
Pukul satu pagi, terlihat Jasmine tidur meringkuk di atas sofa tanpa selimut yang membaluti tubuhnya. Untuk sesaat tubuh itu menggeliat, membenarkan posisi tidurnya yang jelas tidak nyaman. Nafasnya terdengar halus dan sesekali terdengar isakkan yang masih jarang terdengar.
Setelah kepergian Bryan tadi siang, wanita berusia tiga puluh tiga tahun itu hanya menghabiskan diri meratapi nasibnya kini. Kini semesta membiarkannya merajut lagi tali yang akan menjeratnya seumur hidupnya. Tali pernikahan. Permainan baru yang memusingkan! Kedua insan yang bertaut dalam Keegoisan, Nafsu dan Rindu.
Masih teringat jelas kejadian beberapa waktu lalu. Jasmine yang mengubah takdir hidupnya, mengubah takdir semesta yang sudah melingkari jalan hidupnya. Kini wanita beranak dua itu harus menjadi Istri dari laki-laki muda bernama Bryan. Banyak penyair yang bilang, nikmati saja takdir hidupmu. Itu sudah di gariskan oleh Sang Pencipta. Katanya!
Sentuhan hangat yang kini sering Jasmine rasakan, tak jua membuat hatinya terbuka. Ia hanya wanita dengan selaput dara yang sudah terbuka. Dengan status janda yang pernah tersandang dalam kisahnya. Jasmine tak lebih seorang ibu dengan rindu yang menderu. Seorang wanita yang pernah gagal, bukan gagal menjaga suaminya! Hanya Suaminya saja yang bebal dan terus bermain mata dengan mantan kekasihnya.
Masih jelas teringat di benaknya, saat suaminya dalam waktu 30 menit merubah semua yang pernah mereka ikat dulu berubah menjadi ikatan yang terus menerus terlepas dari genggamannya. Masih ia ingat, saat Dika dengan rela membagi madu dengan wanita bernama Amanda.
*
"Sudah tidur ya, maaf aku baru pulang." Bryan terus mengelus lembut rambut ikal istrinya yang berwarna pirang. "Masih marah, kenapa tidur di sofa lagi." Katanya lagi sembari membalutkan selimut di tubuh Jasmine. Hangat yang Jasmine rasakan, perlakuan sederhana yang tak mampu Ia tolak. Jangan tanyakan Jasmine, jelas ia tahu Bryan pulang dan mengajaknya berbicara.
Pagi harinya Jasmine terbangun lebih dulu, ia melihat suaminya yang tidur meringkuk dengan selimut yang sudah tak beraturan. Masih dengan mata yang terlihat sembab dan tubuh yang kaku Jasmine berjalan mendekati Bryan membenarkan selimut dan mengecup pelan kening Bryan. "Maafkan aku." Rutinitas paginya adalah melihat banyaknya dedaunan hias yang menari-nari liar di atas tempatnya bernafas. Berbagi oksigen dan mengikatnya kembali. Tumbuh subur dan memanjakan mata, melambaikan daunnya mengajak Jasmine ikut menari. Ah, menari. Apa bisa menari di atas kegelisahan.
Suara yang amat Jasmine kenali menyeruak tipis di gendang telinganya. Menggigit kecil, tubuh Jasmine bergetar ia amat tahu siapa pemilik mulut liar yang slalu menyesapnya dengan rakus.
"Masih pagi, tidurlah." Bujuk Jasmine sambil membalikkan badannya, merengkuh juga tubuh suaminya.
"Jangan marah, setelah ini aku kasih hadiah untukmu." Mulut nakal itu mulai menjalar lagi di leher Jasmine, mengecupi perlahan.
"Hentikan! Aku belum mandi, kau juga. Kembali tidurlah." Titah Jasmine.
__ADS_1
"Kau benar tidak mau hadiah dariku?" Tanya Bryan dengan senyum yang mengembang.
"Mulut nakal itu memang benar-benar candu, sialnya aku slalu saja mau." Batin Jasmine.
"Hadiah apa?" Tanya Jasmine menatap Bryan yang masih tersenyum penuh maksud.
"Rahasia, ayo kita lakukan dulu." Mata Bryan mengerling, ia kembali memusatkan bibirnya pada leher Jasmine. Tangannya menarik tangan Jasmine dan menyuruhnya untuk menyusup di balik boxer biru miliknya. Yah daging tanpa tulang itu sungguh sudah menegang dari tadi.
"Apa setiap hari kita perlu melakukan nya?" Tanya Jasmine sembari tangannya terus memberi sentuhan lembut pada daging tanpa tulang yang terus menegang.
"Hmmm, ini ibadah." Bryan kini membawa tubuh Jasmine dan menerkamnya seperti biasa.
Pagi yang hangat, lebih hangat dari biasanya. Pergumulan panas yang dua insan lakukan kini membuat matahari nampak malu-malu memancarkan kan cahayanya.
"Mau lagi, minta lagi ya. Udah rindu sama si kecil." Bryan menarik satu sudut bibirnya, mau di apakan saja bentuk bibirnya akan terlihat merah jambu dan menggoda.
"Apa sih, kamu bohong Bry." Jasmine keluar dari selimut yang menutupi tubuh polosnya. "Bohong." Lanjutnya lagi sembari memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai.
"Mandilah dan buat sarapan, setelah itu aku baru akan memberimu hadiah." Teriak Bryan saat mendapati Jasmine sudah masuk ke kamar mandi.
Selesai menuntaskan kewajiban sebagai istri, kini wanita itu sedang sibuk membuat sarapan di dapur mini. Tak banyak yang ia masak, hanya telur mata sapi dan roti bakar. Dengan segelas susu coklat seperti biasa. Menu yang sama juga Jasmine buat untuk suaminya.
Bryan yang mengijinkan Jasmine untuk masak pun tak kalah antusias nya. Setiap malam setelah ia menyelesaikan tugas berbahayanya ia slalu membawa kantung plastik putih berisi barang belanjaan kebutuhan masak Jasmine. Secarik kertas slalu di selipkan di tangan Bryan saat Jasmine mencium tangan suaminya. Ia tersenyum dan slalu mengatakan ''Seperti biasa ya." Bagaimanapun ,umur tak menjadi masalah untuk Jasmine. Ia masih hormat dan tahu diri.
__ADS_1
"Uuuuw....., Bryan ku sudah tampan, ayo sarapan." Ajak Jasmine sembari menarik kursi untuk Bryan yang baru tiba di meja makan. "Jadi kan hadiahnya." Jasmine tersenyum, menaik-turunkan alisnya.
"Sedang merayuku?" Bryan menunjukkan wajah seperti ia pura-pura masam.
"Tidak jadi ya?" Jasmine kini yang cemberut, bibirnya mengerucut jika tidak mengingat umurnya dia seperti anak kecil yang merajuk minta jajan pada ibunya.
"Sarapan dulu ya." Bryan tersenyum sembari memegang bahu Jasmine,wanita itu sudah sibuk memegangi sandwich miliknya. Mengunyahnya tanpa berselera. "Aku akan gemuk jika setiap hari minum susu, sudah segelas susu coklat ditambah dua buah si kembar." Bryan tersenyum cerah, lantas ia menyeruput segelas susu coklat hangat jatahnya pagi ini.
"Biarin gemuk, biar tidak ada yang mau dengan mu." Pekik Jasmine masih dengan wajah yang datar. Tak peduli laki-laki muda dihadapannya ini meracau apa saja.
"Hahaha, kau hanya mau aku jadi milikmu saja ya wanitaku?" Bocah ini masih meracau saja, menegaskan jika ia istimewa di mata Jasmine.
"Tau ah, kamu bohong. Cepat habiskan sarapan mu. Dan ini, belikan ini saat kamu pulang nanti." Jasmine menaruh secarik kertas dengan tulisan pesan Magic. Satu kilo ayam kampung, merica bubuk, daun bayam, sawi hijau, bawang putih lima ons, bawang merah juga, tepung terigu 🔺 biru, jangan lupa belikan juga buah-buahan. Belikan juga pupuk tanaman. Jangan lupa satupun! Tanda pentung itu jadi peringatan, jika tidak mau jatah malam ini lenyap karena kesalahan konyol. Pesan itu diakhiri dengan emoticon 🖤 Jasmine.
Jasmine melengos, Bryan tersenyum sambil menyimpan secarik kertas penuh wasiat ke dalam kantong kemejanya. "Ayo bersiaplah, jika tidak hadiahmu nanti hilang." Bryan menarik tangan Jasmine, menyuruhnya mengikuti langkah kakinya.
"Kita mau kemana?" Tanya Jasmine, karena di luar dugaan. Langkah kaki itu menuju arah lantai dasar.
"Rahasia, ini syaratnya." Bryan mengibarkan sebuah sapu tangan. "Tutup matamu saat sudah ada di dalam mobil."
"Huuhhhhh....." Jasmine menghembuskan nafas kasar. "Tapi aku ingin melihat keadaan luar." Jasmine masih merengek.
Bryan menggelengkan kepalanya, masih dengan senyuman yang manisnya melebihi madu. Batinnya "Emak-emak gini nih dikasih hati minta ampela yang pahit."
__ADS_1
"Kita harus cepat bergegas, sebelum hadiahmu pergi." Titah Bryan sembari memasangkan sapu tangan di mata Jasmine. "Jika kamu tidak membantah, aku kasih hadiah lagi. Dan kamu pasti suka wanitaku. Cup." Bryan mencium kening Jasmine dan ia mengemudikan mobil Jeep Wrangler menebus riuhnya pagi jalanan kota.