Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Melakukan Persiapan


__ADS_3

Setelah meletakkan Tiara di bangku tengah, Alan kemudian turun dari mobil. Membuka bagasi, dan mengambil minyak angin aromatherapy yang sempat dibelinya, saat di pusat perbelanjaan tadi.


'' Ini mbak Naila, oleskan di pelipis dan tengkuknya. Juga biarkan dia menghirup aroma terapinya. Mudah-mudahan, dia cepat sadar.'' ucap Alan, sambil menyerahkan sebotol minyak angin aromatherapy itu kepada Naila.


'' Tapi dia gak kenapa-napa kan kang?'' ujar Naila, mengulang pertanyaan yang tadi belum sempat dijawab oleh Alan.


'' Gak papa mbak! Dia baik-baik saja kok! Untungnya, tadi saya tepat waktu, kalau tidak..?!''


'' Alhamdulillah.., syukurlah kalau begitu!'' ucap Naila.


'' Ayo mas Pa-i, kita jalan!'' ucap Alan, setelah kembali ke tempat duduknya didepan bersama Pa-i.


'' Tapi pelan-pelan saja mas ya!'' lanjutnya.


'' Iya mas.'' jawab Pa-i, kemudian membawa mobilnya pergi meninggalkan tempat itu.


'' Oh iya mbak Naila! Maaf, tadi saya lupa. Itu, kerudung mbak Tiara tidak sempat saya bawa. Sementara pakai ini aja dulu untuk menutupi rambutnya.'' Alan menyerahkan sorban putih yang baru dibelinya.


'' Iya kang, makasih banyak.'' ucap Naila yang kemudian menutupkan kain sorban putih itu ke kepala Tiara.''


Tak lama kemudian, mereka telah sampai didepan pintu gerbang pesantren. Alan segera turun dan meminta yang lain untuk tetap dimobil.


'' Assalamualaikum..Pak satpam, mohon maaf! Bisa minta tolong bukakan pintunya. Didalam, Ada mbak Naila dan temannya yang lagi pingsan.'' Alan setelah menghampiri satpam itu.


'' wa'alaikumsalaam.., Neng Naila? Oh iya kang iya kang.''


Satpam itu meskipun belum begitu mengenal Alan, tapi kemarin dia melihat Alan bersama Zul, mengobrol begitu akrab dengan Abah Ubaid. Sehingga, dia dengan senang hati membukakan pintu gerbang tersebut, dan membiarkan mobil itu masuk. Setelah pintu terbuka, Alan kembali naik mobil itu, dan menunjukkan arah ke kediaman Abah kepada Pa-i. Tepat dihalaman rumah Abah, mobil itupun berhenti. Abah dan Ummi segera keluar dari dalam rumah, setelah mendengar adanya suara mobil yang berhenti dihalaman rumahnya. Naila segera turun dari mobil, meninggalkan Tiara yang masih pingsan didalam mobil tersebut.


'' Abah.., Ummi.., huhu..'' Naila langsung berlari dan memeluk ibunya sambil menangis.


'' Naila, kamu kenapa nak? kamu sama siapa? kok..?!''


Saat Ummi sedang mencecar Naila dengan banyak pertanyaan, Alan turun dari mobil bersama Pa-i. Dia kemudian menghampiri Abah dan Ummi, yang masih dalam kebingungan dengan apa yang terjadi didepannya.


'' Assalamualaikum.., Abah, Ummi.''


Alan dan Pa-i kemudian bersalaman mencium tangan Abah.


'' Wa'alaikumsalaam.., nak Alan. Kok ini..! Ada apa sebenarnya?'' Abah dan Ummi kebingungan.


'' Ceritanya panjang Abah, Ummi..'' jawab Alan.


'' Ya udah, duduk duduk! Coba tolong ceritakan apa sebenarnya yang terjadi!'' ujar Abah meminta penjelasan.


'' Iya Bah.., tapi itu, itu..'' Alan menunjuk kearah mobil.


'' Itu apa nak Alan?'' Abah dan Ummi makin bingung.


'' Itu..! Teman mbak Naila, masih pingsan di mobil.''


'' Apa? pingsan! Cepat bawa masuk bawa masuk!'' perintah Ummi.


'' Tapi saya..'' Alan ragu-ragu.


'' Udah! cepetan, bawa masuk!'' teriak Ummi dengan panik.


'' I iya Ummi.''


Alan segera masuk ke mobil. Kemudian menggendong Tiara, dan membawanya kedalam kamar Naila seperti yang diperintahkan oleh Ummi. Sementara itu, baik Abah maupun Pa-i. Mereka seperti orang yang sedang linglung, menyaksikan kepanikan Ummi, tanpa tahu harus berbuat apa. Setelah meletakkan Tiara di dalam kamar Naila, Alan kemudian keluar menemui Abah dan pa-i, yang masih berdiri diam mematung.


'' Maaf Abah, apa saya sudah melanggar aturan?'' tanya Alan, sambil berdiri di samping Pa-i dan menundukkan wajahnya.


'' Oh..! ini.., duduk-duduk. Jelaskan dulu masalahnya, biar Abah bisa menarik sebuah kesimpulan.'' ujar Abah kemudian.


'' Iya Bah..'' Alan mencolek Pa-i, untuk ikut duduk di kursi.


Sementara itu didalam kamar, Ummi terus mencoba menenangkan Naila yang masih menangis sesenggukan.


'' Naila.., sudah sayang! Jangan nangis terus, Ummi jadi bingung. Coba kamu tenang dan cerita sama Ummi, apa sebenarnya yang terjadi?''

__ADS_1


'' Ummi, hiks. Tadi dijalan, hiks. Mbak Tia, mbak Tiara hiks. Diculik.., huhu..''


Naila, sambil menangis menceritakan kejadian yang menimpa mereka.


'' Untung, hiks. Untungnya, hiks hiks. Ada kang Alan, hiks. Datang menolong.., huhu..''


'' Tapi kalian gak papa kan?'' tanya Umi khawatir.


Naila mengangguk.


'' Ya sudah.., sekarang kamu mandi sana!, terus ganti pakaian. Liat tuh!, baju kamu kotor semua.'' ucap Ummi, melihat pakaian Naila yang terlihat begitu kotor.


Setelah itu, Ummi kemudian pergi ke dapur untuk membuat minuman. Lalu keluar, dan bergabung bersama Abah dan Alan didepan.


'' Begini Abah. Tadi, sepulang dari menemui teman saya yang akan mengurusi masalah yang kita bahas kemarin, saya bertemu dengan mbak Naila yang sedang mencari pertolongan di pinggir jalan. Setelah saya tanyakan duduk persoalannya, mbak Naila bilang!, kalau temannya diculik. Maka saya dan teman saya ini, dan juga mbak Naila segera melakukan pengejaran. Dan Alhamdulillah, akhirnya kami bisa menyelamatkan teman mbak Naila.''


'' Tapi penculik itu belum ngapa-ngapain kan?'' tanya Ummi yang baru saja bergabung dengan mereka.


'' Alhamdulillah belum Ummi. Insyaallah, mbak Tiara tidak kenapa-napa.''


'' Lalu penculik itu bagaimana? Apakah sudah ditangkap?'' tanya Abah.


'' Untuk saat ini belum Abah. Tapi saya yakin, tak lama lagi, dia akan mendekam di dalam bui, untuk jangka waktu yang sangat lama.''


'' Apakah nak Alan tahu!, siapa pelaku penculikan itu?'' tanya Ummi lagi.


'' Iya Ummi, dia biang kerok ditempat kita ini.''


'' Astaghfirullahal'adzim.., dia lagi!. Pasti dia akan membuat onar lagi, setelah gagal mendapatkan keinginannya. Bagaimana ini Abah?'' Ummi merasa khawatir, dengan pelampiasan kemarahan anak lurah tersebut.


'' InsyaAllah, untuk sementara ini, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa Ummi. Bahkan, setidaknya dalam waktu seminggu ini, dia tidak akan datang kesini.''


'' Tapi bagaimana dengan para kaki tangan pak lurah?'' Abah merasa cemas.


'' Jangan terlalu cemas Abah..! Teman saya mengatakan, kalau mereka saat ini sedang dalam pengawasan. Jika mereka berani melakukan sesuatu yang buruk, itu sama artinya, mereka sedang menggali kubur mereka sendiri.'' ujar Alan begitu tenang.


'' Namun begitu, kita tetap perlu waspada dari hal-hal yang terjadi diluar perkiraan.'' tambahnya.


Setelah berpamitan, Alan kemudian mengambil oleh-oleh di bagasi mobil, yang dia beli untuk Abah dan juga teman-temannya. Setelah oleh-oleh untuk Abah dia berikan, dia kemudian segera menuju asrama, untuk menemui Zul dan teman-temannya.


'' Oh iya mas Pa-i, boleh saya minta tolong lagi.'' ucap Alan sebelum beranjak dari tempat itu.


'' Oh, boleh-boleh mas Alan, silahkan mas Alan mau minta tolong apa?'' ujar Pa-i.


Meskipun baru sebentar mengenal Alan, tapi rupanya Pa-i merasa sangat senang berteman dengan Alan. Sehingga, dia merasa sudah seperti teman karib saja.


'' Saya mau minta tolong, numpang bawakan motor mbak Naila ke bengkel terdekat. Mungkin ada beberapa bagian motor itu yang harus diganti. Sekalian juga, nanti teman-teman saya ikut nebeng dari sini bisa?''


'' Bisa bisa! Pokoknya, siaplah kalo buat mas Alan.'' ucap pa-i sambil tersenyum.


'' Baiklah kalau begitu, tunggu disini sebentar ya!, saya mau panggil teman-teman dulu.'' ujarnya sambil bergegas meninggalkan tempat itu.


'' Assalamu'alaikum..'' Alan saat berada di depan pintu.


'' Wa'alaikumsalaam..'' terdengar suara teman-temannya dari dalam.


'' lho kok pada lesu gitu kang.'' Alan melihat teman-temannya yang sedang berbaring dengan tidak bersemangat.


'' Bagaimana tidak lesu kang!, Hari ini, harusnya adalah hari yang bahagia. Tapi, gara-gara jaringan error, uang kiriman dari kampung terpaksa ditunda,hingga waktu yang tidak bisa dipastikan, sungguh terlalu.''


Barusan, para santri itu mau mengambil uang kiriman mereka. Namun, tepat setelah Alan berlalu dari mesin ATM tadi, tiba-tiba terjadi gangguan jaringan.


'' Aiyya.., mana fulus sudah tifis, warnanya kelabu pula. Payah.., payah.'' sahut seorang santri, yang sedang menerawang selembar uang dua ribu rupiah, yang begitu kusut.


'' Haish, ane juga. Berharap bisa beli bakso pentol, sama es cendol, tapi satupun tidak ada yang nyantol. Oh, dodool dodol, kapankah engkau akan nongol?''


Zul yang menyaksikan teman-temannya yang sedang mengeluh itu, hanya senyum-senyum. Meskipun dia juga sama seperti yang lain, tapi dia tetap terlihat tenang.


'' Kang Zul mah enak, meskipun sedang krisis, tapi diakan calon mantunya Abah! Jadi gak pusing kayak kita.'' kata santri yang lain.

__ADS_1


'' Ya udah, nih..! Saya bawakan dodol yang tadi kalian tunggu, sama beberapa buah segar, biar kalian gak lesu lagi.'' Alan kembali melanjutkan langkahnya, yang tadi sempat terhenti di pintu, karena mendengar keluh kesah mereka.


Disaat mendengar Alan berkata seperti itu, mereka semua langsung menoleh ke arah Alan. Ketika mereka melihat, Alan memang membawa sekantong plastik besar, yang penuh padat sesuatu didalamnya. Salah satu diantara mereka kemudian bangkit menghampiri Alan, menyongsong kantong plastik itu, kemudian membukanya.


'' Alhamdulillah.., antum memang penyelamatan hidup ane kang Alan. MasyaAllah.., syukron kang Alan, Syukron.'' Ucapnya setelah melihat isi kantong plastik tersebut.


Pemuda tadi kemudian meletakkan bungkusan itu ditengah, lalu mengeluarkan semua isinya. Santri yang lain segera duduk melingkari aneka buah dan makanan yang dibawa oleh Alan tersebut. Zul juga ikut merapat. Alan setelah meletakkan beberapa belanjaan miliknya di lemari, juga ikut duduk bersama mereka.


Beberapa saat kemudian.


'' Kang Zul, saya mau minta tolong bisa?'' Alan memandang ke arah Zul.


'' Apa yang bisa saya lakukan kang Alan?'' tanya Zul.


Alan kemudian berdiri, lalu berjalan kearah pintu. Zul juga mengikuti Alan keluar dari kamar itu.


'' Kang Zul, tadi ada sedikit masalah yang menimpa mbak Naila dan temannya. Tapi sekarang sudah beres. Hanya saja, motor mbak Naila sekarang masih tertinggal di lokasi, dekat area perkebunan teh milik warga. Apa kang Zul bisa mengambilkan motor itu sekarang?'' Tanya Alan.


'' Bisa, bisa kang. Tapi ngomong-ngomong, neng Naila gak kenapa-napa kan kang?''


'' Gak papa kok kang. Mbak Naila dan temannya, sekarang ada di rumah bersama Abah dan Ummi. Kang Zul tak perlu mencemaskanya.'' Alan sambil menepuk bahu Zul, yang terlihat begitu cemas mendengar kabar tersebut.


'' Emangnya, tadi ada masalah apa sih kang?'' tanya Zul penasaran.


'' Nanti saya ceritakan kang. Sekarang kang Zul bawa teman untuk mengambil motor mbak Naila, sekalian diservis dulu! Biar kang Zul bisa balik kesini pake motor itu.''


'' Iya kang.'' jawab Zul singkat.


'' Oh iya kang, ini buat biaya servis dan jaga-jaga kalau nanti ada yang perlu diganti.'' Alan kemudian menyerahkan beberapa puluh lembar uang pecahan seratus ribu.


'' Kok banyak Amat kang? apa kerusakannya begitu parah? Zul malah semakin penasaran.


'' Nggak kok kang, itu buat jaga-jaga. Sekalian juga, buat beli makanan selama nunggu di bengkel, daripada nanti kurang.'' jawab Alan.


'' Oh iya hampir kelupaan, nanti kang Zul kesananya ikut mobil teman saya saja. Kebetulan satu arah, dan tadi saya juga sudah minta sama dia, untuk mengantarkan sampai ke bengkel.''


'' Oke kang, saya berangkat sekarang ya?'' ucap Zul.


'' Mari, saya antar kang Zul menemui teman saya itu.''


Zul kemudian mengajak salah satu temannya, untuk menemani mengambil motor Naila.


'' Ada yang mau ikut jalan-jalan gak?'' tawar Zul kepada teman-temannya, yang sedang menikmati oleh-oleh yang dibawa oleh Alan.


'' Ana, ana kang Zul.'' jawab salah satu santri yang tadi tampak paling lesu.


'' Ya udah cepat, kita berangkat sekarang.'' ujar Zul, kemudian berjalan bersama Alan menuju mobil yang dibawa Pa-i.


'' Maaf! Lama mas pa-i.'' ujar Alan setelah menghampiri Pa-i.


'' Ah, gak papa kok mas Alan, santai aja.''


'' Tolong antar mereka ke bengkel mas ya!'' pinta Alan.


'' Oke mas Alan! Siap laksanakan.'' ucap pa-i dengan wajah sumringah.


Alan kemudian merogoh sakunya, dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.


'' Mas pa-i, jangan ditolak. Ini buat beli minyak, dan kalau ada lebihnya, buat beli rokok mas pa-i.''


'' Wah.., mas Alan ini. Kalau pak Andre tahu, saya bisa..?!


'' Udah..!, tenang aja. Kuncinya, yang penting jujur mas pa-i. Insyaallah berkah.'' ujar Alan memotong kata-kata Pa-i.


'' Baiklah kalau begitu, terimakasih mas Alan.''


Pa-i kemudian menyalakan mesin mobilnya, memutar arah kendaraan itu, lalu setelah Zul dan temannya masuk, Pa-i segera meninggalkan pesantren tersebut. Sampai di lokasi motor itu berada, Zul dan temanya serta Pa-i segera turun. Mereka bersama-sama mengangkat motor milik Naila itu dari parit, kemudian membawanya, serta menaikannya kedalam mobil. Pa-i kemudian mengantarkan mereka ketempat servis motor terdekat. Setelah menurunkan motor itu di bengkel, pa-i langsung pamit untuk melanjutkan perjalanannya.


Saat Zul dan Pa-i meninggalkan pesantren tadi, Alan langsung menghubungi Andre. Dia meminta Agar Andre mengirimkan orang-orangnya, untuk mengawasi pergerakan dari lurah dan juga antek-anteknya. Alan juga menceritakan, kalau dia baru saja berurusan dengan anak lurah tersebut, dan telah menciderainya. Untuk itu, Alan juga meminta agar selama beberapa hari kedepan, Andre harus mengirimkan orangnya dari jajaran kepolisian, untuk mengawasi juga area pesantren. Karena Alan merasa, tak lama lagi anak lurah tersebut, akan melakukan aksi di lokasi pesantren itu.

__ADS_1


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Andre segera melaksanakan apa yang diminta oleh Alan. Dia langsung menghubungi orang-orang terbaiknya, untuk melakukan pengintaian. Serta menghubungi pimpinan kepolisian daerah setempat, agar mempersiapkan diri, jika dia tiba-tiba membutuhkan para personilnya untuk melakukan penangkapan.


...****************...


__ADS_2