Kiss The Rain

Kiss The Rain
Cieee (3)


__ADS_3

Dika mendapati Jasmine keluar daei ruang petinggi lapas. Ia membanting pintu dengan sangat cepat.


"Calm down, baby. What's wrong?" Dika berjalan mendekati Jasmine.


"Edy Santoso emang brengsek! Dia menyuap ketua hakim yang menangani kasus Bryan. Usahaku meyelesaikan misi untuk mengurangi hukuman penjara Bryan, Sia-sia. Kasus itu di lempar ke hakim lain yang tidak tahu jika itu misi menyelamatkan nyawa!" Jasmine mengacak-ngacak rambutnya, Prince ketakutan melihat ibunya yang marah-marah.


"Tenanglah, lihat. Dia takut melihat mu seperti itu." Dika menunjuk Prince yang bersembunyi di balik kaki Dika.


"Maaf, aku lupa. Bagaimana adikmu tadi?" Jasmine menggendong Prince mengusap-usap kepala. Memberikan ketenangan.


"Tidak banyak yang dia bicarakan." Jawab Dika.


"Itu kenapa wajah Asmira terlihat sembab? Kau tidak memarahinya kan?" Tanya Jasmine menyelidik. Karena ia tahu Asmira akan senang jika bertemu dengan Bryan. Pemberi banyak boneka.


"Lucu! Biarkan saja, nanti dia juga tenang."


Jasmine tak menggubris Jawaban Dika. Ia berjalan mendekati Asmira dan duduk di sampingnya. Asmira menunjukkan wajah murungnya.


"Mom...," Asmira bersandar di lengan ibunya, Jasmine bergantian mengelus rambut putrinya dan putranya.


"Ada apa? Sudah tidak betah disini?" Tanya Jasmine.


Asmira menggeleng, "Apa boneka dari uncle Bry bisa di jual lagi?"


"Kenapa dijual sayang? Uncle Bry senang memberikanmu boneka. Kenapa harus di jual, apa ayah tak memberimu uang jajan?"

__ADS_1


Tatapan maut beralih ke mata Dika, menajam siap menerkam hidup-hidup.


Sedangkan Dika hanya tersenyum-senyum. Sungguh menyebalkan sifatnya yang seperti ini.


"Lalu, ayo katakan. Alasannya?"


Asmira menatap Jasmine dan menunjuk ayahnya, "Kata ayah, uncle Bry di penjara karena uangnya habis untuk membelikan ku boneka. Makanya dia di penjara karena mencuri sendal di masjid. Mom, ayo kita pulang. Kita ke mall beli sandal buat uncle Bry. Aku lihat tadi sendalnya uncle Bry sudah jelek. Ayo mom, biar uncle Bry cepat keluar dari sini."


Rengek Asmira, membuat Jasmine kebingungan mencari jawaban yang tepat. "Sendal, boneka. Oh Tuhan, aku mau pingsan rasanya." Jasmine pura-pura tergeletak dan memejamkan mata.


"Ayah, mommy pingsan. Ayah, tolong mommy. Kasih nafas buatan."


Mendengar teriakkan Asmira, Jasmine seketika terbangun.


"Wow, wow. Tahu darimana jika pingsan di kasih nafas buatan." Dika tertawa "Manda sering mengajaknya lihat drama Korea. Aku sih senang-senang saja memberi nafas buatan." Dika memonyongkan bibirnya, "Jijik aku dik! Gak mau!"


Hari itu jasmine memilih untuk langsung pulang ke kotanya. Karena rasanya terlalu lama tinggal satu kota dengan Bryan dan di pulau pesakitan membuat darahnya semakin mendidih.


*


5 tahun kemudian.


Kini usiaku menginjak kepala empat. status ku masih sama, aku Jasmine Adriana dengan lebal janda muda.


Bagiku Dika mantan suamiku yang kini menjadi partner bisnis dan orang tua untuk ke dua anak kita tak lebih dari laki-laki yang masih menganggu hidupku.

__ADS_1


Dia masih slalu saja ada di belakang ku, baginya aku sebagaian dari masa lalu yang masih harus di jaga.


Dia benar-benar tidak berbohong, dia tak akan melepas ku jika aku belum benar-benar bahagia.


Aku tak mengerti, kenapa kisah cintaku akan serumit ini.


Bryan, kekasihku. berkali-kali aku ingin melepasnya, tapi semakin aku gencar melupakannya. semakin sulit aku lakukan. Diam- diam aku sering mengunjunginya di lapas, melihat kegiatannya. Aku hanya sekedar menuntaskan rasa rinduku, rantang pink ini slalu ku bawa. Aku akan setia menunggu nya untuk menghabiskan semua makanan yang aku bawa. Biarkan aku egois, itu ku lakukan agar dia tidak lupa dengan rasa yang aku beri.


Aku juga tidak lupa, dengan anak-anak panti yang Bryan tinggalkan.


Bagiku dan Dika, anak panti adalah anak-anak titipan yang harus kami jaga. Dika tak pernah berkeluh kesah jika satu tahun sekali aku memboyong 200 anak sekaligus pengasuhnya untuk bermain-main di mall. Semua ku lakukan, agar doaku untukmu, untuknya akan semakin banyak bertebaran hingga mencapai puncak langit ke tujuh.


Aku dan Dika akan selalu terikat.


Dalam sebuah ikatan yang terbentuk dari Cinta dan berakhir dengan Cinta.


Jika ku bilang Dika menyebalkan, sudah pasti. Tapi semua yang di lakukan Dika untuk ku, untuk anak-anak dan keluarga barunya. Sudah sangat menebus semua kesalahan di masa lalunya. Aku sudah memaafkan Dika sejak lama.


Putriku sudah berumur belasan tahun sekarang, sudah masuk sekolah menengah pertama kelas satu. Rambutnya ikal dan pirang seperti ku, cerewet dan menyebalkan.


Putraku sungguh luar biasa. Aku slalu naik pitam di buatnya. Memanjat pohon mangga milik tetangga, main drum tengah malam. Atau membolos sekolah, dia sudah SD tapi tingkah lakunya luar biasa bikin aku geleng-geleng kepala.


Apa Dika kecil seperti ini. Oh astaga. Tapi aku bahagia, karena itu aku bisa sedikit melupakan dia yang ada disana.


Nanti ku bawa rinduku lagi dengan rantang cinta yang slalu ku bawa untukmu, berondong manisku. Bryan.

__ADS_1


Jasmine menutup buku diary nya. Semakin tua dia memilih untuk menyembunyikan perasaannya melalui goresan tinta.


__ADS_2