Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Terpesona


__ADS_3

'' Assalamualaikum.'' ucap Yanto dan kedua orang tuanya, sesampainya mereka didepan pintu rumah Tiara.


'' Wa'alaikumsalaam warahmatullaah.'' jawab pak Syahroni dan bu Lilis bersamaan. Kemudian mempersilahkan mereka untuk masuk dan duduk dikursi ruang tamu tersebut.


'' Gimana kabarnya pak, Bu. Sehat?'' ujar pak Romli sambil menyalami pak Syahroni dan Bu Lilis dan juga Yunita.


'' Alhamdulillah pak! seperti yang bapak lihat sendiri.'' jawab pak Syahroni.


'' Waah ternyata, anak gadisnya ibu cantik ya? apa ini yang namanya Tiara?'' tanya Bu Risty, saat bersalaman dengan Bu lilis dan Yunita.


Kedua orang tua Yanto yang belum pernah bertemu dengan anak-anaknya pak Syahroni, menyangka kalau Yunita adalah Tiara. Yanto yang melihat ibunya salah menduga itu, kemudian mencolek Bu Risty dan berbisik kepadanya. Pak Syahroni dan Bu Lilis tersenyum mendengar perkataan dari Bu Risty.


'' Bukan Bu, ini Yunita putri sulung kami. Kakaknya Tiara.'' jawab Bu Lilis menjelaskan.


'' Oh.. maaf Bu. Saya kira ini yang namanya Tiara yang sering diceritakan oleh Yanto kepada kami.'' ujar Bu Risty agak malu karena telah salah mengira.


'' Jadi, yang namanya Tiara itu yang mana?'' lanjutnya.


'' Tadi sih ada Bu, entah lagi kemana sekarang.'' jawab Bu Lilis berpura-pura tidak tahu Tiara ada dimana.


Walaupun secara penampilan Yanto memang cukup lumayan, tapi setelah melihat sendiri bagaimana sikap Yanto yang terlihat kurang sopan itu, Bu Lilis juga tampaknya kurang menyukai Yanto. Apalagi jika dibandingkan dengan Alan. Baik dari segi penampilan maupun sikapnya, tentu Bu Lilis akan lebih memilih Alan daripada Yanto. Maka dari itulah, dia tidak mengatakan dimana sebenarnya Tiara berada.


'' Jadi begini pak! Maksud kedatangan kami kemari ini, selain ingin bersilaturrahim, juga ingin menanyakan soal tawaran kami yang kemarin saat dirumahnya pak Joko. Sebab Yanto anak kami satu-satunya ini, selalu saja merengek meminta kami untuk meminta anak bapak dan ibu yang bernama Tiara.''


Mendengar apa yang dikatakan oleh pak Romli tersebut, pak Syahroni dan Bu Lilis saling berpandangan. Mereka tidak tahu bagaimana caranya untuk menolak permintaan dari pak Romli dan istrinya. Pak Syahroni kemudian menarik napas dalam-dalam. Lalu mencoba untuk mengumpulkan kata-kata yang akan dia sampaikan kepada pak Romli dan istrinya.


'' Begini pak, maaf sebelumnya. Kami sendiri sebagai orang tua, hanya bisa mengikuti apa yang menjadi keinginan anak-anak saja. Soalnya sekarang ini, sudah bukan jamannya lagi memaksakan kehendak kepada mereka. Untuk itu, masalah ini tergantung kepada Tiara anak kami. Jika Tiara anak kami mau, kami juga ikut saja. Tapi jika Tiara anak kami tidak mau, ya kami juga bisa apa.''


'' Tapi, yang harusnya nurut itukan anak-anak pak? bukan sebaliknya.'' ujar Bu Risty tidak puas dengan jawaban pak Syahroni.


'' Ya mungkin sebaiknya seperti itu Bu. Tapi kita sebagai orang tua juga, harus bisa bersikap bijak kepada mereka. Karena bagaimanapun juga, nantinya yang akan menjalani kehidupan itukan mereka bu, bukanya kita.'' jawab pak Syahroni sedikit kurang senang dengan sikap Bu Risty yang terlihat agak memaksa tersebut.


'' Udah begini saja pak! bapak sama ibu, tinggal bilang kepada kami. Berapa banyak biaya dan mahar yang kalian minta?. 30 juta, 50 juta, atau seratus juta? bapak sama ibu tinggal sebutkan, kami akan sediakan. Yang penting, bapak sama ibu memperbolehkan Tiara menikah dengan Yanto anak kami.'' ujar pak Romli.


'' Ini jarang-jarang lho pak, Bu! ada orang yang mau berbuat seperti kami. Andai bukan karena anak kami yang selalu merengek kepada kami, kami juga belum tentu mau melakukannya. Apalagi, diluar sana banyak juga orang yang berharap anaknya bisa dipinang oleh anak kami.'' ujar Bu Risty menimpali perkataan suaminya.


Buah jatuh memang tidak akan jauh dari pohonnya, itulah kata pepatah yang tepat bagi keluarga Yanto. Sikap Yanto yang suka merendahkan orang lain, dan cukup arogan itu, memang benar-benar turun dari sifat kedua orang tuanya. Apa yang baru saja diucapkan oleh pak Romli dan istrinya tersebut, memang sudah menunjukkan bahwa antara Yanto dan kedua orang tuanya adalah sebelas dua belas.

__ADS_1


Pak Syahroni dan Bu Lilis kini semakin mengerti, kenapa Tiara sangat tidak ingin dirinya dijodohkan dengan Yanto. Tepat pada saat suasana disana mulai tegang tersebut. Alan dan semua keluarganya yang sudah sampai didepan pintu rumah Tiara, dan sempat mendengar pembicaraan mereka itu. Dia langsung mengucapkan salam, menyapa semua orang yang ada didalam.


'' Assalamualaikum.'' ucap Alan didepan pintu.


'' Wa'alaikumsalaam warohmatullah.'' jawab mereka semua yang ada didalam.


'' Pak, bu. Minal Aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin.'' ucap Alan menyalami pak Syahroni dan Bu Lilis sambil mencium tangan mereka.


Di belakangnya, Arya Wijaya dan yang lain juga ikut menyalami sambil tersenyum kepada mereka. Yanto yang melihat kedatangan Alan yang wajahnya sangat mirip dengan Fadil, dia terkejut. Hatinya bertanya-tanya apakah dia itu Fadil atau siapa. Melihat kedatangan mereka disaat-saat yang menurutnya sangat tidak tepat, pak Romli dan istrinya menunjukkan rasa ketidaksenanganya. Namun saat dia ingin mengucapkan kata-kata yang kurang pantas kepada keluarga Alan, dia melihat Hartono yang juga ada bersama mereka.


'' Pak Hartono?'' ucap pak Romli terkejut.


'' Lho pak Romli ada disini juga?'' ujar Hartono kepada pak Romli.


'' I iya pak. Ini, saya kebetulan lewat dan mampir sebentar ketempat pak Syahroni.'' jawab pak Romli agak kaku.


'' Oh.. gitu! kirain lagi ada perlu disini.'' jawab Hartono.


Melihat sikap canggung pak Romli saat berhadapan dengan Hartono, sepertinya diantara mereka ada sesuatu hal yang pernah terjadi. Pak Syahroni kemudian mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi sofa bersama dengan pak Romli dan istrinya. Karena kursinya tidak cukup untuk mereka semua, pak Syahroni dan Bu Lilis menyiapkan kursi plastik. Namun ternyata masih kurang juga.


Karena tamunya duduk lesehan, Bu Lilis dan Yunita juga turut duduk disana menemani Alan, Sintya dan Nadia. Sementara Arya Wijaya, Andika dan Hartono, duduk di sofa bersama pak Romli dan istrinya dan juga tentunya Yanto anaknya.


'' Lho kok nak Alan duduk dibawah? sini nak duduk disini!'' pak Syahroni sambil menyerahkan kursi plastik yang akan didudukinya.


'' Ah gak usah pak, biar bapak saja yang duduk disitu!. Sayakan masih muda, kurang sopan rasanya kalau saya duduk diatas sedangkan ada orang yang lebih tua duduk dibawah.'' ucap Alan yang tanpa sengaja malah menyindir Yanto yang sedang duduk dikursi tersebut.


'' Maaf sekali lho Bu! jangan kurang maklum. beginilah keadaan gubuk kami, sempit dan banyak kekurangannya.'' ujar Bu Lilis kepada Sintya sambil menyuguhkan air kemasan kepada mereka.


'' Gak papa bu! ini juga sudah lebih baik. Di tempat lain masih banyak yang tidak seberuntung ibu yang masih bisa memiliki tempat untuk berteduh.'' ujar Sintya kepada Bu Lilis.


Mendengar perkataan Sintya yang cukup rendah hati itu, Bu Lilis dan pak Syahroni hatinya merasa tersentuh. Kekhawatirannya yang sejak tadi menyelimuti hati mereka, kini berangsur-angsur hilang. Meskipun sangat jelas, bahwa penampilan Sintya dan yang lainnya itu benar-benar bukan dari kalangan orang biasa, tapi mereka tidak memandang rendah terhadap keluarganya. Hal ini terlihat begitu kontras jika dibandingkan dengan sikap keluarga pak Romli dan istrinya.


'' Oh iya pak bu, perkenalkan! ini mama dan adik saya, terus itu kakek, papa dan paman saya.'' ujar Alan memperkenalkan keluarganya kepada pak Syahroni dan Bu Lilis.


Saat Alan memperkenalkan mereka satu persatu, Sintya dan yang lainnya menyebutkan nama dan status hubungannya dengan Alan. Pak Syahroni dan bu Lilis manggut-manggut sambil juga menyebutkan namanya kepada mereka.


Pada saat itu, Tiara yang sejak tadi berada dibelakang rumah bersama Vita. Saat melihat Alan dan keluarganya turun dari mobil dan berjalan menuju rumahnya, dia segera masuk kembali ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, diapun muncul dari ruang belakang bersama Vita. Sintya dan Nadia tampak terpana melihat wajah Tiara. Bahkan, Yanto dan kedua orang tuanya juga tidak berkedip menatap wajah Tiara.

__ADS_1


'' Lan, apa ini kekasihnya Fadil?'' bisik Sintya kepada Alan.


'' Iya ma.'' jawab Alan.


'' Pa, lihat calon mantu cucumu pa!'' ujar Sintya kepada Arya Wijaya.


Arya Wijaya yang duduk membelakangi arah dimana Tiara datang segera menoleh kearah Tiara. Saat tatapannya melihat sosok Tiara, Arya Wijaya benar-benar tercengang. Hampir saja dia akan bangkit dari duduknya untuk mendatangi Tiara. Namun dia segera tersadar, bahwa apa yang dilihatnya bukanlah seseorang yang pernah dia kagumi.


Tiara, pak Syahroni, Bu Lilis dan juga kedua saudaranya merasa terkejut dengan apa yang barusan Sintya katakan. Bahkan Alan yang tidak mengerti akan maksud dari ucapan ibunya itu, juga ikut terkejut tak mengerti.


'' Ma, apa maksud mama bilang seperti itu? tanya Alan.


'' Nak, apa kamu tidak memperhatikan,, wajahnya itu mirip dengan siapa?'' ujar Sintya memaksa ingatan Alan.


Alan yang ditanya seperti itu, lantas memandangi Tiara sambil terus mengingat-ingat memori dalam pikirannya. Selang beberapa saat, Alan kini benar-benar terkejut. Tiara yang ditatapi oleh Alan, dan seluruh keluarganya itu, menjadi salah tingkah. Dia benar-benar tidak mengerti, kenapa semua orang menatapnya seperti itu. Dia yang tadinya mau menyalami Sintya dan Nadia, kini hanya diam terpaku berdiri ditempatnya.


'' Ha, kok iya ya ma!, Kenapa sekarang Alan baru sadar. Kalau ternyata mbak Tiara ini, memang agak mirip sama nenek waktu masih muda. Pantesan, Alan kok rasa-rasanya seperti pernah melihatnya. Cuma siapa dan dimananya, Alan benar-benar lupa.'' ujar Alan yang akhirnya membuat mereka semua mengerti akan maksud dari ucapan Sintya berkata seperti itu.


'' Tiara, sini nak! biarkan mama melihatmu lebih dekat.'' ujar Sintya langsung tak segan-segan menganggap Tiara sebagai calon menantunya.


Perlahan, Tiara melangkahkan kakinya mendekati Sintya yang tengah mengulurkan kedua tangannya untuk menyambutnya. Sintya lalu berdiri dan memeluk Tiara begitu erat. Saat memeluk Tiara, Sintya tanpa sadar meneteskan air mata. Tampak sekali, kalau Sintya seperti orang yang baru bertemu dengan seseorang yang sangat dirindukannya.


Semua orang yang ada ditempat itu, terkecuali pak Romli, istrinya dan Yanto, merasa haru atas apa yang sedang mereka saksikan didepan mata mereka. Tanpa sadar, Arya Wijaya juga matanya ikut berkaca-kaca. Dia teringat kembali kepada istrinya yang telah meninggal, yang kebetulan wajahnya mirip dengan Tiara.


'' Tiara, kelak Fadil juga akan menjadi anak mama. Maka, jika kamu menikah dengan Fadil, secara otomatis kamu juga akan menjadi menantu mama. Apakah kamu mau menikah dengan Fadil?'' tanya Sintya menatap Tiara sambil kedua tangannya membelai wajah Tiara.


Walaupun Tiara masih merasa bingung dengan sikap Sintya yang terlihat begitu sayang kepadanya, namun saat ditanya apakah dia bersedia menikah dengan Fadil, dia langsung mengangguk mengiyakan. Dalam hati Tiara hanya ada Fadil, jadi mana mungkin Tiara akan menolak saat ditawarkan dirinya untuk menikah dengan Fadil. Sintya lalu membimbing Tiara untuk duduk disebelahnya. Tak bosan-bosannya Sintya terus menunjukkan rasa sayangnya terhadap Tiara. Bahkan, Sintya juga langsung melepaskan kalung berlian miliknya dan memakainya di leher Tiara.


Melihat hal itu, kedua orang tua Yanto merasa kesal. Setelah melihat dengan mata kepala sendiri, kalau Tiara memang benar-benar cantik, merekapun ingin segera menjadikan Tiara sebagai menantunya. Maka dari itu, tanpa malu-malu Bu Risty langsung kembali menanyakan masalah permintaannya yang tadi sempat tertunda.


'' Pak bu, jadi bagaimana dengan tawaran dari kami yang tadi?'' ucap Bu Risty.


'' Maaf pak Romli dan ibu. Tadi bapak dan ibu telah mendengar sendiri bagaimana keputusan anak kami Tiara. Jadi mohon maaf sekali lagi, sepertinya kami tidak bisa menerima tawaran dari bapak dan ibu.'' jawab pak Syahroni dengan tegas.


Mendengar pernyataan dari pak Syahroni, pak Romli dan Bu Risty merasa kesal. Mereka rasanya ingin marah kepada pak Syahroni. Namun, lagi-lagi pak Romli tidak berani berkata apa-apa saat melihat Hartono yang menatap kearahnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2