Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Pertemuan Dengan Keluarga Chan


__ADS_3

'' Tuan muda, tolong! tolong angkat saya tuan muda! Jangan lepaskan saya tuan muda!'' teriak An Bao terus memohon kepada Fadil.


'' Hemm.. Jadi kamu mau saya angkat kembali?'' ujar Fadil, sambil terus memegangi salah satu tangan An Bao.


An Bao masih terus memohon kepada Fadil. Wajahnya terlihat pucat karena ketakutan. Keringatnya juga mulai bercucuran. Bahkan, celananya juga mulai basah. Dia benar-benar merasa takut, kalau-kalau Fadil melepaskan pegangan tangannya.


'' Oh.. Baiklah! saya akan membawamu kembali masuk. Tapi dengan satu syarat. Apa kamu mau berjanji?'' ucap Fadil.


'' Iya tuan muda, apapun yang tuan muda inginkan, saya akan memenuhinya. Tapi tolong tuan muda! cepat angkat saya dari sini. Saya sudah tidak kuat lagi.'' pinta An Bao yang sudah semakin pucat pasi.


'' Beneran kamu janji?'' tanya Fadil mencoba memastikan.


'' Iya tuan muda. Saya janji, saya janji!'' jawab An Bao.


'' Serius?'' tanya Fadil lagi.


'' Iya tuan muda. Saya serius, saya serius. Hu...'' tangis An Bao yang sudah tidak kuat lagi tergantung diketinggian tersebut.


Fadil lalu mengangkat kembali tubuh An Bao yang sudah begitu lemas karena saking takutnya. Begitu tubuhnya sudah berada didalam ruangan tersebut, An Bao langsung terduduk lemas. Tidak terbayangkan, andai tadi Fadil melepaskan pegangan tangannya. Tidak terbayangkan juga, andai dia terjatuh dari ketinggian tersebut.


Setelah beberapa saat, dan melihat kalau An Bao sudah tak lagi sepucat tadi, Fadil lalu kembali berkata kepada An Bao:


'' Tuan Bao! saya akan membawamu kepada kakek. Apapun yang akan ditanyakan olehnya, kamu harus menjawabnya dengan jujur. Sekali saja kamu berbohong, saya akan langsung melemparmu dari ruangan paling atas hotel ini. kamu paham!'' ancam Fadil mencoba menakut-nakuti An Bao.


'' Iy iya tuan muda. Saya janji, saya janji! Tapi tolong, jangan lakukan hal seperti itu tadi. Apalagi sampai melemparkan saya dari ketinggian hotel ini.'' ujar An Bao.


Fadil segera membawa An Bao keruangan dimana Arya Wijaya dan yang lainnya berkumpul. Disana, An Bao banyak mendapatkan berbagai macam pertanyaan. Sedikitpun, dia benar benar tidak berani untuk berbohong. Setiap kali mencoba untuk berbohong, dia teringat apa yang nanti Fadil lakukan padanya.


'' Baik! saya jamin, kamu tidak akan saya apa-apakan. Tapi, kamu harus bisa membuat keluarga Chan datang kemari. Khususnya Tony Chan dan Amy Chan. Bagaimana? apa kamu sanggup?'' tanya Arya Wijaya.


'' Tapi tuan, itu hal yang cukup sulit. Bagaimana kalau mereka tidak mau datang kemari?'' tanya An Bao terlihat merasa keberatan dengan permintaan Arya Wijaya tersebut.


'' Ya kalau kamu tidak bisa, ya terserah apa yang akan dilakukan oleh cucuku ini.'' ujar Arya Wijaya sambil menatap Fadil.


An Bao melirik kearah Fadil. Fadil hanya tersenyum. Namun bagi An Bao, senyum Fadil memiliki arti sendiri. Hanya dia yang tahu apa arti dari senyuman Fadil tersebut. Dia lalu segera memalingkan wajahnya dari Fadil. Entah mengapa, melihat senyum Fadil itu dia begitu merasa takut.


'' Baik! baik tuan besar. Saya akan berusaha sebisa mungkin, agar tuan Chan mau datang kemari.'' ujar An Bao tanpa basa-basi lagi.


Begitu dia berkata seperti itu, An Bao langsung mengeluarkan ponsel miliknya. Dia langsung membuat pesan singkat yang dikirimkan kepada Tony chan. Entah apa yang ditulis oleh Bao, namun tidak lama kemudian Tony membalas pesan Bao dengan menghubungi ponsel Arya Wijaya, dan mengatakan bersedia datang dengan catatan harus menjamin keselamatan mereka.


Karena memang Arya Wijaya tidak ada niat sedikitpun untuk melakukan seperti yang dilakukan oleh keluarga Chan, sudah pasti Arya Wijaya menyanggupi permintaan Tony tersebut. Dia juga akan menyambut mereka dengan sambutan yang baik, asalkan mereka nanti tidak membuat kekacauan di hotel ini.


'' Baiklah! saya tunggu kalian di hotel kami besok.'' ujar Arya Wijaya, lalu menutup panggilan tersebut.


Dia memang tidak ingin banyak berbicara melalui telepon. Makanya, begitu kesepakatan pertemuan itu sudah deal, diapun segera menutup panggilan telepon dari Tony tersebut.

__ADS_1


...----------------...


Pagi itu, Arya Wijaya dan semuanya sudah selesai melakukan persiapan. Meskipun keluarga Chan sudah mengusir bahkan mencoba menghancurkan usaha serta membunuh istri dan cucunya, dia tetap ingin menyambut mereka dengan baik di hotel miliknya. Hanya saja, penjagaan didalam dan diluar hotel diperketat.


Arya Wijaya tidak ingin sesuatu terjadi. Baik terhadap keluarganya sendiri, maupun kepada keluarga Chan. Bagaimanapun juga, dia adalah tuan rumah yang akan menyambut kedatangan tamunya. Maka dari itu, selain memeriksa setiap pengunjung yang datang, dia juga meminta bagian pengawas keamanan, agar selalu waspada dengan gerak-gerik orang yang mencurigakan.


Tepat jam sembilan pagi, rombongan keluarga Chan yang dipimpin oleh Tony Chanpun datang. Manager dan beberapa pegawai hotel, menyambut kedatangan mereka di pintu masuk. Manager itu segera mengajak mereka untuk memasuki ruangan yang telah dipersiapkan, dimana Arya Wijaya dan yang lainnya telah duduk menunggu mereka disana.


'' Tuan chan, mari silahkan duduk!'' sapa Arya Wijaya kepada Tony dan juga rombongan keluarganya.


'' Hhh.. terimakasih Alex, ternyata kamu masih punya sopan santun juga. Yaah..! walaupun tidak semestinya, menyambut tamu hanya menunggu didalam ruangan.'' ujar Tony dengan begitu angkuhnya.


Terkecuali Amy Chan dan anak cucunya, mereka semua tertawa dan ikut mencibir seperti yang dilakukan oleh Tony Chan tadi. Meskipun watak Arya Wijaya cukup keras, namun dalam menghadapi keluarga Chan ini, dia sepertinya cukup bersabar.


Ocehan ocehan yang keluar dari mulut keluarga chan, terutama dari Mei Ling dan juga cucu laki-lakinya yang bernama Thian chan, sama sekali tidak dihiraukan oleh Arya Wijaya. Nadia yang sudah tidak tahan mendengar celotehan mereka tersebut, hampir saja terpancing omongan mereka. Namun, Fadil dan juga Sintya segera menahan dan mengingatkan Nadia, agar tetap diam dan tidak menghiraukan mereka.


Baru saja mereka duduk, manager dan beberapa pelayan langsung datang membawakan makanan dan minuman terbaik yang ada di hotel tersebut.


'' Ayo! Silahkan dinikmati hidangannya. Tenang saja! kalian tidak perlu khawatir, semua ini steril dan tidak ada racun sama sekali.'' ujar Arya Wijaya.


'' Oh iya! saya juga akan tegaskan. Selama kalian tidak membuat ulah dan tidak membahayakan kami, kami akan jamin keamanan dan keselamatan kalian. Sebab, kami bukan orang yang suka membunuh orang lain demi kepentingan pribadi.'' Lanjut Arya Wijaya, menyindir mereka.


Mendengar sindiran Arya Wijaya, Tony Chan dan yang lainnya ingin menjawab. Tapi mereka segera urungkan. Sebab, dengan menjawab perkataan Arya Wijaya, justru itu akan menunjukkan apa yang telah mereka lakukan terhadap keluarga Arya Wijaya.


'' Hemm.. ternyata, lumayan juga ya makanan di hotel ini! Yaah.. walaupun tidak seenak makanan milik hotel kita!'' ujar salah seorang dari keluarga Chan, diikuti oleh yang lainnya.


Arya Wijaya dan yang lainnya hanya tersenyum geli atas ucapan mereka tersebut. Jelas-jelas, dari raut wajah dan cara makan mereka yang begitu lahap, sudah menunjukkan kalau mereka begitu menyukai hidangan tersebut. Bahkan, mereka sampai terlihat seperti orang yang baru pertama kali menikmati makanan terenak yang pernah mereka rasakan.


'' Oh iya Alex. Apa sebenarnya tujuan kamu ingin bertemu kami? Kamu tahu sendiri kan! kami ini orang sibuk. Kalau untuk hal yang tidak penting, jangan pernah sekali-kali membuang waktu kami.'' ucap Mei Ling dengan sombongnya.


Arya Wijaya tidak menggubris sama sekali ucapan Mei Ling. Dia dengan santainya, meminum teh hangat resep yang diberikan oleh Abah Ubaid kepada Alan, yang kini dijadikan minuman favorit di setiap hotel miliknya. Setelah beberapa saat, barulah dia menatap Tony dan berkata:


" Tony! Jika menurut keluarga besar Chan, saya telah membuat sebuah kesalahan karena menikahi orang yang saya cintai, baiklah saya terima. Saya juga menerima kalau saya diusir dari keluarga ini, dan tidak mendapatkan apapun dari keluarga ini.''


'' Saya juga tidak akan menuntut ataupun meminta sedikitpun bagian dari usaha yang saya lakukan untuk keluarga ini. Bahkan, kalian telah berulang kali mencoba menghancurkan usaha yang saya miliki dengan cara yang curang, saya mungkin masih bisa memakluminya. Saya anggap, semua itu adalah tantangan dalam dunia bisnis.''


'' Tapi, kali ini kalian sudah benar-benar keterlaluan! Sudah berapa kali kalian menyuruh seseorang untuk membunuh cucuku. Bahkan, istriku juga sudah menjadi korban kalian. Tapi, rupanya kalian masih juga tidak puas dengan itu semua. Apa sih sebenarnya yang kalian inginkan?'' ujar Arya Wijaya dengan sedikit geram.


'' Fitnah, itu fitnah! Alex! jangan seenaknya saja kamu menuduh kami yang melakukan itu. Apa yang menimpa kamu dan keluargamu, semua itu adalah karma atas kelakuanmu sendiri. Apa buktinya kalau kami melakukan itu padamu?'' jawab Tony dengan lantangnya, berpura-pura kalau apa yang terjadi dengan keluarga Arya Wijaya, bukanlah atas perintah keluarga ini.


'' Hhh.. bukti? kamu mau bukti? Fadil! coba katakan dan tunjukkan kepada mereka, bukti atas kejahatan yang mereka lakukan pada kita!'' perintah Arya Wijaya kepada Fadil.


Fadil dengan tenangnya dia berdiri. Dia menatap dalam-dalam wajah tony, Mei Ling, dan beberapa orang yang merupakan dalang atas berbagai upaya kejahatan yang mereka lakukan terhadap Susi Wijaya dan Alan.


Melihat tatapan mata Fadil yang begitu tajam hingga terasa menembus kedalam hati mereka, Tony Chan dan yang lainnya merasakan ketakutan. Hanya dengan ditatap seperti itu saja, hati mereka menjadi ciut. Tatapan mata Fadil itu, layaknya seperti tatapan mata elang yang bersiap menerkam mangsanya.

__ADS_1


'' Kakek! saya adalah saksi saat orang suruhan mereka meracuni nenek dengan racun Lumbu Ireng. Dengan mata dan telinga saya sendiri, saya juga melihat wajah dan percakapan mereka.''


'' Dan kejadian beberapa hari yang lalu, kedua orang yang telah membunuh nenek, mereka juga mencoba untuk membunuhku dan juga calon istriku.''


'' Meskipun saya belum sempat mendapatkan informasi langsung dari kedua orang pembunuh itu, tapi saya telah bertemu dan mendapatkan bukti dari orang yang telah menyuruh kedua orang pembunuh itu.''


'' Tuan tony! Anda pasti kenal dengan Darsono atau Frangky bukan?'' tanya Fadil menatap Tony Chan dengan tajam.


'' Darsono? Frangky? tidak tidak! saya bahkan baru mendengar nama itu. Kamu jangan mengada-ada bocah kecil!'' jawab Tony Chan mangkir.


'' Hhh... Dasar orang tua pikun! Anda tidak perlu lagi berpura-pura. Ini adalah bukti rekaman percakapan kalian.'' ujar Fadil, lalu memperdengarkan rekaman percakapan antara Tony dan Darsono.


Setelah rekaman percakapan itu diperdengarkan kepada semua orang yang ada disana, Tony Chan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Namun, meski sudah ketahuan semuanya, dia tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali. Bahkan, sepertinya dia merasa bangga dengan apa yang telah dilakukannya tersebut.


'' Dan satu lagi! Lil, bawa orang itu kemari!'' perintah Fadil kepada Ulil.


Tak lama setelah Fadil meminta Ulil untuk membawa seseorang tersebut, Ulil kembali dengan membawa An Bao yang telah diikat kedua tangannya. Saat Tony dan yang lainnya melihat An Bao digiring oleh Ulil, mereka jadi terkejut.


'' Lil, lepaskan ikatannya! biarkan dia bergabung bersama mereka!'' lagi-lagi Fadil memerintah Ulil.


Meski Ulil adalah sahabat Fadil, namun dalam situasi dan posisi ini, Ulil merasa Fadil adalah tuan muda dari tempat dia bekerja. Jadi, tanpa ada rasa ragu dan berat hati, Ulil langsung menuruti perintah Fadil begitu saja.


'' Tuan Tony! bukankah dia juga salah satu orang kepercayaan anda yang sengaja anda susupkan disini! apakah masih belum cukup bukti kalau kalianlah yang menjadi dalang dibalik semua ini?''


'' Tuan Tony.. tuan Tony. Apakah Anda tidak tahu siapa dia sebenarnya? dia itu..''


'' Cukup, cukup! kamu tidak perlu lagi berkata apapun tentang kami. Ya benar! memang kamilah yang menyuruh orang untuk menghancurkan keluarga kalian! Lalu, memangnya kalian mau apa? membalas dendam dan membunuh kami semua juga!'' sahut Mei Ling, dengan cepat memotong ucapan Fadil.


'' Tony.. saya tidak ingin diantara kita terus ada permusuhan. Bagaimanapun juga, kita adalah saudara. Kita juga terlahir dari rahim yang sama. Saya tidak ingin membunuh kalian. Tapi, saya juga tidak ingin, kalian terus mengusik kehidupan kami.''


'' Tony.. Hidup adalah pilihan. Siapapun berhak menentukan arah hidupnya masing-masing. Saya sudah menentukan pilihan dan jalan hidup saya sendiri. Tidak bisakah kamu dan keluarga besar Chan, membiarkan saya menentukan jalan yang saya pilih.''


'' Sejak saya dikeluarkan dari keluarga ini, saya tidak pernah mengganggu keluarga kalian. Dan sampai kapanpun, saya juga tidak ingin mengganggu kehidupan kalian. Tidak bisakah, kalian bersikap seperti saya? Tidak bisakah, kalian membiarkan saya hidup dengan jalan pilihan saya sendiri?'' ucap Arya Wijaya dengan penuh harap agar diantara mereka tidak ada rasa permusuhan.


'' Kak tony... apa yang dikatakan oleh kak Alex memang benar. Dia sudah memilih jalan hidupnya sendiri. Dia juga sudah menerima konsekuensi dari apa yang menjadi pilihannya. Mengapa kita tidak membiarkan kak Alex menjalani kehidupannya dengan tenang?''


'' Dan ingatlah kak Tony! bagaimanapun juga, kak Alex adalah saudara kandung kita. Selama ini, dia tidak pernah mengganggu dan mengusik kehidupan kita. Kita ini sudah tua kak! tidakkah kita ingin melihat anak cucu kita bisa hidup dengan damai.'' sahut Amy Chan yang sejak tadi hanya diam.


'' Tidak! enak sekali kamu bilang seperti itu! apa kamu pikir, saya bisa dengan mudah menelan rasa malu atas perlakuan kamu kepada keluarga kami.'' ujar Mei Ling dengan marah.


'' Kamu juga! kenapa kamu sekarang ikut membela Alex. Apa kamu tidak ingat, paman dan bibi Chan meninggal karena terlalu banyak memikirkan Alex si penghianat itu.'' Lanjutnya memarahi Amy Chan.


'' Diaamm... diam, semuanya diam! kamu juga Mei Ling. Kenapa kamu selalu nyerocos saja. Apa kamu yang jadi kepala keluarga ha?'' ucap Tony sambil memegangi kepalanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2