Kiss The Rain

Kiss The Rain
F*ck Off!


__ADS_3

Kita pasti akan bertemu


Disaat semua waktu bisa menyatu


Berbagi tawa, keluh kesah dan air mata


*


"Jangan menangis terus." Husein bin Nicolas bersusah payah menenangkan Jasmine yang menangis sejak siang tadi. Wajahnya sembab, matanya bengkak.


"Apa salahku, kenapa setiap aku hamil harus sendirian. Apa pria tidak tahu aku harus merasakan ngidam sendiri, mencari apa yang aku suka sendirian. Pria jahat, hanya menanam saja benih di rahimku. Tanpa mau menemani hari-hariku saat morning sickness."


Husein semakin bingung.


"Bryan tidak bermaksud meninggalkan mu."


"Bajing licik itu membawanya. Bagaimana jika Bryan tadi mati. Atau mereka membawanya ke antah berantah." Suara Jasmine parau.


"Aku mau pulang, aku harus mencari Bryan." Jasmine bangkit dari tidurnya.


"Kau tak bisa mencarinya jika kondisimu seperti ini. Balas dendammu saat kondisimu sudah membaik." Husein memegang bahu Jasmine dan membaringkan lagi di atas ranjang.


"Bryan janji tidak akan meninggalkan ku." Jasmine berbalik memunggungi Husein yang kebingungan.


Kalian berdua emang bikin rumit!


*


Kediaman Shally Fox.


Sesampainya di rumah yang memiliki fasilitas lengkap, Shally keluar dari dalam mobil dan menyuruh pengawalnya untuk membawa Bryan yang masih pingsan.


Darah segar masih terus menerus keluar dari hidung dan kepalanya.


"Siapkan operasi nya sekarang, aku tidak mau laki-laki itu mati!" Perintahnya pada dokter jaga yang beberapa menit lalu sudah di hubungi Shally.


Pengawal membawa Bryan ke ruang medis, menaruhnya pada ranjang pasien.


Ruangan ini memiliki peralatan lengkap seperti di rumah sakit, tak ayal karena keluarga Shally sendiri slalu bersentuhan dengan perkara "Darah dibayar darah, Nyawa diganti Nyawa."


Tidak heran jika Bryan dibawa ke kediaman keluarga Fox Adois.


Lagi-lagi cinta membuat manusia menjadi gila dan membabi buta. "Persetan dengan cara baik, aku dapat apa yang aku mau. Aku menang!"


"Lakukan yang terbaik! Jika kalian tidak mau mati bersama laki-laki itu." Shally menggeram. Berkali-kali langkahnya hanya wira-wiri di depan ruang operasi.


Ketiga Dokter itu hanya bisa mengiyakan permintaan anak majikannya. Salah-salah mereka sendiri yang akan menerima Boomerang sial dalam hidupnya.


Salah satu dokter memeriksa kondisi fisik Bryan, satunya lagi memeriksa jaringan otak Bryan yang mengalami pendarahan. Dokter mengangguk, "Cedera otak sedang."


Pemasangan alat bantu pernafasan dipasang, begitu juga infus untuk mengalirkan cairan dan obat-obatan. Selesai menyiapkan prosedur utama.


Anastesi dilakukan di seluruh bagian tubuh Bryan, denyut nadi semakin lama semakin menurun. Wajah Bryan terlihat pucat.


Berkali-kali dokter harus mengeringkan peluh yang nyaris menyentuh matanya. Berkali-kali juga ketiga dokter itu saling melempar pandang.


"Lakukan yang terbaik!" Titah salah satu dokter paruh baya spesialis bedah.


Kedua dokter muda yang terjebak dalam lingkaran hitam pun mengangguk.


"Periksa golongan darahnya."


"AB - ."


"Bilang pada gadis itu untuk mencari stok darah AB-, secepatnya."


Dokter muda bernama Edho mengangguk. Dengan langkah cepat ia berlari ke luar ruangan.

__ADS_1


Shally membalikkan badannya.


"Bagaimana?"


"Carikan darah dengan golongan AB -, secepatnya, Nona."


Shally mengangguk, dengan langkah cepat ia berlari menuju gerombolan penjaga yang berdiri di depan rumah. Titahnya lantang menyuruh penjaga mencari pendonor darah.


Nasib baik masih menyertai Bryan, salah satu penjaga memiliki golongan darah yang sama. Namun, Shally tampak meragukan kesehatan pria ini.


"Apa kau pemakai? Apa kau perokok? Apa di tubuhmu ada penyakit yang menular?"


Si pria calon pendonor darah ini menggeleng. "Nona bisa memeriksa dulu kesehatan saya."


"Bagus, cepat ikuti aku."


Shally berjalan dengan cepat menuju ruang operasi.


"Masuk."


Ruang operasi.


"Jahit luka di kepalanya dan berikan dia obat penenang. Biarkan laki-laki ini mengalami induced coma (kondisi koma sementara). Berikan juga obat penghilang rasa nyeri."


Dokter Edho mengangguk, langkah penyumbatan pembuluh darah yang pecah selesai. Hanya tinggal melakukan transfusi darah.


Sang pendonor darah masuk.


"Dokter bisa ambil darah saya."


Dokter paruh baya mengangguk, mengambil sampel darah untuk dilakukan diagnosis awal. Apakah terdapat penyakit menular atau tidak.


Selesai melakukan diagnosis, dokter mengangguk, "Bagus, berbaring lah dan genggam tanganmu."


Dokter memasang tali tourniquet yang lentur di bagian lengan atas. Membersihkan bagian pembuluh vena dengan alkohol. Hingga jarum suntik menembus kulit si pria pendonor darah.


Pendonor darah itu tersenyum dan mengangguk.


Proses pengambilan darah berlangsung. Begitu juga Bryan yang mengalami koma sementara.


Dokter paruh baya keluar, Shally yang gelisah menghampirinya.


"Bagaimana keadaan laki-laki itu, Dok?"


"Tidak terjadi pendarahan hebat atau penggumpalan darah di otak pasien. Semua proses penyumbatan darah dan operasi kecil di bagian tempurung kepala sudah kami lakukan. Hanya saja kami sedang melakukan induced coma. Bisa saya pastikan pasien akan tertidur beberapa hari."


"Apa ada efek sampingnya, Dok?"


Dokter menatap Shally dengan iba. Dokter paruh baya itu jelas tahu rencana Shally seminggu ini. Pergerakan yang sengaja dilakukan tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan, rencana jahat yang akan dilakukan untuk membawa Bryan ke luar negeri setelah ia pulih. Semua di ketahui oleh dokter paruh baya itu.


Dokter menghela nafas panjang, "Sangat disayangkan jika ambisi Nona, telah membuat laki-laki itu akan mengalami depresi pasca operasi, kelainan pada otot tangan dan kaki atau bisa saja koma berlanjut."


"Lakukan yang terbaik!" Air mata Shally menggenang.


Dokter mengangguk. Langkah kakinya beranjak memasuki ruang operasi lagi.


"Periksa kesadaran pasien dengan Glasgow Coma Scale (GCS)."


Edho mengangguk, pemeriksaan di lakukan berlanjut, bersamaan juga dengan transfusi darah yang dilakukan.


"10."


"Bagus, laporkan kepadaku perkembangan pasien secara berangsur."


"Baik."


*

__ADS_1


"Ibu Jasmine ayo makan." Husein menyodorkan sesendok makan di mulut Jasmine.


"Berhentilah memanggilku ibu!" Jasmine kembali menutup mulutnya rapat-rapat.


"Makanlah, ada bayi di perutmu." Berkali-kali Husein membujuk, namun Jasmine masih menolak.


"Aku mau Bryan, bukan makan!" Sergahnya cepat.


"Makan dulu, biar kamu cepat sembuh."


"Aku tidak berselera."


"Makanlah, kita bisa cepat mencari Bryan."


"Apa pedulimu, bukannya kau senang adikmu tidak ada. Jadi kau bebas mendekati ku. Cih!!"


"Hahaha, aku tidak sepicik itu, Jasmine! Adik sialan itu tetap adikku. Dia juga tanggung jawabku, termasuk dirimu!"


Husein menyodorkan lagi sendok berisi penuh makan malam Jasmine.


"Aku maunya rendang, makanan di rumah sakit tidak enak."


"Kau!!"


Husein mendengus kesal. "Baik-baik, ini untuk keponakanku. Bukan untuk dirimu, menyebalkan!"


Husein menaruh piring yang sedari tadi ia pegang. Langkahnya berjalan keluar mencari penjaga yang sedang duduk tiga meter dari bangsal Jasmine.


"Belikan nasi Padang dengan rendang. Belilah empat bungkus."


Husein memberi dua lembar uang seratus ribuan.


Hingga langkah kakinya berjalan kembali menuju kamar inap Jasmine.


"Mana?"


"Kamu pikir sulap!"


"Hehehe." Jasmine tersenyum kaku.


"Panggilkan Tria penjaga tangga lantai dua." Lanjutnya lagi sembari menutup dirinya dengan selimut.


"Untuk apa?"


"Dia bisa menjawab dimana keberadaan Bryan." Jawabnya singkat.


"Maksudnya?"


"Huh, aku menyuruhnya memasang GPS dan penyadap di mobilnya."


"Wanita licik!" Husein menarik sudut bibirnya.


"Hahaha, kau pikir!"


"Tidak untuk hari ini, biarkan hanya ada aku disini."


Jasmine menarik selimutnya hingga ujung leher.


"Awas saja jika kau menyentuhku!"


"Cih! Tidak sudi!"


Namun sunggingan senyum menghiasi wajah Husein.


*


Maaf jika ada kesalahan penulisan dibagian medis. Maaf author tidak pandai 🙏

__ADS_1


__ADS_2