
Hari Senin telah tiba, seperti biasa Jasmine sudah berada di rumahnya sebelum Asmira di antar kembali ke rumahnya. Laki-laki itu akan menjemput Asmira sekolah sekaligus mengembalikan pada ibunya.
"Kau bicara apa dengan Manda kemarin?" Dika yang sudah duduk manis di sofa milik mantan istrinya pun mengajukan pertanyaan yang menjadi dasar kenapa Amanda mengabaikannya selama tiga hari kemarin.
"Aku hanya membicarakan tentang Asmira. Kenapa memangnya?" Jawab Jasmine sambil menahan tawa.
"Apa yang kau bicarakan?" Tanya Dika kembali.
"Kalian bertengkar? Ceritakan padaku apa masalahmu, kenapa kau menuduhku jika aku penyebab marahnya Amanda kepadamu Dika?"
"Jasmine!" Nada Dika mulai meninggi,seakan ia tahu mantan istrinya sedang berkelit.
"Oke-oke, aku jawab. Aku hanya berkata ini." Jasmine sudah akan mencondongkan tubuhnya ke telinga Dika. Tapi Dika menolaknya.
"Jangan berbisik, kau mau menggodaku." Pekik Dika sambil menggeser tubuhnya menjauh dari Jasmine.
"Cih! Untuk apa menggoda laki-laki tidak setia seperti mu." Jasmine membuang muka. "Doggy-style." Jasmine akhirnya menjawab rasa penasaran dika dan jawaban itu membuat wajah Dika memerah padam.
"Kau!" Dika menajamkan sorot matanya.
"Memang kau suka gaya itu kan, Amanda cemburu waktu aku mengatakan itu padanya kemarin Sabtu?" Tanya Jasmine menyelidiki.
"Dia mengabaikan ku."
"Hahaha, kenapa Amanda tidak melakukan itu saja denganmu. Kenapa malah cemburu. Bukannya seharusnya disini aku yang marah dan cemburu ya." Jasmine menertawakan ucapannya sendiri,bodoh!
"Jasmine, kenapa kau tidak mencari laki-laki atau pasangan baru?"
"Kau bodoh atau tak melihatku Dika. Mana ada yang mau dengan janda seperti ku,hamil lagi." Cebik Jasmine sambil memalingkan muka. Rasanya wanita itu masih menyimpan rasa kecewa kepada laki-laki di depannya.
"Hey-hey, maafkan aku Jasmine. Aku tak bermaksud berkata seperti itu."
"Pergilah Dika, terimakasih banyak sudah mengantar Asmira kesini. Terimakasih juga kalian sudah menjaga baik Asmira di rumahmu." Jasmine sudah berdiri, mempersilahkan Dika untuk pulang. Mengusir nya secara halus sambil mengulas sedikit senyuman.
"Jasmine maafkan aku."
**
"Cepat datang kesini, dan masuklah kerumah ku saat anda sudah sampai disini." Jasmine menutup telponnya dengan seseorang.Ia berucap sambil terengah-engah, nafasnya sudah naik-turun tidak karuan. Sudah banyak keringat dingin yang bercucur di dahinya. Rasanya ia sudah siap mengejan untuk ke dua kali dalam hidupnya. Jasmine mau melahirkan.
__ADS_1
Usia kandungan kini sudah masuk akhir trimester tiga, saat-saat melahirkan ia alami sendirian. Tanpa berfikir panjang dia hanya menelpon taksi online untuk mengantarnya ke rumah sakit. Ia tak mungkin menelpon keluarga nya atau bahkan dia. Ayah dari anak yang ia kandung sekarang.
"Bu, Bu Jasmine.....," Seorang pria muda seumuran Raka memanggil nama pemesan taksi online 20 menit yang lalu.
"Ya, ya, tolong kemarilah." Jasmine setengah berteriak.
"Bu jas.....," Mata laki-laki itu terperangah,wanita pemesan taksi online nya adalah ibu yang mau melahirkan.
"Jangan terkejut, tolong bawakan dulu tas-tas ku ya." Minta Jasmine sambil tersenyum nyengir. Ekspresi laki-laki muda di depannya membuat ia menahan tawa. Sungguh lucu,ia menyajikan pandangan untuk orang awan sepertinya.
Laki-laki itu memunguti barang bawaan Jasmine dan memasukannya di dalam bagasi mobilnya. Sekitar 5 menit, laki-laki muda itu sudah kembali di dalam rumah Jasmine.
"Apa anda tidak keberatan jika memapahku?" Jasmine kini sudah tak sanggup lagi menahan rasa malunya, ia sendiri sudah tidak sanggup lagi berdiri sendiri. Punggungnya seperti ingin runtuh seketika.
"Ba-baik." Jawab laki-laki muda sambil mencondongkan tubuhnya, merangkul bahu Jasmine dan membantunya berjalan perlahan.
"Maaf ya jika saya merepotkan Anda. Saya sendiri jadi tidak ada yang membantu saya."
"Tidak apa-apa, sudah tugas saya." Laki-laki itu seperti menangkap guratan rasa sedih di mata Jasmine.
Kini mobil sudah berada di jalanan menebus gelapnya malam, untung waktu sudah menjelang tengah malam. Jadi jalanan tak begitu padat dengan banyak nya kendaraan. Jasmine masih terengah-engah, sesekali ia menarik nafas panjang dan menghembuskan nya. Rasa ngilu sudah menjalar di sekujur tubuhnya.
"Sabar ya Bu, sebentar lagi kita sampai." Supir taksi online itu berusaha menenangkan Jasmine.
"Bukan, ini milik juragan saya."
"Jangan bohong, parfum yang kamu pakai juga bukan parfum yang murah." Saat laki-laki muda membantu memapah Jasmine berjalan tadi, Jasmine tak sengaja menghirup aroma parfum laki-laki yang menjadi sopir taksi online samping nya.
"Hanya pemberian juragan saya juga Bu."
"Bisa lebih cepat, seperti nya sudah ingin keluar!" Jasmine masih menahan rasa sakitnya.
"Jangan melahirkan disini, nanti saya di marahi juragan saya Bu." Laki-laki muda itu mulai panik karena melihat wajah Jasmine yang ingin sekali mengejan.
"Jika juragan mu marah, suruh dia menemui ku. Atau jika kau di pecat juragan mu kau bisa berkerja dengan ku." Jasmine sudah tak bisa berfikir jernih, otaknya hanya di isi dengan kamar bersalin rumah sakit.
"Kita sudah sampai Bu, ayo saya bantu turun." Laki-laki itu sudah turun dari mobil dan membukakan pintu mobil Jasmine, dia kembali memapah Jasmine dan membawanya ke kursi dorong pasien yang berada di depan Selasar rumah sakit.
"Kau bisa menemaniku sampai keluarga ku datang?" Minta Jasmine, karena pasti repot jika tidak ada yang mengurus keperluan ini itu di rumah sakit.
__ADS_1
"Tapi bu, bagaimana jika suami ibu nanti marah?" Dari raut wajah laki-laki muda itu nampak ingin membantu Jasmine, tapi ia sendiri takut jika suami Jasmine nanti salah paham.
"Saya sendiri, tolong saya. Nanti saya kasih bonus untukmu."
"Baiklah." Kini kursi yang ia dorong sudah sampai di depan ruang bersalin. Dokter sudah bersiap untuk membantu Jasmine melahirkan.
"Anda suaminya, apa anda mau menemani istri anda melahirkan?" Kata dokter saat ingin memasuki ruang bersalin sambil mengambil alih kursi roda yang di duduki Jasmine.
"Bukan, saya bukan suaminya." Raut mukanya nampak kaget, tak bisa di bayangkan jika laki-laki itu ikut masuk menemani wanita yg tidak ia kenali sedang melahirkan.
"Yasudah, urus dulu administrasi nya."
"Baik dok." Saat ingin berbalik, Jasmine memangil laki-laki muda itu.
"Kau bisa ambil kartu platinum di tas kecil milikku yang berwarna coklat muda dan tolong bawakan tas-tas perlengkapan ku kesini. Bisakah?"
"Bisa Bu, baik saya urus dulu administrasi nya." Laki-laki muda itu pergi meninggalkan Jasmine yang juga ikut masuk ke dalam ruang bersalin.
Selang satu jam berlalu, keluarga Jasmine datang satu persatu termasuk mantan suaminya, Dika. Namun istri sirinya ikut menemani nya dan tak lupa juga Anak perempuan pertama Jasmine, Asmira. Mereka nampak menunggu di depan ruang bersalin. Semuanya nampak gelisah termasuk sopir muda taksi online tadi, ia masih memegang lekat tas coklat milik Jasmine.
"Bagaimana putri ku." Ayah Kamto masih mondar-mandir, khawatir belum juga terdengar tangisan bayi dalam ruang bersalin.
"Kau, kau siapa?" Hingga kegelisahan menangkap laki-laki yg asing juga berdiri di depan ruang bersalin putrinya.
"Saya hanya sopir taksi online yang membawa Bu Jasmine ke sini."
"Kau.....," Mata pria paruh baya itu menatap lekat-lekat wajah laki-laki di depannya. Hingga tangisan bayi membuyarkan tatapan mata itu. "Terimakasih." Ayah Kamto mengulas senyuman.
"Cucuku." Matanya tampak berbinar, termasuk orang-orang yang menunggu di depan ruang bersalin.
"Manda, anak ku lahir." Mata Dika tampak berbinar-binar ia sambil menggenggam erat tangan istrinya. "Kau juga akan menjadi ibu seperti Jasmine, aku sangat-sangat menunggu."
"Iya mas, selamat ya." Amanda tersenyum.
**
"Siapa ayah bayi ini?" Dokter keluar dengan membawa bayi dalam dekapan nya. Bayi merah berbalut kain biru nampak masih terpejam matanya.
Seseorang maju menghampiri dokter itu, mengulas senyuman. "Saya ayah bayi ini.Bagaimana keadaan wanita di dalam sana?" Tanya laki-laki itu yang tak lain adalah Dika.
__ADS_1
"Baik, silahkan mengadzani nya dulu. Selamat anak anda seorang putra." Dokter itu mengalihkan bayi mungil ke dalam dekapan Dika.