
Beberapa jam kemudian. Menjelang waktu Maghrib, Fadil dan Tiara sampai di pesantren. Pada waktu Dzuhur dan Ashar tadi, Fadil menghentikan mobilnya di rest area, untuk melaksanakan sholat, baik itu saat sholat Dzuhur maupun saat sholat Ashar.
Sesampainya didepan pintu gerbang pesantren, penjaga pintu gerbang langsung membuka pintu tersebut, manakala mengetahui bahwa yang membawa mobil tersebut adalah Alan. ( Selain Abah, Ummi, Naila dan keluarga Zul, mereka belum tahu kalau sekarang Alan adalah Fadil). Fadil lalu membawa mobilnya masuk kedalam pesantren. Disana telah disediakan tempat parkir mobil dan motor untuk para tamu.
Sejak kematian pak lurah dan anaknya beberapa bulan yang lalu, tanah milik Abah yang ada disekitar pesantren yang dicaplok oleh pak lurah, kini sudah kembali menjadi milik Abah. Dengan uang yang diberikan oleh Alan pada waktu itu juga, Abah telah memindahkan pagar pembatas lokasi pesantren itu, sehingga lokasi pesantren tersebut semakin luas.
Beberapa bangunan baru dan beberapa bangunan lama yang dulu belum rampung, kini sudah bisa digunakan. Dengan bantuan Alan juga, penataan ruang untuk lokasi bangunan baru di area pesantren tersebut dapat difungsikan secara optimal, meskipun tanpa merubah letak bangunan yang lama.
Bahkan, hanya dengan sedikit merubah fungsinya saja, semuanya tampak lebih teratur. Sehingga, suasana di pesantren itu terasa begitu nyaman dan menyenangkan. Dan tentunya, itu akan membuat para santri yang belajar disana semakin betah dalam menimba ilmu di pesantren milik Abah Ubaid ini.
Saat Fadil akan memarkirkan mobilnya, Zul yang mengenali mobil yang dibawa oleh Fadil, segera menghampiri mobil tersebut. Dia lalu menyapa Fadil.
'' Assalamualaikum.. '' ucap Fadil mendahului Zul yang akan mengucapkan salam kepadanya.
Fadil dan Tiara segera turun dari mobil.
'' Wa'alaikumsalaam warahmatullah..'' jawab Zul, lalu tersenyum kepada Fadil dan Tiara.
'' Alhamdulillah.. Akhirnya, kang Fadil dan mbak Tiara sampai juga disini. Abah, Ummi, dan juga Naila selalu menanyakan kalian lho kang!''
'' Iya kang Zul. Alhamdulillah, akhirnya kita ketemu lagi disini.'' sahut Fadil.
'' Maaf kang Zul, kami datangnya agak terlambat. Soalnya, lagi banyak hal yang harus kami lakukan. Jadi gak bisa bantu-bantu kang Zul dan Abah disini.'' lanjutnya.
'' Ah gak papa kang. Kang Fadil bisa datang kesini aja, kami sudah sangat senang. Lagi pula, pak Andre dan beberapa anak buahnya juga sudah banyak membantu kami disini.
'' Oh iya, mobilnya langsung di parkir disana aja kang. Terus kang Fadil kalau mau mandi, mandi dulu! dan usai sholat magrib nanti, kita kumpul di kediaman Abah. Soalnya Abah sudah dari tadi nanyain kang Fadil terus.''
'' Makasih kang Zul, Insyaallah. Eh iya kang Zul, bisa minta tolong panggilkan teman-teman tidak? soalnya di bagasi, ada beberapa barang untuk Abah.'' ujar Fadil.
'' Oke kang, sebentar!'' jawab Zul.
Zulkifli lalu memanggil dua orang teman satu kamarnya yang secara kebetulan, mereka sedang berjalan menuju masjid. Pada saat itu, Tiara juga sudah turun dari mobil. Dia lalu mengambil barang bawaannya dan segera pergi menuju asrama putri.
'' Assalamualaikum kang. Mumpung masih berada di bulan Syawal, kita lebaran dulu. Minal Aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin.'' ucap salah satu teman sekamar mereka.
'' Iya kang Alan, Ana juga. Minal Aidin wal Faidzin.'' sahut teman yang satunya.
'' Wa'alaikumsalaam warahmatullah.. sama-sama kang, saya juga minta maaf kalau ada salah kata ataupun tindakan saya yang kurang baik sama antum berdua.''
'' Waah.. ternyata, nggak disangka ya? rupanya kang Alan ini, selain tampan, genius, ternyata tajir juga!'' ucapnya setelah melihat mobil milik yang dibawa Fadil.
'' Kalau ana sih sudah menebak, soalnya kalau ana perhatikan, aura kang Alan ini memang berbeda.''
'' Haish ente kebiasaan dodool.., sok tau soal aura segala. Yang ada tuh, aurat ente bentar lagi keliatan!'' ujarnya sambil menunjukkan sarung temannya yang mulai kedodoran.
'' MasyaAllah, hampir saja.'' ucapnya sambil memegang sarungnya, lalu pergi disebalik mobil Fadil dan segera membenahinya.
__ADS_1
Fadil, Zul, dan juga temannya yang tadi berbicara dengannya terkekeh. Untung saja temannya tersebut mengingatkan. Kalau tidak, mungkin dia akan merasa malu seumur hidup. Setelah membenahi sarungnya, diapun kembali untuk mengambil barang yang ada dimobil Fadil, lalu membawanya ke tempat kediaman Abah bersama Zul dan temannya.
Setelah semua barang itu diturunkan dan dibawa ketempat kediaman Abah, Fadil lalu membawa mobilnya ketempat parkir yang tadi ditunjuk oleh Zul. Dia lalu mengambil barang bawaannya sendiri dan juga beberapa oleh-oleh untuk teman-teman sekamarnya.
Sementara itu, Tiara yang sudah duluan turun dan langsung menuju kamar asrama putri, dia juga langsung disambut oleh Naila dan Neng Geulis sepupunya yang kebetulan akan keluar dari kamar tersebut.
'' Assalamualaikum.'' sapa Tiara.
'' Wa'alaikumsalaam..'' jawab Naila dan Neng Geulis bersamaan.
Mereka langsung berpelukan dengan begitu gembira. Melihat kedatangan Tiara, teman sekamar Tiara lainnya juga ikut menyalaminya. Naila langsung menarik Tiara ke sudut ruangan, dimana tempat tersebut merupakan tempat tidur mereka.
'' Iih..jahat kamu Tiara. Aku kira kamu tidak akan datang lagi ke pesantren ini.'' ujar Naila sambil mencubit kedua pipi Tiara.
'' Aduh! mbak Naila ini, sakit tau!" ujar Tiara setelah melepaskan kedua tangan Naila dari pipinya.
'' Habis, kamu nyebelin sih! mau nikah gak bilang-bilang.'' ujar Naila.
'' Hah.. Teteh udah mau nikah! Beneran teh?'' sahut Neng Geulis, dengan mata melotot dan mulut menganga.
'' Sama siapa teh? orang mana? Ap..??''
Belum lagi Neng Geulis menyelesaikan pertanyaan-pertanyaannya, Tiara sudah membungkam mulut Neng Geulis yang suka mrepet tersebut. Naila terkekeh melihat Neng Geulis yang meronta-ronta akibat mulutnya dibungkam oleh Tiara.
'' Kamu sih Neng! suka banget mrepet seperti itu.'' ujar Naila sambil terkekeh.
'' Mbak Naila! apa mbak tau calon suami teteh? punya fotonya nggak? tolong kasih tau Neng doong! please.'' lanjut Neng Geulis kini meminta kepada Naila.
'' Ya tau donng..! tapi, tunggu besok ajalah! Neng juga pasti bakalan tau siapa dan seperti apa calon suaminya mbak Tiara.'' jawab Naila yang melihat Tiara memberi isyarat kepadanya agar tidak mengatakan apa-apa kepada Neng Geulis.
'' Jadi, calonnya teteh ada disini? apa dia santri disini juga?'' Neng Geulis masih terus bertanya.
'' Udah deh Neng..!, tunggu besok aja!'' ujar Naila tak ingin menjawab pertanyaan dari Neng Geulis yang terus-menerus bertanya itu.
Disaat Neng Geulis masih terus mencoba mencari tahu informasi tentang calon suami Tiara, terdengar suara adzan Maghrib berkumandang. Tiara yang ingin membersihkan diri terlebih dahulu, dia segera menyuruh Neng Geulis untuk segera pergi ke musholla.
'' Tuh Neng, udah adzan tuh! udah pergi sono-sono! aku juga mau mandi dulu nih!'' ujar Tiara sambil mendorong tubuh Neng Geulis.
'' Jadi teteh belum mandi? ih, pantesan bau!'' ucap Neng Geulis sambil menutupi hidungnya.
Mendengar Neng Geulis berkata seperti itu, dan juga melihat dia menutupi hidungnya, Tiara lalu mengendus-endus tubuhnya. Namun dia tidak mencium bau apapun, selain bau harum aroma parfum yang dipakainya. Dia lalu bertanya kepada Naila:
'' Ah gak bau tuh! emangnya iya mbak Naila?'' tanya Tiara penasaran karena Neng Geulis terus menutupi hidungnya, sambil mengipas-ngipaskan tangannya.
'' Emh.. iya bau mbak, bau banget nih!'' ujar Naila setelah ikut mengendus tubuh Tiara, lalu segera ikut menutupi hidungnya.
Melihat Naila juga ikut menutupi hidungnya, Tiara lalu kembali mengendus tubuhnya. Namun, tetap saja dia tidak mencium bau tidak sedap, seperti yang dikatakan oleh Neng Geulis dan Naila.
__ADS_1
'' Mana? bau apaan sih! orang begini wanginya kok!'' ujar Tiara sambil terus mengendus tubuhnya.
'' Beneran kok mbak, kamu bau banget! bau itu, emm.. Bau Cinta! hhh.'' ujar Naila terkekeh sambil segera berjalan keluar kamar bersama Neng Geulis, yang juga terkekeh setelah berhasil mengerjai Tiara.
'' Huu.. sialan kalian ini. Kirain bau apa? awas ya kalian!'' ujar Tiara dengan muka kesal dan mengacungkan kepalan tangannya, setelah tau dia diisengin oleh mereka berdua.
'' Eh eh tunggu-tunggu! mbak Tiara, sekarang udah sore. Mandinya pakai air hangat ya, jangan pake air dingin, itu tidak baik buat kesehatan.'' ujar Naila saat dia sudah berada diluar pintu kamar tersebut.
'' Iya nyai Ratu..'' jawab Tiara.
'' Hhh.. Nyai Ratu. Ratu apaan?''
'' Ya mbak Naila kan besok mau nikah! berarti besok bakalan jadi Ratu sehari.'' ucap Tiara sambil senyum-senyum kepada Naila.
'' Cie-ciee.. yang besok mau kawin! aasyik asyiik, kaawin kawiiin, kaawp.''
Neng Geulis yang baru ingat kalau besok pagi Naila akan menikah, dia lalu berkata sambil berjalan. Namun, belum usai dia berkata, Naila langsung membekap mulut Neng Geulis, sehingga dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
...----------------...
Waktu segera berlalu. Pagi itu, usai sholat subuh. Semua santri baik laki-laki maupun santri perempuan, mereka semua sibuk di posisinya masing-masing. Sebagai panitia penyelenggara acara pernikahan putri kiyai mereka, tentunya mereka tidak ingin ada kesalahan ataupun kekurangan yang mencolok.
Meskipun Abah hanya ingin agar acara itu diadakan dengan sederhana, namun berkat kreativitas para santri, dan juga bantuan dari Andre atas permintaan Fadil, semuanya menjadi terlihat begitu meriah. Berbagai aksesoris menghiasi panggung pelaminan dan tenda para tamu.
Fadil yang juga sudah bangun dan sholat subuh berjamaah di Masjid bersama yang lain, diapun tampak sibuk hilir mudik membantu yang lain disana. Sementara Tiara dan Neng Geulis, mereka diminta oleh Naila untuk mendampinginya dalam mempersiapkan segala keperluan dirinya.
Sembari menunggu petugas P3N yang akan mencatat pernikahan Zul dan Naila, dan juga para tamu yang akan datang menyaksikan acara ijab qobul mereka, para santri mengisinya dengan melantunkan shalawat dan sulukan, serta nasyid diiringi dengan alat-alat Hadroh dari group mereka sendiri.
Rencananya, ijab qobul antara Zulkifli dan Naila ini, akan dilaksanakan di masjid. Namun sebelumnya, kedua calon pengantin ini akan di jemput dan di arak dari asrama mereka masing-masing.
Zul akan di arak dari asrama laki-laki dengan diiringi oleh seluruh santri laki-laki. Sedangkan Naila, dia akan di arak dari asrama putri diiringi oleh seluruh santri perempuan. Setelah itu, mereka nanti akan bertemu di halaman masjid dan bergabung bersama keluarganya masing-masing dan melakukan ijab qobul disana. Barulah kemudian, mereka akan di rias dan ditempatkan dipanggung pelaminan.
Karena dari pihak keluarga Zul hanya ada kedua orang tuanya dan juga adik-adiknya, maka sesuai kesepakatan tadi malam di kediaman Abah, Fadil dan beberapa santri senior akan menemani Zul sebagai wakil keluarganya. Bahkan, Fadil diminta untuk memberi sambutan mewakili pihak keluarga Zul nantinya.
Walaupun Fadil masih sangat muda, namun dia cukup berpengalaman dalam hal tersebut. Sejak masih remaja, dia memang sangat aktif dalam berbagai kegiatan. Sehingga, dia tidak akan merasa demam panggung, saat berbicara didepan banyak orang.
Jam 7.30. Ketika petugas yang ditunggu telah datang, segera kedua calon pengantin itu dijemput dan di arak dari asrama mereka masing-masing. Dengan iringan musik Hadroh, keduanya diarak dan bertemu keluarganya di halaman masjid itu, lalu masuk kedalam masjid dan melaksanakan ijab qobul.
'' SAAAAHH...!''
Gemuruh suara santri yang ikut menjawab, ketika Abah Ubaid menanyakan keabsahan dari ijab qobul Zul dan Naila. Meskipun pertanyaan itu ditujukan kepada kedua saksi, namun para santri tersebut juga secara serempak ikut menjawab. Hal itu membuat petugas pencatat sipil yang hadir disana, menjadi terkekeh karenanya. Bahkan, para santri itupun ikut tertawa setelahnya.
Usai acara ijab qobul tersebut, kedua pengantin itu langsung dibawa ke kediaman Abah untuk di rias. Saat ijab qobul tadi, Fadil dan Tiara yang hadir disana mendampingi Zul dan Naila, mereka saling berpandangan.
Dalam hayalan keduanya, mereka seakan sedang dalam posisi seperti Zul dan Naila. Hal itu membuat keduanya tersenyum malu-malu. Tanpa mereka sadari, Neng Geulis memperhatikan tingkah Tiara tersebut, dan juga ikut memperhatikan Fadil yang juga bersikap seperti Tiara.
...****************...
__ADS_1