Kiss The Rain

Kiss The Rain
Hadiah 2.


__ADS_3

"Kau pernah bahagia? Kalau kau mendapatkan hadiah itu dari hidup, kau harus bersiap-siap, karena beberapa detik lagi penderitaan akan berdiri dengan angkuhnya di hadapanmu.... Hidup memang harus disiasati, sebelum manusia hanya sekadar jadi pecundang." ~ Oka Rusmini/TarianBumi/hal84.


"Bry...., Bry...., " Panggil Jasmine saat mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. "Kita mau kemana Bry, apa aku boleh buka penutup mata ini?" Minta Jasmine sambil memegangi sapu tangan coklat di depan matanya.


"Jangan, sebentar lagi kita sampai. Berjanjilah, jangan marah apalagi menangis." Bujuk Bryan sembari memegang tangan Jasmine yang sedari tadi hanya memegangi penutup indera penglihatannya.


"Gelap Bry, buka ya. Biar aku bisa melihat wajahmu." Rayu Jasmine kesekian kalinya, jika tidak mempan yasudah menurut saja daripada hadiahnya nanti hilang di makan rayuan.


"Hahaha, jika seperti ini kau pandai sekali merayuku." Bryan terkekeh melihat bibir Jasmine yang ia kerucutkan. "Kau ibu-ibu yang banyak maunya ternyata."


"Apa sih, bilang ibu-ibu terus. Iya, aku emang ibu-ibu Bryan."


"Kau menyesal sudah kawin dengan ibu-ibu seperti ku?" Tanya Jasmine, ia tak mendengar Bryan yang berkata-kata. Hanya suara dari audio mobil yang menemani perjalanan mereka. Lagu milik Air supply - Having You Near Me.


I came to you and never asked too much


Wondering what you would say


Hoping you'd understand


It's not a role I usually play


Don't speak too much of what's been going on


The past is over and gone


Give me your troubled mind


You know it's used


I can do so much for you


I want you


Having you near me, holding you near me


I want you to stay and never go away


It's so right


Having you near me, holding you near me


I'll love you tonight, it feels so right

__ADS_1


Feels so right


You're brave to say that you get lost in love


But you opened your heart to me


Underneath all you feel you know


How deep our love could be


Tonight we'll touch until it's time to go


Then I'm leaving it up to you


Even a fool would know that I'm not through


I can do so much for you


Setelah putaran lagu itu selesai, Mobil itu perlahan memelankan kecepatannya dan Jasmine pun terbelalak saat Bryan menyuruhnya membuka penutup mata, kini mereka berdua sudah berada di depan sekolah Asmira. Taman kanak-kanak. Jasmine menatap Bryan penuh, Jasmine menggelengkan kepalanya. "Hadiah mu." Bryan tersenyum.


"Kenapa?"


"Kau rindukan dengan anak-anak, aku hanya bisa memberi mu hadiah ini. Jangan keluar mobil, lihatlah dari dalam sini saja." Minta Bryan sembari memegang tangan Jasmine. "Maafkan aku jika aku egois." Jasmine menggeleng.


"Lihatlah, mobil hitam di seberang jalan sana, di depan penjual soto ayam." Bryan menunjuk mobil Van hitam dengan beberapa orang yang sedang duduk di depan penjual soto ayam, mereka tampak sedang makan, menyeruput kopi dan merokok. "Mereka adalah penjaga putrimu."


"Beneran?" Jasmine seakan tidak percaya. Mulutnya ternganga, jadi selama ini laki-laki mudanya tak pernah berbohong. "Terimakasih ." Jasmine mengulas senyum lagi.


"Dua kali terimakasih, itu tandanya dua kali juga ronde malam ini." Bryan menyeringai penuh arti.


Bugh....., "Slalu saja." Jasmine memukul bahu Bryan dan mereka berdua terkekeh bersama. "Kau tidak menyesal kawin denganku anak muda?"


"Hahaha, kawin dengan ibu-ibu tak seburuk yang aku duga."


"Hmmm, ibu-ibu lagi." Jasmine mendengus kesal, tatapan matanya kini menatap jalanan di depannya. Masih di balik kaca mobil. Hingga mata itu tertuju pada mobil abu-abu dengan laki-laki berusia tiga puluh lima tahun turun dari mobil itu. "Dika." Jasmine menutup mulutnya, takut laki-laki muda di dekatnya mendengar ucapannya.


"Mantan suamimu?" Bryan ikut mengekori mata Jasmine.


"Ya." Laki-laki beranak tiga itu kini berdiri di depan gerbang menunggu putrinya pulang ke pelukannya. Dika yang masih terlihat gagah menggunakan kaos hitam, kemeja flannel, dan celana jeans. Pesonanya tak pernah luntur dimakan zaman. Itukan flannel yang aku belikan dulu." Batin Jasmine.


"Ehmm, ehmm." Bryan berdehem saat melihat istrinya hanya melamun sambil menatap Dika dari kejauhan.


"Eh, ya. Maaf." Jasmine menunduk, bell tanda pulang sekolah berbunyi. Jasmine menyiapkan matanya mengarah pada laki-laki yang pernah menanam dua benih di rahimnya. Satu menit, dua menit. Seorang anak kecil berlari kecil ke arah Dika dan merentangkan tangannya. Pria itu menangkap dan membawanya dalam gendongannya. Jasmine hanya bisa tersenyum, putrinya terlihat sehat dan ceria.

__ADS_1


"Terimakasih Bry." Jasmine tersenyum menatap Bryan yang menatapnya dengan wajah datar.


"Bukalah hatimu untuk ku." Bryan menghidupkan mobilnya, tanpa menyuruh Jasmine menutup matanya kembali.


"Bry....," Panggil Jasmine. "Jangan marah."


"Tidak marah, ayo beli yang kamu tulis tadi." Ajak Bryan.


"Bry, mau kesana." Jasmine menunjuk sebuah pohon besar dengan bunga kuning yang menghiasi ranting-rantingnya. Pohon itu nampak besar dan terlihat kokoh. Gagahnya tak perlu kau tanyakan lagi.


"Ada apa dengan pohon itu?" Tanya Bryan sambil menatap jalanan di depannya.


"Aku suka Bry, itu ada di sebuah taman. Nanti kita juga bisa jalan-jalan disana." Jelas Jasmine masih tak lepas dari pandangannya dari pohon yang mampu membuat bulu kuduk berdiri saat malam hari.


"Baiklah ,aku turuti sebagai hadiah mu hari ini." Bryan menoleh sebentar lalu menatap jalanan lagi.


"Terimakasih, kamu memang yang terbaik." Jasmine mencubit pipi Bryan dengan gemas.


"Empat kali terimakasih, tandanya empat kali ronde malam ini." Bryan menoleh sambil menunjukan giginya yang putih dan rapi. Bibir merah jambu yang mempesona.


"Slalu saja aku yang kena batunya."


"Sudah sampai, ayo turun. Pakai juga ini." Bryan mengambil masker bedah di dalam dasboard di depan Jasmine. "Biar tidak ada yang tahu." Jasmine hanya mengangguk, ia memakainya dan turun dari mobil.


Sepanjang perjalanan dari tempat parkir hingga sampai di bangku tepat dibawah pohon Raksasa, Jasmine tak henti-hentinya memandangi setiap lekuk tubuh Pohon yang ia sukai berbunga kuning bertubuh tegak. Jika musim hujan, pohon itu akan menjadi Raksasa perindang, pemberi kehidupan dan menghidupi. Akar-akarnya menjalar terus-menerus tumbuh tanpa ampun membuat ritme seni alam yang indah di balik tanah. Mengikat banyak air dan menyimpannya. Jangan salahkan akarnya jika ia merusak fondasi rumahmu! Bukannya kamu juga menikmati air yang ia simpan!


"Kenapa suka dengan pohon ini?" Tanya Bryan yang sedari tadi hanya melihat Jasmine yang mengacuhkannya.


"Aku suka, lihatlah dia gagah kan. Dia juga cantik. Sebenarnya aku juga bingung, lihatlah lagi. Tak ada yang menyaingi kecantikannya, apalagi berani dengannya. Tumbuhan disekitarnya tampak kerdil dan malu-malu." Jasmine tersenyum.


"Apa istimewanya, ini hanya pohon Jasmine." Bryan menatap lekat wajah Jasmine, wanitanya sama sekali tak meliriknya hingga membuat Bryan mengecup Jasmine.


"Malu ih, lihatlah banyak orang." Jasmine mencubit lengan Bryan. "Habis kamu nyuekin aku." Pekik Bryan yang terkekeh melihat wajah Jasmine yang merona malu.


"Ceritakan lagi alasanmu menyukai pohon ini."


"Kau mau mendengar dongeng ku?" Jasmine tersenyum ia menekuk tubuhnya dan menaruh kepalanya di paha Bryan. Laki-laki muda itu tersenyum dan terus mengelus rambut ikal Jasmine.


"Jadilah seperti pohon ini."


----


Huft... Selesai juga bab ini , hampir seharian nyusun 1160 kata. Maafkan author jika terlalu lelet atau banyak spoiler. Maafkan aku, aku sedang menarik benang bundet di bab tengah ini. Semoga masih suka dan terimakasih atas dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2