Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Kehilangan


__ADS_3

Tiara sudah tidak tahan lagi, hatinya sudah sangat kecewa. Rencana yang sudah dirancang bersama Fadil selama sebulan yang lalu, ternyata hari ini hancur begitu saja. Harusnya, hari ini adalah hari yang bahagia untuknya, bisa bersama Fadil sang kekasih hatinya. Saling melepaskan rasa rindu mereka berdua, yang sudah mereka pendam selama satu bulan lamanya. Karena selama sebulan terakhir ini, mereka sangat jarang bertemu.


Akan tetapi, karena ulah Yunita kakaknya, semuanya jadi berantakan. Bahkan, sudah seharian ini, Tiara belum bertemu dengan Fadil. Dan lebih menyedihkannya lagi, bahwa kabar dimana keberadaan Fadil pun Tiara masih tidak tahu.


Tiara yang dimarahi oleh ibunya semakin merasa sedih, dia langsung berlari masuk kedalaman kamarnya. Mengunci pintu kamar, kemudian merebahkan tubuhnya diatas pembaringan, sambil memeluk bantal guling dia menangis. Air matanya mengalir begitu deras, hingga bantal dan guling yang dipeluknya menjadi basah.


Pak Syahroni mendekati pintu kamar Tiara, mencoba untuk membukanya. Namun ternyata pintunya terkunci. Diapun kemudian mengetuk pintu tersebut.


''Tiara..,Tiara.., buka pintunya!''


Masih tak ada jawaban dari dalam, pintunya tetap terkunci, hanya terdengar isakan tangis Tiara.


'' Tiara.., buka pintunya!, biarkan ayah masuk, ayah ingin bicara denganmu.''


Setelah beberapa kali pak Syahroni mengetuk pintu, namun tak ada respon dari Tiara, akhirnya dia pergi menjauh dari pintu tersebut, dan membiarkan Tiara untuk menenangkan diri dalam kamarnya.


Hati dan tubuh Tiara sudah terasa sangat lelah, akhirnya dia tertidur setelah menangis cukup lama. Dari ekspresi wajahnya disaat terlelap itu, sepertinya Tiara sedang bermimpi. Sesekali Tiara mengerutkan keningnya, wajahnya tampak seperti orang yang sedang kelelahan. Di setiap pori-pori kulitnya, juga mengeluarkan keringat. Bahkan, sesekali Tiara berteriak-teriak sambil menangis, menunjukkan kegelisahan dan kesedihan hatinya. Tak hanya dalam jaganya, bahkan sampai terbawa di alam mimpinya.


Tiara terus berlari. Menyusuri jalan setapak yang penuh dengan bebatuan yang terjal, melewati semak-semak dan rerumputan yang tinggi, dan akhirnya sampai di tepi sebuah danau yang luas. Dari tepi danau itu, dia melihat sebuah perahu rakit yang sedang bergerak menjauh, menuju ke tengah-tengah danau tersebut.


Seorang pemuda dengan pakaian serba putih, berdiri diatas perahu rakit itu. Menatap Tiara yang berdiri di tepian danau, tatapan matanya sulit untuk diartikan. Pemuda yang berpakaian serba putih tersebut, bukanlah orang asing bagi Tiara, dialah Fadil kekasih hatinya.


'' A..,Tunggu A, jangan pergi..!, jangan tinggalkan Tiara..!''


Tiara terus memanggil manggil Fadil yang masih tetap berdiri diam diatas rakit itu. Suasana di danau itu begitu hening, dengan air yang sangat jernih dan tenang, tak ada ombak yang beriak, juga tak ada angin yang berhembus. Namun, perahu rakit yang dinaiki Fadil terus bergerak menjauh, seakan-akan ada yang mengayuh perahu rakit itu. Padahal tampak sangat jelas, perahu rakit itu hanya ditumpangi oleh Fadil yang sedang berdiri mematung, memandang ke arah Tiara yang mulai terisak sambil memanggil manggil Fadil.


'' A Fadil..! jangan pergi, jangan tinggalkan Tiara A, bawa Tiara bersama denganmu, Tiara ingin ikut denganmu A Fadil!, huu..,huu..,''


Tangisan Tiara makin menjadi, dia terus menerus memanggil Fadil. Hingga perahu rakit yang ditumpangi Fadil, sampai di tengah-tengah danau itu dan berhenti disana. Sebuah tangga menuju kelangit samar-samar terlihat, bersamaan dengan hilangnya kabut putih tebal yang menyelimuti permukaan ditengah danau tersebut, yang semakin lama tampak semakin jelas.


Fadil melangkah menaiki tangga. Tiara tanpa henti, terus-menerus memanggil-manggil Fadil sambil menangis sesenggukan. Ketika Fadil sampai di anak tangga yang ketiga, Fadil berhenti. Dia kemudian menoleh ke arah Tiara, tersenyum dengan sangat manis kepada Tiara. Lalu berbalik menaiki anak tangga berikutnya dan seterusnya. Setiap kali Fadil menaiki anak tangga, secara ajaib anak tangga yang ada dibelakangnya tiba-tiba menghilang.


Di ujung anak tangga yang berada diatas awan putih, tampak sebuah taman yang sangat luas dan indah. Di sepanjang jalan di taman itu, tampak berbagai macam jenis bunga yang berwarna-warni sedang bermekaran. Beberapa jenis burung, dan juga kupu-kupu yang sangat cantik, juga sedang berterbangan kesana-kemari begitu bebasnya.


Didepan pintu gerbang taman yang indah itu, berdiri beberapa gadis yang sangat cantik. Mereka memakai pakaian yang begitu indah, dan terlihat seperti sedang menunggu untuk menyambut kedatangan Fadil. Beberapa saat kemudian, Fadil telah sampai di pintu gerbang taman tersebut. Tanpa menoleh, Fadil terus berjalan memasuki taman tersebut, diiringi oleh gadis-gadis cantik yang sedari tadi berdiri menunggunya.


Bersamaan dengan langkah kaki Fadil yang memasuki pintu gerbang taman itu, kabut putih yang sangat tebal menutupi bayangan tubuh Fadil. Kemudian perlahan mulai menghilang, bersama dengan hilangnya diri Fadil dan yang lainnya. Menyisakan pemandangan langit yang biru dan keheningan tempat itu.


Tiara semakin histeris, dia terus berteriak menyebut nama Fadil.


'' A Fadil.., jangan pergi A!, jangan tinggalkan Tiara!''

__ADS_1


'' A Fadil.., Tiara mohon, tolong jangan pergi tinggalkan Tiara sendirian!"


'' A Fadil..!, A Fadil..!, hu...hu...''


Tiara masih terisak sambil memanggil-manggil nama Fadil.


Tok.. Tok.. Tok..


'' Tiara, bangun Tiara..!, bangun!, buka pintunya..!''


Tok.. Tok.. Tok..


'' Tiara, buka pintunya..!''


Diluar pintu kamar Tiara, ayah dan ibu Tiara terus mengetuk pintu. Memanggil-manggil Tiara agar membuka pintu kamarnya. Tiara yang dari tadi mengigau, kini terbangun. Lalu duduk diatas pembaringan. Tubuhnya dia sandarkan pada dinding kamar dibelakangnya.


Perlahan Tiara mulai sadar, kalau dia baru saja bermimpi. Bermimpi melihat Fadil dengan berpakaian serba putih, pergi ke taman yang indah, meninggalkan dirinya yang duduk bersimpuh di tepian danau.


Tiara merasa shock memikirkan mimpinya, jelas-jelas semuanya hanya sebuah mimpi, namun dalam perasaannya dia malah merasakan mimpinya terasa begitu nyata. Bayangan-bayangan dari alam mimpinya itu, seperti sesuatu yang sangat nyata.


Tubuh Tiara terasa begitu lelah, seperti habis berlari jauh. Air matanya juga masih menetes dari sudut kedua matanya. Saking shocknya, sampai-sampai dia tidak menyadari kalau dari tadi ayah dan ibunya sedang memanggil-manggil dirinya, memintanya untuk membukakan pintu.


Tiara lalu meraih ponselnya, mencari nomor Fadil untuk membuat panggilan. Namun, sebelum Tiara sempat membuat panggilan, terdengar pengumuman dari pengeras suara di masjid.


Deg.., Hati Tiara tiba-tiba berdebar, saat mendengar pengumuman berita kematian dari pengeras suara tersebut. Tiba-tiba, perasaannya menjadi tidak enak. Firasatnya menyatakan ada sesuatu yang buruk dengan kabar tersebut.


'' Telah meninggal dunia, saudara kita, Muhammad Fadil bin Abdul Manan.''


Duarr.., bagai disambar petir, hati Tiara saat disebut nama orang yang meninggal itu, meskipun Tiara masih tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya, namun dia langsung bereaksi. Tiara segera turun dari ranjangnya, membuka pintu kamar dan keluar berdiri didepan pintu rumahnya. Dia ingin memastikan, bahwa apa yang didengarnya barusan, adalah suatu kekeliruan.


Saat Tiara membuka pintu kamarnya tadi, pak Syahroni dan bu Lilis masih berdiri di depan pintu kamar Tiara. Tengah khusu' mendengarkan pengumuman tersebut, kemudian mengikuti Tiara keluar dari dalam rumahnya.


'' Sekali lagi, Innailaihi wa innailaihi roji'un. Telah kembali ke rahmatullah, saudara kita, yaitu:, Muhammad Fadil bin Abdul Manan. Meninggal hari ini, lebih kurang jam 14.00, siang ini di Baturaja. Dan akan dikebumikan pada hari ini juga. Untuk itu, kepada seluruh masyarakat, di mohon untuk hadir di rumah duka, untuk membantu prosesi pemakaman saudara almarhum. Terima kasih, wassalamu'alaikum Warohmatullahi wabarokatuh."


Tiara berdiri terpaku ditempatnya, menatap kosong kedepan. Apa yang barusan dia dengar, benar-benar membuatnya terkejut. Fikirannya masih antara percaya dan tidak percaya. Bu Lilis dan pak Syahroni juga terdiam dibelakang Tiara. Tidak berbicara atau melakukan apapun, mereka hanya menatapi tubuh Tiara yang membelakanginya. Tiara lalu membuka layar ponselnya yang sedari dia genggam, kemudian membuat panggilan ke nomor Fadil, yang tadi belum sempat dia lakukan.


Tuut.. Tuut... Tuut...


Nomernya telah aktif, tapi belum diangkat, hingga ketiga kalinya Tiara mencoba mengulangi panggilan itu, barulah panggilanya terhubung.


'' Halo.., Assalamualaikum.'' terdengar suara dari seberang.

__ADS_1


'' Halo, A Fadil..!'' Tiara langsung berkata tanpa mengenali suara lawan bicaranya.


'' Bukan bi, Ini dengan Alfin!''


'' Alfin!, kok ponsel A Fadil bisa sama kamu? Mana A Fadil? Kamu Lagi dimana?'' Tiara tidak berhenti nyerocos.


'' Saya lagi dijalan, ponsel paman memang Alfin yang bawa, dan paman Fadil..''


Alfin berhenti sejenak, rasanya dia agak berat untuk mengatakan kalimat itu kepada Tiara, apalagi dia juga tahu, kalau Tiara adalah kekasih Fadil pamannya.


'' Paman Fadil, udah tiada bi!'' lanjut Alfin berikutnya.


Tiara tiba-tiba terkulai, dadanya terasa begitu sesak, lalu pandangan matanya langsung gelap, kemudian dia pingsan. Pak Syahroni dan bu Lilis yang juga mendengar percakapan Tiara dengan Alfin di telepon, melihat Tiara yang akan ambruk, mereka segera menangkap tubuh Tiara. Menggendongnya, kemudian membaringkan tubuh Tiara didalam kamarnya.


Vita dan Yunita yang sedang tidur siang, juga terbangun. Setelah mencuci muka, keduanya menuju ke ruang tamu. Mendapati ayah dan ibunya sedang membawa tubuh Tiara yang sedang pingsan.


'' Yah.., Tiara kenapa? Terus, tadi pengumuman apa?'' tanya Yunita.


'' Fadil meninggal '' jawab bu Lilis singkat.


'' Innalillahi wainna ilaihi roji'un..'' Vita dan Yunita berbarengan.


'' Kapan? Terus kenapa? Kali ini Vita yang bertanya.


'' Barusan, tapi belum tahu kenapanya, tapi meninggalnya di Baturaja.''


'' Baturaja? Vita dan Yunita hampir bersamaan.


'' Apa mungkin karena kecelakaan ya yah?'' Vita kembali bertanya.


'' Gak tahu, tapi mungkin begitu!'' jawab pak Syahroni singkat.


Mendengar hal itu, tiba-tiba fikiran Yunita menjadi kacau, hatinya merasa tidak karuan, rasa sedih dan juga rasa bersalah atas kejadian ini, membuat hatinya benar-benar dilema. Bagaimanapun juga, dia awal penyebab Tiara dan Fadil gagal bertemu hari ini. Bahkan, jika berita kematian Fadil itu benar adanya, maka mereka bukan hanya tidak bisa bertemu hari ini, tapi juga untuk selama lamanya.


Tiba-tiba Yunita merasa luruh, dia terduduk di kursi meja rias yang ada dikamar itu, sambil menatap Tiara yang masih pingsan.


'' Tiara, maafkan aku Tiara!, hu..hu..'' Yunita terisak.


Bu Lilis mendekati Yunita.


'' Sudahlah!, tak ada gunanya disesali, semua sudah terjadi.''

__ADS_1


Dalam hati dan benak kedua orang tua Tiara, mereka juga sebenarnya merasa resah. Bagaimanapun, mereka sadar kalau Tiara dan Fadil, keduanya sangat saling mencintai. Tentunya akan sangat berat bagi Tiara, jika kehilangan orang yang dia cintai untuk selama-lamanya.


...****************...


__ADS_2