Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Firasat


__ADS_3

Jam 07.00, hari kedua lebaran.


Fadil yang sudah semenjak subuh telah bangun, kemudian mandi, dan terus pergi ke masjid untuk sholat subuh berjamaah, dia mulai mempersiapkan segalanya.


Di depan cermin dalam kamarnya, dia sedang menyisir rambutnya. Berdandan serapi mungkin, sehingga dia tampak begitu tampan melebihi biasanya. Tidak ketinggalan, minyak wangi non alkohol merek Dalal kesukaannya, dia oleskan ditubuh dan pakaiannya.


Sepuluh menit sebelum pukul 08.00, Fadil mengeluarkan motornya, dan memanaskan mesinnya terlebih dahulu. Setelah beberapa menit dirasa cukup, Fadil langsung menaiki motor CBR merahnya. Postur tubuhnya yang tegap dan atletis, semakin membuatnya tampak gagah dan serasi dengan motor yang dikendarainya.


Dengan penuh semangat, dan senyum berseri yang tampak dari wajahnya, menunjukkan bahwa hatinya penuh dengan rasa bahagia. Bahagia karena hubungannya dengan orang yang sangat dicintainya yaitu Tiara si kembang desa, telah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya. Dan hari ini, dia akan mengajak Tiara untuk berkunjung ketempat kerabatnya. Lalu pulangnya, mereka akan bersantai di sebuah warung bakso favorit para anak muda, yang berada ditempat wisata yang bernama wisata Taman Jodoh.


Tak butuh waktu lama, Fadil sudah memasuki halaman rumah Tiara, setelah memarkirkan motornya, dia langsung menuju pintu rumah Tiara.


Tok tok tok...


'' Assalamu'alikum... ''


'' Waalaikumsalam... '' terdengar suara dari dalam rumah.


Segera pintu rumah terbuka, seorang gadis remaja usia anak smp kelas 8, muncul dibalik pintu. Ternyata Vita adik Tiara yg membukakan pintu.


'' Tiara nya ada?'' tanya Fadil.


Vita tak menjawab pertanyaan dari Fadil, dia menoleh kebelakang dan berteriak:


'' Bu.., kak Tiara kemana?''


Dari ruang belakang muncul bu Lilis. Melihat kedatangan Fadil, dia berjalan menghampiri dan berdiri di samping Vita.


'' Tadi udah pergi keluar sama Yunita. Ibu kirain, malah udah pergi bareng sama nak Fadil juga.'' bu Lilis tampak agak keheranan.


'' Belum bu.., soalnya kita janjian berangkatnya jam delapan.'' jawab Fadil menjelaskan.


'' Emm..,Tiara sama Yunita udah lama perginya?'' lanjutnya.


'' Ya.., sekitar 15 menit yg lalu sih..!'' jawab bu Lilis.


'' Kira-kira, perginya kemana bu ya?'' Fadil semakin penasaran.


'' Kurang tau nak ya!''


'' Vit.., kamu tau gak, kemana kakak-kakakmu pergi?''


'' Gak tau tuh bu.., tapi mungkin kerumah temanya kak Yunita. Soalnya Vita dengar tadi pagi, kak Yunita mau nyamperin temanya ngajak jalan-jalan.''


Fadil hanya terdiam mendengarkan percakapan antara bu Lilis dan Vita yg ada didepannya.


'' Ya udah nak Fadil.., kamu tunggu aja, mungkin sebentar lagi juga pulang!'' usul bu Lilis.


'' Iya bu.'' jawab Fadil.


'' Ibu tinggal dulu ya nak Fadil.., ibu masih ada pekerjaan di dapur. Itu.., sambil dimakan kuenya.''


Bu Lilis membukakan beberapa tutup toples kue lebaran, setelah itu bu Lilis beranjak ke dapur diikuti oleh Vita.


Fadil duduk disana sendirian, kemudian dia menyalakan sebatang rokok. Tak ada satupun kue yang dia sentuh. Sebatang rokoknya sudah hampir habis, namun Tiara belum juga muncul. Hati Fadil mulai merasa cemas, dalam hati dia berkata:


'' Tiara..,kamu kemana sih? kok lama banget!, kita kan udah janji mau pergi jam delapan.''


Setengah jam kemudian, bu Lilis dan Vita muncul dari dapur.


'' Tiaranya masih belum datang juga ya nak Fadil?'' tanya bu Lilis.


'' Belum bu.'' Fadil dengan raut wajah yg gelisah.


'' Coba dihubungi ponselnya, biar cepet balik!'' perintah bu Lilis.

__ADS_1


'' Tadi sih udah bu,, tapi gak diangkat, mungkin lagi di jalan.'' jawab Fadil.


Disaat Fadil sedang menunggu tadi, beberapa kali Fadil mencoba menghubungi ponsel Tiara, tapi tidak diangkat-angkat.


'' Coba nak dihubungi lagi, mungkin lagi ada dimana?''


Fadil kembali mengeluarkan ponselnya, kemudian mencoba kembali menghubungi ponsel Tiara.


tuut... tuut.. tuut...


Terdengar suara dari ponsel Fadil yang sedang memanggil ponsel Tiara. '' Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan, silahkan hubungi beberapa saat lagi.'' tut. tut. tut..


Terdengar suara mesin penjawab otomatis, setelah beberapa kali panggilan tidak diangkat, kemudian secara otomatis terputus.


Hingga beberapa kali Fadil menghubungi, tapi tetap saja seperti itu. Saat Fadil mencoba menghubungi lagi, Vita masuk ke kamar Tiara. Terlihat ponsel Tiara yg ada di atas meja rias sedang di charger. Layarnya terus berkedip, menunjukkan sedang ada panggilan, di layar ponsel terlihat : '' A A Fadilku memanggil.''


Vita mengambil ponsel Tiara, kemudian keluar dari kamar itu lalu berkata:


'' Bu.., pantesan aja gak diangkat-angkat, hp nya ada dikamar.''


'' Ho.., ya pantesan!'' bu Lilis menyahut.


'' Coba telpon Yunita Vit!, hpnya dibawa kan?''


Tanpa menjawab, Vita langsung menghubungi nomor ponsel Yunita dengan menggunakan ponsel milik Tiara.


tuut... tuut... tuut...


'' Diangkat gak Vit?'' tanya bu Lilis.


Vita menggeleng, kemudian mengulangi kembali panggilan tersebut.


tuut.. tuut.. tuut...


'' Diangkat?'' bu Lilis bertanya kembali.


Hingga panggilan yg ketiga kalinya, hasilnya pun masih tetap sama. Ketika mencoba untuk melakukan panggilan yg berikutnya, panggilannya malah langsung diputus.


'' Sekali lagi Vit!'' pinta bu Lilis kepada Vita.


'' Nomor yang anda tuju, sedang tidak dapat dihubungi atau diluar servis area.''


Terdengar langsung suara mesin penjawab dari operator, menandakan kalau ponsel yg ada diseberang telah di non aktifkan.


'' Eeh, nih bocah,lagi pada ngapain? bukanya diangkat malah dimatikan!'' gerutu bu Lilis kesal setelah mengetahui kalau ponsel milik Yunita telah di non aktifkan.


Fadil semakin merasa tidak nyaman, akhirnya dia ijin pamit pada bu Lilis.


'' Ya udah bu, saya pamit dulu aja!''


'' lho nak Fadil mau kemana? apa gak mau nunggu barang sebentar lagi?'' bu Lilis mencoba membujuk Fadil dengan perasaan yang kurang nyaman dihatinya, karena Tiara dan Yunita yang belum pulang, juga tanpa kabar.


'' Biar saya nunggunya di rumah Mamat aja bu!, kebetulan saya juga ada sedikit keperluan dengan dia.'' ujar Fadil membuat alasan.


'' Maaf nak ya!, malah jadi seperti ini.''


Bu Lilis mengantar Fadil sampai ke depan pintu.


'' Iya bu, gak papa!'' jawab Fadil singkat.


Akhirnya Fadil pun pamit, lalu menyalakan mesin motornya. Kemudian pergi ke rumah Mamat yang rumahnya berada tak jauh dari rumah Tiara. Secara kebetulan, di rumah Mamat, Ulil sahabat karibnya sedang ada disana . Mereka sedang mengobrol diruang tamu.


'' Assalamu'alikum...'' Fadil setelah berada di depan pintu.


'' Wa'alaikumsalam... '' Ulil dan Mamat berbarengan.

__ADS_1


'' Lho kok kesini mas Fadil? nggak salah mampir?'' Ulil menggoda Fadil.


'' Katanya mau jalan sama bidadari, baru jam segini kok udah pulang? apa belum berangkat?'' Ulil terus nyerocos ketika Fadil memasuki ruangan itu.


'' Huu.., dasar bocah kupret ente. Belum juga duduk, udah dicecar banyak pertanyaan. Ente kira aku ini tersangka apa?'' Fadil langsung membalas cerocosan Ulil, saat bersalaman dengan mereka. Mamat yang menyaksikan kedua sahabat kental itu, hanya ikut cengar cengir melihat tingkah dan pola keduanya.


'' Iya.., mas Fadilkan, emang tersangka!, tersangka pencuri hati si kembang desa kita, he.., betul gak Mat?'' Ulil menoleh kearah Mamat mencari dukungan darinya.


Mamat cuma manggut-manggut sambil tersenyum, menanggapi ucapan Ulil yang menatap kearahnya.


'' Huu.., dasar, bisa aja ente!'' Fadil tersenyum sambil melempar sebiji kacang rebus kearah Ulil, dan tepat mengenai jidatnya.


'' Aduh!, jerawatku.'' Ulil sambil mengelus-elus jerawat yang tumbuh di keningnya.


'' Idiih, ngeri, ngeri. Ente lagi jatuh cinta ya Lil? coba liat!, uih.., itu jerawat apa bisul ya? makanya.., sering-sering wudhu.., biar bersih tu wajah ente!'' kini Fadil yang mulai nyerocos.


'' wah.., parah mas Fadil. Udah tau ini jerawat, malah dibilang bisul, belum tau kata pepatah kali ya? wajah tanpa jerawat, bagai langit tanpa bintang, he...''


'' hhh, dasar. Bisa aja ngelesnya. Ngasal pula!, ntar kalo di kasih banyak bintang di muka ente, baru tau rasa.'' Fadil terbahak dengan kata-kata Ulil yg asal ceplos tersebut.


Setiap kali bertemu, Ulil dan Fadil memang selalu ada aja bahan leluconnya, sehingga hati Fadil yang sedang gelisah karena masih belum bertemu dengan Tiara pun sedikit terhibur.


'' Eh mas Fadil, aku serius nih!, katanya mas Fadil mau jalan sama Tiara, kok masih disini?''


'' Rencananya sih gitu!, cuma Tiaranya lagi pergi sama Yunita. Makanya aku lagi nunggu, hanya saja udah hampir satu jam, mereka masih belum juga muncul.''


'' Ya ditelpon dong mas Fadil..!, usul Ulil.


'' Udah Lil.., tapi hpnya malah ada di rumah, Tiara gak bawa hp.''


'' Kalau Yunita?''


'' Tadi udah dihubungi, tapi tidak diangkat. Malah terakhir kali, dimatiin lagi, huff.'' Fadil melenguh.


'' Ya udah.., ditunggu aja kalau gitu!, atau kalau tidak, disusul aja mas Fadil!''


'' nyusulnya kemana Lil..? orang perginya kemana juga gak tau?''


'' Emang, rencananya mau jalan kemana mas Fadil?'' tanya Ulil.


'' Tadinya sih, mau ke tempat saudaraku. Terus nanti baliknya mampir ke Taman Jodoh gitu!'''


'' Mungkin dia udah kesana mas.''


'' Ya gak tau juga sih!, tapi.., tunggu 5 menit lagi ajalah, kalau 5 menit lagi masih belum datang, baru aku akan kesana.''


Setelah menunggu sampai 10 menit, ternyata tak ada tanda-tanda Tiara akan muncul. Akhirnya Fadil memutuskan pergi ke Taman Jodoh, untuk memastikan apakah Tiara dan Yunita sudah ada disana.


Dia mengajak Ulil untuk ikut bersamanya. Awalnya Ulil menolak, tapi setelah dibujuk Fadil, akhirnya Ulil pun ikut pergi bersamanya. Mereka pergi setelah berpamitan kepada Mamat. Ulil ikut berboncengan bersama Fadil.


Beberapa saat kemudian, Ulil dan Fadil sudah berada ditempat wisata Taman Jodoh. Disana pengunjungnya sudah cukup ramai. Namun, setelah berkeliling ditempat itu, Fadil tetap tidak menemukan keberadaan Tiara.


Fadil kemudian mengeluarkan ponselnya. Untuk kesekian kalinya, mencoba menghubungi lagi nomor Tiara. Namun yang mengangkat ponselnya adalah Vita, dan Vita juga mengatakan kalau Tiara dan Yunita masih belum pulang.


Suasana hati Fadil mulai berubah. Saat berangkat dari rumah, wajahnya sangat berseri-seri. Tapi kini wajahnya muram penuh kesedihan, kekecewaan, dan juga rasa emosi yg terpendam. Dilihatnya waktu di layar ponselnya, sudah menunjukkan pukul 10.05. Pikiran Fadil mulai kacau, akhirnya Fadil berkata kepada Ulil:


'' Lil.., kita jalan yuk!'' ajak Fadil.


'' Kemana mas Fadil?'' tanya Ulil.


'' Gak tau Lil, yang penting jalan, suntuk banget aku rasanya Lil.''


Ulil yg melihat sahabatnya seperti itu, rasanya tidak tega menolak ajakan dari Fadil. Merekapun akhirnya pergi tanpa tujuan. Ulil tidak berani mengajak Fadil untuk bercanda, dia hanya menyahuti saat Fadil mengajaknya bicara, tetapi saat Fadil hanya diam, diapun ikut diam.


Tanpa disadari oleh Fadil, motor yg dikendarainya bersama Ulil menuju Ke jalan lintas utama menuju kota Baturaja.

__ADS_1


Fadil mengendarai motornya dengan sangat pelan. Kecepatannya hanya berkisar antara 20 sampai 30 km/jam. Motor yang seyogyanya dapat dinikmati dengan kecepatan yang lebih itu, malah terlihat sangat lesu, se lesu jiwa dan raga Fadil saat ini.


...****************...


__ADS_2