Kiss The Rain

Kiss The Rain
Menanti keajaiban.


__ADS_3

Pertarungan semakin besar, banyak darah yang mengucur dari pihak lawan. Pertarungan yang berakhir kacau balau ini berakhir dengan kemenangan telak tim Brandles Wolfgang.


Sirine Ambulans memecah keramaian kota, Raka menancap pedal gas dengan cepat. Ia melesat dengan cepatnya menyalip banyak mobil dan kendaraan lainnya. Ia khawatir dengan kondisi kakaknya, Sedangkan Husein menatap Bryan dengan tatapan kalut, sedih dan marah. Jika cinta akan serumit ini, ia memilih akan menjadi perjaka tua. "Apa yang terjadi dengan mu Bry?"


Bryan menggeleng, mulutnya gagu terasa susah untuk mengucapkan sepatah kata.


Tatapan Bryan tertuju pada Jasmine yang hanya memejamkan matanya, dengan keringat dingin yang terus mengucur. Ia terus menggenggam tangan itu, erat seakan takut untuk terpisahkan kembali.


"Jasmine sedang hamil, berdoalah agar janin kalian tidak apa-apa." Husein seperti menancapkan kukunya di hati Bryan.


Bryan cukup terguncang, tak mungkin Jasmine bisa selamat ataupun janin yang dikandungnya dengan usia Jasmine yang menginjak 34 tahun. Sangat riskan mengingat tendangan Shally dan hantaman peluru dengan kecepatan 120m/s dengan hanya jarak lima meter tadi. Benturan akan terasa sangat berat. Bahkan bisa merusak tulang jika peluru tadi tepat menyasar tulang belakang Jasmine.


"Kau harus siap, dengan apa pun kemungkinan yang terjadi nanti." Husein menepuk pundak Bryan. Berusaha menyemangati adiknya.


Sesampainya di markas besar, para dokter sudah bersiap. Semua peralatan sudah mereka siapkan, Raka membopong tubuh Jasmine. Menaruhnya di ranjang pasien.


"Lakukan yang terbaik, periksa juga laki-laki itu." Raka menunjuk kakak-beradik yang berjalan terduyun-duyun.


Dokter sudah bersiap, mereka memeriksa satu persatu alat vital Jasmine. Denyut nadi Jasmine yang melemah, hingga darah yang merembes di celana Jasmine menjadi titik kemungkinan Jasmine mengalami pendarahan.


Salah satu dokter berjalan keluar, meminta Raka untuk memutuskan tindakan yang akan mereka pilih.


"Apa sudah selesai?"


Dokter melihat raut wajah Raka yang khawatir. "Apa dia hamil, apa saja yang terjadi tadi?"


"Dia menerima tembakan dan tendangan di bagian punggungnya. Apa berresiko?"


Dokter mengangguk, "Kau harus memilih, kakakmu harus segera di kuret atau dia akan mengalami pendarahan yang berlebih yang akan membahayakan nyawanya."


Raka yang bimbang, memutuskan untuk memilih menguret janin yang di kandung Jasmine tanpa sepengetahuan Bryan dan kakaknya.


"Lakukan yang terbaik untuknya, laporkan padaku dengan segala kemungkinan yang terjadi."


Raka berjalan mondar-mandir di depan ruangan medis di markasnya.


Ia gelisah, andai saja ia tadi bergerak lebih cepat dan membantu Jasmine. Ia pasti tak akan melihat kakaknya mengalami kejadian yang akan membuatnya semakin menjauh dari keluarganya.

__ADS_1


Satu jam berlalu, semua tim sudah berkumpul


kembali ke markas. Semua anggota Fox Adois sudah di serahkan ke Pihak Intelegen Negara beserta bukti-bukti yang akan menjerat mereka. Raka memimpin pembubaran tim back up yang berisi anggota Nicolas.


"Serahkan senjata kalian dan masuk ke gudang, pemeriksaan fisik akan dilakukan bergantian. Dengan ini aku nyatakan kalian kembali menjadi tahanan kami. Bersikaplah dengan cara yang baik. Kami juga tidak lupa berterima kasih atas bantuan kalian, kami akan mengusahakan membantu proses persidangan nanti. Terimakasih." Raka berjalan menuju ruang perawatan dan menyerahkan koordinasi pada Candra yang nampak tak kelelahan.


"Tunggu."


Candra sejenak menahan langkah Raka, "Ada apa?"


"Apa yang terjadi, Ka? Bukannya ayahmu sudah memintamu untuk menjaga Jasmine dengan baik."


"Kejadian begitu cepat, Cand. Aku sendiri sulit melihat keberadaan kakak ditengah keributan tadi."


"Lalu bagaimana dengan keadaan Jasmine sekarang?"


"Dia kehilangan janinnya, Cand. Aku sendiri ragu untuk mengatakan pada kakak nanti. Cand, bantu aku." Raka kalut, ia akan melihat kakaknya kembali menangis dan menangis.


"Tidak bisa, Ka. Jasmine kemarin juga meminta bantuan ku untuk memanggil keluarga pengawal suaminya. Dia juga memintaku untuk menyerahkan bonusnya untuk keluarga mereka sebagai ganti gaji bulanan selama bodyguard nya di penjara."


"Cand, bisakah kau membantuku?"


"Apa Nona?"


Jasmine mengambil sebuah kertas dari dalam tasnya dan menyerahkan kepada Candra.


"Apa ini Nona?" Candra menatap satu persatu tulisan di atas kertas.


"Itu alamat keluarga bodyguard yang menjadi tim back up. Jika reward dari negara sudah cair, pastikan kau mengirim jatahku untuk keluarga mereka. Satu lagi, yang aku garis bawahi, neneknya membutuhkan perawatan rutin."


"Nona yakin?"


"Tentu, ingat lagi dengan pesanku satu ini. Setelah semua selesai, satu Minggu kita menahan mereka disini. Panggillah perwakilan keluarga mereka untuk datang kemari. Gunakan gudang penyimpanan mobil untuk melakukan pesta kecil-kecilan. Biarkan mereka bersenang-senang dengan keluarga sebelum mereka dipenjara. Kau mengerti?"


"Tapi Nona, kita harus meminta izin dengan ketua."


"Kau yang urus, aku tidak mau semakin berselisih paham dengan ayah."

__ADS_1


*


Di luar ruang perawatan. Raka hanya bisa berdiri di balik kaca, melihat kakaknya masih memejamkan matanya. Ia juga melihat laki-laki lumpuh yang duduk di kursi roda, menggengam tangan Jasmine dan terus mengecupi punggung tangan kakaknya. Mulutnya yang gagu tak bisa berkata banyak. Ia hanya terus menatap penuh harap, mengelus pipi Jasmine yang lebam, menyelipkan anak rambut.


Entah berapa lama Raka berdiri hingga tepukan di pundaknya mengagetkannya. "Apa yang terjadi, katakan!"


"Kau!" Raka menatap Husein yang sudah mendapatkan perawatan dari dokter.


"Seharusnya aku yang tanya, apa yang terjadi dengan adikmu!"


"Dokter mendiagnosis Bryan mengalami cedera otak sedang yang berakibat membuatnya kesulitan berbicara dan berjalan."


"Yang benar saja! Apa jadinya kakak jika tahu dia kehilangan bayinya dan memiliki suami yang cacat!" Raut wajah Raka semakin gelisah dan rasa bersalahnya semakin besar.


Bugh, "Jaga bicaramu Raka, adik ku tidak cacat!"


"Lalu, kau pikir bisa sembuh!"


"Bisa! Kau tadi bilang apa, Jasmine kehilangan bayinya?" Husein mencengkeram lengan Raka.


"Iya, hantaman peluru dan banyaknya benturan membuatnya kehilangan banyak darah. Hanya itu cara terbaik untuk menyelamatkan kakak!"


"Lalu apa yang harus kita bicarakan dengan mereka berdua nanti." Husein dan Raka di rundung rasa gelisah dan takut, melihat kedua manusia yang memperjuangkan cinta mereka dengan pelik dan rumit.


Tanpa mereka sadari perdebatan di luar ruang perawatan terdengar hingga telinga Bryan. Bryan memukul-mukul dirinya sendiri, merasa bersalah atas hilangnya buah cinta mereka. Mengeram marah dan tak terasa air matanya jatuh menetas.


Aku mulai menyadari jika cintamu memang tubuh seperti pohon dan deras seperti hujan yang di iringi petir yang menggelegar.


Aku mulai menyadari jika cintamu bukan sekedar bualan saat hujan turun.


Aku mulai menyadari jika takdir semesta akan menyatukan kita di saat yang tepat.


Aku mulai menyadari jika cinta akan menemukan jalannya.


*


Uhuk, gimana apa mengandung bawang, atau kurang klimaks yang memuaskan. Maaf hanya mampu bikin seperti ini 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2