Kiss The Rain

Kiss The Rain
Panti Asuhan (2)


__ADS_3

Perdebatan sengit terjadi di luar mobil antara Dika dan Raka.


Semua terdengar di telinga Jasmine, Ia keluar dengan pistol yang ada ditangannya.


"Mau mati bersama disini, jika iya. Ayo kita lakukan!" Jasmine menodongkan pistol bergantian ke arah Dika dan Raka, "Kami tidak melakukan apa-apa, Raka. Kami hanya lelah 6 jam kami berada di jalanan. Sedangkan Dika kemari juga menggunakan baju kerja, kau pikir tidak sesak menggunakan baju seperti itu seharian." Jelas Jasmine yang tak di indahkan oleh Raka.


"Aku tidak suka kalian berdua! Kalian tidak menghargai pasangan kalian jika seperti ini!"


Dika dan Jasmine hanya saling melempar pandang, "Baik kami minta maaf, besok lagi kami bawa orang ke tiga. Biar kami tidak hanya berduaan saja." Jasmine mengalah, adiknya masih sewot jika ia berdekatan lagi dengan Dika.


"Awas! Aku tidak mau ada gosip tentang kalian lagi. Kau juga kak! Suamimu di penjara malah asik-asikan berduaan dengan mantan! Apa itu baik, pikirkan kak!" Raka berbicara dengan berapi-api.


"Oke, oke. Kakak salah! Kita bicarakan nanti, ada hal yang harus kita selesaikan malam ini juga." Jasmine beralih memasuki mobil dan di ikuti Dika.


"Ikuti kakak dan bersiap!" Jasmine berteriak dari celah kaca mobil yang ia buka.


Dika menahan tawanya, "Adikmu berfikir jika kita habis bercinta. Lucu juga. Apa jadinya jika kita benar-benar bercinta. Bisa-bisa mati mengenaskan aku tadi."


"Gak lucu! Sudahlah, siapkan dirimu saja."


Mereka beranjak menuju lokasi, jalanan ini cenderung sepi dengan penerangan seadanya. Jika jarang melewati tempat ini, buku kuduk rasanya akan merinding.


Tiga mobil bergerak dengan cepat, hingga tibalah mereka di depan gerbang. Ke tujuh preman yang berjaga tadi masih terlihat tepat, mulutnya membual hal-hal yang tidak masuk di akal.


Semua rombongan yang terdiri dari dua dokter dan 5 anggota Brandles Wolfgang bersiap tanpa senjata. Jika preman-preman ini melawan. Mereka baru akan melucutkan senjata api yang mereka bawa di balik jaket hitam yang mereka kenakan.


Begitu pula dengan Jasmine, ia menyelipkan pistolnya di balik kemeja yang ia pakai. Mereka turun bersamaan. Hingga perangainya membuat preman tadi berdiri dengan sempoyongan.


Jasmine menatap Raka dan anggota lainnya. Raka mengangguk, dengan begitu urusan preman diserahkan oleh Raka dan anggota Brandles Wolfgang lainnya.


Jasmine dan Dika, masuk ke gerbang utama. Di ikuti ke dua dokter yang sengaja di bawa untuk segala kemungkinan yang terjadi.


Betapa mengejutkan dengan kondisi di dalam panti. Penerangan yang minim dengan bangunan yang apa adanya. Jasmine menatap Dika dan menggeleng, "PR kita banyak Dika. Aku tidak bisa menyusahkan mu sampai sejauh ini."


"Kita pikirkan nanti, yang harus kita pikirkan adalah anak-anak di sini dan para pengasuhnya." Dika berjalan menuju ruang-ruang di sekitar panti itu. Di ikuti Jasmine yang memegangi lengan Dika dengan erat. Suasana disini tampak sepi dan jauh dari pemukiman penduduk.


Hingga suara khas ibu-ibu paruh baya mengagetkan ke empat orang yang mengendap-endap seperti maling.

__ADS_1


"Astaga, jantungku hampir copot." Gerutu jasmine sambil memegang dadanya.


"Maaf, kalian siapa dan dari mana?" Tanya ibu-ibu itu dengan sopan tapi raut wajahnya memancarkan rasa takut dan khawatir.


"Kami..., kami donatur." Jasmine berbicara dengan mantap.


"Baik, ayo masuk ke ruangan saya." Ibu itu memandu ke empat orang yang nampak was-was menuju ruangannya.


"Silahkan duduk, saya buatkan minuman dulu untuk kalian. Pasti kalian dari kota dan menempuh perjalanan jauh untuk datang kemari." Senyum ibu-ibu itu penuh harap.


Jasmine dan Dika hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka duduk berdampingan, jika bukan orang kenalan. Mereka berdua layaknya sepasang suami istri yang terlihat romantis. Karena tangan Jasmine tak lepas dari lengan Dika. Sedangkan Dika laki-laki itu merasa dirinya beruntung. Bukan lagi kan kesempatan dalam kesempitan.


Selang beberapa menit ibu-ibu paruh baya tadi membawa nampan berisi empat cangkir teh hangat yang mengepul asapnya.


"Maaf hanya seadanya. Silahkan di minum."


Jasmine mengangguk, tanpa basa-basi ia langsung membombardir pertanyaan pada ibu-ibu paruh baya tadi.


"Sejak kapan preman-preman berada di depan gerbang? Apa tidak ada akses lain jalan? Lalu dimana anak-anak panti, kenapa disini sepi sekali?"


"Sejak pemilik tanah ini di penjara dan para donatur enggan untuk datang kesini. Karena sebenarnya panti ini berisi anak-anak terlantar dan di buang oleh orang tua mereka. Atau anak-anak yang menjadi korban atas orang tua mereka yang menjadi pesakitan."


"Ibu tau pemilik tanah ini dan siapa dia?"


Ibu paruh baya itu mengangguk.


"Lalu dimana anak-anak kenapa jam segini masih sepi?"


"Anak-anak yang dewasa ada yang berkeliling menjajakan makanan. Ada yang masih bekerja, anak-anak yang masih kecil sudah pada tidur di rumah belakang."


Jasmine menghela nafas panjang, "Hingga jam segini, yang benar saja."


"Sabar....," Dika berbisik.


"Dua orang ini adalah dokter, besok pagi kumpulan anak-anak untuk dilakukan pemeriksaan. Jangan ada satupun anak yang keluar panti ini! Ibu paham?" Jasmine mengeraskan nada bicaranya.


"Maaf anda siapa? Kenapa tiba-tiba menyuruh kami untuk menuruti keinginan anda." Tanya ibu paruh baya yang sedang meredam emosinya.

__ADS_1


"Saya dan laki-laki ini akan menjadi penanggung jawab panti selama pemilik tanah ini di penjara. Lakukan saja apa yang saya perintahkan. Akan ada 7 orang yang berjaga disini sampai besok."


Jasmine menyeruput teh itu hingga tandas isinya tak tersisa. Sedangkan Dika dan dua dokter tadi hanya menggeleng.


"Maafkan mantan istri saya yang terbawa suasana, Bu. Harap maklum karena suaminya sedang di penjara. Makanya bawaannya hanya emosi saja." Dika berusaha menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi.


"Saya Dika, saya yang akan menjadi donatur utama menggantikan posisi Bryan. Jadi saya harap, mulai besok anak-anak di bawah umur tidak perlu bekerja. Dan saya harap lagi, lakukan saja semua yang Jasmine perintah. Karena wanita ini adalah istri pemilik tanah ini."


Ibu panti yang mendengar penjelasan Dika cukup terkejut, ia menatap Jasmine yang tertunduk memijit pelipis keningnya.


"Jadi anda wanita itu, wanita yang slalu di ceritakan tuan Bryan."


Jasmine mendongkak, "Jangan ceritakan lagi cerita sebelas tahun lalu!"


Ibu paruh baya yang belum di ketahui namanya ini tersenyum, "Baik, saya akan melakukan semua perintah yang Nyonya sebutkan. Jika Nyonya berkenan, menginap lah disini semalam. Karena daerah sekitar sini tidak ada penginapan."


Jasmine menatap Dika, berusaha mencari jawaban. Dika hanya mengangguk.


"Baik, tapi pisahkan ruanganku dengan laki-laki ini. Dan mereka yang diluar tolong buatkan kopi."


Ibu paruh baya itu tersenyum dan mengangguk. Sedangkan Dika yang penasaran cerita sebelas tahun yang lalu mulai menatap Jasmine penuh tanda tanya.


"Apa yang terjadi sebelas tahun yang lalu?" Tanya Dika.


"Rahasia."


"Jawab, jika tidak aku batalkan diriku menjadi donatur utama disini."


"Mengancam! Aku adalah pahlawan bagi keluarga Bryan, jadi Bryan sudah menyukaiku sejak sebelas tahun yang lalu!"


"Apa! Jadi takdir memang memaksaku untuk berselingkuh dan membuatmu bertemu dengan laki-laki yang menyukaimu selama satu dekade, Hahaha." Dika tertawa.


"Apa sih Dik, selingkuh aja dibanggakan!"


*


Cerita ini alurnya selow ya, jadi nikmati saja dan pastinya happy ending. 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2