
Bulan Ramadan telah usai..,Pagi itu, setelah melaksanakan sholat Idul Fitri, orang-orang saling berkunjung dari rumah ke rumah. Bersilaturrahim, saling meminta maaf dan saling memaafkan. Hal ini, sudah menjadi tradisi di kampung-kampung, sejak dahulu hingga sekarang.
Biasanya, dihari pertama lebaran, mereka akan berkeliling mendatangi rumah keluarga dan tetangga terdekat lebih dahulu. Baru dihari berikutnya mereka akan berkunjung mendatangi keluarga ataupun teman yg rumahnya lebih jauh.
Hari itu juga, Fadil, Ulil, dan rombongan teman temannya ikut berkeliling untuk bersilaturrahim. Hingga menjelang waktu asar, Fadil dan rombongan telah usai mendatangi seluruh rumah-rumah yg ada di kampungnya.
Seperti janjinya kepada Tiara, Fadil setelah selesai menunaikan sholat asar, dia pergi bertamu ke rumah Tiara. Walaupun sebelumnya Fadil beserta rombongan teman-temanya, memang sudah bertamu kesana, namun kedatangan Fadil kali ini adalah untuk berbicara secara khusus dengan kedua orang tua Tiara. Untuk itu dia datang lagi kesana sendirian.
Setelah memarkirkan motornya dihalaman rumah Tiara, Fadil bergegas turun dan langsung menuju rumah Tiara.
'' Assalamu'alaikum..'' Fadil saat di depan pintu yang memang sudah terbuka.
'' Wa'alaikumsalam..'' seluruh orang yang ada didalam ruangan tamu itu serempak menjawab.
Hati Fadil terasa berdetak kencang, saat dia melihat seluruh keluarga Tiara, dan juga beberapa orang sanak saudara dari keluarga pak Syahroni ( ayah Tiara ) yang ada didalam ruangan itu.
Meskipun Fadil telah membulatkan tekad dan keberaniannya, namun bagaimanapun juga, ini adalah untuk pertama kalinya dia datang bertamu sendirian di rumah Tiara. Apalagi tujuan kedatanganya adalah untuk meminta ijin atas hubungannya dengan Tiara.
'' Eeh.., calon mantu, ayok masuk!'' celoteh adik perempuan pak Syahroni yang merupakan bibinya Tiara.
Sontak wajah Fadil, Tiara, dan kedua orang tua Tiara berubah. Meskipun hubungan Tiara dan Fadil sudah bukan rahasia lagi, tapi ditembak dengan kata-kata seperti itu secara langsung di depan banyak orang, mereka masih merasa canggung.
__ADS_1
Tiara dan Fadil menunduk malu-malu. Sementara ayah dan ibu Tiara, serta Yunita,dan juga Vita ( adik Tiara), mereka cengar-cengir salah tingkah.
'' Silahkan.., duduk-duduk!'' Bibi Tiara yg bernama Rosa, mempersilahkan Fadil untuk duduk, bertingkah seolah-olah dialah yg menjadi tuan rumahnya.
Fadil mengiyakan hanya dengan menganggukkan kepalanya, kemudian dia duduk lesehan bersandar didekat jendela ruang tamu itu. Mereka berbincang-bincang bersama, dan sesekali dalam obrolan itu, Rosa dengan usilnya menggoda Fadil dan Tiara.
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya seluruh kerabat orang tua Tiara undur pamit, menyisakan Fadil dan kedua orang tua Tiara. Yunita dan Vita pergi kebelakang untuk membersihkan diri, sedangkan Tiara masuk kedalam kamarnya.
Fadil menghela nafas panjang, mencoba untuk mengumpulkan keberanian diri dan menyusun kata-kata didalam benaknya, kemudian mulai berbicara.
'' Bapak, ibu.., sebelumnya saya minta maaf.'' Fadil membuka kata.
'' Mungkin sebenarnya, bapak dan ibu sudah mengetahui tentang hubungan saya dengan Tiara, untuk itu saya sengaja kesini saat ini, ingin meminta ijin serta restu dari bapak dan ibu akan hubungan saya dengan Tiara.'' lanjutnya.
Pak Syahroni dan bu Lilis saling memandang, mereka sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Fadil. Mereka terkejut bukan karena mengetahui hubungan Fadil dan Tiara, tetapi mereka terkejut dengan keberanian Fadil untuk meminta ijin akan hubungannya dengan Tiara.
Sebelumnya, pak Syahroni dan bu Lilis sudah sering mendengar. Kalau Yunita anak tertuanya telah beberapa kali menjalin hubungan dengan seorang pemuda. Akan tetapi, tidak ada satupun diantara para pemuda itu yg berani datang untuk berbicara seperti yang dilakukan oleh Fadil. Mereka hanya mencuri-curi kesempatan untuk bertemu dengan Yunita, tanpa ada niatan kearah hubungan yang lebih serius dengan putrinya tersebut.
Dengan sedikit tergagap, pak Syahroni kemudian berkata:
'' Nak Fadil.., kami sebenarnya tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan kalian anak muda. Jika memang nak Fadil suka dengan Tiara, dan Tiara juga suka kepada nak Fadil, kami tidak ingin mempermasalahkannya.''
__ADS_1
'' Bagaimanapun, kami juga dulu pernah muda. Dan kami juga mengerti bagaimana perasaan anak muda. Hanya saja, nak Fadil juga harus memahami, kalau Yunita masih belum menikah.''
''Jadi, selain kalian harus menunggu sampai Yunita menikah, kalian juga harus tau batas-batas pergaulan. Jangan sampai melanggar aturan, yang pada akhirnya akan merugikan dan mejadi aib bagi kita semua.''
Mendengar jawaban dari pak Syahroni, hati Fadil sudah merasa lega. Karena hubungannya dengan Tiara sudah mendapatkan lampu hijau dari mereka. Namun, keinginannya untuk segera menikahi Tiara, ternyata masih harus tertunda, mengingat dia dan Tiara masih harus menunggu Yunita menikah terlebih dahulu.
Fadil sebenarnya ingin menanyakan kepastian kapan dia diperbolehkan untuk menikahi Tiara. Namun keinginannya dia tangguhkan. Karena diapun menyadari, bahwa masalah ini berkaitan langsung dengan Yunita. Sementara Yunita sendiripun, belum ada tanda-tanda keinginan untuk menikah. Maka dari itu, Fadil hanya berpasrah diri menerima kenyataan dan bersabar untuk itu semua.
'' Terima kasih pak, bu.., karena sudah mengijinkan saya menjalin hubungan dengan Tiara. Dan insyallah kami akan berusaha sebisa mungkin untuk mengikuti apa yg bapak dan ibu nasihatkan untuk kami.''
'' Oh iya pak, bu.., sekali lagi mohon maaf. Andai diperbolehkan, besok rencananya saya ingin mengajak Tiara untuk jalan jalan.'' sambung Fadil dengan sedikit gugup mengatakannya.
Rencana ini, sudah Tiara dan Fadil sepakati sebulan sebelumnya. Maka pada saat Fadil menyampaikan itu, Tiara yang ada didalam kamar, hatinya terus berharap agar kedua orang tuanya mengijinkannya. Sebab jika kedua orang tuanya tidak memberikan ijin kepada mereka, tentulah hati keduanya akan mereka sangat kecewa.
Pak Syahroni tidak langsung menjawab, dia menoleh kearah istrinya, meminta pendapat bu Lilis melalui isyarat matanya. Namun bu Lilis hanya membalas tatapan matanya dengan datar tanpa jawaban mengiyakan ataupun melarangnya. Pak Syahroni menarik nafas panjang, kemudian berkata:
'' Nak Fadil.., terus terang, sebenarnya kami masih merasa keberatan jika kalian sering jalan berdua. Bagaimanapun juga, kalian belum ada ikatan yang sah, tentu saja hal semacam ini akan jadi bahan omongan dari orang orang.''
'' Tetapi kami juga memahami perasaan kalian, maka dari itu untuk kali ini, kami dengan sedikit rasa terpaksa harus mengijinkan nak Fadil untuk mengajak Tiara jalan-jalan. Namun dengan catatan, harus ditemani dengan Yunita.''
Setelah apa yg menjadi maksud dan tujuannya disampaikan, serta telah mendapatkan jawaban dari kedua orang tua Tiara, Fadil kemudian berpamitan kepada ayah dan ibu Tiara. Tiara keluar dari dalam kamarnya, mengikuti Fadil menuju halaman dimana Fadil memarkirkan motornya. Lalu untuk beberapa saat, merekapun berbicara sebelum akhirnya Fadil menghidupkan mesin motornya, lalu pergi dari tempat itu untuk kembali kerumahnya.
__ADS_1
Pak Syahroni dan bu Lilis, memandangi keduanya dari dalam rumah. Melihat Tiara dan Fadil yang terlihat begitu saling menyukai, hati mereka juga ikut merasa bahagia. Namun, mereka juga merasakan sebuah beban dihati mereka, yang merupakan sebuah dilema. Mengingat Yunita yang masih belum menikah, dan bahkan belum memiliki calon yang benar-benar serius terhadapnya. Dan tentunya pasti akan menjadi sebuah permasalahan tersendiri yang harus difikirkan jalan keluarnya oleh mereka berdua.
...****************...