
Tak lama kemudian, Fadil bersama Andre kembali ke pesantren setelah mengantarkan Mira kembali ke rumahnya. Hingga menjelang sore, Fadil, Andika, dan juga Sintya, mereka masih disana untuk menemani Abah dan yang lainnya menerima tamu yang datang ke pesta pernikahan Zul dan Naila.
'' Mama dan papa nanti mau nginap disini, atau langsung pulang ke Jakarta?'' tanya Fadil saat mereka ingin menemui Tiara yang baru saja selesai berganti pakaian, setelah tadi beristirahat dan membersihkan diri di kediaman Abah.
'' Kayaknya mama mau langsung pulang aja ya pa? soalnya besok mama dan papa masih banyak pekerjaan. Mama dan papa pengen cepat merampungkan pekerjaan untuk bulan ini, biar nanti mama sama papa bisa tenang saat nanti menghadiri pesta pernikahan kalian.'' jawab Sintya sambil meminta persetujuan Andika suaminya.
'' Betul Fadil! Papa dan mama juga ingin saat kalian menikah nanti, kami bisa kesana sekalian liburan. Soalnya, kami juga ingin merayakan anniversary hari jadi pernikahan kami.'' ujar Andika yang kebetulan setelah lebaran haji nanti, mereka juga akan merayakan hari ulang tahun pernikahan mereka.
'' Oh iya Fadil! Apa tidak sebaiknya kamu dan Tiara ikut kami ke Jakarta juga? Mama khawatir, kalau kejadian tadi akan terulang lagi kalau kalian tetap disini.''
'' Gak papa kok ma! sementara ini, biar kami disini dulu. Insyaallah, tidak akan ada kejadian seperti tadi lagi.''
'' Fadil juga akan mengusut sampai tuntas, siapa dalang dibalik semua ini. Lalu akan mencoba menyelesaikannya, supaya tidak terjadi hal yang sama seperti ini lagi.'' jawab Fadil sembari matanya menatap jauh.
'' Ya sudah kalau begitu! tapi kamu hati-hati ya? kamu kan sebentar lagi mau menikah! jangan sampai terjadi sesuatu pada kalian berdua.'' ucap Sintya memandang Fadil, kemudian memandang Tiara yang baru saja duduk disana.
'' Bagaimana keadaanmu Tiara? apa kamu benar-benar sudah merasa baikan?'' tanya Sintya kepada Tiara.
'' Tiara baik-baik saja ma! bahkan Tiara merasa, seperti tidak pernah terjadi apa-apa sama Tiara.'' jawab tiara sambil tersenyum manis.
Entah ilmu apa yang dimiliki oleh Fadil. Semua orang juga tahu, kalau tadi Tiara mengalami luka tembak di dadanya. Tapi sekarang, Tiara benar-benar dalam keadaan baik-baik saja. Seakan-akan kejadian yang terjadi tadi siang, hanyalah sebuah mimpi belaka.
...----------------...
Sementara itu, disebuah rumah mewah di daerah ibu kota Jakarta. Pagi tadi, seorang laki-laki sedang menerima panggilan telepon dari seseorang. Dia tampak begitu serius menjawab panggilan telepon tersebut, seakan dia sedang berhadapan langsung dengan orang yang menelponnya.
'' Iya tuan. Saya sudah mengirimkan orang untuk membunuh cucu kesayangan kakak anda. Tuan jangan khawatir! kali ini pasti akan berhasil.''
'' Menurut orang saya, bahkan keponakan anda dan suaminya juga akan ada disana. Ini akan semakin membuat kakak anda, tuan Arya Wijaya semakin sedih dan terpukul saat mendengar cucunya tersebut mati didepan kedua orang tuanya.''
'' Dan satu lagi kabar baiknya tuan! calon istri dari cucu Arya Wijaya, yang ternyata memiliki wajah mirip dengan mendiang istrinya juga ada disana. Saya sudah memerintahkan orang saya, juga untuk membunuhnya.'' ujar lelaki itu memberikan informasi kepada orang yang ada diseberang telepon.
'' Hhh.. Bagus bagus! ini baru seru. Tapi ingat! kali ini harus berhasil. Sudah berapa kali, kamu tidak becus mengurus bocah ingusan itu.'' jawab lelaki tua diseberang telepon.
'' Tenang saja tuan! Orang saya juga sudah mendapatkan orang yang kebetulan mempunyai masalah dengan cucu Arya Wijaya itu. Dan pada saat dia membuat kerusuhan ditempat tersebut, salah satu penembak jitu saya, akan menghabisi cucu Arya Wijaya dan calon istrinya.''
'' Hhh.. ini baru namanya berita. Kamu tenang saja! saat Arya Wijaya benar-benar jatuh, dan semua saham perusahaan miliknya aku dapatkan, kamu akan saya kasih 20 persen saham itu secara cuma-cuma.''
'' Terimakasih tuan. Saya yakin, kali ini tuan akan segera mendengar kabar baiknya.''
'' Oke! saya tunggu kabar itu secepatnya.'' jawab lelaki tua diseberang telepon itu, lalu menutup panggilan telepon tersebut.
'' Kak Alex..kak Alex! siapa suruh kamu mempermalukan kita sekeluarga. Sudah dikasih enak, malah kamu memilih jalan sengsara. Ya begini jadinya, hidupmu tidak akan bisa tenang untuk selamanya.''
__ADS_1
Setelah menutup panggilan itu, lelaki tua bernama Tony Chan, adik kandung dari Arya Wijaya yang memiliki nama asli Alex Chan tersebut, tersenyum sinis mengingat kejadian beberapa puluh tahun yang lalu.
Dulu, sebelum Arya Wijaya bertemu dan menikah dengan Susi Wijaya, dia merupakan putra tertua dari keluarga Chan, pemilik perusahaan besar yang ada di Singapura. Dia adalah calon pewaris perusahaan milik keluarga besarnya disana. Berdasarkan kesepakatan keluarga, dia akan dinikahkan dengan Mei Ling, yang merupakan adik sepupunya.
Namun, saat Arya Wijaya mendapatkan tugas untuk mengurus cabang perusahaan yang ada di Jakarta, dia malah jatuh hati terhadap Susi Wijaya, yang merupakan pegawai magang di perusahaan tersebut. Sehingga dia membatalkan pertunangannya dengan Mei Ling, dan malah menikah dengan Susi Wijaya.
Hal itu membuat kedua orang tua, dan seluruh keluarga besarnya marah besar. Arya Wijaya akhirnya dibuang dari keluarga dan tidak mendapatkan sepeserpun apa-apa dari keluarganya. Bahkan, dia selalu di intimidasi oleh keluarganya, sehingga dia tidak bisa bekerja di perusahaan manapun.
Namun, berkat kegigihan dia dan Susi Wijaya, serta beberapa teman yang pernah dia bantu saat mereka dalam kesulitan, dia akhirnya bisa mendirikan perusahaan sendiri hingga sekarang dia menjadi pengusaha besar di Indonesia. Akan tetapi, meski dia tidak pernah ikut campur dalam urusan perusahaan keluarganya, mereka terus melakukan segala macam cara untuk menghancurkan Arya Wijaya. Sehingga Arya Wijaya harus kehilangan istri tercintanya yaitu Susi Wijaya.
Walaupun Arya Wijaya sudah kehilangan istrinya, namun ternyata hal tersebut tidak menyurutkan niat keluarganya untuk terus mengganggu dan menghancurkan Arya Wijaya. Apalagi setelah mereka mendengar, kalau Alan Putra Kusuma, satu-satunya cucu laki-lakinya itu, memiliki bakat dan kemampuan seperti Arya Wijaya.
Maka dari itulah, mereka selalu mencoba untuk melenyapkan Alan. Mereka tidak ingin, Alan menjadi penerus dari Arya Wijaya. Baik secara garis keturunan, ataupun dalam memimpin perusahaan milik Arya Wijaya. Karena mereka merasa khawatir, Alan akan mampu bersaing ataupun melakukan perlawanan terhadap mereka.
...----------------...
Sore itu juga, Andika dan Sintya kembali ke Jakarta. Setelah berpamitan kepada Abah dan yang lainnya, juga menitipkan pesan kepada Andre agar selalu menjaga Fadil dan Tiara, Mereka bersama sopir pribadinya langsung meninggalkan tempat tersebut.
'' Fadil, jaga diri kamu dan Tiara baik-baik. Kalau kakekmu sampai tahu kejadian hari ini, dia pasti akan merasa shock berat.'' ucap Sintya saat berpamitan kepada Fadil dan Tiara.
'' Iya ma! Fadil akan ingat pesan mama. Dan tolong, jangan beritahu kakek masalah yang terjadi hari ini.'' jawab Fadil.
'' Eh iya ma, pa! apa kalian tahu nama perusahaan besar di Jakarta yang menjadi pesaing perusahaan kakek, dan juga siapa pemiliknya?'' lanjut Fadil bertanya kepada Andika dan Sintya.
'' Emm.. Emangnya untuk apa kamu menanyakan hal itu? kamu tidak ingin melakukan hal yang aneh-aneh kan?'' tanya Sintya heran, kenapa Fadil tiba-tiba bertanya seperti itu.
Sintya lalu menyebutkan nama perusahaan dan pemilik perusahaan tersebut, serta nama orang yang menjadi wakil pemilik perusahaan itu. Fadil manggut-manggut mendengar apa yang dikatakan oleh Sintya. Dia langsung menyimpan nama perusahaan, dan juga nama-nama orang yang tadi disebutkan oleh Sintya.
'' Baik ma! terimakasih atas informasinya. Mama dan papa hati-hati ya dijalan! salam buat kakek dan juga Nadia, juga mbok Inah.'' jawab Fadil.
'' Tiara, jaga diri kamu baik-baik, jangan lupa! minum obat yang dibuatkan Fadil untukmu.'' pesan Sintya kepada Tiara, sebelum dia dan Andika menaiki mobilnya.
'' Iya ma! Mama dan papa juga, hati-hati dijalan. Assalamualaikum.'' jawab Tiara sembari melambaikan tangan kepada Sintya.
...----------------...
Usai sholat Maghrib, Fadil kembali ke kamarnya di asrama laki-laki. Dia sudah meminta ijin kepada Abah dan Zul, kalau malam ini dia tidak bisa ikut berjaga bersama para santri yang lain. Dia merasa, hari ini begitu melelahkan. Selain tadi dia begitu sibuk, dia juga cukup banyak kehilangan energi saat mengobati Tiara dan juga mengobati kedua orang tua Baron yang lumpuh.
Dia juga ingin memulihkan tenaga dalamnya, yang tadi telah begitu banyak dikeluarkan. Untuk itu, malam ini dia benar-benar ingin beristirahat, agar dapat mengembalikan energi dan tenaga dalamnya seperti semula. Selain itu, dia juga masih memiliki suatu hal yang ingin dia kerjakan malam ini.
Untuk tiga hari kedepan, segala kegiatan belajar dan mengaji di pesantren ini diliburkan. Baik pada siang hari, ataupun malam harinya. Semua santri, diberikan waktu untuk me-refresh tenaga dan pikirannya, setelah beberapa hari ini mereka sudah cukup sibuk, mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan Zulkifli dan Naila.
'' Eh kang Alan! Ana benar-benar tidak menyangka lho, ternyata kang Alan punya kemampuan seperti itu! Boleh nggak kang? kalau ana diajari ilmu seperti kang Alan itu?'' tanya salah satu teman sekamar Fadil.
__ADS_1
'' Iya kang, aku juga mau! Tapi ngomong-ngomong! dimana kang Alan belajar ilmu seperti itu? Dan kenapa waktu pak lurah dan Deddy menyerang di pesantren ini, kang Alan tidak mengeluarkan ilmu itu?'' Sahut yang lain.
'' Betul kang Alan. Apa mungkin kang Alan ini, masih keturunan Angling Darma ya? bisa terbang seperti itu!''
Fadil sebenarnya tidak ingin mereka membahas masalah tersebut. Dia juga merasa malu, karena sekarang banyak orang yang sedang membicarakan tentang dirinya yang memiliki kemampuan seperti itu. Namun, siang tadi dia benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya, akibat ulah seseorang yang mencoba membunuh Tiara.
'' Aduh kang, sampean-sampean ini! boleh tidak kalian semua tidak membahas masalah itu?'' pinta Fadil yang sedang duduk dan dikelilingi oleh teman-temannya.
'' Kenapa kang? bukannya itu keren! kang Alan juga nanti bisa terkenal dimana-mana.'' ujar satu temannya tersebut.
'' Pertama, ilmu seperti itu bukan untuk dipamerkan. Tapi hanya untuk menjaga diri saat kita dalam bahaya. Kedua, saya tadi benar-benar tidak sengaja berbuat seperti itu. Saya terlalu emosi, karena orang yang paling saya cintai dilukai. Dan ketiga, daripada mempelajari ilmu seperti itu, mendingan kalian mendalami ilmu agama dan juga memperbanyak bersholawat.''
'' Guru ngaji saya dikampung pernah bilang: '' Yang terpenting dalam hidup itu adalah memperoleh keselamatan. Baik selama kita hidup di dunia, terlebih lagi hidup di akhirat.'' Jadi, tidak penting bagi kita punya ilmu yang begini dan begitu, kalau toh pada akhirnya malah membuat kita celaka ataupun mencelakakan orang lain.''
'' Celaka bagaimana maksudnya kang?'' tanya mereka.
'' Begini! Ketika kita mempunyai suatu kemampuan, entah apapun itu bentuknya. Maka, nantinya akan ada orang yang ingin mencoba kemampuan kita. Apalagi, kita semua pasti tau sebuah istilah : '' Diatas langit, masih ada langit.'' Oleh sebab itu, ketika ada orang yang mencoba menguji kemampuan kita, maka pada saat itu kita bisa celaka ataupun mencelakai orang.'' ujar Fadil menjelaskan.
'' Berbeda ketika kita memperbanyak bersholawat, insyaallah selain hati kita akan tenang, juga kita akan selamat dari segala apapun di dunia ini, hingga di akhirat kelak.'' lanjutnya.
Semua teman-teman sekamar Fadil terdiam. Mereka juga sering mendengar, Abah juga mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Fadil. Bahkan, mereka juga tahu beberapa hadits yang menjelaskan tentang keutamaan bersholawat kepada nabi Muhammad Saw.
'' Tapi ana juga pengen bisa terbang, biar bisa melihat dunia dari atas sana kang!'' ujar santri yang biasa ngeyel tersebut.
'' Aiyya.. ente ini, kebiasaan lama banget ya! udah dibilang sama kang Alan juga! masih tidak paham-paham.''
'' Ho oh.. dasar dodool dodol! ngeyel di pelihara hhh..'' sahut yang lainnya.
Fadil tersenyum mendengar perkataan mereka. Hingga beberapa saat kemudian diapun lalu berkata:
'' Oh.. jadi ente pengen bisa lihat dunia dari atas sana?'' tanya Fadil.
'' Iya kang iya kang!'' ucap santri itu penuh semangat.
'' Itu sih gampang..! syaratnya cuma ada dua.'' ujar Fadil membuat teman-temannya juga ikut penasaran, terutama temannya yang tadi bertanya.
'' Pertama, ente harus mati dulu! kedua, ente kumpulin dulu duit yang banyak, biar nanti bisa sewa pesawat terbang. Saya jamin, ente bakal bisa melihat dunia dari atas sana. Silahkan pilih, mau yang pertama atau yang kedua! Insyaallah dua-duanya sama-sama bisa memenuhi keinginan ente!'' jawab Fadil lalu terkekeh.
'' Yah..! kang Alan ini, kirain serius, ternyata malah bercanda.'' ujar mereka hampir bersamaan.
'' Lah! itu beneran lho..! kalau gak percaya, coba aja!'' ucap Fadil berhenti terkekeh.
'' Kalau itu sih, kami juga tauu..'' jawab mereka serempak, lalu ikut terkekeh bersama Fadil.
__ADS_1
Saat mereka sedang terkekeh akibat menjawab ujaran Fadil secara bersamaan, tiba-tiba:
'' Tok..tok..tok.. Assalamualaikum..''