Kiss The Rain

Kiss The Rain
Memulai misi (2)


__ADS_3

Sesaat setelah melajukan mobilnya keluar dari istana Dika. Jasmine berhenti didepan rumah yang selama satu tahun ia tinggalkan. Betapa terkejutnya saat ia mendapati rumahnya masih terlihat rapi dan bersih seperti telah dirawat oleh seseorang.


Baru beberapa bulan aku tinggal disini, tapi kenangan bersama Prince membuat ku rindu.


Jasmine duduk di selasar depan rumahnya, menatapi dedaunan yang menghijau.


Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, sudah hal biasa jika pak RT suka berkeliling komplek untuk menertibkan anggota siskamling untuk menjaga komplek mereka.


Ia terkejut saat mendapati seorang wanita duduk melamun di depan rumah yang ia ketahui sudah sejak lama tak terlihat batang hidungnya.


"Mbak..., mbak...,"


Jasmine gelagapan, "Ya...,"


"Wah wah, malam-malam melamun mbak. Nanti kalau kesambet penghuni pohon mangga sebelah gimana mbak."


"Wah bagus itu pak RT, biar sekalian dibawaain mangga muda." Jasmine tersenyum.


Pak RT mengamati Jasmine dengan teliti dari balik kacamata bundar yang ia kenakan. "Mbak pemilik rumah ini kan, sudah pulang kerjanya mbak?"


"Kerja?" Dahi Jasmine berkerut.


"Iya mbak, ada laki-laki yang katanya tukang bersih-bersih rumah ini. Mbak sedang pergi kerja di luar kota, makanya tiap seminggu tiga kali suka ada yang membersihkannya."


"Siapa pak, apa bapak tahu namanya?" Nada bicara Jasmine sungguh penasaran.


Pak RT hanya menghendikkan bahunya. "Laki-laki itu hanya tersenyum setiap saya tanyakan siapa namanya."


"Baik pak, terimakasih infonya. Saya hanya sebentar disini. Sebentar lagi pulang."


"Baik mbak, yasudah saya mau keliling komplek lagi."


Jasmine tersenyum dan mengangguk.


Apa yang dimaksud laki-laki itu Dika. Karena hanya dia yang punya kunci rumah ini. Astaga! Apa yang harus aku lakukan.


Jasmine berjalan menuju mobilnya, ia berbalik menatap rumah yang ia rindukan bersama kedua anaknya dulu.


Malam telah larut dengan cerita yang berbeda untuk setiap wayang yang sedang memainkan perannya.


*


Keesokan paginya di kediaman Jayantaka. Jasmine terus membuntuti Kamto yang mengacuhkannya.


"Ayah mohon restui aku dengan Bryan."


"Ayah, aku mohon."


Jasmine mengatupkan kedua tangannya, mengiba, memohon-mohon agar hati ayahnya melunak.


"Biarkan laki-laki itu yang meminta restu dari ayah. Bangkit dan jangan mengiba seperti pengemis cinta!"


"Baik jika ayah tidak mau membantuku, aku tidak mau lagi pulang ke rumah ini."


Jasmine berdiri, menggeretakan kakinya di lantai.


Aku benar-benar harus mendatangi Dika lagi, sial! Harga diriku akan jatuh di tangan laki-laki yang pernah aku cintai.


Jasmine bergegas menuju kamarnya, memasukkan baju-bajunya dan peralatan tempur lainnya. Kini ia pun bingung tak punya uang dan tabungan untuk hanya sekedar makan.

__ADS_1


Jasmine membuka setiap laci dilemari kamarnya, syukur-syukur ia dapat menemukan dompet yang ia tinggalkan dulu bersama ponselnya.


"Yeyyy, kau masih tersimpan rapi." Jasmine membuka isi dompetnya.


"Masih, jadi Raka tak mencuri uangku." Jasmine terkekeh, hanya satu lagi yang perlu Jasmine hadapi. Keangkuhan ayahnya dan si menyebalkan Dika.


Hotel Bhagawanta.


Jasmine berjalan menuju resepsionis, ia mengatakan nomer yang Dika katakan semalam.


"Sudah membuat janji dengan pak Dika?" Resepsionis bernama Dea ini menatap Jasmine penuh selidik.


"Katakan saja padanya, aku yang semalam menemuinya di rumah."


"Baiklah, tunggu sebentar biar saya hubungi pak Dika."


Jasmine mengangguk. Tak butuh lama resepsionis itu menyerahkan kuncinya di hadapan Jasmine.


"Terimakasih, jika kau tak keberatan pesankan makan siang juga untuk ku."


Resepsionis itu melirik tajam ke arah Jasmine. "Maaf ibu silahkan pesan sendiri ke bagian restauran."


"Sudah sana lakukan saja perintah ku, jika kau tidak mau menjadi pengangguran."


Dea menggerutu, Sebenarnya dia siapa sih, dengan enaknya menemui pak Dika yang sudah beristri dikamar hotel lagi. Apa jangan-jangan dia pelakor.


Dea menutup mulutnya tidak percaya.


"Wah wah wah, kau sepertinya ingin menjadi targetku selanjutnya."


Jasmine meletakkan revolver hitam di depan meja resepsionis.


"Maksudmu aku wanita penggoda. Hahaha, kau tanyakan saja pada atasanmu itu siapa aku."


Jasmine menarik lagi pistolnya dan melenggangkan kakinya menuju kamar nomer 58.


Dari pada kehilangan gaji yang lumayan, lebih baik aku menutup rapat rahasia skandal bos besar.


Dea memencet telepon khusus bagian restauran dan memesankan beberapa jenis makan siang untuk Jasmine.


Selang beberapa menit, Dea melihat bosnya melangkahkan kakinya ditambah senyuman yang melebar.


"Dimana wanita tadi?"


"Sudah dikamar pak." Dea menunduk hormat.


"Baiklah, berikan aku kunci cadangan."


"Baik pak, silahkan." Dea menyerahkan kunci ke hadapan Dika.


Gila gila gila, aku benar-benar tidak bisa menahan rahasia besar ini. Tapi aku juga takut jika harus di tembak wanita tadi. Arghhhh.


Dea mengacak-acak sendiri rambutnya yang bersanggul.


Klek.


Pintu kamar terbuka, Dika mendapati Jasmine sedang duduk bersila di atas sofa.


"Kenapa kau membawa tas besar, baby?"

__ADS_1


"Ayah tidak merestuiku dengan Bryan. Jadi aku pergi dan menerima tawaranmu kemarin malam."


Dika tertawa dengan berbahak-bahak.


"Jadi kau sedang minggat!"


"Bisa dibilang begitu."


"Oh ayolah, sampai segitunya perjuangan mu untuk mendapatkan suamimu lagi, baby."


"Karena aku mencintainya!"


"Jika kau mencintainya kau takkan berduaan dengan laki-laki yang bukan suamimu di kamar hotel." Dika mendekati Jasmine yang sedang menyalak. Laki-laki itu masih tersenyum dengan manisnya.


"Kau masih menyebalkan!"


Jasmine berdiri menyaut tas minggatnya.


"Mau kemana Jasmine Adriana!" Teriak Dika menyaut tas Jasmine dan membanting nya di atas ranjang.


"Aku sudah baik-baik ya memintamu untuk membantuku, kau tidak sadar jika aku melakukan itu karena dulu aku ingin melupakan mu!" Jasmine berucap dengan berapi-api.


"Kau sudah berhasil melupakan ku, lalu kau hadir lagi di kehidupan ku dan meminta ku untuk membantumu. Tidak adil bukan, jika aku tak mendapatkan apapun dari mu." Dika menarik Jasmine menuju ranjang, melempar kembali tas Jasmine yang membuatnya tak bisa bebas bergerak.


"Aku bukan wanita murahan yang menyerahkan tubuh jika menginginkan sesuatu." Jasmine mendorong tubuh Dika dengan bersusah payah.


"Aku hamil Dika, apa mau kau lakukan." Jasmine menjerit-jerit saat tubuh Dika sudah berada di atas tubuhnya.


"Bukan jumlah uang yang sedikit kau menafkahi keluarga pengawal suamimu. Lagi pula kau hamil dan suamimu akan di penjara. Uang dari motel mu pun tak cukup menanggung semua biaya hidupmu Jasmine."


Dika menahan kaki Jasmine dengan kakinya.


Sekuat Jasmine meronta ia tetap kalah dengan tubuh Dika yang semakin kekar, "Aku tidak memaksamu untuk menyerahkan sertifikat tanahku lagi. Lepaskan aku, Dika. kau membuatku takut." Air mata Jasmine mulai menggenang.


Hingga bunyi bell kamarnya membuat Dika berdiri merapikan kemejanya yang berantakan.


Kesempatan ku untuk kabur, aku bodoh sudah masuk di perangkap Dika, mahluk yang menyebalkan.


Dika turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar. Sedangkan Jasmine juga bergegas berdiri menyaut tas minggatnya. Ia sedang menunggu Dika lengah dan pintu kamar terbuka.


Tampak Dika sedang bercakap-cakap dengan servis room yang membawakan makan siang Jasmine.


Dika nampak mencari Jasmine yang tidak ada di ranjangnya.


Sial, kemana dia bersembunyi.


Dika mengibaskan tangannya mengusir room servis dan menarik troli makanan masuk ke dalam kamar. Bersamaan dengan itu Jasmine berlari dengan cepat keluar dari kamar hotel.


Jasmine!!!


Dika menendang troli makanan hingga makanan VIP itu jatuh berserakan.


*


Cieee tambah sebel dengan mas Dika ya. 🤭🤭🤭


Tapi mas Dika baik kok, sungguh. ✌️


Jangan lupa like dan vote yah. Mohon dukungannya untuk karyaku ini.

__ADS_1


__ADS_2