Kiss The Rain

Kiss The Rain
Nikah lagi.


__ADS_3

Ball room hotel Bhagawanta


Hiasan bunga mawar putih dan baby birth menghiasi ball room, indah tak perikan. Hiasan yang di penuhi dengan ornamen putih, menandakan sakralnya prosesi pernikahan kali ini.


Dika menggandeng tangan Jasmine, menuju singgah sana pelaminan. Mereka berjalan layaknya pengantin baru, Jasmine masih terus tersenyum, ia mengeratkan genggaman tangannya.


Dika dengan hati-hati membantu Jasmine berjalan saat ia kesulitan menggunakan kebaya dan rok batik yang membelit kakinya.


Tamu-tamu tampak kitmad melihat jalannya prosesi datangnya pengantin baru. Mata mereka berbinar-binar, suka cita dan air mata menghiasi wajah mereka.


Mereka tahu saat cinta kedua manusia yang berjalan diatas karpet merah itu harus kandas karena perselingkuhan.


Senyuman tetap menghiasi wajah Jasmine maupun Dika.


Dua darah daging mereka ikut berjalan di belakang mereka, menaburkan bunga melati putih. Senyum juga menghiasi wajah mereka, anak-anak yang tak pernah menjadi korban atas perpisahan orangtua mereka.


Tibalah mereka diatas singgah sana pelaminan, Jasmine dan Dika saling menatap. Cukup lama mereka saling menatap. Tatapan penuh makna, dalam. Tersirat sebuah cinta, rindu dan benci. Mata Jasmine berair dan menggeleng, Dika membawa Jasmine ke pelukannya.


Ia memeluk tubuh wanita yang akan dirindukannya dalam jarak dan ruang.


Jasmine menangis tersedu-sedu, ia mengeratkan pelukannya. "Aku tak menyesal bercerai dengan mu, aku lebih menyesal saat aku tak bisa melepasmu untuk bahagia. Aku lebih menyesal saat kamu tidak bahagia denganku." Suara Jasmine terbata-bata, air matanya sudah berlinang membasahi pipinya, "Aku tak pernah menyesal mengenalmu, menaruh cinta untukmu mesti hanya sesaat."


Dika menghapus air mata Jasmine, mengecup keningnya, "Berbahagialah."


Pelukan satu keluarga yang terlihat harmonis dan haru harus terpisah, saat Jasmine dan Dika berjalan ke kursi pelaminan masing-masing.


Hari ini dua iklar janji sehidup semati akan terucap.


Dika akan menikahi Amanda secara sah dimata negara. Ia akan menepati janjinya dengan Amanda. Janji yang ia ucapkan saat Dika meminta izin untuk menjadikan Jasmine pemilik kedua Bhagawanta Group.


Hari ini, Dika resmi akan melepas Jasmine sebagai wanita yang mengisi hatinya. Dika yakin, laki-laki bernama Bryan akan membuat wanitanya bahagia.


Dika duduk di samping Amanda. Sedangkan Jasmine duduk disampingnya Bryan.


Disaksikan tamu-tamu undangan yang datang, Brandles Wolfgang, keluarga bodyguard Bryan, anak-anak panti dan empat keluarga yang disatukan dalam takdir yang begitu indah. Meski tak indah jalan ceritanya.


"Sudah siap?" Bapak penghulu berkopiah hitam menjabat tangan Dika.


"Women First, biarkan mantan istri saya yang menikah dulu. Aku ingin melihatnya bahagia." Dika menunjuk Bryan dan Jasmine yang melihat ke arah Dika dan penghulu.

__ADS_1


"Baik." seperti paham dengan maksud Dika, bapak penghulu berjalan mendekati pelaminan Jasmine dan Bryan.


Bryan tampak gerogi, walaupun ini untuk kedua kalinya. Tapi ini berbeda, pernikahan kali ini dihadiri semua orang yang terlibat di dalamnya.


"Sudah siap?" Bapak penghulu menjabat tangan Bryan.


Bryan menghela nafas panjang, sebelum ia menggenggam erat tangan penghulu. "Siap." Ucap Bryan mantab.


"Baik." Bapak penghulu mengucap do'a pembuka.


"Saya nikah dan kawinnyaJasmine Adriana binti Kamto Jayantaka dengan Bryan Imanuel Nicolas dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai."


Dengan satu tarikan nafas, Bryan mengucap ijab qobul di hadapan penghulu dan saksi.


"Saya terima nikah dan kawinnya Jasmine Adriana binti Kamto Jayantaka dengan saya Bryan Imanuel Nicolas dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai."


"Bagaimana para saksi?" Tanya penghulu.


"Sah, sah, sah." Sorak tamu-tamu yang begitu antusias.


"Baik, dengan begitu ananda Jasmine dan Bryan sudah resmi menjadi sepasang suami istri." Bapak penghulu mengucap Do'a penutup dan menyerahkan surat-surat yang harus ditandatangani.


Dika hanya mengangguk, namun tatapan matanya masih tertuju pada Jasmine dan Bryan yang berpelukan. Di ikuti Prince yang sedari tadi duduk disamping Jasmine.


Kini giliran bapak penghulu mengijab qobulkan Dika dan Amanda.


"Sudah siap?"


Dika mengangguk dan menggenggam tangan penghulu dengan erat.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Amanda Soedarjo binti Tommy Soedarjo dengan Dika Andrea Bhagawanta dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai."


Satu tarikan nafas Dika mengucap Ijab qobul untuk ketiga kalinya dalam hidupnya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Amanda Soedarjo binti Tommy Soedarjo dengan saya Dika Andrea Bhagawanta dengan seperangkat alat di bayar tunai."


"Bagaimana para saksi, sah?"


"Sah, sah, sah." Ucapnya para tamu undangan tak kalah antusiasnya.

__ADS_1


"Baiklah, tanda tangan dibawah sini sebagai bukti jika kalian sudah menikah sah dimata negara."


Dika dan Amanda mengangguk, mereka menyelesaikan proses pemberkasan dan berakhir saling memeluk. Diikuti Asmira dan Jeannice yang turut bahagia.


"Ayah, aku tidak mau adik!" Protes Asmira.


"Kenapa, bukannya dirumah tambah ramai kalau ada adik lagi?" Tanya Dika penasaran.


"Enggak ya enggak ayah, kalau sama kayak Prince dan Jeannice." Asmira menunjuk Jeannice yang tak peduli dengan ucapan kakaknya. Jean lebih sibuk bermain kejar-kejaran dengan Prince.


"Tapi kamu nanti akan punya adik dari mommy dan Daddy baru." Goda Dika dengan menunjuk Jasmine dan Bryan yang sedang makan dengan lahapnya.


Jasmine melambaikan tangannya, meminta Dika untuk bergabung bersama.


Tak mau berfikir panjang, Dika menggandeng Amanda menuju meja makan yang sudah ada Jasmine, Bryan, Husein, Raka dan Adelle.


"Anak gadismu tidak mau punya adik." Jelas Dika sambil menarik kursi untuk Amanda duduk.


"Asmira?" Jasmine tak bergeming dari banyaknya kue di depannya.


"Lagi nyiapin tenaga buat tempur nanti malam. Jangan di ganggu." Kata Raka menggoda kakaknya.


"Kakak ingat, udah 40 tahun. Jangan banyak gaya." Amanda mengingatkan dengan senyum yang mengembang.


"Iya, nanti keseleo. Kan jadi gak bisa bikin adik buat Asmira." Adelle menimpali dengan terkekeh.


Jasmine mengambil tissue dan mengusap bibirnya. Ia tak menggubris ocehan adik-adiknya. Ia kini menatap Husein yang hanya terdiam dan melihat sekeliling.


"Jomblo cari jodoh sana, banyak gadis disini."


"Tidak ada yang pas." Kata Husein sambil menyeruput wine dari gelasnya.


"Jangan cari yang pas, cari yang rapat dan kesat." Bryan angkat bicara.


Mata Jasmine membulat, "Kenapa pada menjurus ke situ sih. Ada apa dengan kalian?"


"Malam-malam akan terasa amat panjang mulai malam ini." Dika menengguk wine langsung dari botolnya.


"Baiklah, kita taruhan. Ayo kalian kuat berapa ronde malam ini. Jangan lupa timer!" Jasmine mengerlingkan matanya, ia menggandeng tangan Bryan dan berlalu meninggalkan kerumunan.

__ADS_1


__ADS_2