
"Aku tahu ini berat untukmu. Menangis lah jika itu membuatmu lega, Jasmine." Dika yang mengikuti jalannya sidang jelas tahu jika keputusan hukuman mati membuat Jasmine dirundung kegelisahan.
"Aku tahu, Dik. Tapi masalah bukan itu saja. Sebulan yang lalu ternyata dia menceraikan ku. Statusku kini ku pertanyaan." Jasmine memijit keningnya.
"Cerai?"
Jasmine mengangguk, "Bacalah, tanyakan pada Dayat. Apa nikah siri, bisa bercerai walau hanya lewat tulisan. Katakan juga saat itu kondisi sedang tidak bisa bicara karena paska kecelakaan."
"Nanti ku tanyakan, apa yang bisa membuat mu menjadi lebih baik. Apa kau butuh waktu sendiri?" Tanya Dika.
"Sebenarnya aku harus melakukan misi lagi, jadi mungkin kau bisa membawa anak-anak."
"Tidak ku ijinkan! tetaplah disini. Anak-anak sudah senang berada di samping mu."
"Ini misi terakhir ku untuk mengurangi hukuman penjara Bryan, Dik. Setelah misi ku selesai. Aku akan vakum dan kembali ke anak-anak."
Jasmine mendekati Dika. "Kali ini saja, setelah itu aku akan fokus berada di belakang mu."
"Baik, kapan kamu akan memulainya?" Dika berdiri menyamakan tinggi dirinya dengan Jasmine.
"Kembalilah, aku tahu kamu sudah berusaha banyak untuk dia. Tapi anak-anak sangat-sangat membutuhkan mu." Dika memeluk Jasmine dan mengelus punggungnya. "Setelah misi selesai, jangan kamu korbankan dirimu lagi terlalu jauh. Banyak orang yang membutuhkan mu dan mencintai mu Jasmine. Termasuk aku, kamu tahu. Aku tidak akan melepas mu sebelum kamu benar-benar bahagia."
Jasmine mengangguk dengan air mata yang sudah membasahi kemeja Dika.
"A---aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Hanya itu yang bisa ku lakukan untuknya. setelah itu aku serahkan semua pada semesta."
"Kamu percaya, tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Jika dia sungguh mencintaimu, dia akan slalu mengingat mu dalam setiap doa-doanya. Itu yang slalu kau katakan padaku dulu."
Tangis Jasmine semakin memecah, dia tidak tahu lagi jika tidak ada keberadaan Dika yang membantunya. Dika membiarkan Jasmine terus menangis dan mengusapkan air matanya di kemejanya.
Hingga suara cempreng dari gadis kecil membuat ke dua orang tua itu menoleh.
"Apa ayah nakal jadi mommy menangis?"
Jasmine mengusap air matanya, "Ayah nakal, ayah mau mengambil kalian dari mommy. Mommy tidak rela, katanya dirumah sepi tidak ada suara gadis lagi merengek minta pizza dan es bobba stroberi."
Asmira menatap ayahnya. "Dirumahkan ada Jeannice ayah. Aku mau disini, aku rindu dengan rumah ini." Asmira masih dengan keras kepala menolak ajakan ayahnya untuk pulang.
"Holiday, Disney...."
Bujuk rayu terakhir yang bisa Dika lakukan.
"Really, ayah tidak bohong?"
Dika mengangguk.
"I'm sorry mom, i wanna go home with Daddy." Jelas Asmira sambil bergelayut manja di gendongan ayahnya.
Sedangkan Prince masih sibuk menarik-narik daster yang Jasmine kenakan.
__ADS_1
"Sebentar ya Prince, mommy mau cari Daddy dulu buat kamu." Jasmine mengecup pipi tembam Prince dan menyerahkannya pada Dika.
Selepas makan siang, Dika membawa kedua anaknya pulang ke rumahnya. Asmira mengecup pipi Jasmine berkali-kali sebagai tanda permintaan maafnya karena lebih memilih liburan dengan ayahnya. Sedangkan Jasmine tersenyum dengan ide konyol Dika.
*
Cinta datang dan pergi silih berganti, tapi cinta sejati akan temukan jalannya lagi. Entah kapan dan dimana jalannya, cinta tak pernah menyesal memilih tempatnya bekerja. Membenamkan pondasi dan kekuatan dengan caranya.
Jasmine masih percaya cintanya akan tumbuh seperti pohon. Akarnya menyimpan banyak air dan daunnya mengandung banyak oksigen.
Dia percaya, jika Bryan akan memanen cintanya nanti. Di waktu yang tepat dengan bunga dan buah yang lebat. Hingga Bryan akan merasa kenyang dengan cinta yang Jasmine miliki.
*
Sudah berminggu-minggu ini Jasmine menghabiskan waktu di jalanan. Menguntit orang-orang yang sudah ada di daftar hitam notebook nya. Jika sudah mendapatkan bukti kuat, Jasmine akan membawanya ke markas dan menyuruh tim penyerang untuk meringkus.
Berkali-kali Raka menyarankan untuk beristirahat, karena semakin hari tubuh Jasmine semakin mengurus. Tapi wanita keras kepala ini masih terus berkilah, masih banyak orang yang harus diselesaikan.
Entah berapa banyak lagi orang-orang yang menunggu giliran mata elang ini mengintai. Tapi mobil sedan putih yang slalu menguntit Jasmine berminggu-minggu ini membuatnya geram.
Ia melajukan mobilnya dengan cepat dan melakukan manuver putar balik dengan cepat. Jasmine keluar dan menodongkan pistol ke arah mobil sedan putih yang terlihat menancap pedal rem secara mendadak.
"Keluar!"
Brak.
Brak.
Brak.
"Keluar!"
Dua orang berbadan tegap itu keluar dan berjalan mendekati Jasmine.
"Apa!" Dua orang itu berkacak pinggang dengan senyum yang aneh.
"Kalian berdua siapa? Aku lihat berminggu-minggu ini kalian menguntit ku!" Jasmine masih menodongkan pistolnya.
"Kami menguntit orang yang sedang menguntit seseorang juga. Paham!" Jelas salah satu orang berkumis tebal itu.
"Suruhan siapa kalian? Apa mau kalian!"
"Rahasia, kami hanya disuruh untuk menguntit wanita keras kepala menyedihkan seperti mu!"
"Siapa suruhan kalian!" Jasmine mulai kehabisan kesabaran.
"Jika kamu mau, ikuti kami. Tuan kami pasti senang bertemu dengan mu."
"Hahaha." Jasmine berbalik arah tak memedulikan dua orang yang mengikuti jejak kakinya.
__ADS_1
"Aku tidak urusan dengan Tuan mu, masih banyak urusanku. Awas jika kau masih menguntit ku."
Kini giliran dua orang itu tertawa, "Kau ini memang wanita keras kepala. Jika bukan karena kami menguntitmu selama ini, kau sudah dihabisi pengawal Edy Santoso Minggu lalu!"
"Kalian tahu?"
"Hahaha! Harusnya kau berterima kasih dengan kami atau tuan kami."
"Siapa tuan kalian, ucapakan terima kasihku untuknya." Jasmine ke dalam mobil dan memutar balik melajukan mobilnya.
Dua orang ini tak tinggal diam, mereka kembali menguntit Jasmine di belakangnya. Hingga kejar-kejaran di jalan tol terjadi.
Jasmine yang sudah lelah dengan pikiran dan hatinya akhirnya memilih berhenti di bahu jalan. Ia membuka kaca mobilnya "Dimana tuanmu?"
"Ikuti kami!"
Jasmine mengangguk. Entah mau dibawa kemana, Jasmine membawa mobilnya dengan tak berselera. Hingga mobil itu tepat berhenti di sebuah hotel.
"Maksudnya apa nih, kenapa di hotel?"
"Dia di kamar nomer 142. Kami hanya mengantar sampai disini."
"Arghhhh. Sialan, kenapa jadinya seperti ini."
Dengan malas ia berjalan menuju kamar 142. Memencet bel kamar dengan tak berselera.
Hingga akhirnya pintu kamar itu terbuka. Jasmine mendapat si darah menyebalkan yang berdiri dengan senyum yang mengembang.
"Menyebalkan!" Jasmine bersandar di ambang pintu.
"Istirahat! Jangan kamu paksa dirimu!" Dika menarik tangan Jasmine memasuki kamar hotel.
"Jangan gila! Aku tidak mau lagi ada drama cinta segitiga."
Wanita itu memilih duduk di sofa, sedangkan Dika berbaring diatas ranjang.
"Istirahat disini. Jangan hanya bermalam di rest area atau di pom bensin."
"Jadi mereka mengadu semua yang ku lakukan?" Tanya Jasmine.
"Sudah pasti!"
"Thanks, Dik. Kamu sudah banyak membantuku." Entah kenapa tubuhnya yang lelah membuatnya dengan mudah terpejam.
Dika membenarkan posisi tidur Jasmine.
Jika aku bisa memilih, aku akan menjadikanmu cinta sejati ku, Jasmine. Tapi sayangnya pengorbananmu untuknya memang tidak main-main. Hanya ini yang bisa ku lakukan untukmu, sebagai ganti rasa yang pernah ku tinggalkan dulu.
Dika keluar dari kamar itu, meninggalkan Jasmine yang sudah terlelap di alam mimpi.
__ADS_1