
Sudah pukul 09.00, Jasmine dan Bryan sudah menyelesaikan pertempuran paginya di kolam renang. Mereka berdua menaiki anak tangga, saling merangkul dan tersenyum. Diatas anak tangga paling atas sudah berdiri seorang laki-laki bernama Husein. Wajahnya terlihat datar tapi rahangnya mengeras.
Bryan menatap Jasmine, mereka berdua saling memberi isyarat pada sorot matanya.
Plak!!
Belum juga Bryan mengucapkan sepatah dua patah kata, tangan Husein sudah melayang menampar keras pipi Bryan. Jasmine terperanjat, ia melototkan matanya mengutuki Husein yang tidak tahu diri.
"Kalian berdua memang tidak tahu malu." Nadanya mengejek, lebih-lebih juga sedikit mengeras.
"Sejak kapan kakak disini, hah?" Bryan mengelus pipinya yang terasa panas.
"Sejak kalian berdua berbuat yang tidak seharusnya dilakukan ditempat umum." Husein menatap Jasmine dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bughh!!!
Bryan membabi buta, memukul perut Husein berkali-kali. "Kakak lancang, kakak melihat tubuh istriku."
Bughh.... Bughh.... Bughh...,!!!
Jasmine panik, terlebih jika handuk putih yang melilit di pinggang Bryan terlepas dari tempatnya dan mempertontonkan benda pusaka yang sedang lemas tak berdaya.
"Bry..., Bry...., Stop!!!" Jasmine terus berteriak. Bryan tak peduli dengan ocehan istrinya. Bryan menarik meja dan ingin menghantamkannya ditubuh kakaknya.
Husein menarik tubuhnya dari bawah terkaman adiknya. Ia menatap Bryan yang sudah mengangkat meja. "Lakukanlah."
Jasmine memegang tangan Bryan dan menggeleng, "Kita yang salah Bry, kita yang bercinta tak pada tempatnya. Turunkan meja itu dan berdamailah."
Jasmine menatap tajam mata Husein, laki-laki itu terdiam dan menatap balik wajah Jasmine.
"Maafkan aku jika sudah menodai mata sucimu Husein, harusnya aku bisa mendidik adikmu untuk tahu batasan dimana kami bisa bercinta. Kami tak akan mengulanginya lagi dan akan bercinta pada tempatnya." Jasmine menarik meja yang masih di pegangi Bryan. Rahang suaminya itu nampak mengeras. Sorot matanya masih mengajaknya untuk berperang.
"Sudah ya, kita yang salah." Jasmine menarik paksa Bryan, berjalan menuju arah kamar. Belum juga masuk ke dalam kamar Bryan berteriak "Kakak jahat!" Ia menarik tangan Jasmine dan menutup pintu sekencang mungkin.
"Kakak sudah melihat tubuhmu, ini lancang!" Bryan menghempaskan Jasmine diatas ranjang, menarik kembali bathrobe yang menutupi tubuh Jasmine. "Kakak sudah melihat ini semua." Air muka Bryan berubah menjadi sendu, ia juga melepas handuk putih yang melilit pinggangnya. "Maafkan aku, aku tidak bisa menjaga ini semua." Bryan memeluk tubuh Jasmine, tanpa sehelai pakaian lagi yang membalut tubuh mereka berdua. Bryan terus meracau memaki dirinya sendiri, merutuki kebodohannya.
"Sudahlah Bry, tidak ada yang menarik dari tubuhku. Kita hanya tidak perlu mengulanginya lagi." Jasmine mengelus rambut Bryan, "Tapi kakak sudah melihatnya, aku kecewa. Aku tak bisa menjaga dirimu."
"Aku yang salah, okeyy. Jika aku tak menggodamu kita tak melakukannya di tepi kolam renang." Jasmine berusaha untuk menetralkan keadaan yang seharusnya menjadi hari paling indah untuknya. Ia tak menyadari jika pergumulan paginya di tepi kolam akan menjadi tragedi yang menyedihkan lagi.
__ADS_1
"Jangan dekat-dekat dengan kakak, kamu hanya milikku." Titah Bryan sambil menarik Jasmine dalam pelukannya. "Semua ini hanya milikku." Bryan mengecupi satu persatu bagian tubuh Jasmine yang terlihat, bahkan hampir semua terlihat oleh Husein tadi.
"Bry..., Cukup he-yyy cukup untuk pagi ini." Jasmine menarik tubuhnya ke belakang. "Sudah dua kali, aku tidak mau lagi." Sergah Jasmine, ia terus menggeleng.
"Sudah terlanjur, lihatlah." Bryan menunjuk benda pusaka yang berdiri kembali untuk ketiga kalinya. Jasmine mendengus kesal, saat tubuh Bryan sudah menghentak melakukan penyatuan.
**
"Aku sudah mandi tiga kali dan ini gara-gara kamu Bry."
Bryan terkekeh mendengar suara Jasmine yang menggerutu. "Aku rindu babe."
"Ingat, semua yang ada di tubuhmu hanya milikku." Tegas Bryan. "Bersiaplah aku akan menemanimu belanja, tapi aku akan bicara dengan kakak dulu, tunggu sebentar." Lanjut Bryan bergegas dan keluar dari kamar.
Bryan berjalan menuju ruang pribadinya di kamar bertuliskan "Jangan masuk kecuali Bryan." Ia menatap Husein yang duduk sambil mengompres pipinya yang lebam terkena bogem mentah Bryan.
"Apa yang kakak pikirkan?" Bryan berdiri sembari melihat pantulan air yang mengkilat dari balik jendela kamar rahasianya. "Kakak melihatnya disini?"
Husein menghela nafas panjang, "Bagaimana jika orang lain yang melihatnya Bry. Kalian benar-benar gila! Tidak tahu sopan santun!" Husein berbicara dengan tegas layaknya seorang kakak yang menasehati adiknya.
"Lalu apa yang sekarang kakak pikirkan, kakak tidak bernafsu dengan istriku kan?"
"Baguslah jika kakak tidak tertarik dengan tubuh istriku, aku benar-benar akan melenyapkan kakak jika sekali saja aku tahu kakak mendekati Jasmine." Bryan berbicara dengan tersungut-sungut dan menepuk bahu Husein, "Aku mau pergi dulu."
"Mau kemana?" Tanya Husein sambil mengikuti langkah Bryan dari belakang. "Belanja."
"Bawalah pengawal." Titah Husein yang tak melihat wajah adiknya, tapi matanya tertuju pada wanita yang baru saja keluar dari balik pintu kamar mengenakan Dress berwarna kuning dengan corak bintang-bintang di bagian atasnya.
"He'emm aku slalu membawa botak dan ketiga temannya." Bryan tersenyum melambaikan tangannya, menyuruh Jasmine untuk mendekatinya. "Sudah selesai?" Tanya Jasmine sambil merangkulkan tangannya di bahu Bryan.
"Sudah ayo, kita belum sarapan. Nanti cari makan dulu ya." Ajak Bryan yang sudah acuh terhadap kakaknya.
Husein mematung tak henti-hentinya terus menatap wanita berbaju kuning. "Tubuh itu, aku bahkan pernah merangkul tubuh itu, Arghhhh." Husein mengacak-acak rambutnya, mengeram mengingat setiap jengkal tubuh Jasmine yang terbayang-bayang dalam visual batinnya.
"Kau pikir hanya kau saja yang menganggap wanita itu pahlawan mu Bry, Arghhhh." Husein terus mengacak-acak rambutnya, berteriak tak karuan menendang semua barang yang ada di depannya. "Gila, aku sudah benar-benar gila."
Berbeda dengan Jasmine dan Bryan yang sudah berada di dalam mobil, sunggingan senyum menghiasai wajah mereka berdua.
"Mau belanja apa babe?" Tanya Bryan sembari mengedarkan pandangannya melihat jalanan di depannya.
__ADS_1
"Hanya belanja kebutuhan dapur Bry, kulkasnya kosong minta disini." Jawab Jasmine yang tak lepas memandangi wajah suaminya.
"Kau tidak malu jalan denganku, aku terlihat seperti tante-tante yang mengajak berondongnya jalan-jalan." Jelas Jasmine.
"Jika nanti ada yang tanya, aku akan menjawab jika kamu kakakku." Bryan menyengirkan bibirnya, masih terlihat manis.
"Kakak?" Jasmine tertawa, "Baguslah, jadi musuhmu tidak tahu kalau aku bisa saja menjadi kelemahan mu, Bry?" Jasmine menjeda bicaranya.
"Bisakah aku membawa pistol ku lagi?" Jasmine menatap Bryan. "Untuk apa?"
"Untuk menjagamu Bry, memang kau bisa membidik sasaran?" Tanya Jasmine dengan nada mengejek.
Bryan terkekeh, "Tidak bisa, aku hanya bisa membidik mu."
"Jadi aku yang harus menjagamu?" Jasmine menaik turunkan alisnya. "Selain aku menjadi kakakmu, aku juga harus menjadi bodyguardmu ?" Bryan mengangguk dan mencubit pipi Jasmine. "Gemes, pinter sekali kamu babe."
"Mau belanja dimana?" Tanya Bryan yang bingung harus membawa wanitanya kemana.
"Ke pasar tradisional aja Bry, jika ke mall akan ada pemindaian wajah." Jasmine menatap Bryan, "Keluargaku akan dengan mudah mencariku nanti." Jasmine menundukkan pandangannya.
"Kenapa?"
"Ak-u, ehmmm. A-ku laper Bry." Jasmine menunjukkan giginya yang rapi.
"Hanya laper, tidak ada alasan lain." Bryan menautkan kedua alisnya.
"Iya aku laper, tadi aku hanya sarapan roti tawar." Jasmine menjawabnya dengan gelagapan.
"Aku tahu, ayo sarapan dulu." Ajak Bryan sambil menghentikan mobilnya di sebuah parkiran restoran beraksen tradisional, rumah makan dengan lantai kayu berwarna coklat tua, dengan dinding batu bata berwarna merah. Ornamen-ornamen dinding dengan banyak motif batik Jawa, suara gamelan Jawa menyeruak di gendang telinga.
Jasmine mengembangkan senyumnya, "Aku ingin menari."
"Makan!" Sergah Bryan.
"Ciumlah bau ayam goreng ini, astaga sudah lama sekali aku tidak makan di luar rumah." Jasmine berjalan mengarah pada deretan makanan yang melambai-lambai memintanya untuk segera dimakan, ditelan tak tersisa.
"Berlebihan! Hiperbola!" Sergah Bryan. Ia menarik tangan Jasmine yang hanya berjalan-jalan menatapi ayam goreng yang telanjang diatas piring rotan.
"Hehe, banyak sekali aku bingung harus makan yang mana."
__ADS_1
"Makan saja semuanya." Bryan mendengus kesal, baginya wanita di depannya ini mempunyai dua sifat yang berbeda. Kadang terlihat keibuan, kadang terlihat seperti anak kecil yang banyak maunya.