
Udah end, tapi masih ada extra part-nya ya. Yang ena-ena dan alur ceritanya ringan, mampir ke sana dulu juga boleh ^_^
Dan, mohon dukungannya kembali untuk cerita ini ya reader sayang.
--------
Minggu ini menjadi Minggu yang berbeda dari biasanya, bukan karena hujan yang mengalir deras membasahi bumi. Tetapi adanya satu jiwa yang menangis. Kabar jika Dika akan menikahi Amanda Minggu depan menjadi momok ketakutan terbesar Jasmine. Ia harus meyakinkan hatinya sendiri jika ia sudah melepas Dika dari dekapan nya.
Dentingan piano yang mengalun lembut menjalar ke seluruh ruangan. Bercampur dengan suara derasnya hujan dan air mata. Tubuhnya mengikuti irama nada, sesekali suaranya terdengar parau tak bersuara. Hingga dentingan piano yang mengalun lembut itu berubah menjadi dentingan yang memaksa, menjadi nada yang penuh kekecewaan dan amarah.
Brakkkk.
Jasmine menutup pelindung Tuts itu dengan kencang, menyilang kedua tangannya dan menjadikan bantalan di atas penutup Knot itu. Nafas pelan sambil sesekali terisak. Inikah getir kehidupan setelah perceraian atau inikah cinta tak bertuan.
__ADS_1
"Hiks, hiks, hiks.....," Perlahan Jasmine merasakan ada sentuhan tangan yang amat ia kenali, sentuhan tangan yang amat ia rindukan. Apa ini hanya halusinasi dan rasa rindu yang menekan terlalu dalam. Jasmine masih terisak dalam sembunyi. Kepalanya masih ia susupkan pada lengan dan lebatnya rambut yang ia gerai. Tangan itu mulai merapikan dan menyisipkan anak rambut, membelainya. Jasmine semakin terisak dalam sembunyi, ia sangat mengenal tangan itu.
"Kemarilah anak ayah, kenapa kau menangis seperti ini." Laki-laki paruh baya itu sudah berada di belakang Jasmine saat putrinya memainkan alat musik piano bercat putih.
"Ay-yah.....," Jasmine mendongkak dan mengusap air matanya. Ia melihat mata tua paru baya itu yang mulai berkerut tapi masih terlihat berwibawa.
"Jangan seperti ini anakku, kemarilah." Seorang ayah akan tahu apa yang putrinya rasakan meski ia tak pernah bercerita atau bahkan terpisah jarak dan waktu. Ayah Kamto membawa Jasmine dalam pelukannya. Mengusap lembut punggung putrinya. "Harusnya ayah kemarin menembaknya, jika ayah tahu kau menjadi seperti ini."
"Ayah tahu kau masih mencintai laki-laki itu, tapi kau tak harus seperti ini. Ini hanya akan menjadikan dirimu menjadi wanita lemah Jasmine. Kau harus kuat untuk dirimu sendiri dan Asmira. Kau harus menjadi dirimu sendiri yang dulu sebelum mengenal laki-laki itu lebih jauh. Kau harus menjadi putriku yang ceria. Biarkan laki-laki itu menikahi wanitanya. Kau bisa mendapatkan kebahagian lain. Percayalah." Kata-kata ayahnya tak mampu Jasmine elak, memang benar ia harus bangkit dan berjuang untuk dirinya sendiri.
"Ada apa ayah kemari?" Tanya Jasmine.
"Kenapa memangnya, ayah hanya mau menemui putri kecil ayah. Tidak boleh?" cebik ayah Kamto.
"Aku sudah dewasa ayah."
__ADS_1
"Ya..., Kau memang sudah dewasa Jasmine, ayah tahu. Dan kau juga akan punya bayi kecil lagi."
"Hah....,"
"Raka sudah bercerita pada ayah,makanya ayah kesini. Kau baik-baik saja, bagaimana sudah kau periksa kan anakmu itu?"
"Belum ayah, Jasmine malas. Dia baik-baik saja dan tidak ada keluhan."
"Bersiap ayah akan menemanimu periksa kandungan."
"Tapi ayah....,"
"Jangan membantah, bagaimanapun cucu ayah harus sehat. Cepat cuci mukamu dan ganti baju."
"Baik ayah." Tak mau berdebat dengan ayahnya, Jasmine memilih menaiki anak tangga dan menuruti apa yang ayah Kamto katakan.
__ADS_1
Ia bersiap ke rumah sakit tanpa seorang suami si sampingnya.