
"Run........" Teriakan dari regu pengintai di bagian depan membuyarkan lamunan Jasmine. Mereka bergerak dengan bringas, berlari dengan terpogoh-pogoh tanpa tahu apa yang mereka pijaki saat ini. Rindangnya pepohonan membuat cahaya rembulan tak mampu menebus menerangi jalanan di sekeliling yang nampak gelap gulita. Hanya lampu senter kepala saja yang menerangi gerak mereka.
Sudah hampir 30 menit Jasmine mengendap-endap di balik semak-semak yang menjulang cukup tinggi. Ia dan kelompok penembaknya berada di barisan kedua setelah baris pengintai. Rumah tua yang menjadi markas gembong narkoba muda itu tampak ramai berdatangan mobil Van,di luar dugaan selama pengintai seminggu lalu ini. Banyaknya bodyguard bertubuh kekar dan penjagaan yang ketat membuat rencana menyusup meringkus gembong muda yang selama satu tahun ini jadi incaran Brandles Wolfgang. Gagal sia-sia.
"Arghhh......." Jasmine menggeram,saat kakinya tersandung akar kayu yang menonjol di balik rimbunnya daun kering yang berserakan. Tubuhnya tersungkur,terjelemab ke atas tanah. "Aww...." Jasmine mengernyitkan dahinya saat salah satu sikunya mengeluarkan darah segar yang mengalir membasahi kemeja Dika yang nampak robek sebelah.
"Kak..... Ayo." Teriak Raka yang sudah berlari mendahului Jasmine. "Pergilah,kakak akan menyusul."
"Tapi kak,mereka akan menangkap kita. Kelompok mereka lebih banyak. Ayo kak..." Raka sudah ingin kembali untuk membantu memapah kakaknya.
"Raka,pergilah. Mereka akan menangkapnya kita berdua jika kau masih disini." Jelas Jasmine,ia tak mungkin ikut berlari karena salah satu kakinya cukup terkilir.
Suara-suara serakan dedaunan dan tapakan kaki terdengar tak lebih dari jarak sepuluh meter. Jarak yang cukup dekat untuk mereka bersembunyi atau berlari.
"Pergilah Raka, kumohon. Jaga Asmira dan Prince." Jasmine menatap penuh harap. "Jangan keras kepala,pergilah. Cepat mereka sudah mendekat."
"Aku akan menjemput kakak, bersembunyilah sampai aku datang kembali." Raka sudah bergegas lari secepat mungkin meninggalkan Jasmine yang sudah menarik tubuhnya di balik pohon besar. Mematikan lampu senternya dan Berlindung di balik pohon tanpa tahu ada apa di sekitarnya.
"semesta semoga kau berpihak padaku,ijinkan aku bertemu dengan anak-anak ku kembali." Jasmine memejamkan matanya sambil mengucap doa-doa dalam batinnya.
__ADS_1
Baru saja ia selesai mengaminkan semua doa-doa nya. Sorot lampu senter menyilaukan matanya. Terdengar tawa mengejek "Kau tertinggal kelompokmu,hahaha." Sungguh tawa itu membuat Jasmine bergidik ngeri,lima orang berperawakan tinggi,berbadan kekar dan rambut yang pelontos itu berjalan menghampiri Jasmine yang duduk terpojok sedang mengatur nafasnya. "Berdiri,atau perlu aku menyeret mu!" Jasmine tak menjawab kata-katanya,ia memilih diam mengikuti saja kemauan pria-pria berambut pelontos.
"Jalan...!" Lagi-lagi pria pelontos itu menaikkan nada suaranya. Sambil mencengkram salah satu bahu Jasmine. Sedangkan Jasmine hanya bisa mengibaskan cengkraman itu. "Kasian sekali kau di tinggal sendirian." Lanjutnya sambil tertawa berbahak-bahak.
"Tolong aku semesta." Jasmine masih bercengkrama dengan pikirannya mungkin inilah firasat buruk yang ia rasakan sebelum memutuskan untuk ikut kembali menjadi mata-mata.
Dahi Jasmine basah kuyup dengan keringat yang menetes tak henti-hentinya.Ia berjalan dengan terpincang-pincang,belum juga ia harus merasakan nyeri di bagian kakinya yang membengkak di balik sepatu boot yang ia kenakan.
Hampir dua puluh menit berjalan, tibalah mereka di rumah tua markas gembong narkoba itu bersembunyi selama ini. Pria itu menarik paksa Jasmine dan menendang lutut bagian belakang Jasmine yang membuat ia langsung tersungkur di lantai yang dingin dan terselimuti banyaknya debu.
"Berlututlah,di depan tuan muda." Pekiknya.
Jasmine melepas senter di kepalanya,melepas topi nya sambil mengibaskan rambut pirang ala iklan sampo yang sedikit berantakan dan melepas masker buff yang ia pakai menutupi wajahnya sedari tadi.
Semua mata terkejut melihatnya,yang tertinggal adalah seorang perempuan.
"Kau kaget melihat ku." Jasmine menyeringai kan senyuman sambil memberanikan diri menatap laki-laki muda di depannya. Ia lebih tampan dari foto yang pernah Raka tunjukkan dulu.
Jasmine berdiri sambil berkacak pinggang. "Apa kalian beraninya hanya dengan seorang wanita,cih !" Jasmine menyunggingkan salah satu sudut bibirnya untuk menyembunyikan rasa takutnya. Bisa saja mereka membunuhnya atau bahkan memperkosa Jasmine saat itu juga.
__ADS_1
"Ikat dia..." Pinta tuan muda yang sedari tadi hanya duduk mengamati Jasmine.
"Ehm....Boleh aku ke kamar mandi sebelum kalian mengikatku?" Permintaan konyol yang membuat tuan muda itu menaikkan salah satu alisnya.
"Jika kau ingin kabur dari sini,percuma saja.Letakkan pistol mu atau aku sendiri yang akan mengambilnya?" Suaranya begitu dingin dan berat.
"Aku tidak membawa pistol." Jasmine masih berkelit. Namun tatapan matanya melihat pria yang di panggil tuan muda itu mengkode salah satu bodyguard nya untuk maju mengecek tubuh Jasmine.
"Jangan sekali-kali menyentuhku,atau kau sendiri yang akan aku tembak." Jasmine mengeluarkan kedua pistol revolver miliknya dan melemparnya di lantai dekat pria muda itu. "Dimana kamar mandinya?" Lanjut Jasmine masih berdiri dengan angkuhnya. Mereka tidak tahu jika Jasmine harus menahan nyeri di bagian dadanya. Payudaranya membengkak penuh dengan asi.
"Sungguh konyol aku harus melakukan ini sendiri." Jasmine sudah berada di kamar mandi sempit dan sedikit berbau Pesing. Ia terus memijat payudara nya untuk mengeluarkan ASI-nya yang sudah memenuhi isi porsi bentuk gumpalan kenyal dan menggairahkan bagi seorang laki-laki.
"Waktumu tinggal lima menit." Pria pelontos itu masih berdiri menjaga Jasmine agar tidak kabur dari markas mereka dan membocorkan lokasi mereka ke polisi atau musuh mafia sekelasnya.
"Cerewet! Sebentar lagi aku keluar." Jasmine mengelap ujung puti*gnya dan menutup lagi bajunya. Ia keluar dari kamar mandi Pesing itu dan mengenakan kemeja army milik Dika yang sudah koyak sikunya.
Jasmine berjalan mendahului si pelontos dan memasuki ruangannya yang masih terlihat tuan muda duduk dengan manis dan angkuhnya.
"Harus kita apakan penyusup ini tuan?" Tanya salah satu bodyguard yang masih setia berdiri di belakang tuan muda.
__ADS_1
"Biar aku yang mengurusnya."