
Malam harinya Jasmine hanya membolak-balik amplop putih yang ia taruh di atas meja.
Di sampul amplop itu tertulis sebuah kalimat, "Jangan dibuka sebelum aku pergi."
Rasa penasaran Jasmine mengoyahkan segalanya, tapi ia memilih memasukan surat itu kedalam tasnya. Ia kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap hampa tinggi nya atap dalam lamunan panjang berujung pejaman mata.
Sedangkan malam itu Bryan dan keluarganya di tempatkan di ruang khusus, lebih istimewa dari ruang-ruangan lainnya.
Pagi harinya sang Surya nampak bersinar dengan terangnya. Sebagian anggota tim bergerak membereskan sampah-sampah sisa pesta semalam.
Sebagian tim lainnya mengantar kepulangan keluarga para bodyguard. Nampak getir, sendu dan haru. Botak yang paling terlihat tegar berusaha menyemangati teman-temannya. Berusaha menghibur anak-anak yang merengek meminta ayahnya untuk cepat pulang.
Dari balik jendela, Jasmine melihat semua yang terjadi, ia tak berani keluar kamar dan melihat banyaknya air mata yang menetes pagi ini.
Selang beberapa jam kemudian, mobil iring-iringan pihak negara datang, membawa satu buah bus besar.
Para tersangka sudah berdiri berjajar rapi di depan gudang dengan tangan yang terlilit borgol. Mereka berdiri dan saling memakai topeng. Tak ada yang tahu identitas mereka selain pihak Brandles Wolfgang dan pihak negara nantinya.
Semua anggota Brandles Wolfgang bersiap dengan pakaian khusus dengan senjata api di tangan mereka.
Wartawan juga sudah memadati area luar gudang. Memotret semua yang terjadi, penyerahan tersangka dalam kasus kepemilikan narkoba dan senjata ilegal terbesar di Indonesia.
Jasmine berdiri, bersikap acuh terhadap Bryan. Mereka berdua sama sekali tak tegur sapa atau saling menatap. Hanya sesekali Jasmine dan Bryan saling melirik.
Ini tidak mudah, jika bukan karena tanggung jawab ku. Aku pasti sudah berhamburan memeluk tubuhmu dengan erat. Tak akan ku biarkan semesta memisahkan kita.
Jasmine berdiri, melihat satu persatu pengawal Bryan masuk ke dalam bus bertuliskan "Tahanan Negara"
Hingga akhirnya Bryan dan Husein yang terakhir masuk ke dalam bus itu. Mata Jasmine tak lepas memandangi Bryan. Sedetik dua detik, mata mereka menyatu. Terpancar binar-binar yang menyulitkan. Binar-binar keputusasaan, kepedihan.
Bus itu perlahan melesat meninggalkan gudang, sedangkan wartawan meringsek masuk mencari keberadaan Jasmine yang meneteskan air matanya p-e-r-l-a-h-a-n.
"Kenapa kakak menangis, apa kakak terlibat cinta lokasi dengan laki-laki yang duduk di kursi roda tadi. Saya lihat sedari tadi kakak menatapnya."
"Ya, tadi saya merekam jika kakak tak lepas dari laki-laki yang duduk di kursi roda....,"
"Apa benar kakak terlibat cinta lokasi dengan tersangka tadi, ini akan menjadi berita heboh jika memang demikian terjadi....,"
Raka yang melihat Jasmine tak bergeming dari tempatnya berdiri sejak tadi. Berusaha menyadarkan lamunan kakaknya, menghapus air matanya dan tersenyum melihat wartawan.
__ADS_1
"Jika menyangkut urusan pribadi kakak, kalian sudah tahu kan harus melakukan apa. Fee 50% dari hasil peliputan berita." Raka memapah tubuh Jasmine yang sudah hilang keseimbangan.
Wartawan hanya saling melempar pandang melihat Jasmine yang nyaris pingsan di depan mereka.
Sedangkan di bus tahanan.
Bryan hanya menatap kaca jendela, dengan wajah yang tak tentu arah. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang.
Hingga Husein yang menyadari kerapuhan hati adiknya hanya bisa memeluk adiknya, "Kuatlah dan jadi Bryan yang menyebalkan seperti dulu."
Bryan yang tak bisa lagi membendung air matanya, akhirnya jatuh terisak di pelukan Husein.
"Menangislah, jika itu bisa membuatmu lega. Tapi berjanjilah pada kakakmu ini, setelah ini kau akan kembali menjadi Bryan yang menyebalkan. Dia akan slalu mencintaimu dan menunggu mu." Tepukan terus Husein lakukan di punggung Bryan.
*
Malam harinya di markas besar, Jasmine mengurung diri di dalam kamar, kembali membolak-balik amplop surat dari Bryan.
Entah apa isinya Jasmine masih tak ingin membukanya. Ia hanya berfikir bagaimana cara menemui Bryan dengan status yang mereka sembunyikan.
Jasmine yang tak ingin larut dari kesedihan,. memutuskan untuk keluar kamar. Mencari Candra untuk mempertegas perintahnya tempo lalu.
"Kapan sidangnya, Cand?"
"Cand, apa mereka sudah memiliki pengacara?"
"Husein pernah bilang jika mereka memiliki saudara yang menjadi pengacara. Semoga dia bisa membantu. Non, jangan sedih."
"Enak lu bicara, Cand. Bahkan saat berpisah saja aku tidak bisa memeluknya. Mencium bibir merah jambunya. Kau tahu kan aku masih belum bisa melepas baik-baik hubungan ku dan dia. Meskipun hanya siri tapi dia baik, Cand. Lebih baik dari Dika."
"Mau aku kasih back sound untuk menemani hari-harimu gak, Non."
"Apa'an." Jasmine mendaratkan bokongnya disofa sembari melihat Candra memilih playlist musik di layar lebar.
Kularut luruh dalam keheningan hatimu
Jatuh bersama derasnya tetes air mata
Kau benamkan wajahmu yang berteduhkan duka
__ADS_1
Melagukan kepedihan di dalam jiwamu
( Padi - Rapuh )
"Ini lagu galauku, Non." Candra mendekati Jasmine.
"Cih! Hatimu bisa rapuh juga, Cand." Jasmine tersenyum-senyum sembari menghayati lagunya.
"Banyak pengorbanan yang aku lakukan untuk mendapatkan restu dari mertuaku, Non." Candra menatap awang-awang. "Mereka tidak tahu jika aku seorang Intel, aku menyembunyikan statusku."
Candra tersenyum, "Sampai saat ini mereka tidak tahu. Yang mereka tahu hanyalah aku yang memiliki usaha servis elektronik. Makanya mereka tidak merestui."
"Lalu, jika mertuamu dulu tidak merestuimu. Apa yang akan kamu lakukan, Cand?" Tanya Jasmine penasaran.
"Opsi terakhir, aku akan membuka kedok ku yang sebenarnya. Tapi, usahaku berbuah hasil Non. Usahaku semakin hari semakin maju dan usaha ku mendekati mereka bertiga tak sia-sia."
"Lalu, urusannya dengan ku apa, Cand?"
Candra tertawa ringan. "Semakin besar usaha yang kita lakukan, semakin besar juga hasil yang kita dapat. Jangan pandang hasilnya, tapi semua yang Non Jasmine lakukan adalah hal baik. Percayalah, nanti jika saatnya tiba. Semua akan terasa lebih manis. Bersabarlah." Candra menepuk bahu Jasmine, kembali beralih menatap layar besar di depannya.
Jasmine memikirkan ucapan Candra, "Lebih manis gimana, bahkan keputusan sidang saja belum juga pasti."
"Sabar, nanti biar kami mengikuti semua sidang yang digelar pengadilan. Kami mengusahakan yang terbaik."
"Cand, kalau reward cair jangan lupa pesanku kemarin. Utamakan yang neneknya membutuhkan perawatan khusus. Setelah itu biar ku pikirkan bagaimana caranya mencari donatur untuk panti asuhan dan keluarga pengawal bulan berikutnya." Jasmine memijit keningnya.
"Kenapa tidak minta mantan suamimu aja, Non. Bahkan pendapatan satu bulan saja dia bisa mencapai 1 M."
Jelas Candra yang membuat Jasmine terkejut. "Tahu dari mana jika sebulan dia dapat 1 M, Cand. Apa kalian masih menguntitnya?"
"Sesuai perintah ketua, Non." Candra mengangguk.
"Lalu, darimana video di basemant itu tersebar?"
"Mantan suamimu lah, siapa lagi."
"Cand, apa kalian juga tahu tragedi kamar 228?" Tanya Jasmine menyelidik.
"Rahasia."
__ADS_1
Dika, Dika. Apa iya aku harus minta tolong padanya. Ah, aku tidak mau jika dia akan berniat memperkosaku lagi. Tapi, bukannya dia dapat pahala jika dia menjadi donatur anak-anak di panti asuhan.
Jasmine menggeram. Kebingungan melanda hatinya yang kalut.