
"Sudah bangun?" Tanya Jasmine saat mendapati Husein sudah Mengerjap-ngerjapkan matanya. Laki-laki itu memegang handuk kecil yang menempel di dahinya.
"Kau terlalu banyak minum, badanmu demam." Jasmine mengambil kompres dan meletakkan pada baki yang berisi air hangat yang sudah mendingin.
Husein terpanah, Jasmine berada tepat di depannya. Jasmine tak memperlakukan Husein seperti seorang kakak. Jasmine berlaku seperti seorang ibu yang merawat anak-anaknya ketika sakit.
Saat tahu Husein sudah terkapar dan mabuk berat, Jasmine meletakkan asal barang belanjaannya. Membereskan semua barang yang Husein tendang seenaknya.
Tak hanya itu, Jasmine juga mengompres dahi Husein dan lebam di wajahnya. Jasmine tak peduli dengan tatapan sinis Bryan yang melihatnya merawat kakaknya. Seakan ia lupa dengan janji yang ia ucapkan tadi, ia lupa karena tertutup rasa luka di hatinya.
"Minumlah jahe hangat ini," Jasmine menyodorkan secangkir teh jahe yang masih mengepulkan asap tipis-tipis.
"Terimakasih," Husein terduyun-duyun mengangkat tubuhnya sendiri, kepalanya masih terasa pening, ingatan visual tubuh Jasmine masih menari-nari liar di benaknya.
Husein menyeruput teh jahenya tanpa mengedipkan matanya, matanya masih terus menatap penuh ke arah Jasmine. "Kenapa menatap ku seperti itu?"
Husein gelagapan, ia menyeruput teh jahenya terlalu banyak, ala hasil dia tersedak.
Jasmine menepuk-nepuk punggung Husein, sejurus dengan itu Bryan menaiki anak tangga. Ia melihat istrinya begitu dekat dengan kakaknya.
"Adikmu sedang marah." Jelas Jasmine pada Husein, "Mandilah dan terus makan, aku akan menyiapkannya."
Jasmine meninggalkan Husein yang masih terpaku dengan halusinasinya. Ia berjalan ke arah Bryan yang menatapnya dengan tajam.
Jasmine melengos. Ia masih berjalan kearah dapur. Bryan mengeekori langkah kaki Jasmine.
"Apa kau menggoda kakak?" Tanya Bryan tanpa basa-basi.
"Kenapa kau slalu menuduhku, aku hanya merawat kakakmu saja. Apa salahnya?" Jasmine tak menatap wajah Bryan. Ia beralih pada bahan masakan di depannya.
"Jelas salah, bagaimana jika kakak menyukaimu dengan kamu merawatnya. Bahkan kakak juga sudah melihat tubuhmu." Pekik Bryan yang tak mengontrol nada bicaranya.
"Mana ada orang yang suka dengan wanita penggoda dan wanita licik seperti ku. Hanya orang yang tidak waras yang menganggapku." Hardik Jasmine, "Kau salah memilihku menjadi istrimu."
"Gak, gak, jaga bicaramu." Bryan frustasi, terus menerus berteriak.
"Lupakan, aku sudah pernah bilang kamu bisa melepasku jika kamu sudah jengah denganku. Sudah aku bilang berkali-kali, jika kau ragu denganku lepaskan aku!" Kini Jasmine yang berteriak.
__ADS_1
Pertengkaran di antara Jasmine dan Bryan tak lepas dari telinga Husein yang mendengar, begitu juga Tria.
"Kemarin murahan , sekarang wanita licik. Hah begitukah caramu menilaiku. Begitukah caramu menghargai seseorang yang berusaha mencintaimu." Jasmine terduduk, dadanya sesak tak terperikan. Pelupuk matanya sudah tergenangi air mata yang sudah ingin meluncur.
"Kau yang memaksa pernikahan ini, kenapa sekarang kau meragukan ku." Jasmine terisak-isak. "Aku tahu ini hanya pernikahan siri, kau bisa dengan mudah menceraikan ku tanpa perlu bersusah payah mengurus anak atau harta gono gini. Kau tak perlu memberiku hak setelah perceraian. Cukup pulangkan saja aku pada orangtuaku." Jasmine menarik tubuhnya menghindari Bryan. Hanya satu tempat yang ia tuju, balkon kamar.
Bryan gelisah, perkataanya ternyata sudah melewati batas. Ia berlari ke arah Jasmine sebelum pintu itu benar-benar tertutup rapat, Bryan sudah berada di bilik kamarnya.
Ia menarik tangan Jasmine, mendekapnya lagi dalam pelukannya. "Aku salah, aku terlalu takut. Maafkan aku." Terdengar isakkan dengan suara parau. "Jangan marah lagi, aku takut."
Jasmine terdiam, mulutnya gagu. Ia sendiri tak tahu harus bicara apa. Luka lama di dadanya masih terlihat menganga, ditambah luka baru yang ia rasakan. Belum juga hatinya bergerak maju, ia sudah kalah bertempur dengan situasi batinnya yang sebenarnya.
"Aku tak akan melepasmu, bahkan dengan kakak sekalipun. Kamu tetap milikku bagaimanapun caranya dan takdir kita nanti. Jangan pernah berharap untuk pulang ke rumah orangtuamu. Jangan pernah berharap pergi dariku, huu.....," Bryan semakin terisak. Wajahnya memerah.
"Maka jaga tutur bicaramu, bukannya fitnah lebih kejam dari pembunuhan." Jelas Jasmine.
"Tapi kamu juga pembunuhan."
"Sudah aku bilang, jaga tutur bicaramu. Tidak sopan, aku lebih tua lima tahun darimu." Jasmine mendorong tubuh Bryan. "Lihat wajahmu, menggelikan. Tidak ada mafia yang merengek meminta sebuah cinta."
"Aku mafia yang akan menghalalkan segara cara untuk memiliki mu."
"Janji dulu, jangan pernah bertindak melebihi batas dengan kakak." Bryan mengikuti langkah Jasmine di walk in close. "Janji dulu."
"Iya iya, aku tahu batasanku."
"Bagus, jangan marah lagi. Kamu seperti mama kalau marah."
"Memangnya kenapa?" Jasmine mengusap wajahnya dengan handuk kecil putih dan bersandar di sisi wastafel menunggu giliran Bryan membasuh mukanya. "Mama tidak pernah marah, sekalinya marah menakutkan. Melihat saja aku tak berani."
"Kapan-kapan aku akan mengajakmu ke rumah mama, papa. Kamu pasti suka."
Jasmine berdehem dan meninggalkan Bryan yang masih mengoceh dengan manisnya. Ia menuju dapur, meneruskan sesuatu yang telah terabaikan.
Setengah kilo ayam yang masih tergeletak menyedihkan.
Jasmine terus berkutat dengan pisaunya, dengan kompor yang sudah menyala ia berperang melawan rasa laparnya. Semerbak bumbu-bumbu sudah menyeruak menyusupi rongga hidung, menyuruh Indra perasa untuk segera menyantapnya.
__ADS_1
Selesai menyiapkan makan malamnya, Jasmine berjalan menuju ruang keluarga. Hanya ada Husein yang masih duduk disana. "Gimana demam mu sudah turun belum?" Tanya Jasmine meyakinkan.
"Masih sedikit pening." Jawab Husein.
"Kenapa minum sebanyak itu?" Jasmine mengetuk-ngetuk meja di depannya. "Lupakan apa yang sudah kamu lihat Husein, lupakan yang terjadi."
Husein tersenyum kecut, "Tidak semudah itu, kau sudah melekatkan tubuhmu sendiri dalam imajinasi ku."
Jasmine menggeleng, "Lupakanlah." Jasmine menghela nafas berat, "Ayo makan, semua sudah siap." Lanjutnya lagi sembari meninggalkan Husein. "Jika dulu aku tahu wanita yang akan melahirkan di mobilku adalah wanita 10 tahun yang menyelamatkan keluargaku sudah jelas aku akan menolak upah darimu dan menjadikan ku ayah untuk anak-anak mu." Sergah Husein.
Jasmine berbalik dan menggelengkan kepalanya, "Jangan pernah mengkhianati adikmu."
Kini giliran Bryan yang mendengar ucapan kakaknya, saat ia sedang ingin mencari Jasmine. Ia tak sengaja mendengar ocehan Husein.
"Kakak juga menaruh harapan."
Bryan menggelengkan kepalanya, dengan cepat ia berbalik menuju meja makan. Selang beberapa menit Jasmine muncul dan memapah tubuh Husein.
"Kenapa kak mabuk?" Tanya Bryan berpura-pura tidak tahu.
"Kakak hanya ingin minum saja," Jawab Husein.
"Sudah ya, aku pusing. Jangan ada ribut-ribut lagi." Jasmine mencoba menengahi.
"Ayo makan, jika lapar bisa merubah Manusia menjadi singa." Cecar Jasmine, ia mengambilkan santapan makan malam untuk Bryan dan juga Husein.
"Kakak bisa makan sendirikan, tidak perlu disuapi kan?" Sindir Bryan terhadap kakaknya.
"Jangan seperti bocah, sudah cepat makan!" Hardik Jasmine, dengan kepala yang sudah mengepulkan asap panas.
"Kakak bisa makan sendiri, jadi tidak perlu kamu suapi."
"Siapa yang mau nyuapin kakakmu, aku juga lapar Bry. Aku mau makan, diamlah saat sedang makan." Pinta Jasmine.
"Hey adik, sudah diamlah aku bisa makan sendiri." Husein mengalah, padahal ia juga mau jika Jasmine ingin menyuapinya.
"Kakak cepat cari istri, jangan ganggu istriku." Cecar Bryan lagi.
__ADS_1
Brakkk!
Jasmine memukul meja makan dan menentengkan tangannya. "Mau makan saja ribet." Jasmine melengos, ia membawa piring makannya pergi dari kedua kakak-adik yang sedang meracau.