
Kau sudah berjanji untuk menjaga dirimu hanya untukku Bryan.
Jasmine merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Mengelus lembut bantal yang slalu menjadi tempat Bryan mendengkur dan menjadi saksi setiap kecupan mereka.
Sayang, masihkah kau menahan dirimu untukku.
Jasmine terisak, nafasnya sesak. Belum lagi syarat yang di ajukan Husein bukan main mengoyak seluruh keyakinannya Jasmine untuk mencari Bryan.
Jika dihitung dengan kalkulator ponsel Jasmine harus mengeluarkan sedikitnya 4M dalam setahun untuk memenuhi gaji kebutuhan anggota keluarga bodyguard suaminya. Belum lagi para babu dan kenek-kenek lainnya yang membantu keluarga Bryan selama ini.
"4 Milyar, hukuman mati atau seumur hidup. Arghhhh." Jasmine menggeram. Memukul-mukul bantal yang tidak bersalah. "Cari dimana uang sebanyak itu? Husein benar-benar gila. Dia menaruh semua beban di pundak ku."
Lama Jasmine menyembunyikan wajahnya dibantal, sebuah tangan mengusapnya kepalanya dengan lembut.
"Ceritakan kepadaku sayang, apa yang membuatmu menangis?"
"Mama." Jasmine membalikan tubuhnya dan mengusap air matanya.
"Ceritakan padaku Jasmine."
"Mama tahu apa yang akan aku lakukan untuk Bryan?"
"Ya, mama sudah tahu. Lalu apa yang menjadi bebanmu?"
"Aku harus membayar informasi dari Husein untuk menangkap Fox Adois. Mama tahu, aku membutuhkan tim back up. Bodyguard siap membantuku dan rela menyerahkan diri sepenuhnya ke Brandles Wolfgang. Tapi dengan syarat yang harus aku bayar."
"Apa katakan pada Mama?"
"15 juta/bulan untuk menganti gaji selama mereka di penjara. Yang artinya aku harus mengeluarkan uang sebanyak 4 Milyar dalam setahun. Itu masih hitungan setahun, Ma. Belum total selama mereka di penjara." Jasmine tertunduk memijit pelipisnya yang tegang.
"Sayang dengarkan Mama, kau tak perlu melakukan itu. Semua yang terlibat dalam keluarga ini pasti tahu resikonya. Resiko di penjara dan mati dalam menjalankan tugas. Semua sudah Bryan jelaskan sejak awal mereka terlibat dalam keluarga Nicolas."
Penjelasan Rose Mardiani membuat Jasmine sedikit bisa bernafas lega.
"Apa bisa seperti itu Ma? Bagaimana dengan panti asuhan yang kalian dirikan?"
"Ada donatur lain selain keluarga kami, kau bisa mencari donatur lagi selama keluarga kami di penjara. Bentar, Mama ambilkan sesuatu untukmu." Rose berdiri, beranjak keluar dari kamar.
Rose memasuki kamar yang di masuki oleh Husein.
Husein yang hanya duduk sembari memainkan ponselnya, terkejut saat ibunya masuk dan membuka brankas penting keluarga Nicolas.
"Apa yang mama cari?"
"Sertifikat tanah di desa dan sertifikasi tanah panti asuhan."
"Untuk apa Ma?" Husein menaruh ponsel pipihnya diatas nakas dan kini melihat mamanya yang sibuk membolak-balik kertas.
"Untuk Jasmine dan cucu ku."
"Maksud mama?"
"Kita tidak tahu keputusan pengadilan nanti seperti apa, hanya dua sertifikasi tanah yang tidak kita beli dari penjualan narkoba. Biarkan Jasmine yang menyimpan ini. Dan kau Husein, apa yang kau bicara dengan Jasmine tadi. Kau membuatnya menangis dan terbebani!"
"Dia sudah kebingungan mencari uang 4 Milyar dalam setahun untuk menanggung beban panti asuhan dan anak buah Bryan. Selama ini adikmu tidak memberikan apapun untuknya, kau tahu itu!"
Jelas Rose yang membuat Husein terkejut.
"Aku hanya membuatnya takut Ma, aku pikir dia akan menyerah."
Plak, plak.
Rose menepuk kepala Husein menggunakan sertifikat tanah dan meninggalkan Husein yang sedang mengaduh.
__ADS_1
Dia benar-benar akan melakukannya. Aku tak salah mengagumimu Jasmine.
Husein kembali tersenyum dengan artian yang berbeda.
Di dalam kamar Jasmine memasukan banyak perlengkapan pakaian untuk Bryan, entah apa yang akan dilakukan dengan baju-baju itu. Jasmine memasukan dengan asal dan cepat.
"Sayang, apa yang akan kau lakukan dengan baju-baju Bryan?"
"Hanya untuk disimpan di rumahku, Ma."
"Kau rindu dengan putra ku?"
"Hahaha, Mama tahu jawabannya."
"Bawalah ini." Rose menyerahkan dua sertifikasi tanah yang berbeda.
Jasmine menerima dan membacanya. Ia mengernyitkan dahinya bingung
"Untuk apa mama memberikan sertifikat tanah untuk ku?"
"Jagalah itu untuk mu dan cucu ku nanti. Kau bisa menjualnya sebagai pengganti nafkah lahir dari Bryan."
Dengan cepat Jasmine menaruh kertas itu dan menggeleng.
"Maaf Ma aku tidak bisa menerimanya. Banyak anak yang membutuhkan rumah itu."
"Baiklah, tidak masalah. Tapi simpanlah, Mama mohon." Rose mengambil sertifikat dan memasukannya ke dalam koper Jasmine.
"Lupakan yang Husein katakan tadi, kau bisa mencari informasi Fox Adois dengan nya."
Tak ingin menjawab lebih, Jasmine beralih memeluk Rose dengan erat. "Maafkan aku Ma, maafkan aku."
"Hentikan tangismu, ayo makan siang. Ajak adikmu juga."
"Hahaha, papa mu sedang murung tak mau makan dan tak mau menemui siapapun. Sudahlah, jangan kau pikirkan Papa mu. Dia hanya butuh waktu."
"Mama yakin?"
"Yakin sayang, jangan banyak pikiran. Kasian janin yang kau kandung nanti."
"Mama, maafkan Jasmine jika semua harus berakhir seperti ini."
"Sudah sudah, Mama lelah mendengar permintaan maafmu."
"Mama." Jasmine bergelayut manja.
"Sudah panggil adikmu sana, dia sudah menunggu terlalu lama."
"Baik Ma."
Jasmine bergegas keluar kamar dan menuruni anak tangga. Ia menghampiri Raka yang terlelap di dalam mobil.
"Raka bangun." Jasmine mengoyangkan badan Raka dengan perlahan.
"Raka, bangun gih. Ayo makan siang dulu."
"Raka, ayolah bangun....,"
Jasmine memencet hidung Raka agar ia kesulitan bernafas dan terbangun.
Raka mulai gelisah, bibirnya mulai tersengap-sengap mencari oksigen.
Kelopak matanya mulai bergerak, sedangkan Jasmine hanya menahan tawa.
__ADS_1
"Kakak!!!"
"Hahaha, ayo bangun. Makan siang disini lalu ke markas."
"Ogah!"
"Kenapa Raka? Masakan Mama Rose enak loh, gak jauh beda dengan masakan ibu di rumah."
"Gak, ntar salah-salah di campurin zat-zat berbahaya."
"Sembarangan!"
"Cepat keluar."
"Sebentar saja lalu pergi dari sini."
"Iya Raka. Semua orang sudah menunggu di lantai atas. Mau lihat kamar kakak selama disini tidak?"
"Untuk apa, tidak penting!" Raka berjalan sembari bersikap tak peduli dengan kakaknya.
"Siapa tahu kamu penasaran."
"Gak sama sekali!"
"Hahaha, adik kakak tidak berubah."
"Ayolah kak, aku sudah tidak nyaman disini."
"Kenapa? Apa kau sudah merindukan Adelle dan ingin bercinta? Bagaimana malam pertamamu Raka?"
Jasmine yang tak tahu diri ini terus mengulik adiknya dengan berbagai pertanyaan yang menyebalkan.
"Bisa gak kak, gak bahas itu dulu. Aku saja sudah pusing dengan masalah kakak, jangan ditambah-tambah lagi dengan pertanyaan yang tidak penting!"
Raka mengahadap Jasmine dan menjitak kepalanya.
"Tidak sopan." Jasmine mengusap kepalanya yang terasa nyeri.
"Dimana kita akan makan siang?"
"Ayo ikuti kakak."
Jasmine berjalan mendahului Raka, sesekali ia bercerita apa yang dilakukan dilantai dua. Hingga akhirnya mereka berdua tiba di ruang makan.
Tampak Husein yang sudah duduk dan Rose yang menepuk-nepuk bangku kursi di sebelahnya.
"Maaf lama." Jasmine mendudukkan bokongnya, di ikuti Raka yang duduk di sebelah Husein.
"Kau slalu lama, kami sudah lapar menunggumu." Sanggah Husein yang hanya bercanda.
Jasmine melengos, tidak peduli. Ia masih sebal dengan Husein yang mengerjainya tadi.
"Sudah-sudah ayo makan." Rose mendahului mengambil nasi dan lauk pauk di piringnya. Lalu di ikuti Husein yang menyerbu sendok nasi yang akan diambil Raka.
Raka mendengus.
"Sebentar Raka, aku dulu."
"Serah!"
"Haha, kau seperti Jasmine. Menyebalkan."
"Mau bertengkar karena sendok nasi, tuh ambil. Di rak piring masih banyak." Jasmine menggeleng.
__ADS_1
Next ----->