Kiss The Rain

Kiss The Rain
Love hate love!


__ADS_3

Brengsek, bagaimana Dika bisa menjadi laki-laki seperti itu.


Jasmine keluar kamar dengan terengah-engah. Ia terus menatap kebelakang , salah-salah Dika berlari mengejarnya.


Sialan, aku cuma mau numpang tidur. Malah mau di tiduri, dia Gila. Astaga!


Jasmine yang merasa lelah akhirnya menyandarkan dirinya di pilar tinggi. Ia duduk bersimpuh, membiarkan orang-orang menatapnya dengan heran dan curiga.


Aku lupa belum makan siang, Hay little sabar ya. Kau harus kuat seperti mommy. Tunggu sebentar mommy akan beli makanan dan susu untukmu.


Jasmine berdiri mengelus perutnya yang datar. Ia berjalan menuju stand penjual makanan di mall yang masih ada Dika di dalamnya.


Ayo little, mau jajan apa hari ini. Jangan banyak-banyak mommy belum kerja lagi.


Jasmine tersenyum dengan batinnya yang bicara. Bukan tak mau membeli banyak makanan, ia harus mengirit dengan uang sisa tabungan di ATMnya.


Namun, tangannya berkata lain saat ia menatap banyaknya jenis makanan di depannya. Dirinya kalap memasukan banyak makanan dan susu ibu hamil dalam kemasan UHT.


Tak butuh waktu lama, Jasmine menenteng plastik putih dan tersenyum. Ia mencari kursi duduk yang lenggang untuk menghabiskan roti dan susu kemasan UHT.


Baik, mari kita habiskan dan kembali memikirkan nasib kita akan tidur dimana malam ini.


Jasmine menyantap rotinya, sesekali pandangannya berkeliling.


Kau pasti sudah kenyang, mari kita beraksi lagi little. Kita harus semangat mencari reader dan Daddy.


Jasmine membereskan sisa makanannya. Bergerak menuju tempat sampah dan melangkahkan kakinya menuju parkiran basemant.


Sesampainya di mobil putih miliknya, Jasmine melihat orang menyebalkan berdiri di balik pilar yang berjarak tiga meter darinya.


"Kau disini rupanya?"


Dika, mau apa lagi dia.


Jasmine melempar tas minggatnya dan plastik yang berisi makanan ke dalam kursi penumpang. Ia menutup pintu mobil dengan kencang.


"Mau apa lagi!" Jasmine berkacak pinggang dengan memutar bola matanya.


"Hanya memastikan mu saja." Dika berjalan mendekati Jasmine.


"Aku sudah tidak ada urusan apa pun lagi dengan mu. Jadi kau tidak perlu mengganggu ku lagi." Jasmine memutari mobilnya, bukan malah menyingkir Dika malah menghalangi langkah Jasmine menuju kursi kemudi.


"Aku akan membantumu, ambilah ini." Dika menyerahkan amplop coklat dengan ukuran besar.


"Aku tidak bisa, simpanlah uang itu untuk anakmu dan istrimu!" Jasmine mendorong tubuh Dika.


"Mereka juga anakmu!"

__ADS_1


Dika mencekal tangan Jasmine. "Kau mau pergi kemana?"


"Bukan urusanmu!"


Plak.


"Kau!"


Jasmine melotot saat Dika mendaratkan tangannya di pipinya.


"Kau korbankan anak-anak mu, sekarang kau dengan enaknya pergi lagi dari sisi anak mu!"


Dika mulai meracau.


"Itu karena salahmu! Kau dulu tega mengacuhkanku, sekarang untuk apa aku harus bersusah payah mengurus anakmu. Bahkan Prince saja sudah melupakan ku."


"Dia masih bayi, dia tak akan ingat dengan dirimu. Asmira, dia masih membutuhkan mu Jasmine!"


"Cukup! Biarkan aku pergi. Kau sudah mau memperkosa ku tadi. Lalu apa yang mau kau lakukan lagi untuk ku Dika!" Jasmine menarik pistolnya. Menaruh tepat di depan jantung Dika.


"Apa kau akan mengalirkan darah pembunuh dalam janin yang kau kandung, Jasmine!" Dika menyampar pistol Jasmine. Membiarkan jatuh terlempar jauh dari jangkauan.


Perdebatan sengit Jasmine dan Dika tak lepas dari mata yang mengamatinya diam-diam. Seseorang sedang merekam kejadian yang cukup mencengangkan.


"Apa mau mu, kenapa kau tak bisa melepasku dengan tenang Dika."


"Aku hanya ingin hidup bahagia terlepas darimu. Aku hanya ingin bahagia memiliki keluarga kecil yang utuh. Tak bisakah kau mengerti sedikit saja padaku, Dika." Air mata sudah membanjiri wajah Jasmine.


"Aku hanya ingin bahagia. Kau tidak ingat, kau yang sudah menghancurkan semua kebahagiaan ku yang aku tata rapi dan indah. Kau yang menghancurkan semua impian ku!"


Jasmine mengguncang pundak Dika dengan kencang. Dika cukup terkejut saat mengetahui ternyata Jasmine cukup menderita berpisah darinya.


"Aku menderita saat aku tidak bisa melupakan mu yang tidur dengan wanita lain, aku menderita saat kau di dekatku tapi aku tidak bisa melepas rasa rinduku padamu. Aku menderita dengan perceraian kita dulu."


isakkan tangisnya semakin menjadi-jadi.


"Tidak bisakah kau melihatku bahagia, Dika."


"Aku juga ingin bahagia seperti mu. Hidup bersama laki-laki yang aku cintai, dia yang mencintaiku tanpa memandang siapa diriku. Aku hanya ingin bahagia, Dika. Lepaskan aku."


Dika terdiam, tangannya tak bisa menahan lagi untuk menghapus air mata Jasmine yang meluncur dengan derasnya.


"Kau yakin dengan keputusan mu? Jika iya, aku akan melepas mu bersama laki-laki itu. Jika tidak, aku yang akan membawamu lagi kedalam dekapanku." Dika mengambil pistol Jasmine, menyerahkannya.


"Tidurlah di kamar hotel tadi, aku tak akan menganggumu asal kau tidak menolak semua pemberian ku untukmu." Dika kembali menyerahkan amplop coklat di tangan Jasmine.


"Tidak, Dika. Aku akan berdiri sendiri di kakiku. Terimakasih, maaf aku...," Jasmine menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Maafkan aku." Jasmine bergegas masuk ke dalam mobilnya.


Dengan cepat menancap pedal gas. keluar dari parkiran basemant.


Dika menggerutu, Baik, jika itu yang kau inginkan Jasmine. Aku tetap akan menganggumu sampai kau menerima pemberianku.


Dika mencari ponsel genggamnya, ia nampak berbicara dengan seseorang, "Ikuti wanita tadi. Jangan sampai lengah."


Dika menutup sambungan teleponnya kini ia mengambil mobilnya sendiri di parkiran VVIP di lantai mall paling atas.


Diperjalanan pulang yang entah kemana, Jasmine terus meneteskan air matanya. Hal yang selama ini ia tutupi dari Dika Andrea keluar juga dari mulutnya.


Bersusuh payah Jasmine berusaha melupakan Dika. Hingga akhirnya ia bertemu dengan laki-laki yang membawanya pada tembok rumah tangga kedua dalam hidupnya.


Ia berusaha sebisa mungkin untuk menetralkan dirinya, hingga sebuah rest area di tol km 78 membuatnya berhenti sejenak.


Tidur diparkiran sebentar ya little. Nanti kita pikirkan harus kemana kita harus bermalam.


Jasmine memilih tempat paling ujung, dimana jarang ada mobil yang menempati. Ia membuka sedikit kaca mobil, membiarkan udara masuk silih berganti.


Sabar, pasti semesta mempertemukan kita di waktu yang tepat.


Jasmine menyandarkan tubuhnya, memilih mendengarkan lagu dari ponsel miliknya yang sudah lama tak ia gunakan. Lantunan lagu dari Payung teduh - Resah lambat laun membuat mata Jasmine mulai sayup sayup terpejam.


Aku ingin berjalan bersamamu


Dalam hujan dan malam gelap


Tapi aku tak bisa melihat matamu


Aku ingin berdua denganmu


Di antara daun gugur


Aku ingin berdua denganmu


Tapi aku hanya melihat keresahanmu


Pa-ra-ra-ra-ra


O-o-o-o-o-h


Aku menunggu dengan sabar


Di atas sini melayang-layang


Tergoncang angin menantikan tubuh itu

__ADS_1


__ADS_2