuanya.'' sahut Fadil, menjawab Nadia.
Setelah dibujuk oleh Fadil, Nadia akhirnya mau menerima tawaran untuk menjadi penerus keluarga Arya Wijaya. Dalam waktu dekat ini, Nadia akan menggantikan posisi Arya Wijaya, memimpin perusahaan milik keluarganya. Dengan support dari Fadil, kini Arya Wijaya dan yang lainnya, menjadi lebih memiliki semangat kembali.
'' Sekarang, mari kita bersiap-siap untuk pergi mengurus masalah keluarga Chan.'' ajak Fadil kepada mereka.
Tak berapa lama kemudian, merekapun segera pergi ke kantor asosiasi persatuan pengusaha yang ada di negara tersebut. Bersama dengan Tony Chan, Lian Chan, George Rooney dan Yuki Yamato, Arya Wijaya dan keluarganya pergi kekantor itu. Disana, Mei Ling dan keluarga Bao juga sudah hadir ditempat tersebut.
Namun, hasil dari pertemuan tersebut memutuskan, kalau semua aset yang ingin diambil oleh keluarga Bao, tetap akan menjadi milik keluarga Chan. Keluarga Bao juga harus mengembalikan dokumen-dokumen penting yang diambil dari keluarga chan. Jika tidak, maka seluruh asosiasi pengusaha besar diseluruh dunia, akan menghancurkan seluruh keluarga Bao.
Mendapat ancaman dari asosiasi tersebut, Mei Ling dan seluruh keluarga Bao, mereka tidak bisa melawan. Bagaimanapun juga, mereka hanyalah pengusaha yang tidak memiliki nilai sama sekali, jika dibandingkan dengan para pengusaha tersebut. Bahkan, membandingkannya dengan keluarga Chan saja, mereka masih jauh dari kata sebanding.
Andai bukan karena Mei Ling yang berkhianat dan membantu keluarga Bao, mereka juga tidak mungkin bisa mempunyai kekuatan untuk menggulingkan keluarga Chan. Dan kini, setelah pihak asosiasi memutuskan hal tersebut, keluarga Bao bersiap mengalami kebangkrutan dalam segala hal.
'' Tony, tolong maafkan aku! Aku memang khilaf. Tapi, ijinkan aku kembali ke keluarga Chan!'' rengek Mei Ling setelah akhirnya keluarga yang bao yang dia bantu mengalami kehancuran total.
'' Hhh.. Dasar nenek peot! Bukankah kamu sendiri yang mengatakan, kalau aku akan menyesal karena mengusirmu dari keluarga Chan.''
'' Sekarang, kamu sendiri yang menyesal bukan! kamu menyesal karena telah mengkhianati keluarga kami!'' ujar Tony Chan, sambil melepaskan tangan Mei Ling yang memegang tangan Tony.
'' Tidak tony! Aku memang salah, dan aku sangat menyesal. Oliv.. Tolong bantu ibumu ini! Bujuklah papamu, agar bisa memaafkan dan menerima mamamu kembali bersamanya.'' rayu Mei Ling kepada Olivia, yang lebih memilih bergabung bersama keluarga Chan daripada bersama ayah kandungnya dari keluarga Bao.
'' Maaf ma! mamalah yang telah membuat masalah dengan mengkhianati keluarga ini.''
'' Oliv sendiri malu! karena Oliv adalah keturunan keluarga Bao. Oliv tidak mungkin membantu mama dan juga Thian, untuk kembali ke keluarga ini!'' jawab Olivia yang menolak permintaan ibunya Mei Ling dan juga Thian anaknya.
Saat Mei Ling dan Tian diusir oleh Tony dari keluarga Chan, Olivia dan suaminya tidak mau mengikuti Mei Ling. Dia lebih memilih untuk bersama Tony Chan dan keluarga Chan lainnya, meskipun dia tahu kalau Tony Chan bukanlah ayah kandungnya. Tony Chan yang memang awalnya mengira, kalau Olivia itu adalah anaknya, dia juga tidak berkeberatan kalau Olivia tetap ikut bersamanya dalam keluarga Chan. Meskipun dia sendiri kini mengetahui, kalau Olivia bukanlah darah dagingnya.
__ADS_1
...****************...