
Dika dan Jasmine tahu batasan hubungan mereka. Hanya saja Dika terus menatap Jasmine dengan penuh perasaan yang sudah tumpah-ruah keluar dari dirinya.
Jasmine terus mengingatkan seperti malam yang dingin ditambah terpaan angin yang cukup kencang. Dika berdiri di belakangnya, menangkupkan selimut untuk menghangatkan tubuh Jasmine.
"Tidurlah Dika, kau sejak pagi tadi belum istirahat."
"Aku sedang menggunakan waktuku dengan baik." Dika menjawab dengan entengnya.
"Kau harus menghargai perasaan istrimu! Mungkin Amanda sekarang sedang risau memikirkan mu."
"Apa seperti itu yang kau rasakan saat kau tahu aku melukaimu?"
"Hahaha, aku sudah lupa."
"Aku belum lupa, rasa bersalahku semakin menjadi saat aku tahu kau hilang, baby."
"Baby?" Jasmine seketika membisu.
"Cukup! Aku mohon Dika, Lupakan! Aku sudah bahagia. Aku bertemu dengan laki-laki yang akan menjadi pelabuhan hatiku untuk terakhir kalinya. Aku sudah melupakan mu, aku mohon hentikan semua yang kau lakukan untukmu."
Jasmine seakan terkena serangan panik saat Dika menarik tubuh Jasmine dalam pelukannya. Disaksikan rembulan yang cahayanya memantul diatas lautan lepas.
"Terserah, aku memang menikahi Amanda tapi kau tahu. Aku masih belum seluruhnya melupakan mu."
"Laki-laki bodoh adalah laki-laki yang tidak bisa meyakinkan hatinya untuk satu wanita. Kau bodoh! Dari dulu Kau hanyalah laki-laki bodoh yang tak pernah bisa memilih satu wanita dalam hidupmu!"
Semakin Jasmine berusaha melepaskan pelukan itu, semakin erat Dika memeluknya.
"Aku tahu, aku hanya tak ingin menyia-nyiakan waktuku bersama mu. Amanda sudah berkorban banyak untuk ku. Hanya dua hari ini aku bisa melepaskan semua rinduku untukmu."
"Lepaskan! kembalilah ke kamarmu. Atau kau akan membuat Asmira terbangun dengan teriakanku."
"Tidak akan, Asmira tidur seperti mu. Dia tidak peduli dengan apa yang ada di sekitarnya."
"Lepaskan Dika, tidak baik kita seperti ini."
Dika semakin merengkuh tubuh Jasmine. Tangannya mengusap punggung Jasmine dengan lembut.
"Kadang aku merindukan tubuhmu, baby."
"Kau jahat!"
Jasmine melepas tubuhnya dengan paksa, hingga dia akan terjerembab ke belakang. Dika dengan sigap menarik tubuh Jasmine.
"Kau sedang hamil, bukannya kau perlu menjaga janin yang ada di rahim mu." Dika kembali merengkuh tubuh Jasmine.
Jasmine menyadari kecerobohannya, bagaimana bisa ia melupakan bayi yang akan membuat Bryan bahagia.
"Aku mohon Dika, lepaskan aku."
"Baiklah, tidurlah bersama Asmira. Besok pagi kita kembali ke kota."
*
Keesokan paginya, Mereka bertiga bersiap kembali ke kota. Sebelum Arunika memancar dengan indahnya. Mereka sudah berada di dalam mobil.
Kali ini Jasmine memilih duduk di kursi belakang, menatap jauh lembah dan menatap pegunungan yang menjulang tinggi. Ia masih takut dengan perlakuan Dika tadi malam. Hingga Dika menyadari kesalahan yang ia perbuat.
__ADS_1
"Kita perlu bicara."
"Apa ayah?"
"Bukan Asmira, tapi mommy."
"Oh, Kenapa tidak bicara sekarang saja ayah?"
"Bicara orang dewasa, Asmira tidak boleh tahu."
"Oh, tapi jadi kan kita pergi ke mall ayah?"
"Jadi Mira."
"Yeyyy, Ayah slalu bilang jika mommy menyukai es krim stroberi. Nanti kita makan es krim yang banyak."
Jasmine hanya mengiyakan permintaan putrinya.
"Mommy dibioskop ada film kartun terbaru, bisakah mommy menemaniku melihatnya nanti."
"Baik sayang."
"Yeyyy, ayah juga ikut. Kita nonton bersama."
Waktu dua jam berakhir, tibalah mereka di mall Bhagawanta.
Satpam sudah tahu betul mobil SUV hitam yang memasuki area parkir VVIP. Namun, ia terkejut saat ada seorang perempuan dewasa yang turun dari belakang mobil.
Mantan istri pak Dika. Tumben ia datang ke mall. Apa Nyonya Manda sudah tahu. Bisa jadi informasi gempar ini di kalangan pemegang saham.
Mereka bertiga masuk ke dalam mall, memenuhi semua keinginan Asmira. Dika dan Jasmine nampak kompak sebagai orangtua.
"Mira, sepertinya mommy sudah lelah. Ajak mommy istirahat di kamar yang biasa kamu tempati."
Asmira mengangguk, ia memandu ibunya menuju kamar hotel yang terletak di lantai paling atas.
"Maaf mommy, Asmira terlalu senang bisa jalan-jalan di mall dengan mommy dan ayah. Apa adik bayi baik-baik saja di perut mommy?" Tanyanya polos.
"Kaki mommy yang lelah Mira, maaf ya. Nanti kita lanjutkan lagi saat makan malam."
"Iya mommy istirahat dulu. Biar Asmira yang menjaga mommy."
"Manis sekali." Jasmine mencubit pipi Asmira.
Bukan tertidur tapi Jasmine malah melihat interior hotel milik Dika. Sederhana namun elegan.
Dia menjadi laki-laki yang sukses. Tapi kenapa hatinya tak ke sukses usahanya. Bodoh sekali Dika!
Jasmine memijat-mijat kakinya. Hingga kamar yang ia tempati terbuka.
"Asmira, bisakah kau main diruang tamu sebentar. Ayah ingin bicara dengan Mommy." Titah Dika yang di iyakan putrinya.
"Apa ayah mau berbicara tentang orang dewasa?"
"Iya sayang, sebentar saja."
Asmira berjalan menuju ruang tamu, disana ia sudah disibukkan dengan mainan yang sengaja di siapkan oleh Dika.
__ADS_1
Dika mau ngapain lagi sih, ahhh menyebalkan.
Jasmine menghela nafas kasar saat Dika berjalan menuju ranjang yang ia tempati.
"Mau apa lagi?"
"Hanya bicara, kau lelah? Mau aku panggilkan terapis pijat untukmu."
"Tidak usah, terimakasih."
"Kau ingin makan sesuatu?"
"Aku sudah kenyang Dika, anakmu seperti preman minta makan kesana kemari tanpa bayar. Apa kau mengajari Asmira seperti itu?"
"Itu peraturan di mall ini, jika putriku datang tanpa membawa uang. Mereka berhak memberikannya dan mereka tinggal memberikan bill kepada manager di Mall ini."
"Hahaha, peraturan yang aneh!"
"Kau bisa tinggal disini jika kau mau."
"Tidak, terimakasih. Setelah malam ini aku akan kembali mencari suamiku. Hei Dika?"
"He'em...,"
"Kembalilah pada Amanda, aku tahu wanita itu sangat mencintaimu. Kau laki-laki yang sukses, yang berarti ada wanita hebat dibalik itu semua. Dan, itu adalah Amanda."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku akan slalu dengan ceritaku sendiri dengan takdir yang aku miliki."
"Carilah aku saat kau membutuhkan bantuan, aku slalu ada untukmu."
"Sok manis banget lu Dik, sudah sana pergi. Kemarilah lagi saat makan malam dan antar aku pulang!"
"Aku penasaran dengan suamimu, baby."
"Berhenti memanggilku, baby!"
"Oke, aku penasaran dengan laki-laki yang membuatmu hamil dan melupakanku."
"Haha, semua yang tidak ada dalam dirimu ada dalam dirinya. Lucu kan, aku mendapatkan perjaka sebagai ganti dirimu yang melukaiku."
"Baiklah, Cup!" Dika mencium kening Jasmine.
"Anggap saja sebagai tanda perpisahan kita. Kau tak perlu sungkan untuk meminta bantuanku. Terlebih aku juga tahu suamimu kelak akan dipenjara dan kau sedang hamil."
"Berhentilah menilai hal buruk tentangnya. Aku tahu semua resikonya, Dika. Berhentilah menganggapmu masih berarti untuk ku."
Dika hanya tertawa. Tak menanggapi lebih tentang Jasmine yang meracau tentangnya yang menyebalkan.
Hari beranjak menuju malam, Sesuai perjanjian dua hari lalu. Jasmine pulang ke rumah orangtuanya.
Sedangkan Dika dan Asmira kembali lagi di rumah tempat dimana Amanda menunggu mereka berdua dengan resah.
*
Yuhuuuyyy, sudah siap menuju part-part akhir belum. Uhukk, sudah terbalas rindunya dengan mas Dika yang menyebalkan? Hahaha, mas Dika masih akan terus menghantui hidup Jasmine di part-part akhir cerita ini.
__ADS_1
Stay tune dan jangan lupa like setelah baca 🙏🙏🙏