Kiss The Rain

Kiss The Rain
Nicolas Family.


__ADS_3

POV Husein


Seorang penjaga gudang penyimpanan barang ilegal di selatan kota memberi kabar pada Husein karena ia telah menghubungi Bryan dan tidak ada jawaban.


Akhirnya mau tidak mau Husein menuju rumah adiknya yang berjarak cukup jauh dari kediamannya sekarang.


"Tuan Husein." Sapa Botak yang cukup kaget melihat kedatangan Husein yang sudah lama tak ia lihat.


"Ya, Bryan dimana?" Tanya Husein pada botak yang terlihat setengah gugup dan bingung. "Dimana botak?" Tanyanya lagi.


"Tuan Bryan masih di kamar." Jawab Botak sambil membungkukkan badannya. "Mari tuan Husein saya panggilkan." Ajak Botak yang sudah memandu Husein di belakangnya.


"Sampai sini aja 'Tak, aku panggil sendiri aja Bryan." Husein melangkah lebih cepat mendahului Botak di depannya. "Tapi tuan!" Botak yang sudah melihat Husein menaiki anak tangga hanya bisa mendengus kesal. "Sial, gimana kalau mereka sedang bercinta dan kepergok Husein. Bodoh amat dah, ngopi asik Kuyyy." Botak melenggangkan santai tubuhnya sambil bersiul ria menuju pantry khusus penjaga di lantai dasar.


Berkali-kali Husein mengetuk pintu kamar Bryan yang masih sama seperti dulu, karena sebenarnya Husein dan Bryan dulu tinggal satu rumah. Husein memilih pindah ke orangtuanya karena mereka berdua slalu merengek rindu dengan anak-anak nya. Tidak ada sautan dari dalam Husein memilih untuk melihat-lihat isi rumah bagian bawah dari atas lantai dua. Hingga sebuah sapaan dari seorang wanita mengagetkan Husein yang sedang terdiam.


Husein membalikkan tubuhnya, betapa terkejutnya ia melihat wanita yang pernah menjadi pelanggan taksi online nya. "Ibu Jasmine." Pikirnya hingga pertanyaan Jasmine tak ia jawab.


Ia mengikuti langkah Jasmine yang masuk ke dalam kamar. "Jam segini baru mandi, tapi wajahnya seperti baru bangun tidur."


Husein hanya berdiri melihat Jasmine yang bersusah payah membangunkan Bryan. Hingga akhirnya ia sendiri yang harus turun tangan. Betapa terkejutnya saat ia menarik selimut Bryan. "Brengsek, ni bocah kenapa telanjang, apa yang mereka lakukan. Bagaimana bisa mereka bertemu." Husein melangkahkan kakinya keluar dari kamar masih dengan pikiran yang berkecamuk ria di kepalanya. "Kita bertemu lagi ibu Jasmine." Husein tersenyum.


"Minumlah dulu, Bryan masih mandi." Sapa Jasmine yang membuyarkan lamunan Husein. Ia menatap Jasmine. "Wangi, jadi benar tadi dia belum mandi." Husein meniup kopi hitam dan menyeruput nya pelan,namun matanya masih menatap dalam wajah Jasmine.


Setengah jam Husein menunggu, Ia mendengar adiknya berteriak hingga langkah kakinya berhenti di meja makan. "Terimakasih." Husein mengembalikan cangkir kopi yang sudah ia habiskan dan masih menatap Jasmine yang sibuk menyiapkan sarapan merangkap makan siang.

__ADS_1


Perbincangan singkat Jasmine dan Husein pun tak luput dari tatapan Bryan yang penuh tanda tanya juga. "Pasti itu bocah penasaran."


"Masakan nya ibu jasmine enak juga, sama kayak masakan mama." Husein menghabiskan makannya dan ia pun mengiyakan ajakan Bryan untuk pindah ke ruang keluarga.


Husein yang sedari tadi mendengar pernyataan Jasmine tentang siapa dirinya dan wanita 10 tahun yang menembak Vilyam Darwin membuatnya tidak percaya. "Aku tak menyangka ada tangan dingin di balik mata sendunya."


"Menikah siri, tak ada cinta antara Bryan dan Jasmine. Bercinta dengan ibu-ibu. Menarik!" Husein tersenyum kecut. Pikirnya masih mengingat Jasmine 3 bulan lalu yang terengah-engah sendiri, menahan rasa sakitnya sendiri hingga Husein yang harus membantunya. "Ternyata kau wanita yang menyelamatkan keluarga ku dulu." Batin Husein sambil meninggalkan kediaman adiknya.


***


Tidak sampai waktu empat puluh lima menit, Bryan sampai di gudang rahasia milik keluarga nya. Gudang yang cukup jauh dari hingar bingar perkotaan, menjadi tempat paling aman untuk menyimpan banyaknya barang ilegal milik Nicolas Family.


Brakkkkk!!


"Bagaimana bisa seseorang bisa mengendus markas kita?" Bryan melempar salah satu kursi ke arah tembok, hingga membuat balokan kayu itu tercecer menjadi beberapa bagian. Pikirannya masih kacau. Sudah dua kali ini markasnya di endus oleh pihak musuh atau pihak keamanan negara.


"Tempat baru, dimana tuan?" Tanya salah satu penjaga.


"Rumahku." Bryan tertunduk lesu, ia masih mengingat istrinya sedang marah di rumah, dan ia berjanji akan memberinya hadiah.


Penjaga dan para bodyguard cukup kaget dengan keputusan Bryan menyimpan barang-barang haram di rumahnya. Bukankah ini terlalu riskan walaupun sebenarnya penjagaan dirumah Bryan cukup ketat.


"Semua sudah siap tuan, mari kita pergi dari sini sebelum mata-mata itu menangkap pergerakan kita lagi." Ajak Botak yang berdiri sembari menyesap rokok miliknya.


"Hmmm....., 'Tak apa yang kau beri pada istrimu jika mereka sedang marah?" Tanya Bryan yang masih awam dalam dunia per rumahtangga'an. Karena Bryan sedang berlayar di dunia baru , dunia persusuan.

__ADS_1


"Wanita tuan sedang marah?" Tanya Botak kembali.


"He'emm, tadi dia nangis. Dia bilang kangen sama anak-anaknya. Dan aku janji mau kasih hadiah." Jelas Bryan, jangan tanyakan botak yang sudah menahan tawanya.


"Berikan saja apa yang dia mau tuan, jika dia rindu anak-anak nya ajak saja dia bertemu mereka." Ide botak yang membuat dahi Bryan mengernyit. "Ide gila dari mana 'Tak. Yang benar saja." Bryan melengos.


"Jika seorang ibu merindukan anak-anak nya, memang hanya satu obatnya. Mempertemukan mereka."


"Tidak bisa gitu, nanti dia kabur gimana." Bryan masih egois memikirkan egonya sendiri.


"Terserah tuan sajalah, aku juga pusing. Jika mau wanita tuan bahagia lakukan saja ideku tadi." Kini Botak yang melengos tak peduli lagi, pikirnya dasar bocah dimabuk janda.


"Yasudah, urus saja. Tapi, jangan sampai ketemu. Hanya boleh lihat dari jauh." Bujuk Bryan menenangkan hatinya sendiri.


"Baik tuan, beres." Botak mengangkat kedua jempolnya. Mengiyakan permintaan tuannya agar senang dan tenang. "Kau sudah melakukan yang aku suruh?" Tanya Bryan lagi.


"Apa berciuman dengan istri tuan, membuat tuan ketularan cerewet?" Botak mulai menggila dengan ocehannya.


"Heh, jaga bicaramu. Jawab saja, sudah belum." Bryan melototkan matanya, hanya itu yang bisa ia lakukan pada laki-laki tua berumur 40 tahun yang sudah menjadi bodyguardnya sejak Bryan masih SMA. Dan tentunya Botak sangat tahu kelakuan Bryan yang kalang kabut terus menanyakan siapa wanita yang menolongnya.


"Sudah beres tuan. Every day every time." Jawab botak yang menaik-turunkan alisnya menggoda Bryan.


"Bagus."


"Bonus Kuyyy." Botak semakin tidak tahu diri.

__ADS_1


"Beres." Bryan mengangkat jempolnya minta like dong reader. Dukung aku memperjuangkan cintaku pada seorang janda anak dua ya. Asiyappp ,pasti authorku kasih feedback 😂


Kepuasan itu terletak pada usaha, bukan pada pencapaian hasil. Berusaha keras adalah kemenangan besar. ~ Mahatma Gandhi.


__ADS_2