Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Pemuda misterius


__ADS_3

Seperti yang diminta oleh Alan, Arya Wijaya langsung menghubungi penanggung jawab wilayah tersebut untuk menemui Alan. Juga menghubungi rekannya dari pihak kepolisian yang langsung mengirimkan intelejen untuk melakukan investigasi terhadap kasus Gus Alif.


Pagi itu Alan sudah siap pergi menemui penanggung jawab wilayah setempat. Meskipun bagi Arya Wijaya perkebunan teh miliknya yang ada di daerah ini, hanyalah merupakan aset kecil yang tidak begitu bernilai, tapi juga merupakan cabang dari perkebunan teh di daerah Bogor. Yang tentunya juga ikut memberikan kontribusi yang tidak sedikit untuk pemasukan daerah dan wilayah setempat. Maka dari itu, walaupun Arya Wijaya hanya meminta kepada Satria selaku penanggungjawab wilayah Jawa barat, untuk mengirimkan bawahnya yang ada di kabupaten, namun ternyata Satria sendiri ikut turun tangan untuk menemui Alan.


Alasan Satria untuk ikut menemui Alan, karena Dia sendiri belum pernah bertemu dengan tuan muda calon pewaris perusahaan besar Kusuma Wijaya group tersebut. Perusahaan Kusuma Wijaya group sendiri, selain bergerak di bidang perumahan dan hotel, konsorsium, furniture, garmen dan juga beberapa perkebunan, yang semuanya tersebar di beberapa kota-kota besar di negeri ini. Maka sangatlah wajar jika Satria jauh jauh dari kota Bandung, mengambil kesempatan datang untuk menemui Alan.


Disaat Alan baru sampai di tempat pangkalan ojek, sebuah mobil Ferrari telah menunggu di sana. Satria awalnya ragu, benarkah pemuda yang terlihat seperti orang biasa itu merupakan tuan mudanya. Alan yang hanya memakai kemeja putih dan celana standar warna hitam, memakai kopiah dan sandal jepit itu, benar-benar tidak terlihat seperti seorang tuan muda pada umumnya, yang selalu berpenampilan necis dan stile dengan pakaian yang serba bermerek. Namun setelah melihat foto dan juga menghubungi nomor ponsel Alan, barulah Satria yakin kalau anak muda itulah yang ingin ditemuinya.


'' Tuan muda '' sapa Satria setelah membawa mobilnya mendekati Alan yang sedang berdiri di trotoar dekat pangkalan ojek.


Satria segera turun dan membukakan pintu. Beberapa orang yang melihat kehadiran mobil mewah tersebut, tidak bisa memalingkan pandangannya. Bagaimanapun juga, melihat secara langsung mobil mewah berada di tempat umum seperti itu, adalah termasuk hal yang cukup langka. Apalagi di kota kecil seperti ini. Alan segera masuk kedalam mobil itu. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian, karena ulah Satria yang menjemputnya menggunakan mobil mewah tersebut.


'' Paman, lain kali jangan buat heboh seperti ini lagi.'' tegur Alan kepada Satria sedikit kurang senang.


'' Maaf tuan muda!. Saya ngaku salah, saya janji lain kali tidak akan mengulanginya lagi.'' seru Satria, lalu segera membawa mobilnya meninggalkan tempat itu, yang semakin banyak mengundang kerumunan orang yang ingin melihat mobil mewah tersebut.


'' Sekarang kita kemana tuan muda?'' tanya Satria.


'' Kita cari hotel terdekat saja paman, pesankan kamar yang ada ruang lobinya.'' jawab Alan.


Awalnya, Alan ingin mengajak Satria berbicara ditempat wisata yang ada disekitar daerah tersebut, sambil menikmati sarapan pagi. Namun, karena khawatir akan menimbulkan kehebohan lagi, akhirnya Alan memutuskan untuk membahas masalah tersebut di hotel. Karena menurutnya, selain dapat menghindari adanya kerumunan massa, juga bisa memesan tempat yang lebih terjamin keamanannya.


Satria segera menghubungi bawahannya yang ada di daerah itu, memintanya untuk memesan kamar hotel dengan ruang lobi terbaik yang ada. Dia juga tidak lupa meminta kepada bawahannya tersebut, untuk menunggu kedatangannya di hotel.


'' Paman, tolong jangan panggil saya tuan muda!, saya tidak ingin jadi sorotan orang-orang karena panggilan itu. Panggil mas atau nak saja.'' ucap Alan setelah Satria selesai melakukan panggilan kepada bawahannya.


'' Kenapa harus seperti itu tuan muda? apa tuan muda ingin menyamar jadi orang biasa, seperti cerita pada novel-novel yang sekarang lagi ngetrend?'' tanya Satria keheranan.


'' Sudahlah paman, mau seperti cerita pada novel apa tidak, saya minta tolong sama paman, ikuti saja apa yang saya katakan.''


'' I, iya tuan muda! Eh Mas Alan.'' jawab Satria agak canggung.


Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan pintu gerbang hotel.


'Atlantic Hotel'' Merupakan hotel berbintang yang sangat terkenal di kota ini. Meskipun berada di sebuah kota kecil, namun hotel ini selalu jadi pilihan utama para pelancong dan turis. Baik dari dalam negeri, maupun dari luar negeri. Mereka yang datang ke hotel ini, umumnya dari golongan masyarakat menengah ke atas. Jadi tidak heran, kalau ada juga beberapa deretan mobil mewah seperti BMW dan juga mobil mewah lainnya. Hal ini membuat Alan merasa sedikit tenang. Karena dengan adanya mobil-mobil mewah tersebut, dia tidak akan terlalu jadi sorotan. Walaupun pada kenyataannya, kedatangan Satria yang membawa mobil Ferrari itu, masih saja mengundang perhatian dari para pengunjung, dan pegawai hotel tersebut.


Selaku penanggung jawab daerah setempat, Andrea Permana dan beberapa pengawalnya, buru-buru menghampiri mobil tersebut. Membukakan pintu untuk Satria dan Alan. Bagi Andre, adalah suatu kehormatan bisa bertemu dengan Satria. Bagaimanapun juga, Satria adalah orang yang sangat berpengaruh di provinsi ini. Sehingga, akan sangat sulit untuk bertemu dengannya. Tapi sekarang, Satria sendiri datang menemuinya. Maka dari itu, dia akan melayaninya dengan sebaik-baiknya.


'' Tuan Satria.., silahkan!'' ucapnya.


Setelah membungkuk hormat, Andre segera mengajak Satria menuju ruang yang telah dipersiapkannya. Meskipun Andre juga melihat Alan keluar dari mobil itu, namun karena dia tidak mengetahui siapa anak muda tersebut, dan ditambah lagi penampilan Alan yang sangat biasa-biasa saja. Maka, Andre tidak begitu perduli kepada Alan. Dia hanya sibuk melayani Satria, yang merupakan tamu agung baginya.


Satria ingin memberi tahu Andre, tetapi Alan memberi isyarat kepadanya sehingga Satria hanya bisa mengikuti kemauan Alan dan segera berjalan menuju ruangan yang telah dipersiapkan. Sementara Alan berjalan dibelakang mereka. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ponsel Alan berdering. Satria yang menyadari Alan berhenti berjalan, diapun segera menghentikan langkahnya untuk menunggu Alan.


'' Tuan Satria kenapa berhenti! mari saya antar tuan ke ruangan yang tuan minta. Biar anak ini, menyusul dengan pengawal saya saja.'' ujar Andre sambil mengisyaratkan kepada salah satu pengawalnya untuk menemani Alan.


'' Tapi.'' ujar Satria ragu-ragu.

__ADS_1


'' Paman, paman duluan saja!. Nanti saya nyusul.'' ucap Alan mencoba menghilangkan keraguan Satria.


Akhirnya Satria, Andre dan beberapa orang pengawalnya pergi memasuki hotel tersebut. Meninggalkan Alan, dan seorang pengawal Andre yang masih berada di area parkiran hotel tersebut.


'' Halo! tuan muda, saya diperintahkan oleh tuan besar untuk menemui tuan muda. Dimana posisi tuan muda sekarang? biar saya kesana!'' suara dari sebrang setelah Alan mengangkat ponselnya.


'' Saya sedang di Atlantic hotel, langsung kesini saja!, kebetulan saya juga masih ada di area parkiran.'' jawab Alan setelah mengetahui orang yang menelponnya adalah orang suruhan kakeknya.


'' Baik tuan muda, saya langsung menuju lokasi.'' jawab orang dari sebrang itu singkat.


Beberapa menit kemudian, sebuah mobil Lamborghini sports dengan plat nomor Jakarta, muncul memasuki halaman hotel dan langsung menuju area parkir dimana Alan berada.


'' Tuan muda.., ini titipan dari tuan besar. Isinya sebesar 500 M. PIN nya adalah hari lahir tuan muda sendiri.'' ucap orang itu sambil menyerahkan kartu bank eksklusif kepada Alan.


'' Ha! sebanyak itu?'' ujar Alan keheranan.


Meskipun dalam rekening pribadi miliknya, Alan mempunyai beberapa T, namun Alan sendiri merasa terkejut dengan jumlah nominal yang diberikan oleh kakeknya. Tadinya dia mengira kakeknya akan memberikan uang beberapa ratus juta saja untuk disumbangkan ke pesantren tempatnya berada. Tapi ternyata, kakeknya malah memberinya uang sebanyak itu. Tepat disaat Alan sedang dalam keheranan itu, ponselnya kembali berdering.


'' Assalamualaikum.., kakek..'' ucap Alan setelah mengetahui siapa yang menghubunginya.


'' wa'alaikumsalaam.., Alan!, Bagaimana? apa titipan kakek sudah sampai?'' tanya Arya Wijaya seolah-olah mengetahui, jika orang yang diutusnya sudah sampai dihadapan Alan.


'' Sudah kek, tapi.., kok banyak banget ya?'' ujar Alan.


'' Alan, kakek sengaja kasih kamu segitu, karena kakek tahu kamu ke pesantren tidak banyak bawa uang. Lagipula kamu bilang kamu juga akan melakukan beberapa bisnis disana. Jadi, uang itu itung-itung buat persiapan DP yang nanti pasti kamu butuhkan. Kakek tidak akan membatasi berapa jumlah uang yang ingin kamu sumbangkan di pesantren kamu, tapi kakek cuma berpesan agar kamu bisa sebijaksana mungkin, dalam membagi uang tersebut.'' ucap Arya Wijaya menjelaskan.


'' Baik kek, Alan paham sekarang. terimakasih ya kek, sudah mendukung Alan.'' jawab Alan dengan rasa puas dihatinya.


'' Oh iya Alan, nanti kalau ada apa-apa? hubungi saja Satria atau penanggung jawab wilayah setempat untuk membantumu, oke..''


'' Siap kakek, Alan tahu apa yang harus Alan lakukan, kakek tenang saja.''


'' Ya sudah kalau begitu, Assalamualaikum Alan.., kakek tutup dulu ya!''


'' Iya kek, wa'alaikumsalaam warahmatullah.''


Setelah panggilan itu berakhir, Alan menarik nafas lega. Dia kemudian menatap orang suruhan kakeknya tersebut lalu berkata:


'' Terimakasih pak, sudah jauh-jauh dari Jakarta kesini. Oh iya, ngomong-ngomong sudah sarapan belum?'' tanya Alan kepada orang tersebut.


'' Sudah tuan muda! Sebelum kesini, tadi saya sudah sarapan.'' jawabannya.


'' Tidak, kalau belum sarapan, kita sarapan dulu sama-sama.'' ajak Alan.


'' Terimakasih tuan muda, tapi saya tadi memang sudah sarapan. Dan berhubung tugas saya menyampaikan titipan tuan besar sudah selesai, saya juga akan balik lagi ke Jakarta.'' ucapnya kemudian berpamitan kepada Alan.


'' Ya sudah kalau begitu!, hati-hati dijalan ya.'' ucap Alan.

__ADS_1


'' Iya tuan muda, saya permisi.''


Setelah membungkuk hormat, diapun segera masuk kedalam mobil itu dan segera pergi meninggalkan hotel tersebut.


Sejak kedatangan mobil mewah tersebut, pengawal Andre telah lebih dulu menjauh, dia sudah terbiasa dididik oleh Andre untuk tidak berurusan dengan orang-orang kaya yang tidak dikenalnya. Karena khawatir akan menimbulkan masalah bagi dirinya. Oleh sebab itulah dia juga merasa heran, kenapa anak muda yang berpenampilan biasa saja itu, tidak segera menjauh saat mobil itu berhenti didekatnya.


Namun, setelah melihat orang yang turun dari mobil itu berbicara kepada Alan dengan sopan, meskipun dia tidak mendengar percakapan mereka, diapun berfikir mungkin mereka saling kenal. Apalagi, Alan tadi datang bersama Satria dengan menaiki mobil mewah juga.


Hanya saja, yang jadi pertanyaan dalam hatinya adalah, siapa sebenarnya anak muda tersebut. Walaupun penampilannya hanya biasa-biasa saja, tapi sepertinya dia mengenal orang-orang kaya yang berstatus tinggi. Di tambah lagi, dia juga sempat melihat plat mobil Lamborghini tadi, yang jelas-jelas bukan milik orang sembarangan.


'' Mas, ayo masuk!'' Ajak Alan kepada pengawal Andre yang tampak usianya tidak selisih jauh darinya. Dan terlihat seperti sedang melamun sambil menatap mobil Lamborghini yang semakin jauh meninggalkan tempat itu.


'' I iya mas! Mari mari.'' jawabnya terkejut, karena tiba-tiba mendapati Alan sudah ada dihadapannya.


Ketika mereka berjalan menuju lift, dia tanpa sadar bertanya kepada Alan.


'' Siapa orang tadi itu mas? sepertinya sangat akrab dengan mas ini!'' tanya pengawal Andre penasaran.


'' Oh..! itu. Itu orang suruhan bosnya pak Satria dari Jakarta.'' jawab Alan singkat.


'' Oh.., pantesan. Bisa kenal sama masnya ya?''


Alan hanya tersenyum menanggapi ucapan pengawal Andre tersebut.


'' Kalo mas sendiri, sudah lama kenal dengan pak Satria?'' tanyanya lagi.


'' Emm.., belum lama juga sih.'' jawab Alan.


'' Mas ini beruntung banget ya? bisa kenal dengan pak Satria. Padahal, dia itu kata pak Andre, orang paling berpengaruh di seluruh Jawa barat ini lho! Untuk bertemu dengan dia saja, itu tidak mudah. Apalagi bisa kenal dekat dengan dia.'' lanjutnya lagi.


'' Ya.., mungkin saja seperti itu.'' jawab Alan asal. Karena dia tidak ingin memberi tahukan siapa dia sebenarnya.


Setelah pintu lift terbuka, mereka kemudian berjalan melewati sebuah koridor dan akhirnya sampai diujung koridor tersebut. Alan lalu mengetuk pintu tersebut. Saat pintu itu terbuka, tampak Satria sendiri yang membukakan pintu. Awalnya Andre menyuruh pengawalnya untuk membukakan pintu, namun Satria melarangnya dan dia sendiri yang membukakan pintu tersebut. Hal ini membuat Andre merasa sedikit heran dengan apa yang dilakukan oleh Satria.


'' Mas Alan mari masuk!'' sapa Satria penuh hormat.


Andre dan beberapa pengawalnya semakin heran dengan sikap Satria kepada pemuda yang dipanggil mas Alan itu. Sebenarnya, siapa pemuda yang berpenampilan biasa itu? kenapa Satria yang terkenal itu tampak begitu hormat kepadanya?''


Dikamar yang sangat luas itu, terdapat sebuah ruangan untuk rapat dan juga beberapa fasilitas lainnya. Dari ruangan ini juga, tampak pemandangan yang begitu indah. Tampak jelas persawahan yang bersusun rapi, perkebunan teh dan pepohonan yang menghijau. Dan juga, lereng gunung Ciremai dengan jalan yang meliuk-liuknya. Seakan-akan, di ruangan ini dipasang sebuah lukisan tiga dimensi raksasa yang begitu sempurna.


Di ruang rapat itu, Satria segera mengantarkan Alan menuju kursi utama. Alan berbisik kepada Satria, Satria mengangguk dan segera berkata kepada Andre.


'' Pak Andre, tolong minta pengawal anda untuk menunggu diluar, ada hal penting yang akan kita bicarakan.'' ucap Satria kepada Andre.


Andre segera memberi isyarat kepada anak buahnya untuk pergi dari ruangan itu dan menunggu diluar.


Setelah semua anak buah Andre keluar, Alan segera duduk di kursi utama tersebut. Sementara Satria duduk di sebelahnya berhadapan dengan Andre.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2