
'' Fadil! kenapa kamu tidak mau mama peluk nak? apa ada yang salah dengan mama?'' ujar Sintya keheranan dengan sikap Fadil yang tidak seperti biasanya.
'' Maaf nyonya! kita bukan muhrim. Jadi, saya tidak bisa berpelukan dengan anda ataupun non Nadia. Maaaf.. sekali nyonya, tolong jangan tersinggung!''' ucap Fadil merasa tidak enak kepada mereka.
'' Tapi, biasanya kamu tidak seperti itu?'' ujar Sintya.
'' Iya kak Fadil. Bukannya tadi kak Tiara juga boleh memeluk kak Fadil! Kenapa sama kami kak Fadil tidak mau?'' sahut Nadia tidak puas.
'' Maaf nyonya, non Nadia! tadi, saya juga mau menghindari Tiara. Tapi dia sudah keburu memeluk saya.''
'' Kalau dulu, tubuh yang nyonya peluk itu tubuh Alan, anak nyonya sendiri. Jadi tidak masalah. Tapi sekarang, saya berada pada tubuh saya sendiri nyonya.'' ujar Fadil menjelaskan.
'' Tiara! gara-gara tadi, hilang hafalanku satu juz.'' lanjut Fadil, melirik kearah Tiara.
Mendengar Fadil berkata seperti itu, Tiara jadi tersipu malu. Dia juga sebenarnya tidak sengaja ingin memeluk Fadil. Hanya saja, dia terlalu terbawa suasana hatinya. Sehingga dia jadi lupa kalau dia dan Fadil belum menikah.
Tidak ada yang tahu, kalau sebenarnya Fadil adalah seorang hafidz Qur'an. Dia memang tidak pernah mengatakannya kepada siapapun. Dalam menghafalnya, dia juga selalu melakukannya saat tengah malam usai melakukan sholat dan dzikir malam.
'' Fadil.. Tidak mengapa kamu tidak mau mama peluk. Tapi, tolong jangan panggil mama dengan sebutan nyonya seperti itu.''
'' Walaupun Alan sudah ada bersama kami, tapi kamu dan juga Tiara, sudah mama anggap sebagai anak sendiri. Jadi, tolong! jangan ulangi memanggil mama seperti tadi!'' ucap Sintya agak sewot.
'' Mas Fadil. Tolong ikuti saja apa kata mama mas! Jangan dibikin ribet, agar tidak merusak suasana kita saat ini!'' ucap Alan menengahi.
Fadilpun hanya bisa menuruti apa yang dikatakan oleh Sintya. Dia kembali memanggil Sintya dengan sebutan mama seperti sebelumnya. Namun, dia mengatakan kepada Sintya dan juga Nadia, agar tidak memeluk ataupun cipika cipiki seperti orang lain. Sebab, menurut apa yang dia yakini. Itu bukan hanya tidak diperbolehkan, tapi juga akan menghilangkan hafalan Qur'an yang dimilikinya.
'' Jadi, bagaimana tuan Arya Wijaya. Bisakah anda memutuskannya sekarang?'' tanya Rooney, setelah melihat suasana diruangan tersebut kembali seperti semula.
'' Alan, bagaimana menurutmu? Apakah kakek harus membantu mengembalikan aset keluarga Chan apa tidak?'' tanya Arya Wijaya meminta pendapat dari Alan.
Alan mengangguk. Arya Wijaya tadi memang sempat menceritakan sedikit tentang masalah tersebut kepadanya. Bagaimanapun juga, sejak dia mengalami kejadian setahun yang lalu, Alan memang sudah banyak berubah. Sifatnya yang dulu keras dan agak kaku, kini jadi berbalik 180 derajat.
''Baiklah tuan George, saya siap melanjutkan.'' ucap Arya Wijaya bersedia membantu keluarga Chan, setelah dia mendapatkan persetujuan dari Alan.
'' Terimakasih kak, terimakasih Alan!'' ucap Tony diikuti oleh seluruh keluarga Chan.
'' Baiklah kalau begitu. Besok, anda harus datang jam sembilan di kantor kami. Kami akan membantu anda, untuk memproses segala hal yang berkaitan dengan aset keluarga kalian.'' ucap Rooney meyakinkan mereka.
'' Oke tuan George. Terimakasih sebelumnya. Tanpa bantuan tuan dan nyonya, tentu kami akan kesulitan mengurus masalah ini.'' jawab Arya Wijaya lalu menyalami George Rooney dan Yuki istrinya, diikuti oleh keluarganya yang lain.
'' Sama-sama tuan Arya Wijaya, anda tidak perlu sungkan kepada saya. Bukankah kita adalah partner.'' ujar Rooney tersenyum.
'' Oh iya, anak muda! mumpung saya masih disini, bolehkan kami minta dibuatkan teh herbal lagi? Sejak minum teh herbal buatanmu tadi pagi, badan saya terasa sangat nyaman.'' pinta Rooney kepada Alan.
Karena yang membuat teh herbal tersebut adalah Fadil, Alan jadi sedikit bingung. Dia akhirnya meminta kepada Fadil untuk membuatkan teh herbal seperti tadi pagi.
'' Mas Fadil, maaf ya mas! jadi merepotkan mas Fadil lagi.'' ucap Alan ketika Fadil akan beranjak dari ruangan tersebut.
'' Ah gak papa Lan! biasa aja lagi.'' jawab Fadil lalu pergi dari tempat tersebut.
Kali ini, Fadil tidak hanya membuat teh herbal untuk Rooney dan istrinya. Bahkan, dia membuatkan teh herbal untuk semua orang yang ada ditempat tersebut. Semua orang merasa senang dengan teh herbal buatan Fadil tersebut. Apalagi, saat Fadil pergi untuk membuat teh tersebut, Rooney dan Yuki menceritakan tentang khasiat dari teh herbal itu pada tubuhnya serta istrinya Yuki Yamato.
'' Pa, ma, kakek! boleh saya minta ijin keluar sebentar? Saya ingin bicara dengan Tiara!'' ujar Fadil setelah menghidangkan minuman teh tersebut kepada mereka semua.
Arya Wijaya, Sintya dan yang lainnya langsung paham. Fadil dan Tiara adalah sepasang kekasih yang segera akan menikah. Namun, Fadil dan Tiara sudah lama tidak bertemu. Sejauh ini, Fadil hanya berada pada tubuh Alan. Tentunya, akan sangat berbeda setelah Fadil berada pada tubuh aslinya seperti saat ini.
'' Iya Fadil. Silahkan silahkan! tapi kalian jangan jauh-jauh dari hotel ini ya!'' pinta Sintya.
'' Dan ingat! kamu jangan macam macam kepada Tiara!'' lanjut Sintya seperti mengancam.
__ADS_1
'' Iya ma.. Fadil tau itu. Kami juga cuma mau ke taman depan hotel ini.'' jawab Fadil.
Mendengar ancaman dari Sintya tadi. Fadil merasa, dia tak ubahnya seperti anak kecil yang nakal dihadapan Sintya. Namun dia tidak menjadikan hal itu sebagai hal yang serius. Dia malah merasa, kalau Sintya benar-benar telah menganggap dirinya sebagai anaknya.
'' Kami permisi dulu ma, pa, kakek, juga semuanya.'' ujar Fadil lalu mengajak Tiara pergi keluar.
'' Lil, ayo ikut kami!'' ajak Fadil kepada Ulil.
Ulil yang sejak tadi masih kebingungan dengan segala yang terjadi, dia langsung senang saat Fadil mengajaknya ikut bersama mereka. Ada banyak pertanyaan dalam benak Ulil. Dia ingin mendapatkan penjelasan dari Fadil tentang semua yang terjadi saat ini.
'' Kak, aku ikut!'' ujar Nadia tiba-tiba, dan langsung bangkit dari duduknya.
'' Nadia, ngapain kamu mau ikutan? kamu nggak kangen sama kakakmu Alan? Lagian, kamu juga nanti jadi pengganggu mereka!'' ujar Sintya yang merasa aneh dengan Nadia.
'' Ma, masih banyak waktu bersama kak Alan. Sedangkan dengan kak Fadil dan kak Tiara, sebentar lagi mereka akan pulang ke Baturaja dan menikah disana.''
'' Belum tentu setelah menikah, mereka mau tinggal bersama kita di Jakarta. Lagian, Nadia juga mau nemenin kak Tiara, biar kak Fadil tidak macam-macam!'' ujar Nadia seakan-akan tidak rela Fadil membawa Tiara.
Mendengar penuturan Nadia, Alan tersenyum. Tapi dia tidak berkata apapun. Begitupun dengan Fadil, dia juga ikut tersenyum. Namun, dia tidak melarang ataupun berkomentar dengan ucapan Nadia tersebut. Karena tidak ada komentar apapun dari Fadil maupun yang lainnya, Nadia langsung berjalan mengikuti Fadil, Ulil, dan juga Tiara.
...----------------...
Sesampainya Fadil, Ulil, Tiara dan juga Nadia di taman depan hotel tersebut, mereka duduk duduk sambil menikmati suasana malam. Di atas langit, walaupun tidak lagi utuh bentuknya, bulan masih memancarkan sinarnya.
'' Kak Fadil. Kenapa wajah kakak begitu mirip sekali dengan kak Alan?'' tanya Nadia yang memang kadang suka bicara asal ceplos tersebut.
'' Ya mungkin karena sebenarnya kami ini kembar, hanya saja kami berada pada rahim yang berbeda.'' jawab Fadil asal sambil cengar-cengir.
'' Yee mana ada, kembar tapi beda rahim.'' sahut Nadia.
'' Ada, kami buktinya.'' ujar Fadil.
'' Itu namanya bukan kembar kak. Tapi mirip.'' sahut Nadia lagi.
'' Ya Nadia kan cuma pengen tau kak. Kenapa kalian begitu mirip?''
'' Nadia. Mana saya tau kenapanya. Tapi yang jelas begini. Kita ini, adalah mahluk ciptaan Allah. Dia punya kuasa dalam menciptakan segala sesuatu.''
'' Mungkin Allah punya maksud dan tujuan, kenapa menciptakan saya dan Alan dengan wajah yang begitu mirip. Hanya saja, kita tidak tau apa maksud dan tujuan itu.''
'' Namun, semua ini adalah bukti akan ke-Maha besaran-Nya. Meskipun kami terlahir dari rahim yang berbeda, tapi mudah saja bagi Dia untuk menciptakan rupa yang sama ataupun sebaliknya.''
Nadia manggut-manggut. Dia memang tidak banyak mengerti hal yang seperti itu. Namun, dengan apa yang dijelaskan oleh Fadil tersebut, dia bisa sedikit memahami. Tiara yang sedari tadi diam mendengarkan, dia lalu mulai bertanya kepada Fadil.
'' A Fadil, sebenarnya apa yang terjadi. Bukannya tubuh A Fadil sudah..'' ucap Tiara tidak melanjutkan kata-katanya.
'' Jadi begini Tiara. Kamu pasti pernah mendengar bukan! jasad seorang penghafal Al-Qur'an itu, akan tetap utuh walaupun sudah dikuburkan. Bahkan, dulu kamu sendiri juga melihat, kalau jasadku seperti orang yang sedang tidur dan tidak seperti orang yang mati.''
'' Alhamdulillah, begitulah yang terjadi padaku. Allah menjaga jasadku supaya tetap utuh. Tapi.., gara-gara kamu peluk aku tadi, aku kehilangan hafalanku satu juz.'' ujar Fadil kembali mengungkit Tiara yang tadi telah memeluknya.
'' Berarti, kalau kak Fadil dan kak Tiara menikah, bisa hilang dong semua hafalan Al-Quran kak Fadil?'' ujar Nadia membuat kesimpulan.
'' Hhh.. ya tidaklah Nadia. Kalau kami sudah menikah, semua yang kami lakukan berdua sudah halal. Jadi tidak akan merusak hafalanku.'' jawab Fadil.
'' Ooh.. gitu! kirain, walaupun sudah menikah, tapi kalau kak Fadil bersentuhan dengan wanita yang bukan.. apa itu namanya?''
'' Muhrim atau Mahram Nadia.'' sahut Fadil.
'' Iya itu, bukan muhrim. Nadia kira, walaupun sudah menikah tapi kalau bukan muhrim, hafalan Al Qur'an kak Fadil akan hilang seperti jika kak Fadil menyentuh kak Tiara.''
__ADS_1
'' Ya tidak begitu Nadia. Semua itu terjadi, jika seorang hafidz Al Qur'an bersentuhan dengan orang yang bukan mahram, ataupun melihat sesuatu yang tidak halal dan bisa menimbulkan syahwat baginya.''
'' Sama seperti kamu dan Alan. Kaliankan saudara sepupu! Jadi, kalian bukan mahram. Dan kalian, tidak boleh saling bersentuhan. Misalnya: berpelukan, cipika cipiki, atau yang lainnya. Kecuali, kalian diikat oleh tali pernikahan.'' ujar Fadil.
'' Maksudnya mahram atau muhrim itu, apaan sih kak?'' tanya Nadia lagi.
'' Jadi, kamu nggak tahu artinya mahram?'' Fadil balik bertanya.
'' Enggak.'' jawab Nadia singkat.
'' Tiara, bisa kamu jelasin sama Nadia apa itu mahram!'' ujar Fadil meminta kepada Tiara.
'' Jadi gini Nadia. Mahram atau muhrim itu, artinya: Orang yang tidak boleh kita nikahi. Misalnya, kedua orang tua kita, kakak atau adik kandung kita, dan lain sebagainya.''
'' Dan mahram sendiri, ada beberapa macamnya. Ada mahram karena sedarah, ada mahram karena ikatan pernikahan, dan ada juga mahram karena sesusuan.'' ujar Tiara, lalu menjelaskan contoh contohnya.
'' Mas Fadil. Kan banyak ya, orang yang waktu kecil dikasih susu sapi atau susu kambing. Apakah itu juga termasuk mahram?'' tanya Ulil.
Mendengar pertanyaan dari Ulil tersebut, Fadil jadi terkekeh. Di tatapnya Ulil dengan seksama. Fadil mengira, kalau pertanyaan Ulil tersebut hanyalah sebuah pertanyaan iseng semata. Namun, dari ekspresi wajah Ulil, sepertinya dia memang serius.
'' Hhh.. Lil, Lil. Ente itu, sebenarnya mau nanya beneran, apa cuma ngelucu Lil. Memangnya, kalau bukan mahram, kamu mau? nikah sama sapi atau kambing?'' tanya Fadil terkekeh, begitu juga dengan Tiara dan Nadia.
'' Ish..mas Fadil ini! Masa, orang nikah sama sapi atau kambing. Maksudnya, sesama orangnya gitu lho mas Fadil, bukan sama sapinya!'' ujar Ulil agak greget karena Fadil salah memahami maksud pertanyaannya dan juga menertawainya.
'' Ooh.. maksudnya itu! kirain, ente nanyain antara orang dengan sapinya. Tapi, banyak juga lho Lil. Orang yang nikah sama sapi!'' ucap Fadil dengan muka serius.
'' Hhh.. mas Fadil ngaco deh! mana ada orang menikah sama sapi!'' jawab Ulil terkekeh.
'' Ada Lil, bahkan banyak. Mereka hidupnya juga terlihat bahagia. Dan menurutku, Ente juga cocok kalau menikah dengan sapi!''
'' Ish.. mas Fadil ini, pelecehan banget. Masa saya mau dipasangkan dengan sapi! parah..parah.'' jawab Ulil lalu tangannya ingin menyentuh kening Fadil, untuk mengecek suhu tubuh Fadil.
'' Eit... Ente mau nyamain suhu tubuhku dengan pantat ente kan. Enak aja! masa kepalaku mau ente samain dengan pantat!'' ucap Fadil, sambil mengelak Ulil menyentuh keningnya.
'' Hhh.. Habisnya, mas Fadil gitu banget. Makanya saya mau cek suhu tubuh mas Fadil. Siapa tahu terlalu panas, makanya mas Fadil jadi error.'' sahut Ulil.
'' Weish.. Ente itu ya. Aku itu serius Lil. Banyak orang yang menikah sama sapi. Tidak laki-laki, tidak juga perempuan.'' ujar Fadil sambil kembali membenahi posisi duduknya.
'' Mana ada mas Fadil, coba mas Fadil tunjukkan kalau memang ada. Paling-paling, orang stress saja yang mau menikah dengan sapi.'' ujar Ulil, juga membenahi posisi duduknya.
Baik Tiara maupun Nadia, mereka jadi penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Fadil. Mereka memang pernah melihat berita di medsos, tentang orang yang menikahi sapi miliknya. Tapi tidak banyak seperti yang dikatakan oleh Fadil.
'' Nih aku kasih tau ente ya! Kalau banyak orang yang menikah dengan sapi, dan mereka juga bukan orang stress seperti yang ente bilang. Ente tau ibu Romlah kan?'' tanya Fadil.
'' Ooh.. tau tau, yang jualan mie ayam dekat pertigaan itukan?'' jawab Ulil.
'' Iya. Menurut ente, apa ibu Romlah itu orang stress?'' tanya Fadil lagi.
'' Enggak! dia orang normal kok!'' jawab Ulil.
'' Naah.. siapa coba suaminya?'' tanya Fadil, mulai jelas maksud arah perkataannya.
'' Pak Sapi.., itu Syafi'i mas Fadil! bukan sapi...! Ish mas Fadil ini!'' gerutu Ulil setelah tau Fadil menjebaknya.
'' Hhh.. itu baru ibu Romlah Lil. Belum Bu Etty, Bu Denok, Bu Sri dan ibu-ibu lainnya.''
'' Dan emangnya, kamu tidak mau menikah sama anaknya pak kades. Kan sama juga Lil, namanya sapi-tri! diakan cantik Lil. Ya..walaupun tidak secantik bidadariku!'' ucap Fadil sambil melirik Tiara dan terus terkekeh.
'' Itu Savitri mas Fadil, Sa- Vi- Tri. Bukan sapi-tri!'' sahut Ulil begitu kesal atas candaan Fadil.
__ADS_1
Mendengar obrolan juga tingkah kedua sahabat ini, baik Tiara maupun nadia, mereka jadi terkekeh-kekeh. Bagi Tiara, dia memang sudah sering melihat kedua orang ini bertingkah lucu bila sudah bersama. Namun bagi Nadia, dia baru melihat ada dua orang sahabat yang begitu gokilnya, sehingga dia tidak bisa menahan rasa geli dihatinya.
...****************...