
Menjelang magrib, pak Syahroni pulang. Tugasnya mengantarkan Alan kerumah ibu Zaenab telah dia tunaikan. Namun, sejak melihat sikap dan perkataan ibu Zaenab terhadap Alan, banyak hal yang kini menjadi pertanyaan dalam hati dan pikirannya. Sebenarnya, apa status hubungan Alan dengan ibu Zaenab ini. Dia yang mengetahui bahwa Fadil, anak bungsu dari ibu Zaenab itu tidak memiliki saudara kembar saat dia dilahirkan. Tetapi kenapa sikap ibu Zaenab terhadap Alan itu, seakan-akan menganggap Alan adalah anaknya. Seolah Alan adalah jelmaan dari Fadil, putra bungsunya yang telah meninggal tersebut.
Malam ini, Alan berencana untuk menginap dirumah ibu Zaenab. Dia sudah menghubungi Sintya pagi tadi saat berada dirumah Zul. Dia juga sudah menceritakan pertemuannya dengan orang yang mengenal keluarga orang yang dicarinya. Dan setelah bertemu dengan ibunya Fadil, Alan kembali menghubungi Sintya dan seluruh keluarganya, karena dia akan menginap disana. Jadi sementara ini, dia belum bisa kerumah Hartono pamannya yang ada di Baturaja. Alanpun sudah menghubungi Hartono, kalau dia sekarang sedang berada di Batumarta dan baru akan ke Baturaja esoknya.
Setelah pak Syahroni pulang, Alan, Zul, dan juga Alfin, pergi ke masjid yang ada disebelah rumah Fadil, untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah disana. usai melaksanakan sholat magrib, mereka kembali kerumah ibu Zaenab untuk makan malam bersama.
'' Kang zul, apa kang Zul mau nginap disini bareng saya?'' tanya Alan setelah mereka selesai santap malam.
'' Kayaknya saya pulang aja kang, soalnya saya masih kangen dengan keluarga dirumah. Dan juga, saya masih banyak hal yang perlu dibicarakan dengan kedua orang tua saya.'' ujar Zul menjawab tawaran dari Alan.
'' Oh iya, kang Alan kapan mau ke Baturaja?'' tanya Zul.
'' Insyaallah besok pagi kang, soalnya malam ini ada yang perlu saya sampaikan sama ibu.'' jawab Alan yang kini sudah menganggap ibunya Fadil adalah ibunya sendiri.
'' Kang Zul tenang saja, nanti kalau kang Zul memang mau pulang, saya akan antar kang Zul sampai dirumah.'' lanjut Alan.
Setelah berbincang sebentar, Alan mengajak Alfin untuk mengantarkan Zul kembali kerumahnya. Setelah sampai didepan halaman rumah zul, Alan langsung memutarkan arah mobilnya dan kembali kerumah ibu Zaenab.
'' Gak mampir dulu kang barang sebentar?'' ucap Zul saat turun dari mobil.
'' Terimakasih kang Zul, insyaallah lain waktu saja.''
'' Oh.. Ya udah kang, makasih nih udah diantar.'' ujar Zul.
'' Sama-sama kang zul, harusnya saya yang berterima kasih karena udah ditemenin.'' jawab Alan.
'' Ya udah kang Zul, saya pamit dulu. Salam buat bapak dan semuanya, maaf saya gak mampir dulu, assalamualaikum.'' ujar Alan.
'' Iya kang Alan, wa'alaikumsalaam warahmatullah.'' Zul sambil melambaikan tangannya saat mobil Alan meninggalkan tempat itu.
Pak Waluyo dan adik-adiknya Zul keluar dari dalam rumah, saat melihat mobil Alan sempat berhenti didepan rumah mereka. Namun, karena yang turun dari mobil itu hanya Zul, dan mobil itu langsung pergi, pak Waluyo pun bertanya kepada Zul.
__ADS_1
'' Lho koncomu kui, arep langsung muleh nang Baturojo to Zul. Kok ora mampir?'' tanya pak Waluyo.
'' Mboten pak e, mas e dalu niki bade nginep teng KL, enjing mangke wangsul teng Baturojone.'' ujar Zul menjawab pertanyaan bapaknya.
Zul dan yang lainnya segera masuk kedalam rumah, mereka sebentar membicarakan Alan. Terutama Ririn yang terlihat begitu antusias, menanyakan banyak hal mengenai Alan. Zul hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Ririn adiknya itu, dengan senyum dan jawaban sekedarnya saja.
Sepulang mengantarkan Zul, Alan bersama Alfin langsung kembali kerumah ibu Zaenab. Mobilnya dia parkirkan diteras rumah itu yang memang cukup luas. Dia kemudian mengajak Alfin pergi ke masjid, karena waktu sudah hampir Isya. Alfin yang walaupun baru bertemu dengan Alan sore ini, tapi dia sudah merasa akrab dengan Alan, seolah Alan adalah Fadil pamannya.
'' Fin.. yuk kita ke masjid!, sepertinya ini sudah hampir waktunya untuk sholat isya.'' ajak Alan kepada Alfin.
'' Iya mas.'' ujar Alfin yang masih bingung harus memanggil Alan dengan sebutan apa.
'' Panggil paman saja Fin! gak usah panggil mas.'' ujar Alan tersenyum melihat Alfin yang terlihat masih agak canggung kepadanya.
'' Iya mas eh paman.'' jawab Alfin agak kaku.
Setelah melaksanakan sholat isya dan kembali kerumah, Alan, Alfin dan ibu Zaenab duduk diruang keluarga. Sambil menikmati kue buatan ibu Zaenab, mereka mulai terlibat obrolan yang cukup serius. Setelah beberapa saat, Alan kemudian berkata kepada ibu Zaenab dan juga kepada Alfin.
'' Bu, apa ibu sudah mengetahui perihal tentang saya?'' tanya Alan sambil memandang ibu Zaenab.
'' Bu, apa yang ibu katakan itu memang ada benarnya, tapi untuk saat ini, saya masih bukan Fadil anak ibu. Saya adalah Alan, orang yang pada waktu itu terlibat kecelakaan bersama Fadil anak ibu.''
Alan kemudian menceritakan tentang siapa dia yang sebenarnya. Dia juga menceritakan, seluruh kejadian kecelakaan pada saat itu, yang menyebabkan kerusakan pada organ tubuh bagian dalam miliknya, dan juga kebutaan pada kedua matanya. Sambil menangis, Alanpun bercerita tentang kejadian gaib, saat pertemuannya dengan Fadil di alam sana. Sampai pada akhirnya, Fadil yang tidak tega melihat diri Alan, yang akan dihukum atas segala perbuatannya selama hidupnya itu, kemudian mengorbankan dirinya untuk memberikan jatah umurnya selama satu tahun. Dan juga menukarkan organ bagian dalamnya ke tubuh Alan, serta peristiwa pertukaran kedua bola matanya dirumah sakit.
'' Fin, apakah kamu masih ingat? waktu itu pak Hartono, dokter Hafis, dan juga dokter Yusril. Mereka memintamu untuk mendonorkan kedua mata milik Fadil pamanmu, untuk ditukarkan dengan kedua bola mata keponakannya?'' tanya Alan menatap Alfin.
Alfin yang sedang menangis sesenggukan, karena mendengarkan kisah yang diceritakan oleh Alan itu, dia mengangguk. Ingatannya kini kembali pada peristiwa saat dia melihat tubuh Fadil pamannya, yang sudah terbujur kaku tak bernyawa.
'' Fin, keponakan pak Hartono itu aku!. Akulah orang yang membutuhkan donor mata saat itu. Mata yang ada padaku saat ini, adalah mata Fadil pamanmu. Bahkan seluruh organ dalam yang ada ditubuhku ini, juga adalah miliknya.''
'' Bu, maafkan aku bu!. Demi untuk membantuku, Fadil anakmu telah banyak berkorban. Dia telah memberikan aku kesempatan hidup selama setahun, agar aku bisa menebus segala kesalahanku. Demi membantuku juga, dia harus kehilangan tubuh dan semuanya. Bu, maafkan aku! maafkan aku!''
__ADS_1
Alan semakin tak kuasa menahan tangisnya. Dia tidak kuasa menceritakan, betapa besarnya pengorbanan Fadil untuknya. Ibu Zaenabpun semakin terisak melihat Alan yang seperti itu. Dia lalu memeluk Alan dengan begitu eratnya. Alfin yang melihat itu, diapun semakin terisak dan ikut memeluk mereka. Cukup lama mereka tenggelam dalam suasana haru tersebut. Hingga akhirnya, ibu Zaenab melepaskan pelukannya, dan berkata:
'' Sudahlah nak!. Apa yang dilakukan oleh Fadil itu sudah benar. Andai waktu itu ibu ada disana, dan Fadil tidak melakukannya. Ibulah yang akan meminta Fadil melakukan hal tersebut. Dia memang anak ibu yang terbaik. Tidak sia-sia ibu mendidik dan membesarkannya.'' ujar ibu Zaenab sambil menghapus air mata Alan dengan telapak tangannya yang sudah mulai keriput.
'' Terimakasih bu! terimakasih. Walaupun aku tidak terlahir dari rahimmu, aku akan tetap mengagapmu seperti ibu kandungku.'' ujar Alan sambil memeluk kembali ibu Zaenab.
...----------------...
Malam itu, Tiara yang hatinya sedang dilanda keresahan akibat rasa rindunya kepada Fadil, dia tidak bisa tidur. Pikirannya terus terbayang kenangan-kenangan indah saat bersama Fadil. Hingga larut malam, setelah tubuhnya benar-benar terasa begitu lelah. Tiara mulai terlelap dalam tidurnya.
'' A Fadil, Tiara datang A. Maaf, Tiara lama tidak menjengukmu.'' bisik Tiara yang sedang duduk bersimpuh didepan pusara milik Fadil.
Butiran air bening, perlahan mengalir dari kedua sudut matanya. Tangannya masih menggenggam Al-Qur'an kecil miliknya. Tiara baru saja selesai membacakan ayat-ayat Al Qur'an, lalu menaburkan bunga diatas pusara tersebut. Tiba-tiba, dihadapannya muncul kabut tipis yang kemudian berubah menjadi sosok orang yang selalu dirindukannya. Ya, sosok itu adalah Fadil kekasihnya.
'' Tiara, jangan menangis. Lihatlah kesana!'' ucap sosok tersebut kepada Tiara.
Tiara yang melihat dihadapannya muncul sosok Fadil, dia tersenyum. Lalu menoleh kearah yang disyaratkan Fadil terhadapnya. Tak jauh dari tempat dia berada, seorang pemuda mirip dengan Fadil sedang berdiri di pendopo pemakaman tersebut, sambil menatap kearahnya.
'' Tiara, lihatlah dia!. Dia bukanlah aku, tapi sebagian diriku ada padanya. Dan kelak, aku akan benar-benar ada padanya.''
Tiara terkejut saat melihat pemuda tersebut. Ternyata orang yang ditunjukkan oleh Fadil itu, tidak lain adalah Alan, orang yang pernah menolongnya dan juga orang yang pagi tadi bertemu dengannya. Tiara merasa bingung dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Fadil. Dia kemudian menoleh lagi kearah Fadil untuk meminta penjelasan darinya. Namun, sosok Fadil yang tadi muncul dihadapannya kini telah hilang. Tiara terus menoleh kesana-kemari mencari sosok Fadil. Namun sosok yang dia cari sudah benar-benar tidak lagi berada disana.
'' A Fadil, A fadil, A Fadil...'' teriaknya sambil terus mencari dimana Fadil berada.
'' A Fadil.., A Fadil...''
'' Tiara, bangun Tiara. Ayo bangun!'' ucap Yunita.
Yunita yang terkejut mendengar Tiara yang sedang mengigau memanggil-manggil nama Fadil, segera membangunkan Tiara dengan mengguncang-guncangkan tubuh Tiara. Tiara akhirnya terbangun dari tidurnya. Dia melihat sekeliling, dan mendapati dirinya sedang berada didalam kamar tidurnya.
Setelah duduk dan menenangkan diri sejenak, akhirnya dia sadar, ternyata dia baru saja bermimpi. Dia bermimpi bertemu dengan Fadil, yang mengatakan sesuatu kepadanya. Masih terngiang-ngiang di telinganya, apa yang barusan diucapkan oleh Fadil. Namun dia benar-benar tidak paham, apa maksud dari perkataan Fadil tersebut.
__ADS_1
Tiara lalu melihat jam yang berada didinding kamarnya. Sudah hampir subuh. Tiara lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian melaksanakan sholat subuh setelah terdengar suara adzan dari pengeras suara di masjid. Usai melaksanakan sholat subuh, Tiara lalu pergi ke dapur untuk membantu ibunya yang sedang sibuk memasak. Sambil memasak itu, Tiara masih terus kepikiran tentang mimpinya itu. Entah apa sebenarnya makna dari mimpinya tersebut.
...****************...