
Jasmine bangkit dari duduknya, ia berjalan masuk ke dalam kamar, banyak suara tapakan kaki yang berjalan lalu lalang di luar kamar. Jasmine penasaran, ia keluar dan mengikuti arah suaranya. Ruang keluarga yang biasanya tampak lengang dan hanya terlihat seonggok set tempat duduk kini berubah menjadi ruang makan yang sudah tertata rapi. Terlihat banyak bunga baby breath warna putih yang menghiasi meja dan se-bucket bunga mawar merah menghiasi vas kaca berisi air. Indah, Jasmine tak bergeming. Ia berdiri terpaku, "Jadi benar orangtua Bryan akan kemari." Batin Jasmine, saat ia membalikkan badannya. Ia melihat Tria penjaga tangga sudah berdiri lagi di tempatnya.
Jasmine berjalan ke arah Tria, pria penjaga itu menundukkan pandangannya. "Maafkan aku Tria, maaf membuatmu dalam masalah. Aku tak akan lagi memintamu untuk mengizinkanku turun dari tangga ini." Jasmine membungkuk badannya, seraya mengucapkan maaf berkali-kali.
"Maafkan aku nyonya." Batin Tria yang iba melihat Jasmine dengan wajah sembabnya.
"Tuan Bryan hanya berpesan untuk bersiap pukul setengah enam nanti." Lanjut Tria lagi tak bergeming dari tempatnya.
"Baik, sekali lagi maaf." Jasmine membungkuk dan berlalu pergi menuju kamarnya.
"Jadi aku harus bicara apa nanti, Taulah ini sungguh membuatku pusing. Hey daun, jika aku jadi kamu aku akan tumbuh dan berkembang biak tanpa perlu pasangan hidup. Daun kau mendengar suaraku tidak. Daun aku marah, aku kecewa. Kenapa aku sekarang menjadi wanita cengeng. Bukannya aku sudah menyecapi pahitnya kehidupan rumah tangga, aku lelah daun." Jasmine terus berbicara dengan daun calathea zebrina.
Daun janda bolong pun menyeruak dari potnya memberi gagasan yang membuat Jasmine menerawang jauh ke angkasa. "Kau pernah berumah tangga kau tahu mana titik yang perlu kau ambil untuk meyakinkan orangtua suami muda mu itu, kau punya cara kan. Kau berani! Jika orangtuanya tak menyukaimu kan enak, kau jadi bebas keluar dari rumah ini." Daun janda bolong itu pun terdiam sejenak. "Semua sudah digariskan Sang Pencipta, namaku janda bolong pun aku juga tak mengerti kenapa. Jika mau aku memilih menjadi Janda kembang, kenapa harus bolong. Aku paham, janda pasti bolong kenapa perlu diperjelas lagi! Suamimu itu pasti juga sebel kalau kau sering menanyakan kenapa suamimu itu memilih menikahi janda. Kau harusnya beruntung Jasmine. Heh, dengar tidak!" Jasmine tersentak. Daun janda bolong itu tenggelam pada persembunyiannya lagi, tempat paling belakang di antara tanaman berjenis alocasia, algonema, caladium, lidah mertua dan kaktus berduri.
Cahaya sore ini sungguh elok dipandang mata, hanya sebentar saja kau bisa menikmati rona merah cahayanya. Kau harus memicingkan mata menyerap seluruh suka cita didalamnya. Rona berani, rona penuh gairah, rona mentari yang banyak bercerita tentang rindu, tentang rasa yang kau sebut cinta. Ronanya sebentar lagi akan tergantikan oleh cahaya rembulan yang menggantikan pantulannya. Bagaimana bumi bergerak membuat indah cakrawala. Pemburu senja akan selalu siaga dan lagi-lagi banyak penyair yang membalut puisi tentangnya. Tentang Swastamita!
Jasmine menatap rona Swastamita, ia masih terdiam disudutnya. "Mau gimana lagi, ceritakan saja apa yang perlu diceritakan. Mau diterima atau tidak biarkan semesta bicara." Jasmine bergerak menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya, mempercantik dirinya.
Satu jam berlalu, Jasmine sudah siap dengan balutan gaun berwarna maroon, dengan polesan makeup tipis diwajahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.16, ia melihat pintu kamar belum terbuka. Jasmine meremas kedua tangannya yang mengeluarkan keringat dingin. Wajahnya pias, ia gelisah.
"Don't be a sad girl Jasmine." Jasmine menguatkan dirinya sendiri, perdebatannya dengan Bryan siang tadi semakin membuatnya gelisah. Tak ada teman yang berpihak padanya, Ia sendiri memperjuangkan nasibnya.
**
Klekk...., Pintu kamar terbuka, terlihat Bryan mengenakan setelan jas dengan warna senada dengan gaun milik Jasmine. Raut wajahnya datar, bibir merah jambunya hanya mengatup tak bersuara.
Jasmine hanya menundukkan pandangannya, tak berani menatap Bryan.
"Keluar, sudah ditunggu mama, papa dan kakak." Titah Bryan.
__ADS_1
Jasmine mengangguk dan mengeekori langkah Bryan didepannya.
Meja makan yang di sulap ala restoran mahal, Terlihat sudah duduk seorang pria paruh baya, nyonya bersanggul pita dan seorang lainnya tak lain adalah Husein, sopir taksi online dadakan.
Semua mata tertuju pada Jasmine, termasuk wanita bersanggul pita. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya untuk mengajak Jasmine bergabung.
Jasmine yang mendapat lampu hijau pun tersenyum, membungkukkan tubuhnya memberi salam hormat. Ia ikut duduk di samping Bryan.
*
Makan malam berjalan dengan lancar, Jasmine bertingkah seperti biasanya mengambilkan Bryan santapan makan malamnya dan terus mengulas senyum terbaiknya. Mereka tidak tahu, jelas-jelas keringat dingin masih ikut serta dalam permainan ini.
Selesai! Kini perbincangan remeh temeh pun terjadi, Jasmine memandangi Bryan saat Ibunya Rose Mardiani meminta Jasmine untuk memperkenalkan dirinya. Pandangannya pun lari ke Husein, saat Bryan malah acuh terhadap Jasmine.
Husein yang sedari tadi nampak memperhatikan Jasmine yang sedikit berbeda pun hanya bisa mengangguk.
Semua telinga nampak hikmat mendengar presentase jati diri Jasmine. Hingga gebrakan dimeja yang dilakukan oleh Anthony Nicolas membuat Jasmine memundurkan kursinya. Wanita dua anak ini menceritakan tanpa sedikitpun sensor siapa dirinya.
"Baik pa, ayo ke ruangan ku." Ajak Bryan dan diikuti Husein dan Anthony di belakangnya. Mereka memasuki ruangan yang bertuliskan "Jangan masuk kecuali Bryan!"
Berbeda dengan Rose Mardiani, wanita bersanggul pita itu masih tersenyum dan kini langkahnya mendekati Jasmine.
"Betah tinggal disini?" Tanya Rose.
Jasmine menggeleng, "Jika bisa aku lebih memilih tinggal bersama anak-anak ku."
"Apa Bryan tidak pintar bermain diranjang?"
Jasmine mendongkak. Pikirnya pertanyaan macam apa ini, apa perlu dijelaskan juga permainan ranjang putranya.
__ADS_1
Jasmine tersenyum, "Not bad."
Rose tertawa "Lucu ya, aku sendiri tidak tahu harus berterima kasih padamu atau membencimu Jasmine. Kau sudah menyelamatkan ke tiga nyawa orang-orang yang aku sayangi. Tapi, kau juga akan membunuh salah satunya. Ini gila, aku tidak menyangka ada darah pembunuh di tubuhmu."
"Lalu?" Jasmine bertanya.
"Lalu?" Dahi Rose mengerenyit.
"Bukannya kita sesama orangtua? He'emm, anda tahu bagaimana rasanya merindukan buah hati kan. Bagaimana anda merawat putra-putra anda, saya merindukan anak-anak ku. Jika anda tidak menyukai saya. Anda bisa membawa saya keluar dari rumah ini. Dan saya berjanji tidak akan memberi tahu tempat persembunyian ini."
Tawa Rose semakin mengencang, "Hahaha, kau memang wanita pemberani, tidak salah jika Bryan memilihmu, dia butuh wanita berdarah dingin sepertimu. Selama 10 tahun, Kau tahu putraku sudah menunggumu selama itu. Aku tak masalah jika Bryan menikahi seorang wanita beranak dua, yang jadi masalah jika kau Nona Jasmine tidak bisa memberikan hatimu untuk putraku."
Jasmine tersentak, "Jadi anda merestuiku menjadi istri siri Bryan?"
Tawa Rose berangsur menyurut, lantas ia menggenggam tangan Jasmine. "Mama tidak bisa membantumu keluar dari sini, bukannya Bryan juga sudah menjamin anak-anakmu akan baik-baik saja. Terimalah putraku, dia sudah menunggumu. Dia slalu merindukan wanita yang menyelamatkan nyawanya waktu dulu. Terimalah putraku, mama tahu ini sulit untukmu."
Rose memeluk Jasmine, bersamaan dengan itu pintu bertuliskan "Jangan masuk kecuali Bryan!" terbuka. Tiga pria mafia ini keluar dengan wajah yang sumringah.
Jasmine semakin tertegun. Saat Anthony Nicolas juga memeluk Jasmine bergabung dengan Rose Mardiani.
"Jadi apa papa akan mempunyai cucu lagi?" Anthony tertawa, "Pa, jangan menggoda Bryan nanti malu." Tukas Rose sambil melepas pelukannya.
Makan malam berakhir dengan kemenangan telak untuk Bryan, Jasmine semakin terkekang. Selepas ia mengantar Orangtua Bryan dan Husein keluar rumah. Jasmine kembali memasuki kamarnya. Melepas gaun malamnya dan berganti dengan baju tidur. Lagi-lagi wanita itu mendengus kesal dengan model baju tidur yang sedikit seronok dan menggoda. "Astaga siapa yang memilih baju ini, menggelikan."
Jasmine mengembalikan baju tidur berwarna putih, ia menaruh pilihannya pada baju tidur berwarna hitam dengan bahan satin dan belahan tinggi. Menggoda ; Ia mengambil selimut di dalam lemari dan memilih tidur di sofa.
***
Terimakasih untuk para pembaca yang bertambah 5x lipat dari biasanya. Aku senang bukan main, terimakasih sudah berkunjung dan terus mendukung karyaku.
__ADS_1
Happy reading 😊 terus pantau perkembangan kisah cinta Bryan dan Jasmine ya 💛💛💛
Â