
Perkelahian antar genk tersebut, masih berlangsung. Ulil dengan cepat, dia menumbangkan lawan-lawannya. Begitu juga dengan Liu feng. Bahkan, Fadil juga ikut membantu mereka menumbangkan teman-teman genk Thian.
Melihat kondisi yang tidak baik tersebut, Mei Ling semakin murka. Dia dengan kesal, langsung memerintahkan seseorang untuk terjun membantu teman-teman Thian.
'' Takeshi, cepat habisi anak itu dan teman-temannya.'' perintah Mei Ling kepada orang bayarannya yang merupakan seorang ahli pedang dari Jepang.
Begitu diperintahkan oleh Mei Ling, ahli pedang yang bernama Takeshi tersebut, langsung menghambur menyerang Ulil dan Liu Feng. Untung saja, Ulil dan Liu masih bisa menghindari sabetan-sabetan pedang milik Takeshi.
'' Liu, Lil! jauhi dia! Dia terlalu berbahaya.'' teriak Fadil kepada Liu dan Ulil.
Ulil dan Liu Feng segera mengikuti perkataan Fadil. Mereka segera menghindari Takeshi yang menyerang mereka dengan menggunakan pedang. Fadil segera melompat, menghadang Takeshi yang berusaha menyerang Liu dan Ulil.
'' Mas Fadil, hati-hati!'' ucap Ulil kepada Fadil yang kini berhadapan dengan Takeshi.
'' Oke Lil. Sekarang, biar saya yang menghadapi orang ini. Kamu bantu Liu untuk menundukkan semua anak-anak genk Thian. Ingat Lil, cukup buat mereka takluk. Jangan sampai menghilangkan nyawa mereka!'' perintah Fadil kepada Ulil.
Tanpa banyak bicara, Takeshi langsung menyerang Fadil dengan pedangnya. Gerakannya sangat cepat dan benar-benar sangat berbahaya. Fadil yang tidak menggunakan senjata apapun, dia terus mencoba menghindari serangan demi serangan yang dilakukan oleh Takeshi.
Karena serangannya selalu dapat dihindari oleh Fadil, Takeshi semakin kesal. Takeshi semakin gencar dan menambah kecepatan serangannya kepada Fadil. Namun ternyata, Fadil masih dengan mudah menghindari serangan Takeshi.
Bahkan, beberapa kali Fadil sempat melayangkan tinju dan tendangannya ke beberapa bagian tubuh Takeshi. Melihat serangan dari Takeshi yang semakin gencar, Fadil terus mundur untuk mencari lokasi yang lebih luas. Hingga Fadil berada didekat sebuah tiang besi, Takeshi menyabetkan pedangnya.
'' Ting'' bunyi benturan pedang milik Takeshi yang menghantam tiang besi tersebut.
'' Brukk, klontang.''
Tidak disangka, ternyata pedang milik Takeshi yang menghantam tiang besi sebesar lengan orang dewasa tersebut, mengakibatkan tiang tersebut terputus. Fadil cukup terkejut. Dia tidak membayangkan, andai saja tadi yang terkena sabetan pedang itu adalah tubuh manusia, pastinya akan lebih mengerikan lagi.
'' Hhh.. boleh juga pedangmu pak! tapi sayangnya, saya tidak yakin kalau pedangmu itu masih tetap setajam tadi.'' ujar Fadil lalu dengan sengaja dia menangkis pedagang tersebut dengan lengan tangannya.
'' Ting'' Fadil sengaja menangkis sabetan pedang Takeshi dengan lengan kirinya.
Takeshi terkejut bukan main. Pedang yang tadi mampu memotong besi itu, bahkan tidak bisa menggores sedikitpun kulit Fadil. Padahal, dia juga sudah mengeluarkan tenaga dalamnya. Benturan antara pedang dan tangan Fadil tadi, malah membuat tangan Takeshi juga terasa kesemutan.
Karena penasaran, Takeshi kembali menyerang Fadil dengan lebih gencar. Namun, lagi-lagi Fadil hanya menghindar dan sesekali menangkis serangan tersebut dengan tangannya. Setelah cukup lama mereka bertarung, Fadil ingin segera menyelesaikan pertarungan tersebut. Kini dia mulai menyerang Takeshi.
Mendapatkan serangan yang begitu cepat, Takeshi mulai kewalahan. Meskipun dengan tangan kosong, namun Takeshi dibuat kerepotan dalam menghadapi serangan-serangan dari Fadil. Berkali-kali, Takeshi terkena pukulan dan tendangan dari Fadil. Karena terdesak, dia lalu melompat keatas tiang besi yang ada disana. Fadil juga ikut melompat dan berdiri diatas tiang besi yang lain.
Keluarga Chan dan juga Arya Wijaya serta yang lainnya juga ikut menyaksikan pertarungan antara Fadil dan Takeshi. Mereka semua tidak menyangka, ternyata Fadil memiliki kemampuan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Beberapa teman-teman genk Thian, akhirnya semua dapat dilumpuhkan oleh Ulil, Liu Feng dan juga teman-temannya.
Kini, hanya tinggal Fadil dan Takeshi yang masih bertarung. Melihat hal itu, Arya Wijaya dan juga yang lainnya, mereka keluar dari mobil untuk ikut menyaksikan pertarungan tersebut. Karena khawatir akan sesuatu yang tidak mereka duga, Ulil dan Liu Feng serta teman-temannya segera berkumpul untuk melindungi Arya Wijaya dan yang lainnya.
'' Kenapa pak? Anda sudah lelah ya! sekarang tidak mau menyerang lagi!'' ucap Fadil kepada Takeshi.
Takeshi tidak menjawab. Dia sedang berfikir, bagaimana caranya bisa mengalahkan Fadil. Namun, pada saat tersebut, dari arah yang lain muncul beberapa sinar infra merah yang mengarah ke kepala Fadli. Dua dari arah kanan dan kirinya, serta satu dari arah belakang Fadil yang masih berdiri diatas tiang besi.
'' Hemm... sudah saya duga. Mereka menyiapkan penembak jitu lagi.'' ucap Fadil dalam hatinya.
__ADS_1
'' Zepp'' terdengar tiga suara tembakan dengan peredam secara bersamaan. Semua orang yang ada disana, tidak ada satupun yang mendengar suara tersebut. Namun, Fadil dengan pendengarnya yang tajam, dia mampu mendengar suara tersebut. Hanya nol koma sekian detik, tiga peluru tersebut sedang mengarah ke kepala Fadil.
'' Jlebb! aak..'' terdengar suara peluru mengenai sasaran, disertai teriakan orang akibat terkena peluru tersebut.
Tubuh Fadil melayang kebawah, kemudian melesat dengan cepat ke arah belakang, menuju tempat dimana penembak jitu yang ada dibelakangnya berada.
'' Brukk'' Tubuh Takeshi jatuh dari atas tiang besi tersebut, setelah kepalanya dihantam oleh peluru.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi kepada Takeshi. Namun, saat tubuh Takeshi telah berada ditanah, terlihat kepalanya telah tertembus sebuah peluru, yang membuat Takeshi harus kehilangan nyawanya.
Rupanya, saat tinggal beberapa meter lagi peluru-peluru itu mendekati Fadil, Dia telah lebih dahulu bergerak turun menghindari peluru-peluru tersebut. Tak ayal lagi, karena peluru tersebut berbanding lurus dengan Takeshi dan juga kedua penembak jitu yang berada disisi kanan dan kiri Fadil, maka secara otomatis, peluru-peluru tersebut langsung mengarah kepada mereka.
Alhasil, Takeshi dan kedua penembak jitu itu, mereka terkena peluru yang seharusnya tadi bersarang di kepala Fadil. Namun, mereka benar-benar tidak menyangka. Kini mereka sendirilah yang malah terkena hantaman peluru itu, hingga mereka tewas oleh teman mereka sendiri.
Ditempat lain, penembak jitu yang berada dibelakang Fadil, dia terkejut karena tiba-tiba saja Fadil sudah ada didepannya dan langsung menghajarnya hingga dia tidak berdaya sama sekali. Fadil lalu menyeret tubuh penembak jitu itu, lalu melemparkannya didepan keluarga Chan.
'' Lihat! siapa yang curang. Kalian sudah kalah, tapi kalian tidak menepati janji, dan malah terus berusaha membunuhku. Apa kalian mau? kalau aku melakukan hal yang sama seperti kalian!'' ujar Fadil setelah melemparkan penembak jitu itu seperti melemparkan benda yang ringan.
Melihat semua rencananya telah gagal, Thian yang kakinya sedang cidera akibat mobilnya terguling tadi, dia lalu mengeluarkan pistol yang tadi sempat dia minta dari teman genknya. Tanpa bicara apapun, dia langsung menodongkan pistol tersebut kepada Fadil. Namun, sebelum dia sempat menarik pelatuk pistol tersebut, Fadil sudah terlebih dahulu menghampirinya dan memegang tangan Thian.
'' Krakk! aaahh..''
'' Oma,.. dia, dia mematahkan tanganku, aah.. sakit!'' teriak Thian sambil bergulingan di tanah.
'' Dasar gak tau di untung! baru saja tadi kamu saya selamatkan. Sekarang kamu mau menembakku!'' ucap Fadil dengan kesal, lalu memegang tubuh Thian dan melemparkannya diatas tubuh penembak jitu yang tergeletak tak berdaya.
'' Hai bocah kecil! kau apakan cucuku?'' teriak Tony Chan dengan marah.
Melihat Thian diperlakukan seperti itu, Tony, Mei Ling, dan kedua orang tua Thian merasa geram. Namun mereka tidak berani melakukan apapun. Mereka tadi melihat bagaimana Fadil bertarung melawan Takeshi, juga dengan ringannya melemparkan penembak jitu dan Thian dengan mudahnya.
Maka dari itu, mana berani mereka berbuat sesuatu. Apalagi, mereka juga menyadari, kalau mereka sendirilah yang telah melakukan suatu kesalahan. Hanya Tony saja yang masih berani untuk berbicara.
'' Hhh... cucumu? cucu yang lahir dari anak orang lain itu?'' ujar Fadil terkekeh.
'' Apa maksudmu berkata seperti itu? Thian itu cucuku, dia lahir dari anakku Olivia.'' jawab Tony.
Mendengar Tony berkata seperti itu, Fadil semakin terkekeh. Menurut Fadil, ucapan Tony ini benar-benar lucu. Hampir saja, Fadil sampai terpingkal-pingkal karenanya. Melihat Fadil terkekeh seperti itu, Tony merasa kesal. Dia merasa, seperti sedang diejek oleh Fadil.
'' Hey bocah kecil! apa yang sedang kamu tertawakan? memangnya ada yang lucu apa?'' ucap Tony dengan kesalnya.
'' Hhh... lucu, anda memang lucu sekali tuan Tony. Benar-benar lucu! hhh..'' ujar Fadil sambil terkekeh-kekeh.
'' Kurang a**r! Dasar bocah kecil! Berani-beraninya kamu menertawakanku.'' Tony Chan semakin marah.
'' Tuan Tony, tuan tony. Sudah berapa lama anda hidup? Sudah berapa lama juga anda menikahi nyonya Mei Ling. Tapi, sampai saat ini, anda tidak tahu Olivia itu anak siapa? Bahkan, anda sendiri tidak tahu kalau anda itu mandul! Emm, emm emm..kasian!'' ujar Fadil sambil geleng-geleng.
'' Hey bocah edan! ngomong apa kamu? jangan sembarangan bicara ya!'' sahut Mei Ling tiba-tiba.
__ADS_1
'' Hhh.. sepertinya anda mulai takut ketahuan ya nyonya Mei Ling. Hebat! hebat! Anda memang hebat bersandiwara nyonya. Hingga puluhan tahun, suami anda tidak pernah tahu, kalau Olivia adalah anak hasil selingkuhan anda dengan orang lain.'' ucap Fadil, berdecak kagum.
Semua orang terkejut mendengar perkataan Fadil. Bahkan Arya Wijaya yang mengetahui hal tersebut, dan belum pernah menceritakan hal itu kepada siapapun, dia merasa heran. Darimanakah Fadil bisa mengetahui rahasia itu.
'' Jangan asal bicara kamu Alan! itu fitnah, itu fitnah. Olivia adalah anak kami. Dia darah daging Tony suamiku!'' ujar Mei Ling menegaskan.
'' Hhh... nyonya Mei Ling! Anda memang benar-benar pembohong yang handal. Bahkan, anda sebagai musuh dalam selimut dalam keluarga Chan pun, tidak ada yang mengetahuinya. Tapi ingat nyonya! sepandai-pandai tupai melompat, suatu saat akan jatuh juga. Sepandai-pandainya anda menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium juga.''
'' Dan hari ini, kebusukan anda sudah tak bisa lagi anda sembunyikan. Semua orang akan tahu, siapa sebenarnya anda ini?'' ujar Fadil, semakin membuat penasaran orang yang mendengarnya.
'' Hey bocah ingusan! jaga bicaramu! jangan sembarangan menuduh orang tanpa bukti!'' ucap Mei Ling semakin geram.
'' Bukti! Anda mau bukti? Baik! kalau anda mau bukti.'' ujar Fadil, lalu memanggil Lian untuk membawakan sesuatu.
Lian Chan segera pergi ke mobilnya, lalu kembali lagi dengan membawa map dan langsung memberikannya kepada Fadil.
'' Tuan tony! ini adalah hasil tes DNA milik anda dan juga Olivia, juga milik keluarga anda. Lihatlah dengan baik! apakah anda masih yakin kalau mereka itu anak dan cucumu?'' ucap Fadil menyerahkan hasil lab tes DNA.
'' Apa ini? kamu jangan mengarang cerita untuk menipuku bocah kecil!'' ucap Tony masih tidak percaya.
'' Tuan Tony.. untuk apa saya mengarang cerita? tidak ada untungnya untuk saya. Saya cuma ingin memberi tahu anda siapa yang telah menipu anda sebenarnya. Tapi kalau anda tidak percaya, ya sudah! itu semua bukan urusan saya.''
'' Tapi satu hal yang harus anda ingat baik-baik! Mulai sekarang, jangan pernah lagi mengusik kami. Kalau tidak! saya juga bisa memusnahkan seluruh keluargamu seperti mobil itu!'' ujar Fadil, sambil menunjuk ke salah satu mobil milik keluarga Chan.
Tiba-tiba, tangan Fadil mengeluarkan api berwarna biru kehijauan. Dia lalu mengarahkan tangannya ke salah satu mobil disana. Dari jarak yang cukup jauh tersebut, Fadil menghantam mobil itu.
'' Boom'' mobil tersebut langsung hancur dan terbakar oleh hantaman api yang keluar dari tangan Fadil.
Semua orang yang ada disana benar benar terkejut sekaligus merasa takut. Hanya dengan sekali pukul, dan itupun dari jarak yang cukup jauh, mobil itu langsung hancur dan terbakar begitu dahsyatnya. Andai itu diarahkan kepada orang, entah bagaimana jadinya.
Kali ini, apa yang dilakukan oleh Fadil tersebut, sengaja dia lakukan untuk membuat jera orang-orang yang selalu mengusik keluarganya. Dia sudah merasa kesal dengan mereka tersebut. Setelah itu, diapun segera mengajak Arya Wijaya dan yang lainnya, serta teman-temannya untuk kembali ke hotel milik Arya Wijaya.
'' Tunggu tunggu! tolong kalian jangan pergi dulu!'' ujar Tony Chan menahan Fadil dan yang lainnya.
'' Ada apa lagi tuan Tony? saya sudah tidak punya urusan apa apa lagi dengan anda. Kecuali jika anda dan keluarga anda masih mau berurusan dengan saya, saya juga tidak akan lagi segan-segan untuk meladeninya.'' ujar Fadil dengan nada mengancam.
'' Tidak tidak! Saya cuma mau memastikan, apakah hasil tes ini benar! dan darimana kamu bisa mendapatkan ini semua.''
'' Kalau anda masih belum yakin kalau itu asli, anda bisa melakukan tes itu sendiri. Atau anda bisa langsung menanyakan hal itu kepada istri nenek sihirmu itu.'' ucap Fadil.
''Kalau anda ingin tahu darimana saya mendapatkan ini, anda bisa bertanya kepada Lian. Lian! tolong jelaskan ini kepada mereka semua.'' lanjut Fadil, lalu meminta Lian untuk berbicara.
Lian Chan kemudian menceritakan semua yang dilakukannya, sejak dia tidak lagi bermusuhan dengan Alan. Alanlah yang awalnya meminta Lian, untuk menyelidiki status Olivia dan juga gerak gerik dari Mei Ling. Lian juga secara terang-terangan, dia sudah tidak ingin lagi berada di keluarga Chan yang tidak akan lama lagi akan hancur oleh penghianatan Mei Ling.
Tony dan seluruh keluarga Chan terkejut mendengar penuturan Lian. Tak terkecuali Mei Ling yang akhirnya kini ketahuan belangnya. Dia sudah tidak bisa lagi menyangkal, kalau Olivia bukanlah anak dari Tony, melainkan anak dari orang lain. Bahkan, dia juga tidak bisa menyangkal. Kalau selama ini, dia dan orang lain ingin mengalihkan semua kekayaan milik keluarga Chan, menjadi miliknya dan keluarga orang yang telah menghamilinya.
...****************...
__ADS_1