Kiss The Rain

Kiss The Rain
"kau sudah pernah bercinta?"


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore, setelah mengantar Asmira ke rumah ayahnya. Jasmine melajukan mobil putih nya ke arah rumah orang tuanya, karena ia slalu kesepian jika berada di rumahnya sendiri saat Weekend. Ia memilih untuk menginap di rumah masa kecilnya.


Dua puluh menit berlalu, mobil itu sudah sampai di gerbang depan rumah Kamto, Jasmine bergegas turun dan membawa satu tas ransel cukup besar berisi baju ganti dan susu ibu hamil.


"Kak?" Sapa Raka saat tahu kakaknya datang tanpa permisi. "Kakak menginap lagi disini?" Lanjutnya.


"Kenapa, kau keberatan?" Jawab Jasmine dengan sewotnya dan menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu.


"Tidak, aku malah senang sekali. Ada yang mau aku bicarakan." Jelas Raka dengan nada serius.


"Apa? Kalau soal masalah percintaan kakak tidak mau bahas." Pekiknya. "Kakak saja harus membawa masalah percintaan kakak di meja hijau. Hufh....," Jasmine menghembuskan nafas kasar.


"Bukan itu kak, ini." Raka menunjukkan salah satu foto yang ada di genggaman ponsel pintarnya.


Setelah melihat dan mengamati foto itu Jasmine hanya mengangguk-anggukan kepala nya. "Lumayan cakep, siapa dia?" Lanjutnya.


"Salah satu target kelompok kita." Raka menjawab dengan nada yang masih serius.


"Oh, Kenapa dia jadi target kita? Apa yang bisa kakak bantu? Tapi keliatan dia masih muda, cakep juga. Kamu kalah jauh Raka." Jasmine mengakhiri kata terakhirnya sambil tertawa cekikikan.


Perkataan kakaknya yang terakhir membuat dahi Raka berkerut sebal. "Kau ini kak, ini serius. Dia salah satu gembong narkoba kelas kakap, sulit sekali melacaknya."


"Raka, usiamu sudah hampir 30 tahun. Kau tak ingin menikah?" Tanya Jasmine.


"Menikah?" Jawab Raka sambil menatap lekat wajah kakaknya.


"Iya menikah, mempunyai keluarga kecil dan bayi." Jawab Jasmine. "Kau sudah cukup dewasa, kau sudah pantas menikah Raka. Kakak akan merestui mu dengan Adelle." Lanjutnya Jasmine memegang tangan Raka.

__ADS_1


"Aku tidak mau menikah, jika akhirnya hanya seperti kakak!" pekik Raka melepas tangan kakaknya.


"Kenapa, kau sudah bekerja sudah mapan juga. Ku tak ingin menikmati surga dunia?"


"Memikirkan kakak saja aku sudah pusing. Apa lagi target ini. Membuat ku tambah pusing."


"Jangan memikirkan ku! Pikiran masa depanmu Raka."


"Jika aku menikah nanti, aku akan meninggalkan rumah ini. Lalu ibu bagaimana, bukannya kakak dulu memintaku untuk menjaga ibu?" Ya memang sebelum menikah dengan Dika dulu Jasmine sempat minta Raka untuk menjaga ibu menggantikan posisi Jasmine.


"Astaga, kau bisa membawa istrimu di rumah ini. Memang ibu membutuhkan teman tapi kau juga tak harus menekan urusan pribadimu, Ehmmm." Jasmine memikirkan sesuatu yang sedikit membuat nya tersenyum geli. "Kau sudah pernah bercinta?"


"Pertanyaan macam apa itu, aku tidak mau membahasnya." Raka sudah berdiri ingin meninggalkan Jasmine di ruang tamu sendiri.


"Lihat pipimu merah. Kau tak ingin berbagi cerita dengan kakak?" sungguh Jasmine sudah menahan tawa melihat ekspresi adiknya. Entah setan apa yang hinggap di bibir janda muda itu hingga pertanyaan konyol keluar dari bibir tipisnya.


"Kak!" Sorot mata Raka sudah menajam rasanya seperti ingin menerkam wajah Jasmine


"Apa yang mau kakak rahasiakan, aku sama sekali belum pernah bercinta. Dan aku akan melakukan itu pada wanitaku nanti." Tubuh Raka kini sudah bertengger disofa yang masih hangat dari suhu tubuhnya.


"Hahaha, kau masih mengingat dengan pesan Dika dulu?"


"Jelas, meskipun dia sendiri yang munafik."


Saat Jasmine dan Dika akan menikah, Dika memberi nasihat untuk Raka agar dia menjaga si roti bantet nya hanya untuk satu wanita. Tapi dia sendiri yang munafik,dia membagi roti bantet nya dengan wanita lain selain kakaknya. Konyol!


"Lalu bagaimana dengan target kita, apa ayah sudah tahu?"

__ADS_1


"Sudah, ayah sedang memikirkan bagaimana caranya. Nanti malam kita kumpul di markas dengan anggota lainnya." Jawab Raka. "Kakak dirumah saja, tidak perlu ikut." Lanjutnya saat Raka sudah berdiri dan menuju arah dapur.


*


"Manda, sayang..., Kau dimana?" Dika kembali dari toko toserba milik keluarga nya, ia berjalan sambil menenteng plastik putih penuh. Mencari keberadaan istri sirihnya.


"Ada apa?" Manda keluar dari kamar mandi dengan rambut yang mengurai basah.


"Biar aku keringkan rambutmu." Dika sudah mengambil alih handuk kecil berwarna baby pink, namun Amanda merebut nya kembali.


"Aku bisa sendiri." Raut wajahnya tampak sebal setelah kepergian Jasmine dari rumahnya.


"Kenapa?" Tak biasanya Amanda menolak jika dika ingin mengeringkan rambut panjang istrinya.


"Asmira tadi datang, dia ada di rumah ayah."


"Dia datang dengan Jasmine?" Tanya Dika bingung melihat istrinya kini berdiri membelakangi nya. "Kalian berbicara?" Lanjutnya lagi.


"Ya kita berbicara panjang lebar." Jawab Amanda acuh.


"Apa yang kalian bicarakan?" Dika penasaran apa yang Jasmine bicara kan sehingga Amanda terlihat sebal dan marah, padahal tadi pagi mereka masih bermesraan.


"Tanyakan saja pada mantan istrimu." Jawaban acuh lagi yang Dika dapat.


"Baiklah, aku akan tanyakan sendiri dengan Jasmine besok. Aku akan menemui Asmira dulu." Dika sudah berjalan keluar dari pintu kamar mereka meninggalkan Amanda yang masih berdiri membelakangi nya.


Amanda yang tahu Dika tidak peka pun hanya menggeretakan kakinya di lantai dan membuang handuk yang ia pegang dari tadi. "Dasar tidak peka."

__ADS_1


**


Mohon dukungannya untuk tetap like dan koment biar ramai yah 💛


__ADS_2