Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Menolong Istri Preman


__ADS_3

Setelah didesak oleh Fadil, akhirnya wanita tersebut menceritakan kejadian yang baru saja menimpanya. Dia mengatakan bahwa dirinya telah menjadi korban hipnotis oleh seseorang. Seluruh uang yang dibawanya, tanpa sadar telah dia berikan kepada sang pelaku. Padahal, uang itu dia dapatkan dari hasil meminta bagian, dari warisan kedua orang tuanya. Itupun dia harus bersitegang dengan saudara-saudaranya dikampung. Sebab, keluarganya tidak setuju dia menikah dengan lelaki yang kini menjadi suaminya.


Mendengar penjelasan wanita tersebut, Fadil, Tiara, dan juga Ulil merasa tersentuh. Mereka juga ikut prihatin, atas musibah yang menimpa wanita tersebut. Fadil lalu menanyakan kepadanya, kapan dia bertemu dengan pelaku. Wanita itu mengatakan sekitar satu jam yang lalu, saat dia baru saja menaiki kapal.


'' Maaf bu, ibu ini dari mana dan mau kemana?'' tanya Fadil.


'' Saya dari Pringsewu Lampung mas, mau ke Kuningan Jawa barat.'' jawabnya.


'' Terus, tadi naik mobil apa?'' Fadil lanjut bertanya, sementara Ulil dan Tiara hanya menyimak pembicaraan mereka.


'' Dari rumah, saya naik travel mas. Tapi cuma sampai pelabuhan saja. Dan rencananya, saya mau cari bus yang masih ada bangku kosong di kapal ini, yang lewat Cirebon dan mungkin akan menginap disana. Baru paginya, saya akan lanjut cari mobil yang mau ke Kuningan.


'' Terus, dimana suami ibu. Apa dia tidak ikut bersama ibu?''


Saat ditanya tentang suaminya, wanita itu tiba-tiba menjadi semakin murung. Dia diam dan tidak segera menjawab pertanyaan dari Fadil. Fadilpun hanya diam, menunggu jawaban dari wanita itu. Setelah beberapa saat, wanita itupun mulai berkata setelah beberapa kali menarik nafas dalam-dalam.


'' Saya tidak tahu mas. Terakhir kali, dia pergi bersama bosnya yang seorang preman, yang sudah menjadi lurah. Namun, sejak malam itu hingga berbulan-bulan lamanya, dia tidak pernah pulang. Padahal, selain saya dan anak ini, dia juga punya tanggungan untuk mengurusi kedua orang tuanya yang terbaring sakit karena stroke.''


'' Karena dia tidak pernah pulang dan tidak memberikan uang belanja kepada kami, akhirnya saya tidak sanggup untuk terus mengurusi ayah dan ibu mertua. Sementara saya juga harus mengurusi anak ini, sekaligus mencari uang sendiri untuk makan kami sehari-hari.''


'' Maka dari itu, sayapun memilih pulang kampung karena merasa sudah tidak sanggup menjalani semua ini. Namun, setelah beberapa minggu dirumah, saya selalu teringat kepada kedua mertua saya. Saya takut, telah terjadi apa-apa kepada mereka. Entah siapa yang mengurusi mereka berdua disaat saya tidak ada disana.''


'' Untuk itulah mas, saya meminta uang kepada kerabat saya, sebagai jatah warisan dari kedua orang tua saya, dan ingin kembali ketempat kedua mertua saya untuk mengurus mereka.''


'' Rencananya, uang tersebut akan saya jadikan modal usaha kecil-kecilan dan untuk makan kami sehari-hari. Dan saya berharap, semoga suami saya cepat pulang sebelum kami kehabisan uang mas.'' ujar wanita tersebut sembari menitikkan air mata.


Fadil, Tiara, dan juga Ulil. Mereka tidak bisa menahan rasa kesedihan didalam hatinya, saat mendengar penuturan wanita tersebut. Mereka seperti ikut merasakan, bagaimana beratnya wanita tersebut, dalam menjalani hari-harinya yang seperti itu.


Tidak bisa dibayangkan. Seorang wanita, sendirian, harus mencari nafkah sekaligus mengurusi anak dan kedua mertuanya yang lumpuh, dalam waktu yang bersamaan.


'' Maaf bu! apa suami ibu juga seorang preman.'' tanya Fadil tiba-tiba.


Wanita itu menunduk. Dia ingin menjawab dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Fadil, namun dia juga merasa malu dan khawatir, bagaimana nanti respon dari mereka, saat dia mengakui bahwa suaminya adalah seorang preman.


'' Bu, tidak apa-apa. Kami tidak akan mempermasalahkan jika memang suami ibu adalah seorang preman.'' ujar Fadil kepada wanita itu.

__ADS_1


'' Iya mas. Memang suami saya itu seorang preman. Maka dari itulah keluarga saya tidak setuju, kalau saya menikah dengannya.''


'' Tapi yang saya tahu. Sejak kami menikah, dia tidak pernah melakukan hal-hal yang seperti dulu dia lakukan. Dia hanya menyuruh anak buahnya, untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh pak lurah bosnya.''


'' Setiap kali mendapat perintah dari pak lurah, dia akan selalu meminta pendapat dari saya. Hingga terkadang, diapun sering bertentangan dengan bosnya tersebut. Namun, karena dia dibayar oleh bosnya, diapun tidak bisa berbuat apa-apa, dan hanya mengikuti perintah bosnya itu, meskipun dengan terpaksa.''


'' Saya juga pernah meminta dia, untuk mencari pekerjaan lain yang baik dan halal. Namun karena sekarang ini begitu sulit mendapatkan pekerjaan, ditambah lagi dia juga harus membeli obat untuk kedua orang tuanya, maka untuk sementara ini, dia hanya bisa menjadi anak buah pak Lurah. Karena hanya dari situlah yang sementara ini bisa mencukupi kebutuhan kami.'' ujar wanita itu begitu panjang menceritakan kisah hidupnya.


'' Bu, walaupun suami ibu tidak turun tangan secara langsung, namun dengan memerintahkan orang lain untuk melakukan sesuatu, maka nilainya tetap sama saja bu. Jadi, apa yang dilakukan oleh suami ibu, itu tidak bisa untuk dibenarkan.''


'' Oh iya bu! jadi, sekarang ini apa yang akan ibu lakukan?'' tanya Fadil.


'' Entahlah mas. Sekarang saya benar-benar bingung. Mau kembali, kayaknya tidak mungkin. Mau lanjut seperti tujuan saya semula juga, saya sudah tidak punya uang. Jangankan untuk makan kami nanti disana, untuk ongkos pergi kesanapun sudah tidak ada.''


'' Andai saya tidak merasa kasihan dengan anak saya ini, mungkin saya akan memilih untuk terjun ke laut saja mas. Saya sudah benar-benar putus asa dengan hidup saya sekarang ini.'' ujarnya tiba-tiba berkata seperti itu.


'' Astaghfirullahal'adzim...bu, jangan berkata seperti itu! jangan pernah berpikiran untuk berbuat hal yang tidak baik. Bunuh diri itu dosa lho bu! apa ibu mengira, kalau dengan bunuh diri semua persoalan dapat teratasi?''


'' Tidak bu! Justru masalahnya nanti akan bertambah. Selain anak ibu akan kehilangan kasih sayang dari ibu, ibu juga akan dimintai tanggung jawab dihadapan Tuhan atas dosa ibu, karena telah menyalahi takdir-Nya.''


'' Maaf Bu! kalau boleh saya tahu! apakah suami ibu bernama Baron?'' tanya Fadil.


Mendengar Fadil menyebut nama suaminya, ibu itu tercengang. Dia benar-benar terkejut. Dia kemudian menatap Fadil dan berkata:


'' Maaf mas! Darimana mas tahu nama suami saya? apakah mas ini mengenal suami saya?'' tanya wanita itu keheranan.


'' Maaf bu! Saya tidak mengenal suami ibu. Saya juga tidak bisa menjelaskan darimana saya tahu nama suami ibu. Suatu saat nanti, ibu juga pasti akan tahu dengan sendirinya. Dan maaf, ibu juga jangan menanyakan kepada saya tentang suami ibu, karena saya memang tidak tahu soal suami ibu.''


'' Yang terpenting sekarang adalah, ibu ikut saja bersama kami sampai di Jakarta. kebetulan mobil kami masih ada bangku kosong. Nanti kalau sudah sampai di Jakarta, saya akan Carikan mobil yang bisa mengantarkan ibu ke tempat tujuan. Dan untuk biaya kebutuhan ibu disana, Insyaallah, saya juga akan membantu ibu sekedarnya.'' ujar Fadil lalu mengajak wanita tersebut, membawa barang bawaannya untuk diletakkan kedalam mobilnya.


Wanita itu tidak bisa menolak ajakan Fadil. Meskipun dia tidak mengenal Fadil dan yang lainnya, tapi dia melihat ketulusan hati dari Fadil. Apalagi, saat ini memang tidak ada pilihan lain yang terbaik, selain mengikuti dan menerima bantuan dari Fadil. Mereka kemudian berjalan menuju mobil yang dibawa oleh Fadil.


'' Tiara, tolong ajak ibu ini ke mobil.'' pinta Fadil kepada Tiara.


Tiara mengangguk. Dia kemudian mengajak wanita tersebut, dan bocah kecil yang ternyata anak dari wanita itu, menuju deck dimana mobil Fadil berada. Fadil dan Ulil segera berjalan mengikuti mereka. Saat berjalan menuju tempat dimana mobil Fadil berada, Ulil kemudian berkata:

__ADS_1


'' Mas Fadil, apa tidak sebaiknya kita cari pelaku hipnotis itu mas. Siapa tahu kita bisa meminta pelakunya agar mengembalikan uang ibu itu!'' ujar Ulil.


'' Percuma Lil. Aku yakin, pelakunya sudah pergi sebelum kapal ini berlayar.'' jawab Fadil.


'' Kok bisa begitu mas Fadil! Bagaimana mas Fadil bisa yakin, kalau pelakunya sudah tidak lagi berada didalam kapal ini?'' tanya Ulil penasaran.


'' Lil, kejadiannya sudah lewat dari satu jam yang lalu. Pelakunya tidak mungkin mau mengambil resiko untuk tetap berada didalam kapal ini. Menurut perkiraanku, pelakunya langsung turun dari kapal ini, setelah dia menguras harta korbannya. Dan menurut perkiraanku juga, pelakunya bukan satu orang, melainkan dua atau tiga orang.'' jawab Fadil.


'' Mas Fadil. Apa mas Fadil yakin, kalau ibu itu memang korban dan tidak berpura-pura?'' bisik Ulil sedikit merasa khawatir.


'' Tidak Lil. Dia memang benar-benar seorang korban. Aku bisa melihat dari sorot mata dan garis-garis raut wajahnya. Tidak ada tanda-tanda kalau dia sedang berpura-pura.'' bisik Fadil menjawab menepis prasangka Ulil.


Satu jam kemudian. Kapal yang mereka tumpangi, mulai merapat di dermaga pelabuhan Merak. Fadil, Ulil, Tiara dan juga wanita bersama anaknya tersebut sudah berada didalam mobil. Sekarang Tiara mendapat teman ngobrol didalam mobil, sehingga dia tidak lagi merasa sedikit bosan karena hanya jadi pendengar saat Fadil dan Ulil mengobrol. Ditambah lagi, anak dari wanita tersebut juga begitu lucu dan menggemaskan. Sehingga semua yang ada didalam mobil tersebut begitu terhibur dengan polah bocah tersebut.


'' Mas.. maaf! kenapa mas mau menolong saya. Bukankah mas sendiri tidak mengenal saya?'' tanya wanita tersebut.


'' Emm.. Begini bu! tolong menolong dan saling membantu itu, merupakan suatu kewajiban. Baik terhadap orang yang kita kenal, ataupun yang tidak. Saat ini, ibu sedang dalam kesulitan. Dan secara kebetulan, kami bisa sedikit membantu ibu.''


'' Jadi, bukankah wajar kalau kami mau menolong ibu. Lagi pula, seperti yang ibu katakan tadi, ibu sedang dalam kesulitan karena mengurusi kedua mertua ibu yang sedang sakit lumpuh.''


'' Apa yang ibu lakukan itu, sungguh sangat mulia. Jarang sekali orang yang bisa berbuat seperti ibu ini. Sejujurnya, saya sangat tersentuh dengan apa yang telah dan akan ibu lakukan.''


'' Dan mungkin juga, Allah telah mengirimkan kami, agar kami bisa membantu ibu.'' lanjut Fadil.


Mendengar penuturan Fadil, wanita tersebut begitu terharu. Berulang kali dia mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Fadil. Fadil mengangguk dan menasehati wanita itu, agar dia bersyukur kepada Allah. Sebab pertemuan mereka itu, adalah karena atas kehendak Allah SWT.


Dalam perjalanan tersebut, Fadil menghentikan mobilnya disebuah rumah makan. Dia lalu mengajak semuanya untuk makan malam, sekaligus untuk menunaikan sholat isya, di musholla yang ada diarea rumah makan tersebut.


Tidak lupa, Fadil juga menghubungi Sintya dan mengatakan kalau dia dan Tiara, sedang dalam perjalanan menuju rumah kedua orang tuanya Alan tersebut. Mendengar kalau Fadil dan Tiara akan datang, Sintya merasa begitu gembira. Dia lalu menghubungi Arya Wijaya, dan menyampaikan kabar tersebut.


Sintya memang sangat menantikan kedatangan Fadil dan Tiara. Meskipun belum satu bulan dia tidak bertemu dengan Tiara, namun dia begitu merindukan Tiara. Sepertinya, Sintya memang benar-benar sangat menyukai calon menantunya tersebut.


Fadil juga mengatakan, bahwa dia tidak hanya datang bersama Tiara. Tetapi juga bersama Ulil temannya, dan seorang wanita yang ditolongnya. Diapun meminta pendapat kepada Sintya, apakah dia harus membawa wanita tersebut kerumah atau tidak.


Akhirnya, setelah Fadil menceritakan kronologis kejadian yang menimpa wanita tersebut, dengan pertimbangan dari ayah dan suaminya, Sintyapun mengijinkan Fadil untuk membawa serta wanita tersebut.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2