Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Bersandiwara


__ADS_3

Semua yang ada didalam kamar itu, secara bersamaan menoleh kearah pintu. Secara serempak, merekapun langsung menjawab salam tersebut.


'' Wa'alaikumsalaam warahmatullah..'' jawab Fadil dan yang lainnya.


Dari balik pintu, muncul Zulkifli sambil membawakan aneka kue dan minuman botol. Dia lalu meletakkan kue-kue dan minuman tersebut, di sebelah teman-temannya yang sedang berkumpul mengelilingi Fadil.


'' Waah... Lagi pada ngapain nih? kok kayaknya seru banget!'' ujar Zul sambil meletakkan bawaannya, lalu ikut duduk bersama mereka.


'' Begini paduka raja! kami semua ini, sedang memohon kepada kang mas Patih Alan, agar sekiranya beliau ini, mau mengajarkan ilmunya kepada kami.'' ucap salah satu diantara mereka yang dijuluki tukang ngeyel, bertingkah seolah dia sedang berada di istana kerajaan.


'' Betul Baginda raja! apa yang dikatakan oleh kang mas panglima ngeyel itu, memanglah demikian adanya. Akan tetapi, kang mas Patih Alan tidak menerima permohonan dari kami semua.'' sahut santri yang ada disebelahnya.


Meskipun apa yang dikatakan oleh mereka itu serius, namun semua yang ada didalam kamar itu paham. Kalau sebenarnya, mereka sedang ingin menggoda Zulkifli yang hari ini menjadi raja sehari.


Untuk sesaat, suasana didalam kamar itu menjadi hening. Namun demikian, sebenarnya didalam hati mereka, saat ini sedang terkekeh-kekeh atas candaan mereka tersebut.


'' Hemm.. Apa itu benar kakang Patih?'' tanya Zul kepada Fadil sambil manggut-manggut dan mengelus-elus dagunya.


Mereka semua tidak ada yang menyangka, kalau candaan mereka ini, ternyata disambut oleh Zul yang kini ikut bertingkah seakan-akan dia adalah raja. Sambil menunggu respon dari Fadil, dia terus menatap kearah Fadil dengan serius dan kembali berkata:


" Kenapa kakang Patih tidak mau mengajarkan ilmu itu kepada panglima ngeyel dan juga panglima dodol serta yang lainnya. Bukankah itu penting untuk keamanan kerajaan kita ini?'' tanya Zul terlihat begitu serius.


Semua orang yang ada didalam kamar itu, sebenarnya sudah tidak tahan untuk menahan tawa mereka. Namun, mereka juga ingin melihat bagaimana respon dari Fadil, yang kini ditanya oleh Zul yang terlihat begitu serius tersebut. Karena Fadil masih juga diam, maka suasana disanapun kembali menjadi hening.


'' Ampun kakang Prabu! hamba bukanya tidak ingin mengajarkan ilmu ini kepada para panglima di kerajaan ini. Namun, guru hamba Raden kian Santang berpesan kepada hamba, agar hamba tidak sembarangan mengajarkan ilmu ini kepada orang lain, termasuk para panglima di kerajaan kita ini.'' jawab Fadil, malah ikut bersandiwara bersama mereka.


'' Kenapa bisa demikian kakang Patih?'' tanya Zul merasa penasaran. Begitu juga dengan yang lainnya.


'' Ampun kakang Prabu! Ini semua karena.. karena.. itu kakang Prabu!'' jawab Fadil sambil menunjuk kue dan minuman yang tadi dibawa oleh Zul.


Semua orang yang ada didalam kamar itu, secara spontan melihat kearah yang ditunjuk oleh Fadil. Karena mereka sedang serius ingin mendengar alasan dari Fadil, mereka jadi ikut terkejut dan bertanya-tanya ada apa dengan sesuatu yang ditunjuk oleh Fadil tersebut. Zul yang tidak mengerti akan maksud Fadil, diapun segera lanjut bertanya.


'' Ada apa dengan itu kakang Patih?''


'' Itu..! itu..! Kenapa itu tidak segera diletakkan disini saja kakang Prabu! Bukankah sebaiknya itu segera disantap bersama. Kalau tidak, tentu akan mubadzir jadinya.'' jawab Fadil sambil tersenyum.


Zulkifli dan semua yang ada disana, sudah begitu serius ingin mendengarkan alasan Fadil yang tidak mau mengajarkan ilmunya. Akan tetapi, setelah Fadil menunjuk dan mengatakan soal kue tersebut, merekapun mulai paham. Kalau sebenarnya, Fadil tidak ingin membahas masalah tersebut.


Zulkifli lalu segera meletakkan kue-kue dan juga minuman botol tersebut ditengah-tengah mereka. Tanpa menunggu diperintah, Fadil langsung mengambil dan mencicipi kue dan minuman tersebut, dan diikuti oleh yang lainnya.


'' Aiyya... aku kira apaan, kang Alan ini! ada-ada saja, hhh..''


'' Haish... ane juga. Udah serius-serius dengerin, gak taunya kang Alan malah bercanda. Dodool..dodol, hhh..''


Mendengar celotehan mereka, dan juga sandiwara yang barusan mereka lakukan, tawa merekapun akhirnya pecah. Tidak disangka, candaan mereka yang tanpa disengaja itu, ternyata saling bersambut. Percakapan diantara mereka yang seolah-olah sedang berada didalam istana tadi, sudah seperti sebuah film jaman kerajaan.


'' Oh iya, ngomong-ngomong! Kenapa kakang Prabu datang kemari? apa nanti tidak dicariin sama gusti permaisuri?'' tanya Fadil sambil terkekeh, diikuti oleh tawa santri yang lainnya.


'' Hhh.. kang Fadil ini, kakang Prabu apaan? saya kemari ini, karena diperintahkan oleh Ayahanda, untuk memanggil kakang Patih Fadil untuk menemui Ayahanda.'' ujar Zul.


'' Sekarang?'' tanya Fadil.

__ADS_1


'' Aiyya.. ya iyalah kang Alan! masa nanti malam. Bisa terganggu tuh acara Baginda raja dan gusti permaisurinya.'' ujar santri yang ada di sebelah zul, sambil senyum-senyum melirik kearah Zul.


'' Ish.. antum ini, ngomong apaan sih?'' ujar Zul sedikit salah tingkah.


'' Hemm.. betul juga ya. Baiklah! Daulat kakang Prabu, titah paduka akan hamba laksanakan. Hamba akan segera menghadap ayahanda kakang Prabu di istana.'' ucap Fadil lalu segera berdiri.


'' Tunggu kakang Patih! sebaiknya kita berangkat bersama-sama kesana.'' sahut Zul segera menyusul.


Merekapun segera keluar dari kamar itu, diiringi gelak tawa teman-teman Zul, akibat tingkah konyol keduanya yang kembali seakan-akan mereka itu adalah orang-orang dari istana kerajaan.


'' Kang zul, kira-kira ada apa ya sampai Abah memanggil saya?'' tanya Fadil merasa penasaran.


'' Kurang tau kang Fadil! Abah tadi tidak mengatakan apapun saat menyuruh saya memanggil kang Fadil.'' jawab Zul saat mereka sedang berjalan menuju ke kediaman Abah.


'' Assalamualaikum..'' ucap Zul dan Fadil saat sudah sampai didepan rumah Abah.


'' Wa'alaikumsalaam warahmatullah.. Masuk masuk!'' ucap Abah setelah melihat kedatangan Fadil dan Zul.


'' Abah memanggil saya?'' tanya Fadil saat sudah masuk dan duduk diruang tamu.


'' Iya nak Fadil. Abah memang memanggilmu! Abah pengen ngobrol sedikit sama kamu.'' ujarnya.


'' Iya Abah, silahkan!'' jawab Fadil.


'' Begini nak Fadil, Abah tadi benar-benar terkejut saat melihat aksi kamu tadi siang. Abah juga tidak menyangka kalau ternyata kamu memiliki kemampuan seperti itu. Abah jadi teringat akan seseorang.'' ujar Abah lalu berhenti berbicara sejenak, untuk meminum teh buatan Ummi.


'' Dulu, waktu Abah masih muda, Abah pernah belajar kepada guru Abah. Beliau itu masih keturunan seorang Elang. Beliaulah yang mengajari Abah beberapa macam ilmu beladiri, termasuk juga ilmu kebal yang pernah Abah berikan kepada para santri tempo hari.''


'' Maaf Abah! Tadi, saya benar-benar tidak sengaja melakukannya. Saya terlalu emosi, karena orang tersebut telah melukai Tiara.'' ujar Fadil sambil menunduk.


'' Abah tidak mempermasalahkan hal itu nak Fadil. Abah juga mengerti, kalau nak Fadil sepertinya sangat mencintai Tiara. Dan menurut Abah, itu juga termasuk wajar jika nak Fadil begitu emosi terhadap orang tersebut. Bagaimanapun juga, Tiara adalah calon istri nak Fadil yang sudah semestinya nak Fadil lindungi.''


'' Nak Fadil. Tujuan Abah memanggilmu kemari, karena Abah ingin bertanya kepada nak Fadil. Apakah nak Fadil ini, masih termasuk keturunan Elang seperti guru Abah?'' tanya Abah kepada Fadil.


Fadil terdiam sejenak. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Abah. Dia lalu menunduk sambil mengingat-ingat kembali perkataan ibunya.


'' Sebenarnya begini Abah. Ibu saya pernah mengatakan kepada saya, kalau hal ini tidak boleh diberitahukan kepada siapapun. Ibu saya juga telah berpesan, agar saya tidak menggunakan ilmu yang saya miliki ini, kecuali dalam keadaan yang sangat penting. Namun, gara-gara saya kurang bisa menahan diri, akhirnya saya melakukannya seperti yang Abah lihat tadi.''


'' Dan karena Abah juga sepertinya sudah bisa menebak identitas garis keturunan saya, maka sayapun tidak bisa lagi menyembunyikannya didepan Abah.''


'' Jadi benar! kalau nak Fadil ini masih termasuk keturunan Elang?'' tanya Abah kembali memastikan.


Fadil mengangguk, namun diapun meminta kepada Abah dan yang lainnya, seperti Ummi, Zul dan juga Naila, agar mereka tidak menceritakan hal ini kepada siapapun. Bahkan, dia sendiri tidak ingin menceritakan tentang siapa dirinya kepada keluarga pemilik tubuh yang sekarang dia gunakan, seperti kepada Sintya, Andika, Arya Wijaya, maupun kepada Tiara calon istrinya.


Abah dan yang lainnya mengangguk mengerti. Mereka juga berjanji, kalau mereka tidak akan menceritakan hal ini kepada siapapun. Cukuplah bagi mereka sekedar tahu, dan tidak ingin menjadikan hal tersebut sebagai bahan perbincangan bagi mereka, apalagi kepada orang lain.


'' Oh iya Abah! kalau boleh saya tahu, apakah guru Abah masih ada dan dimana dia sekarang?'' tanya Fadil, merasa penasaran tentang gurunya Abah tersebut.


'' Kalau menurut yang Abah dengar, beliau itu insyaallah masih hidup. Namun, beliau sering berpindah tempat. Terakhir kali Abah dengar, beliau sekarang berada di Kalimantan. Namun, beliau sangat sulit untuk bisa ditemui.''


'' Maaf Abah! kalau boleh saya tau, siapa nama guru Abah tersebut?'' kembali Fadil bertanya.

__ADS_1


'' Kalau nama aslinya, Abah sejujurnya kurang tahu. Namun, beliau sering dipanggil dengan nama Panji Anom.'' ujar Abah menjelaskan.


Fadil manggut-manggut. Namun dia tidak lagi bertanya tentang orang yang bernama Panji Anom, gurunya Abah tersebut. Begitupun halnya dengan Abah, Zul, ataupun lainnya. Mereka sepertinya tidak ingin lebih jauh lagi, mencari tahu rahasia yang dimiliki oleh Fadil.


'' Oh iya abah. Ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan, sekaligus saya meminta pendapat dari Abah tentang hal yang satu ini.'' ujarnya.


'' Oh.. silahkan nak Fadil, silahkan! kalau nanti Abah bisa memberikan saran, Abah pasti akan mengatakannya padamu.'' jawab Abah.


'' Begini Abah....''


Fadil lalu menceritakan dari awal hingga akhir tentang Baron, anak buahnya pak lurah. Dia juga menceritakan hal yang sebenarnya, kalau Baron yang tadi siang menyerangnya itu, disebabkan karena Baron merasa frustasi. Dia sangat sedih, karena tak lagi menemukan istri dan anaknya berada di rumah. Serta karena melihat kedua orang tuanya itu, tidak ada yang mengurusnya sama sekali, sejak dia dipenjara akibat ikut dalam penyerangan waktu malam itu.


'' Begitulah Abah. Sebenarnya, dia itu orang baik. Hanya saja, karena kondisi keluarganya yang seperti itu, dia terpaksa mengikuti pak lurah.''


'' Kalau Abah tidak berkeberatan, saya ingin dia itu dijadikan keamanan di sekitar pesantren ini. Sekaligus, supaya dia bisa merubah segala hal buruk di masa lalunya, dengan sedikit banyaknya mengikuti pengajian umum yang diadakan di pesantren ini.'' ujar Fadil.


'' Namun tentunya, dia akan tetap diawasi oleh pak Andre sebagai penanggung jawab daerah ini. Jika nantinya ada gelagat yang kurang baik, maka pak Andre sendiri yang akan langsung mengambil tindakan kepadanya.'' lanjut Fadil.


'' Apa menurut nak Fadil, dia itu sudah benar-benar insyaf?'' tanya Abah.


'' Insyaallah Abah. Kalau saya lihat dari sikap dan keinginan dia untuk berubah, saya sangat yakin kalau dia itu benar-benar sudah insyaf.'' jawab terhadap Fadil.


'' Ya sudah! kalau menurut nak Fadil seperti itu, Abah juga akan ikut mendukung apa yang ingin nak Fadil lakukan.'' ujar Abah kepada Fadil.


Secara kebetulan, begitu Abah selesai berkata, terdengar suara adzan isya berkumandang. Mereka lalu mengakhiri pembicaraan itu, dan segera pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat isya berjamaah disana. Usai sholat isya, Fadil kembali ke asramanya. Dia lalu segera beristirahat disana.


Sementara itu, teman-teman sekamarnya masih berada dilokasi tenda, tempat pesta pernikahan Zul dan Naila hari ini. Mereka ikut bergadang bersama para santri yang lain, sambil menikmati indahnya bulan yang bersinar begitu terang.


...----------------...


Fadil yang selepas sholat isya itu tertidur, kini dia terbangun saat hari sudah tengah malam. Dia segera pergi berwudhu, lalu kembali ke kamar itu untuk melaksanakan sholat sunnah dan berdzikir disana. Teman teman sekamarnya, baru saja kembali dan tertidur saat Fadil sedang berdzikir tadi.


Fadil lalu melihat jam, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Dia lalu keluar dari kamar itu, kemudian melihat suasana disekitarnya. Meski tidak seramai tadi, namun beberapa santri masih asyik berjaga di bawah tenda sambil mereka mengobrol disana. Beberapa diantaranya, ada juga yang begitu asyik bermain dengan ponselnya.


Beberapa saat kemudian. Setelah situasinya memungkinkan, tiba-tiba tubuh Fadil berubah menjadi cahaya putih. Dan dengan secepat kilat, cahaya itupun melesat ke langit dan hilang disana. Salah satu diantara para santri yang sedang bergadang itu, tanpa sengaja melihat kilatan cahaya putih tersebut. Diapun segera berkata:


" Hey lihat! apa itu?'' ujar santri tersebut.


'' Ada apa sih?'' tanya santri yang lainnya.


'' Tadi, kayak ada bintang jatuh. Tapi, ini bukan dari atas kebawah. Melainkan dari bawah ke atas.'' ujarnya.


'' Hhh.. kamu itu, ada-ada saja. Masa iya, ada bintang jatuh kok ke atas? itu namanya bukan bintang jatuh, melainkan bintang naik hhh..'' jawab santri yang lain.


'' Ish.. kamu itu! aku tuh beneran. Tadi, memang ada cahaya putih yang melesat naik ke atas. Kayaknya, cahaya itu keluar dari asramanya para senior deh!'' ujarnya.


'' Apa mungkin, itu kang Fadil yang lagi menguji ilmunya ya?'' tanya santri yang lain.


'' Ya bisa jadi! bukankah tadi siang, kang Fadil juga bisa terbang?'' sahut santri yang lain.


Mereka lalu kembali membicarakan bagaimana kejadian tadi siang. Mereka dengan penuh takjub, membicarakan bagaimana Fadil yang memiliki kemampuan seperti itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2