Kiss The Rain

Kiss The Rain
Bab 87


__ADS_3

Terhitung sudah tiga hari Jasmine dan Bryan tidur dalam satu ranjang. Hanya sekali dua kali Bryan turun dari ranjang untuk mandi dan menuntaskan hajat nya di kamar mandi.


Dan itu semua tentunya dibantu oleh Raka dan Husein. Mereka bergantian menjaga sepasang manusia tak berdaya.


Siang harinya dokter melakukan visit, ia berpesan untuk Jasmine agar tidak melakukan hal berat dan menjaga pola makan. Dan, itu berarti Jasmine bisa terbebas untuk kembali beraktivitas.


"Sayang, ayo kita pergi ke suatu tempat." Ajaknya bersemangat.


Jasmine menaruh buku dan pulpen di tangan Bryan. Sudah dua hari ini Jasmine dan Bryan berkomunikasi melalui balasan tulisan.


Tidak, kamu baru sembuh!


Jasmine membaca dengan bibir yang mengerucut.


"Sayang, tunggu sebentar aku mau mandi." Jasmine mengecup pipi Bryan.


Perlahan ia turun dari ranjang. "Jangan kemana-mana, jangan turun dari ranjang se-senti-pun!" Jasmine menunjuk-nunjuk Bryan yang hanya tersenyum melihat Jasmine keluar dari bangsal perawatan.


Diluar bangsal perawatan Jasmine mencari Husein dan Raka yang berada di gedung penyimpanan kendaraan.


"Raka....," Panggilan pelan.


"Kak!" Raka menoleh dan menatap tajam ke arah Jasmine yang berjalan dengan pelan-pelan sembari memegang perut bagian bawah.


"Siapkan mobil, kakak mau pergi sebentar."


Raka menjewer telinga Jasmine dan memelintirnya.


"Baru juga tiga hari sudah banyak tingkah!"


"Kakak mau ke motel bersama Bryan, ayolah Raka." Bujuknya sembari mengatupkan kedua tangannya.


"Menyusahkan, tidak ya tidak!"


"Yasudah ,opsi kedua. Kamu antar kakak, satu jam lagi kita berangkat. Kakak mau mandi dulu."


Jasmine menepuk pundak Raka dan berlalu pergi menuju ruang khusus ketua. Disana ia membersihkan tubuhnya yang sudah lengket dan banyak lebam di punggungnya. Kini tangan Jasmine meraba-raba perutnya yang rata, "Maafkan mommy yang tak bisa menjaga dirimu little, seandainya nanti kau tumbuh pun kau tak bisa melihat bagaimana rupa ayahmu atau kasih sayang yang ayahmu berikan. Tenanglah disana, ada saatnya nanti kita bertemu."


Jasmine melakukan sentuhan terakhir, ia mencari tas minggatnya dan memasukannya beberapa baju ganti milik Raka untuk Bryan gunakan nanti.


Di bangsal perawatan, Husein membantu adiknya untuk bersiap-siap. Terlihat Bryan sudah rapi di atas kursi roda.


*


Tepat pukul empat sore, setelah melakukan drama panjang yang terjadi antara Jasmine dan Raka. Akhirnya adik dari Jasmine Adriana mengalah, ia terus meracau sepanjang perjalanan menuju motel milik Jasmine.


Petuah-petuah ala orang tua jaman dulu Raka ocehan, larangan dan peraturan Raka gembor-gemborkan.


Sedangkan Jasmine dan Bryan di bangku penumpang hanya saling bergelayut manja. Mendengar ocehan Raka sebagai diorama gratis.


"Kalian berdua mendengarku atau tidak?" Raka yang sebal mempercepat laju mobilnya.

__ADS_1


Jasmine dan Bryan mengangguk. "Semakin cepat semakin baik Raka." Jasmine tertawa cekikikan.


"Ingat pesan-pesan ku, dua hari lagi kalian aku jemput. Jangan berhubungan badan. Dilarang bersentuhan atau *******. Kakak paham!"


Jasmine menyunggingkan senyum, "Apa yang kau pikir Raka, bahkan kakak tak berfikir sampai sejauh itu."


Mungkin tidak sekarang, tapi nanti.


Jasmine cekikikan. Sedangkan Bryan hanya bisa tersenyum mendengar perdebatan kedua kakak beradik.


Perjalanan mulai memasuki jalan satu arah, jalanan yang menyempit hingga pemandangan perbukitan membuat Jasmine tak henti-hentinya memandang lekat keluar kaca.


"Sayang, bagus kan." Jasmine mengajak Bryan untuk menatap apa yang ia lihat.


Bryan mengangguk.


"Kau bisa melihat pemandangan lebih indah nanti di tempat ku. Di lereng gunung tempat ku bersembunyi."


Kakak! Apa yang kau rencanakan kali ini.


Raka sesaat menoleh ke belakang, melihat kakaknya yang bersandar di lengan Bryan. Mesra, sekaligus menyedihkan.


Mobil berhenti di depan mini market, "Katakan apa yang kalian butuhkan."


"Pembalut yang ada sayapnya, Raka."


Jawabnya Jasmine yang menohok membuat Bryan menahan tawanya.


"Hahaha, please." Jasmine mengatupkan kedua tangannya sambil menahan tawanya.


"Apa lagi?" Raka mendengus kesal.


"Apa saja yang enak dan bikin kenyang."


Dasar, tidak pernah berubah dengan nafsu makannya.


Raka keluar dari mobil, membanting pintunya dengan keras.


Sepasang manusia di dalamnya nampak saling melempar pandang. Lalu tertawa cekikikan.


"Sayang, kau harus menerima adik ku yang menyebalkan. Dia tak jauh beda seperti ku. Tapi percayalah, dia anak yang baik."


Bryan tersenyum dan mengangguk. Ia menyelipkan anak rambut Jasmine dan mengecup pipinya.


"Sayang, kau menggodaku." Jasmine terkekeh, tangannya mencubit perut Bryan.


Tak lama kemudian Raka datang dengan membawakan dua kantung plastik berisi makanan dan kebutuhan dua sejoli.


"Nih bill'nya." Raka menyodorkan struk belanja yang panjangnya hampir tiga puluh sentimeter.


"Oh habis segini." Jasmine manggut-manggut mengerti.

__ADS_1


"Ganti!"


"Besok kalau sudah cair." Jasmine menarik turunkan alisnya, "Sudah yuk, benar lagi nyampe 'Ka. Kasian kami yang butuh berbaring."


Raka hanya berdehem dan melajukan lagi mobilnya menuju motel.


Selang 30 menit, mereka sampai. Raka membantu Bryan turun dari mobil dan mendorongnya menuju kamar Jasmine.


"Ingat pesanku tadi!" Raka menatap tajam ke arah Bryan. Bryanpun hanya bisa mengangguk dan tersenyum.


"Bye Raka , hati-hati dijalan." Jasmine melambaikan-lambaikan tangannya.


"Sekarang hanya ada aku dan kamu sayang. Ehm, ..."


Jasmine mendorong kursi roda menuju sisi ranjang.


"Kau harus berbaring, tunggu sebentar aku harus mencari seseorang untuk membantuku mengangkatmu ke atas ranjang."


Saat Jasmine keluar kamarnya, Bryan menatap keseluruhan isi kamar istrinya. Rapi, harum dan matanya menangkap pigura foto potret istrinya dengan Dika tergantung dengan bingkai berbentuk cinta.


"Sayang, kau melihatnya?" Jasmine masuk dengan membawa dua orang satpam yang berjaga di luar motelnya.


"Ini foto saat aku hamil Asmira dulu, nanti aku ceritakan. Tapi kamu harus istirahat dulu."


Jasmine memberi aba-aba untuk satpam menganggat tubuh Bryan.


"Terimakasih pak." Jasmine berjalan menutup pintu dan menguncinya. Kini tatapan matanya beralih pada gantungan foto saat dirinya dan Dika hidup bersama di motel milik Jasmine. Dulu, waktu ia memilih untuk menjauh dari kehidupan Dika dan mengasingkan diri dari hiruk pikuk perkotaan.


Jasmine menggengam bingkai foto itu dan berjalan mendekati jendela. Menatap padi yang mulai menguning dari balik kaca.


"Di tempat yang sama, di kamar ini. Aku pernah membawa Dika kemari. Dulu, saat usia kandungan ku berusia dua bulan. Aku memilih untuk tinggal disini. Di tempat yang jauh yang tak bisa Dika temui. Tapi takdir berkata lain, Bryan. Aku dan Dika bertemu lagi , dia bertekad untuk memperbaiki hubungan kita yang hancur karena aku tahu dia mengkhianatiku. Aku berusaha menerimanya kembali dengan dalih anak ku nanti membutuhkan seorang ayah. Aku membuka lembaran baru untuknya. Kami memulai lagi percintaan kami disini, di ranjang yang kau tempati. Selama dua bulan aku mengurungnya disini. Jujur aku bahagia."


Jasmine menatap nanar Bryan yang tak menoleh sedikit pun ke arah Jasmine.


"Jangan marah, kamar ini sudah lima tahun lebih tak pernah aku kunjungi. Jadi foto ini memang masih disini. Tak ada yang berani mengusiknya kecuali aku sendiri yang membuangnya." Jasmine mengambil potret dirinya dan Dika dan membuangnya ke dalam tempat sampah.


"Bukan itu sebenarnya yang mau aku ceritakan, Bryan."


Jasmine duduk di sisi ranjang. Menggengam erat tangan Bryan.


"Bolehkah aku berharap, jika nantinya kita akan tetep bersama dalam ikatan yang lebih sakral. Bolehkah aku berharap jika setelah keluar dari kamar ini, kita masih akan di pertemuan dalam takdir yang begitu indah, Semestinya."


"Kemarin saat kita terpisah, dua hari aku menghabiskan waktuku bersama Dika. Tentunya ada Asmira, kami menghabiskan waktu di tepi pantai dan di mall milik Dika." Lapor Jasmine pada suaminya.


"Kau marah?" Jasmine melihat Bryan yang menggeleng dan tersenyum.


"Aku akan menebusnya disini, bersama mu selama dua hari. Aku janji." Jasmine menyandarkan tubuhnya di sisi Bryan, mengeratkan pelukannya. Sedangkan Bryan hanya mengusap lembut kepala Jasmine dan mengecup keningnya.


karena waktu yang ku punya hanya dua hari. sebelum takdir memisahkan kita lagi dalam waktu yang teramat lama.


Tangannya semakin ia eratkan. Wanita itu tersenyum, dengan air mata yang menggenang.

__ADS_1


__ADS_2