
Kabut mulai turun berganti sendunya pagi yang masih tak terlihat mentari yang menghiasi cahaya semesta pagi ini. Kelopak mata Jasmine terpaksa ia buka saat sebuah bisingnya buldozer berhenti tepat di depan bangunan tua yang nyaris reot.
Mata Jasmine memberat,ia sungguh ngantuk sekali. Belum semalam ia harus menahan rasa dingin dan banyaknya nyamuk yang bertebaran hinggap di muka dan tangan Jasmine yang terbuka.
"Arghhhhh......" Jasmine menggeram saat bahunya ditarik paksa salah satu bodyguard berkepala plontos. "Bawakan sepatu ku." Mintanya sambil tergopoh-gopoh menahan nyeri kaki yang terkilir semalam."Kalian membuat mood ku rusak,sudah tak di kasih makan di seret-seret lagi. Beginikah kalian memperlakukan seorang wanita." Lanjutnya sambil mengibas-ibaskan bahunya.
"Cerewet! Jalan cepat atau kau mau hancur juga seperti bangunan ini." Tubuh jasmine di dorong-dorong dengan paksa. "Sepatuku botak." Pekik Jasmine lagi.
Suasana pagi ini masih terasa dingin hawanya menjalar merambat ke seluruh leher Jasmine yang terbuka. Mobil Van yang berdatangan tadi malam sudah hilang entah kemana. Digantikan alat berat yang siap meluluh lantakan bangunan reot yang menjadi markas mereka saat ini. Meninggalkan jejak pastinya.
"Sepatu ku mana botak?" Minta Jasmine lagi.
Namun bukan botak yang melempar sepatu boot keluaran dari dr.marteens berwarna maroon itu tapi pria muda yang menertawakan Jasmine sedari tadi malam. Wajahnya tak terlihat mengantuk,masih terlihat segar dan tampan.
"Terimakasih." Jasmine mengulas senyuman, padahal dia menahan rasa lapar yang teramat sangat menusuk lambungnya.
"Masuk ke mobil." Lanjut Bryan.
"Kau mau membawaku kemana, lepaskan aku saja pasti nanti aku bakal merepotkan mu." Lanjut Jasmine menunjuk kan senyum manisnya.
"Masuk!" Nada paksaan dan Perintah tuan muda sambil menunjuk ke arah orang yang mengendalikan alat berat buldozer. Wajahnya tetap terlihat tampan dan kejam. Apa dia tadi sudah mandi sepagi ini atau dia pakai susuk khusus pria.
__ADS_1
Jasmine masuk ke dalam mobil Jeep Wrangler tanpa berselera,ia mendudukkan tubuhnya yang lesu menahan semua rasa nyeri di sekujur tubuhnya,bukan main. Dadanya rasanya semakin membengkak penuh dengan Asi.
Brukkkkk.... Jasmine terperanjat saat bangunan tua nan reot itu sudah luluh lantak dengan tanah. Deburan debu bertebaran dimana-mana. Hanya sekali tabrakan buldozer itu menghantam rumah tua markas rahasia gembong muda Bryan Imanuel Nicolas. Nampak memang ia sengaja menghilangkan jejak persembunyiannya.
"Baguslah dia sudah menaruh ku di dalam mobil,bisa saja dia membuat ku mati seketika dengan runtuhnya rumah tua itu.Tapi kenapa?" Pertanyaan di kepala Jasmine saling menyaut satu persatu lebih seperti benang bundet.
Bryan masuk ke dalam mobil lebih tepatnya di samping Jasmine. Sangat kontras penampilan nya dengan Jasmine yang terlihat amat berantakan. Kemeja yang sudah koyak dan raut wajahnya yang musam berbanding terbalik dengan laki-laki di sebelahnya. Setelah mastikan semua bersih mesin mobil itu berderu meninggalkan tepat persembunyian selama ini menembus paginya sebuah desa dengan cahaya mentari yang mulai mengintip di balik ranting-ranting dedaunan yang tumbuh menjulang tinggi.
*
Sebuah mobil putih berhenti tepat didepan reruntuhan rumah tua,matanya nampak memerah sesekali tangannya mengepal dengan erat. Memukul kap mobil berkali-kali.. Hingga meninggalkan bekas merah di baku-baku jarinya. "Kak.......!" Raka menggeram,nafasnya memberat menahan Isak tangis yang akan memecah.
"Mas...mas... sedang apa disini?" Seorang pria paruh baya dengan pakaian seadanya dan memakai topi caping mengagetkan lamunan Raka.
"Kenapa mas ada disini,disini sudah tidak ada orang lagi yang berjaga." Pria paruh baya itu menjelaskan.
"Kemana perginya orang-orang yang berjaga disini pak?" Tanyanya lagi berharap ada oase keberadaan kakaknya.
"Satu jam lalu buldozer menghancurkan bangunan ini, katanya sudah tidak di gunakan lagi dan akan berpindah tempat." Jelas bapak-bapak yang juga membawa cangkul di pundaknya.
"Apa bapak tahu ada wanita di dalam sini?" Raka berusaha mengorek informasi dari bapak bercaping coklat yang terbuat dari anyaman bambu.
__ADS_1
"Tidak tahu saya mas,saya hanya bertanya pada penjaga yang terakhir disini. Hmm,saya permisi mas mau cari rumput untuk ternak saya." Bapak caping mengangguk dan berlalu meninggalkan Raka yang masih mematung ditempatnya.
Tidak tahu lagi harus mencari kakaknya dimana,Raka memutuskan untuk kembali ke markas melaporkan bahwa kakaknya sudah tidak ada di markas dan hilang entah kemana.
"Pantas saja tadi ada buldozer yang mengarah dari area itu." Raka bergumam sendiri. "Maaf kak aku telat menjemput mu, kakak dimana?" Bibir itu masih bergumam sendiri dan tangannya tak henti-hentinya memukul stir kemudi.
**
Hawa dingin dari AC semakin membuat tubuh Jasmine bergetar. Ia memilih untuk memejamkan matanya,menahan rasa lapar dan kantuk yang menderanya sedari malam. Rasanya setelah ini menjadi malam yang panjang untuk Jasmine. Hingga akhirnya matanya benar-benar terpejam,ia tak tahu akan di bawa kemana tubuhnya sekarang. Tangannya masih terikat dengan lekat oleh borgol yang semakin Jasmine gerakan semakin menyisakan bekas merah melingkar.
*
Setibanya di markas keluarga Kamto,Raka sudah hilang akal. Ia akan menerima apa saja hukuman dari ayahnya. Langkah kakinya memberat mengajaknya menuju bangku kebesaran ayahnya.
"Bagaimana kakak mu?" Raut wajah Kamto masih menyisakan kekhawatiran yang semakin memperjelas kerutan di keningnya.
"Kakak hilang." Jawab Raka sambil menunduk.
"Maksudmu hilang bagaimana!" Kamto berdiri menatap tajam ke arah putranya.
Raka menjelaskan semua detail yang ia dapat tadi dan tak henti-hentinya meminta maaf pada ayahnya.
__ADS_1
"Kau tahu Raka,kakakmu dulu slalu menekan apa yang ia inginkan hanya untuk menuruti keinginanmu. Kakak mu juga bahkan rela mengirim uang bulanan dari hasil dia kerja hanya untuk menyenangkan mu.Lalu apa yang terjadi dengan kakakmu sekarang, kenapa slalu saja kakakmu yang menjadi korban." Kamto sudah tidak bisa menahan rasa khawatir nya, matanya memerah menahan genangan air mata. "Pergi ke tim pengintai dan suruh mereka melacak cctv di area keluar masuk jalan satu arah di daerah situ." Perintah Kamto dan di angguki Raka.
"Putriku....." Kamto mengusap bingkai potret dirinya dan Jasmine saat keduanya sedang tersenyum.