
Beberapa saat kemudian, setelah meminta ijin kepada Abah. Fadil, Andre, letnan Rifa'i dan dokter Linda, serta dua orang anak buah Andre, mereka membawa Baron pergi menuju tempat tinggal Baron, untuk melihat dan membuktikan kondisi sebenarnya kedua orang tua Baron.
Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka tiba didepan sebuah rumah sederhana tempat tinggal Baron dan kedua orang tuanya. Saat terakhir kalinya Baron pergi untuk mencari informasi dimana keberadaan Fadil, Baron telah menitipkan kedua orang tuanya kepada seorang tetangganya, dengan membayarnya menggunakan uang pemberian dari orang yang telah membawanya kabur dari penjara.
'' Ma itu papa ma, papa pulang!'' teriak seorang anak kecil yang sedang duduk bermain sendirian didepan teras rumahnya.
Baron terkejut saat melihat anak perempuannya, kini sudah ada dirumah tersebut, sambil berteriak-teriak memanggil ibunya. Naya anak perempuan Baron yang masih kecil itu, segera berlari menyambut Baron yang baru saja turun dari mobil. Baronpun segera menghampiri Naya dan langsung menggendong dan menciuminya.
Dari dalam rumah, Mira istri Baron, segera keluar manakala dia mendengar Naya berteriak kalau kini suaminya telah pulang. Setelah melihat kalau suaminya itu benar-benar pulang, Mirapun segera menghampiri Baron yang sedang menggendong Naya.
'' Mas, mas Baron kemana saja selama ini mas? Saya, Naya, juga bapak sama ibu, menunggu mas sampai berbulan-bulan lamanya. Tapi mas tidak ada kabar sama sekali!'' ucap Mira sambil berlinang air mata.
'' Saya.. Saya, maafkan saya Mira! ceritanya panjang dan tidak bisa saya ceritakan sekarang. Kamu sendiri kemana Mir? Beberapa minggu yang lalu, saat saya pulang, saya juga tidak menemukan kamu dan Naya dirumah. Bahkan, bapak dan ibu juga tidak ada yang mengurusnya sama sekali. Sampai-sampai, kondisi keduanya begitu sangat memprihatikan.'' ujar Baron juga terlihat begitu sedih.
'' Maafkan Mira mas! Karena mas Baron tidak pulang-pulang, dan Mirapun sudah tidak sanggup lagi menjalani semuanya. Akhirnya Mira pulang ke Lampung. Namun, setelah beberapa hari disana, Mira selalu ingat dengan bapak dan ibu. Makanya, Mira kembali lagi kesini.''
'' Hanya saja, sewaktu di kapal saat akan kemari, Mira terkena musibah mas. Uang yang Mira dapat dari hasil meminta jatah warisan orang tua Mira, semuanya hilang. Untungnya ada seseorang yang mau menolong Mira, bahkan memberikan Mira tumpangan dan uang kepada Mira.'' ujar Mira menceritakan kejadian yang menimpanya.
'' Maafkan mas Mira! maafkan mas! tidak seharusnya kamu mengalami nasib seperti ini. Ini semua karena mas tidak pernah mau mendengarkan apa katamu. Mas menyesal Mir, sungguh mas sangat menyesal.'' ucap Baron dan langsung memeluk istrinya tersebut.
Melihat pemandangan yang ada dihadapan mereka, Fadil, Andre, letnan Rifa'i dan dokter Linda juga ikut terharu. Namun, mereka tidak segera turun dari mobil mereka. Melainkan, membiarkan Baron dan istrinya tersebut saling berbicara disana.
'' Oh iya Mir, bagaimana keadaan bapak dan ibu? apakah mereka baik-baik saja? saya juga sudah beberapa hari ini belum pulang. Namun sebelum saya pergi, saya sudah menitipkan mereka kepada tetangga untuk mengurusnya.'' tanya Baron setelah teringat kedua orang tuanya.
'' Alhamdulillah mas, bapak dan ibu sudah agak mendingan. Berkat uang pemberian dari orang yang telah menolong saya kemarin, saya bisa membelikan obat yang agak bagus untuk bapak dan ibu. Kini kondisi mereka sudah lebih baik dari kemarin.'' jawab Mira.
Setelah Baron dan istrinya melepaskan pelukan mereka, Fadil dan juga yang lainnya turun dari mobil dan berjalan kearah Baron dan istrinya. Disaat Fadil mulai berjalan tersebut, Naya yang melihat Fadil, dia langsung teringat dan berkata:
'' Mama, itu kakak tampan ma. Kakak tampan ada disini.'' ujar Naya sambil menunjuk kearah Fadil.
Fadil tersenyum kepada Naya. Mira yang mendengar Naya menyebut kakak tampan, dia segera menoleh kearah Fadil. Dia terkejut dan segera membungkuk menyapa Fadil. Baron juga ikut menoleh. Dia penasaran, siapa yang disebut oleh Naya dengan panggilan kakak tampan tadi. Naya segera turun dari gendongan Baron, dan langsung berlari menuju kearah Fadil.
'' Kakak tampan! Kok kakak tampan bisa ada disini? kakak tampan kangen ya sama Naya?'' celoteh Naya dengan polosnya, setelah dia berada dalam gendongan Fadil.
Belum juga Fadil menjawab pertanyaan Naya tersebut, Naya yang tidak melihat adanya Tiara, dia kembali lanjut bertanya.
'' Oh iya kakak tampan. Kok Naya tidak melihat kakak cantik! Dimana kakak cantik? kenapa kakak tampan tidak mengajak kakak cantik? Naya juga kangen lho sama kakak cantik!'' ujar Naya selanjutnya.
'' Iya adik manis! kakak memang kangen sama kamu. Kakak cantik juga! tapi kakak cantik tidak bisa ikut, mungkin lain kali kakak cantik baru ikut kemari.'' jawab Fadil sambil mencubit hidung Naya.
'' Tuan muda.'' sapa Mira setelah Fadil dan yang lainnya berada didepannya.
__ADS_1
'' Tuan muda? Mir, kamu dan Naya kenal sama dia?'' tanya Baron merasa heran, saat Mira menyapa Fadil dan Naya yang tampak begitu akrab denan Fadil.
'' Iya mas. Dia itu, tuan muda yang telah menolong saya sewaktu dikapal. Dan orang yang telah memberikan uang kepada saya juga, merupakan orang tua dari tuan muda ini.'' jawab Mira.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Mira, Baron benar-benar terkejut. Baru saja, dia tadi ingin mencoba untuk membunuh Fadil. Namun ternyata, orang yang ingin dia bunuh, adalah orang yang telah menolong istrinya. Dia kini benar-benar menyesal. Tanpa ragu-ragu, dia langsung berlutut dihadapan Fadil.
Melihat Baron akan melakukan sesuatu kepada Fadil, Andre langsung bersiap-siap untuk bertindak. Namun, Fadil langsung mencegah Andre, agar tidak melakukan apapun kepada Baron.
'' Tuan muda, maafkan saya tuan muda. Saya benar-benar tidak tau, kalau ternyata anda adalah orang yang telah menolong dan membantu keluarga saya. Kini saya benar-benar menyesal tuan muda. Maafkan saya tuan muda, maafkan saya!'' ujar Baron terlihat begitu sungguh-sungguh.
'' Sudahlah pak! bangun dan lupakan semuanya! Saya juga tidak sengaja bertemu dengan istri anda. Cepat bangunlah! jangan seperti ini!'' ujar Fadil sambil meletakkan Naya dari gendongannya.
'' Sekarang, tolong tunjukkan dimana kedua orang tua anda! saya ingin melihat bagaimana keadaannya.'' lanjutnya.
'' Baik tuan muda! mereka ada didalam. Mari!'' ajak Baron kepada Fadil dan diikuti oleh yang lainnya.
Setelah masuk kedalam rumah, Fadil dan yang lainnya melihat kedua orang tua Baron yang terbaring di atas ranjang terpisah dalam satu ruangan. Keduanya memang benar-benar dalam keadaan lumpuh. Baron kemudian menceritakan sebab musabab keadaan mereka yang seperti itu.
Dokter Linda segera memeriksa kondisi kesehatan mereka. Walaupun mereka dalam keadaan lumpuh, namun organ dalam tubuh mereka berdua masih dalam keadaan normal, sehingga mereka masih memiliki harapan untuk bisa sembuh jika dilakukan perawatan dan terapi secara teratur.
'' Sudah berapa lama mereka dalam kondisi seperti ini?'' tanya dokter Linda.
'' Kalau bapak sekitar 5 tahun bu! sejak beberapa bulan setelah kecelakaan itu, bapak jadi seperti ini. Sedangkan ibu, hampir 3 tahunan. Mungkin karena beliau terlalu lelah bekerja dan juga mengurusi bapak.'' jawab Baron.
'' Tadinya mereka sudah kami bawa ke rumah sakit. Tapi, karena selama beberapa bulan tidak ada perubahan yang berarti, kami akhirnya membawa pulang mereka. Kami juga sudah tidak memiliki uang untuk biaya mereka di rumah sakit.''. sahut Mira ikut menjawab.
'' Mereka masih bisa disembuhkan!'' ucap Fadil tiba-tiba.
Semua orang tercengang mendengar kata-kata Fadil. Dokter Linda yang tadi menyaksikan sendiri, bagaimana Fadil mengobati luka tembak Tiara secara ajaib, dia semakin merasa penasaran. Dia ingin tahu, bagaimana cara Fadil akan mengobati kedua orang tua Baron tersebut.
'' Apa benar kedua orang tuaku masih bisa disembuhkan tuan muda?'' tanya Baron penasaran.
'' Ya! Mereka masih bisa kembali pulih seperti semula. Tapi, mereka butuh perawatan dan terapi secara teratur. Saya akan mencoba sedikit membantu, untuk mengembalikan posisi urat dan syaraf mereka yang tidak pas.''
'' Namun selanjutnya, mereka harus dirawat oleh tenaga medis, agar mereka bisa mengembalikan kekurangan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh mereka.''
Setelah berkata seperti itu, Fadil lalu mengurut bagian-bagian tubuh tertentu kedua orang tua Baron. Karena kelumpuhan yang diderita oleh ibunya Baron tersebut, disebabkan oleh kelelahan yang berlebihan, maka Fadil tidak begitu lama membenahi urat dan syarafnya.
Tetapi, untuk orang tua laki-laki Baron, dia memerlukan waktu yang lebih lama. Akibat kecelakaan yang menimpa ayah Baron tersebut, beberapa urat dan syarafnya ada yang terjepit. Sehingga butuh waktu ekstra bagi Fadil untuk memperbaikinya.
'' Terimakasih tuan muda, sepertinya sekarang keadaan kedua orang tua saya sudah bertambah lebih baik, sekali lagi terimakasih tuan muda.'' ucap Baron saat melihat kedua orang tuanya sudah bisa mulai menggerakkan jari-jari tangan dan kakinya.
__ADS_1
'' Kedua orang tua anda masih belum sembuh. Saya hanya bisa membantu sebatas ini. Untuk selanjutnya, sebaiknya mereka dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan perawatan sampai mereka benar-benar sembuh.'' ujar Fadil.
Saat Fadil berkata kalau kedua orang tuanya harus dibawa ke rumah sakit, Baron terdiam. Dia tidak tau harus berkata apa. Dia bukannya tidak ingin melihat kedua orang tuanya sembuh, tetapi dia merasa bingung darimana dia akan membayar biayanya.
'' Anda kenapa? kok sepertinya anda tidak begitu senang! Apa anda tidak ingin kedua orang tua anda sembuh?'' tanya Fadil.
'' Bukan, bukan begitu tuan muda! tapi..''
'' Sudah.., anda tidak perlu memikirkan biayanya. Biar nanti pak Andre yang akan mengurus semuanya.'' ucap Fadil yang memahami apa yang menjadi permasalahan bagi Baron.
'' Pak Andre, tolong bawa kedua orang tua pak Baron ini ke rumah sakit. Juga urus sekalian masalah biaya mereka selama disana. Oh iya dokter! tolong berikan pelayanan yang terbaik untuk mereka, saya percayakan kepada anda untuk menangani kedua orang tua pak Baron ini.'' ucap Fadil kepada Baron dan dokter Linda.
'' Baik tuan muda!'' jawab Andre lalu segera memanggil kedua anak buahnya untuk membawa kedua orang tua Baron ke rumah sakit.
'' Sebentar mas! apa tidak lebih baik kalau kita panggil mobil rumah sakit saja? usul dokter Linda.
'' Sepertinya itu juga tidak buruk!'' sahut Fadil, setuju dengan usul dari dokter Linda.
Tidak berapa lama kemudian, sebuah mobil putih milik rumah sakit datang. Segera kedua orang tua Baron, dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil tersebut. Fadil dan yang lainnya juga ikut mengantar ke rumah sakit tersebut. Sesampainya mereka disana, dokter Linda langsung menempatkan kedua orang tua Baron di ruangan dan langsung memberikan perawatan khusus kepada keduanya.
'' Terimakasih tuan muda. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan tuan muda ini dengan apa. Padahal, saya sudah berbuat yang tidak baik kepada anda tuan muda.'' ujar Baron begitu merasa bersalah atas apa yang dilakukannya kepada Fadil.
'' Anda tidak perlu memikirkan soal itu pak Baron. Saya melakukan hal ini karena saya melihat, kalau anda termasuk orang yang berbakti kepada kedua orang tua.'' ucap Fadil.
'' Jika anda memang menyesal dengan apa yang sudah anda lakukan selama ini, sebaiknya anda merubah hal-hal buruk yang dulu pernah anda lakukan dengan hal-hal yang baik.'' lanjutnya.
'' Dan satu lagi! saat ini anda sedang dalam masa tahanan. Sebaiknya anda segera menyerahkan diri untuk menjalani hukuman atas perbuatan anda yang melanggar hukum.''
'' Baiklah tuan muda! saya akan melakukan seperti yang tuan muda katakan. Sekarang, saya juga tidak lagi merasa risau memikirkan kedua orang tuaku.''
'' Pak polisi, anda bisa membawaku kembali sekarang. Aku juga tidak akan kabur lagi dari sana.'' ucap Baron kepada letnan Rifa'i.
'' Baiklah! karena bapak sekarang ini sudah menyesali perbuatan bapak. Asal bapak nanti bisa berlaku baik, mungkin hukuman bapak bisa dikurangi.'' jawab letnan Rifa'i.
Setelah berpamitan kepada anak dan istrinya, Baron lalu berjalan bersama letnan Rifa'i, untuk dibawa ke rumah tahanan dan menjalani hukumannya disana.
'' Mas pa,i!'' panggil Fadil kepada letnan Rifa'i.
'' Iya mas! ada apa?'' tanya letnan Rifa'i segera menghampiri Fadil.
Fadil lalu berbisik kepadanya, letnan Rifa'i manggut-manggut sambil melihat kearah Baron, lalu berkata:
__ADS_1
'' Baik mas. Nanti saya akan periksa lagi berkas kejahatannya. Kalau memang memungkinkan, dia nanti bisa menjalani tahanan rumah seperti yang mas minta.'' ujar letnan Rifa'i lalu pergi membawa Baron kekantor polisi.
...****************...