
Zulkifli dan Naila yang sudah resmi menjadi suami istri, setelah keduanya di rias, mereka segera dibawa ke kursi pelaminan didampingi oleh kedua orang tuanya masing masing.
Andre dan beberapa kerabat dari Abah Ubaid, mereka duduk di kursi pintu masuk tenda untuk menyambut para tamu yang mulai berdatangan. Beberapa pengawal Andre juga hadir disana, untuk ikut menjaga keamanan ditempat tersebut.
Meskipun Abah tidak menyebarkan undangan, namun informasi dari mulut ke mulut, dan juga informasi yang disebarkan oleh Andre selaku penanggungjawab dari perusahaan milik Arya Wijaya di daerah tersebut, membuat para kenalan Abah dan juga orang-orang yang berpengaruh di daerah tersebut, ikut datang menghadiri pernikahan putrinya Abah. Terutama lagi adalah, para orang tua santri yang ada di daerah sekitar pesantren itu.
Andre juga mengatakan kepada para pengusaha dan orang-orang ternama di daerah tersebut, bahwa pengantin laki-laki itu adalah teman dari tuan mudanya yang sekarang sedang membuka beberapa proyek di daerah itu. Bahkan tuan mudanya juga akan hadir disana.
Maka dari itu, para pengusaha dan orang-orang yang berkepentingan yang ada di daerah tersebut, tidak ingin melewatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dengan tuan muda pemilik perusahaan besar dari Jakarta tersebut. Mereka berharap, nantinya mereka bisa melakukan kerjasama dengan tuan muda itu, untuk kedepannya.
Acara demi acara berlangsung begitu hikmat. Dalam menyampaikan sambutan mewakili keluarga Zul, Fadil benar-benar membuat orang yang hadir disana begitu terpukau. Selain masih muda dan tampan, setiap kata-katanya juga terdengar begitu berwibawa. Gaya bahasanya ringan, lugas, dan sesekali diselingi dengan candaan, namun syarat dengan makna. Membuat siapapun jadi terpesona oleh tampilan Fadil.
Para santri perempuan yang baru melihat Fadil dengan lebih jelas dan dekat, mereka begitu terkagum kepadanya. Hal itu membuat Tiara merasa bangga karena dia adalah calon istri dari Fadil, namun sekaligus sedikit cemburu kepadanya.
Fadil segera turun dari panggung usai memberikan sambutan, diiringi oleh tepuk tangan orang yang hadir disana. Hingga dia kembali ke kursi tempat duduknya, hampir semua mata tertuju kepadanya. Saat dia berjalan menuju tempat duduknya tersebut, banyak orang yang menyalaminya. Umumnya, mereka adalah para pejabat dan pengusaha yang ingin berkenalan dengannya.
Para santri baik laki-laki maupun perempuan, terutama teman sekamar Fadil, mereka terheran heran kepada Fadil. Dalam hati, mereka bertanya-tanya. Mengapa para pejabat dan para pengusaha itu, sampai rela berdiri dan antri untuk bisa bersalaman dengan Fadil. Umumnya, mereka memang tidak mengetahui status dari Fadil.
Setelah bersalaman dengan mereka, Fadil lalu duduk disebelah Andre. Secara kebetulan, disana juga ada letnan Rifai yang baru saja datang dan duduk disamping kursi yang akan diduduki oleh Fadil.
'' Halo mas, apa kabar'' sapa letnan Rifai sambil mengulurkan tangannya.
Fadil yang memiliki ingatan Alan, dia segera mengenali orang tersebut. Dia lalu mengulurkan tangannya, untuk berjabat tangan dengan letnan polisi tersebut.
'' Alhamdulillah mas Pa'i, saya baik-baik saja. Bagaimana denganmu mas?'' tanya Fadil.
'' Alhamdulillah juga mas, seperti yang mas Alan lihat.'' ujar Pa'i yang belum tahu Alan sekarang adalah Fadil.
'' Mas Alan memang luar biasa, sesuai dengan status mas sebagai tuan muda.'' ujarnya.
'' Ah mas Pa'i bisa aja, saya biasa aja kok mas. Mas Pa'i terlalu berlebihan menilai saya.'' ujar Fadil.
Selesai acara sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan ceramah agama oleh saudaranya Abah Ubaid, yang memang juga seorang pimpinan pesantren di tempat lain, hingga pukul 11.00 waktu setempat.
Untuk mengantisipasi kerepotan bagian konsumsi dan bagian bersih-bersih, maka setelah acara ijab qobul tadi, disaat kedua pengantin sedang di rias, secara bertahap yang diawali dengan para tamu dan keluarga, mereka langsung dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan. Barulah berikutnya menyusul para santri secara bergantian. Setelah itu dan selanjutnya, setiap tamu yang baru datang, akan langsung dipersilahkan untuk menikmati hidangan, lalu bisa duduk-duduk disana sambil menyaksikan jalannya acara setelah mereka makan.
Berhubung masih ada waktu sebelum datangnya waktu sholat Dzuhur, maka acara dilanjutkan dan diisi dengan hiburan berupa sholawat Hadroh tampilan para santri. Setelah dua lagu berlalu berturut-turut, kedua pengantin berbisik kepada MC. MC tersebut manggut-manggut tanda mengerti. Melalui pengeras suara, MC tersebut lalu berkata:
'' Baiklah para hadirin sekalian. Ini ada permintaan dari raja dan ratu sehari kita. Mereka meminta agar sepasang calon pengantin yang tidak akan lama lagi juga akan segera menikah, untuk naik ke atas panggung, berduet menyenandungkan sholawat. Untuk itu, kepada kang Alan atau kang Fadil dan mbak Tiara, dimohon untuk segera naik keatas pentas. Semongko!'' ucap MC tersebut mempersilahkan Fadil dan Tiara.
__ADS_1
Fadil dan Tiara terkejut. Mereka tidak menyangka, Zulkifli dan Naila malah mempublikasikan status mereka itu didepan banyak orang. Namun, mereka juga tidak marah atas apa yang dilakukan oleh Zul dan Naila tersebut. Karena bagaimanapun juga, hal itu ada baiknya. Terutama bagi Tiara. Dengan banyaknya orang yang mengetahui kalau Fadil akan segera menikah dengannya, secara otomatis itu bisa membuat cewek-cewek lainnya tidak akan ada yang berani untuk mendekati Fadil.
Fadil dan Tiara saling memandang. Meskipun keduanya berada didalam tenda yang berbeda, namun karena mereka duduk di barisan paling depan dan tenda tempat mereka juga saling berdampingan, maka mereka masih bisa saling melihat.
Awalnya, baik Fadil maupun Tiara, Mereka tidak ingin memenuhi permintaan Zul dan Naila. Namun, karena mereka didesak oleh para santri dan tamu yang hadir disana, juga Zul dan Naila yang langsung menjemput mereka untuk naik keatas panggung, mereka berdua akhirnya naik juga keatas panggung.
'' Ayo! Ayo! Naik! Naik!'' teriak para santri dan para tamu itu begitu serentak.
Fadil dan Tiara segera duduk lesehan diatas panggung bersama para penabuh alat Hadroh tersebut. Meskipun berada dalam satu panggung, namun antara group Hadroh laki-laki dan perempuan itu, mereka di beri jarak sehingga tidak bercampur antara laki-laki dan perempuan.
Setelah mengucapkan salam, Fadil lalu mengawalinya dengan berkata-kata sebelum dia dan Tiara berduet melantunkan shalawat.
'' Bapak ibu, Abah dan Ummi, juga rekan-rekan santri sekalian. Sebelumnya mohon maaf ya! kami ini sebenarnya bukan vokalis. Jadi, mungkin nanti lantunan sholawat yang kami bawakan, tidak seindah dan semerdu saat dibawakan oleh para ahlinya. Untuk itu, kami mohon jangan ditertawakan kalau nada dan syairnya nanti tidak pas.'' ujar Fadil.
'' Dan karena tadi juga sudah terlanjur diumumkan oleh rekan MC, yang kami yakin, pasti ini ide dari kedua pengantin yang sekarang ada dihadapan kita semua. Untuk itu, sekalian saja kami juga mohon doa restu dari semua yang ada disini.''
'' Insyaallah jika tidak ada udzur dan halangan, bulan Dzulhijjah nanti, kami juga akan mengikuti jejak kang Zul dan mbak Naila, yakni menjalankan syariat dari kanjeng nabi Muhammad Saw.''
'' Untuk itu, karena kami juga nanti akan boyong dari pesantren ini, kami mohon maaf dan juga mohon doanya kepada Abah, Ummi, dan juga rekan santri sekalian. Semoga hajat kami berdua, bisa terlaksana sesuai dengan apa yang kami harapkan Aamiin.''
Disaat Fadil mengatakan hal itu, para santri perempuan yang merasa tertarik dengan Fadil, mereka sedikit kecewa. Namun, saat melihat siapa calon istrinya, mereka juga merasa, kalau Tiara memanglah pantas menjadi istri dari pemuda tampan yang penuh dengan pesona tersebut.
Usai berkata seperti itu, Fadil lalu mulai melantunkan sholawat dengan sulukan. Kemudian, secara bergantian langsung disambut oleh Tiara. Mendengar sulukan yang dilantunkan oleh Fadil dan Tiara secara bergantian, para santri dan tamu yang hadir disana semakin terpukau. Mereka berdua ini bukan hanya memiliki paras yang rupawan, tapi juga begitu kompak dan serasi, dengan suara yang tidak kalah merdu dari para vokalis-vokalis yang sudah ternama.
'' Allahumma sholli wasallim wabaarik 'alaih..'' jawab seluruh yang hadir disana.
Diiringi dengan tabuhan alat musik Hadroh, Fadil dan Tiara melantunkan syair sholawat tersebut begitu indah. Duet antara Fadil dan Tiara dalam menyenandungkan sholawatan itu, benar-benar membuat suasana disana begitu hidup. Layaknya sebuah konser akbar, para santri juga ikut mengeluarkan suara mereka, bersama dengan para baking vokal.
'' Lagi! lagi! lagi!'' teriak para santri setelah satu lagu yang dibawakan oleh Fadil dan Tiara berakhir.
Semua orang yang ada disana benar-benar terbawa suasana. Mau tak mau, Fadil dan Tiara akhirnya menambah satu lagu sholawatan lagi, mengikuti kemauan para santri dan para tamu, yang terus berteriak-teriak agar Fadil dan Tiara bernyanyi lagi.
Sejak Fadil dan Tiara melantunkan sulukan tadi, para santri mengabadikan momen ini dengan menggunakan kamera ponsel mereka. Sebenarnya, para santri dilarang membawa ponsel disaat hari-hari biasa. Namun, karena hari ini adalah hari penting, maka para santri diperbolehkan menggunakan ponsel mereka, yang biasanya disimpan oleh para pengurus pesantren.
Pada saat Fadil dan Tiara sedang melantunkan syair sholawat yang kedua kalinya, sebuah mobil mewah datang memasuki pintu gerbang pesantren. Sepasang suami istri turun dari mobil tersebut, dan berjalan menuju tenda para tamu.
Andre, letnan Rifai, dan beberapa orang segera menyambut kedatangan sepasang suami istri tersebut, lalu mengajak mereka untuk duduk di kursi para tamu kehormatan bersama yang lain. Kedua sepasang suami istri itu adalah Andika dan Sintya yang baru datang dari Jakarta.
Sebelumnya, mereka dipersilahkan untuk makan terlebih dahulu, seperti para tamu yang lain saat baru datang. Namun, Andika dan Sintya menolak. Alasan mereka menolak itu, karena mereka ingin menyaksikan Fadil dan Tiara yang sedang berduet melantunkan syair sholawat di atas panggung. Bagi mereka, ini adalah pertama kalinya mereka melihat anak dan calon menantunya itu bernyanyi. Jadi mereka tidak ingin melewatkan momen langka tersebut.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, lagu yang dinyanyikan Fadil dan Tiara berakhir. Para santri dan tamu itu, kembali meminta agar mereka menambah lagi untuk bernyanyi. Namun, Fadil dan Tiara menolak dan keduanya ingin segera turun dari panggung dan menyapa Andika dan Tiara.
Namun, sebelum keduanya turun dari panggung, Fadil dan Tiara mendekati kedua pengantin dan sedikit bercakap-cakap dengan mereka.
'' Kang, mbak, selamat ya! kalian sudah jadi artis sekarang. Itu! para penggemar kalian, minta kalian terus untuk bernyanyi.'' ucap Naila sambil senyum-senyum, setelah Fadil dan Tiara berada dihadapannya.
'' Iya kang Fadil. Gak nyangka banget, kalau kang Fadil dan mbak Tiara ini, ternyata jago nyanyi juga!'' sahut Zul.
'' Emm.. aku tau! ini tadi kerjaan kalian kan? untungnya kami bisa sedikit menyanyi. Kalau tidak? habis kami dibikin malu sama kalian!'' ujar Tiara sambil mencubit pinggang Naila dengan gemasnya.
'' Tapi buktinya, kalian bisa nyanyi kan? Ayo nyanyi lagi! nanti kami sawer.'' jawab Naila sambil membalas mencubit kedua pipi Tiara.
'' Aduh! mbak Naila kebiasaan deh! seneng banget nyubit pipiku!'' ucap Tiara setelah melepaskan kedua tangan Naila dari pipinya.
'' Kamu juga, enak banget tuh kalo udah nyubit pinggangku.'' jawab Naila.
Melihat tingkah kedua perempuan ini, Fadil dan Zulkifli hanya senyum-senyum melihat keduanya. Mereka tidak menyangka, kalau ternyata Naila dan Tiara, persahabatan mereka sampai segitunya.
'' Tiara, kamu mau turun nggak? kalau belum, aku duluan ya!'' ujar Fadil mengajak Tiara.
'' Bentar A, aku mau ngasih pelajaran dulu sama mbak Naila. Soalnya, ntar malem dia gak mungkin keluar dari kamarnya.'' jawab Tiara yang masih greget kepada Naila karena merasa telah dikerjai oleh Naila.
Setelah mengucapkan kata selamat kepada Zul dan Naila, Fadil lalu menyalami kedua orang tua Zul, juga kepada Abah dan Ummi. Dia kemudian turun dari panggung, dan segera menuju Andika dan Sintya untuk menyapa mereka.
Namun, baru beberapa langkah dia berjalan setelah turun dari panggung, tiba-tiba seorang pria dengan menggunakan masker dan kacamata hitam, terburu-buru menghampirinya.
'' Mas Fadil, awas!'' teriak Zul yang melihat pria itu mengeluarkan pisau belati dan akan menyerang Fadil dari belakang.
Sontak, Fadil dan semua orang terkejut dengan teriakan Zul dan segera melihat kearah Fadil. Saat pria itu berusaha menghujamkan pisau belati itu ditubuh Fadil, refleks Fadil segera menghindar.
Menyadari serangannya gagal, pria tersebut kembali menyerang Fadil. Dengan gerakan yang sangat cepat, Fadil lalu menangkap tangan pria tersebut dan melipatnya kebelakang, serta menjatuhkan pria itu ditanah sambil merebut pisau belati itu dari tangannya.
Semua orang benar-benar terkejut menyaksikan kejadian itu, namun mereka tidak sempat melakukan apa-apa karena kejadian itu begitu cepat dan tidak terduga. Mereka hanya bisa menyaksikan aksi orang itu menyerang Fadil, lalu tiba-tiba orang tersebut sudah tidak berdaya dibekuk oleh Fadil.
Andre yang melihat kejadian itu, dia segera berlari untuk membantu Fadil. Namun belum juga dia sampai didekat Fadil, disaat Fadil baru berdiri setelah melumpuhkan orang tersebut, tiba-tiba?
'' Door! Door!
Terdengar suara tembakan. Semua orang terkejut dan segera menunduk. Dua buah peluru mengarah ke dada dan kepala Fadil. Tiara yang tadi terkejut dengan teriakan Zul, dia segera menoleh lalu segera berlari turun untuk mendekati Fadil.
__ADS_1
'' Tiara, menunduk!'' teriak Fadil bersamaan dengan suara tembakan tadi.
...****************...