Kiss The Rain

Kiss The Rain
Damai


__ADS_3

Tiga bulan sudah Jasmine menjalani kesendiriannya. Melewati hari-hari tanpa seorang kekasih hati yang menemani dan memberi ciuman selamat pagi. Jasmine tersenyum,saat sebuah tangan kecil memeluk kaki jenjangnya. Asmira gadis kecil berusia enam tahun itu kini tumbuh menjadi gadis yang cantik dan penyayang. "Mommy, kata ayah aku akan mempunyai dua adik, benarkah?" Pertanyaan polos keluar dari mulut kecilnya.


"Kau senang kan akan mempunyai dua adik, berjanjilah pada mommy kau akan menjaga adik-adik mu nanti." Jasmine mengusap-usap rambut ikal putrinya. Semakin besar rambut ikal putrinya semakin terlihat jelas.


"Baik mommy Mira janji." Sambil mengangkat jari kelingking mungilnya dan menautkan pada jari kelingking milik ibunya.


"Pintar sekali anak mommy yang cantik ini." Jasmine mencondongkan tubuhnya mencium kening putrinya.


"Mommy, dirumah ayah ada ibu hamil seperti mommy. Kata ayah,dia juga akan menjadi ibuku.Ehm....," Asmira sejenak memikirkan sesuatu.


"Benarkah, apa dia baik kepadamu? Apa dia juga membuatkan mu susu coklat seperti mommy?" Tanya Jasmine sedikit menyelidiki, ia tahu putrinya tak akan berbohong.


"Iya mommy, dia slalu menceritakan dongeng untuk ku sebelum tidur. Dan dia juga pintar membuat susu coklat yang enak seperti buatan mommy." Jelas sekali tak ada raut wajah kebohongan, bukankah anak kecil slalu berkata jujur dan belum pandai berbohong.


"Baguslah, kau juga menyayanginya Mira?"


"Entah mommy, tapi ibu itu juga tidur dengan ayah di sebelahku. Ehm....," Lagi-lagi Mira seperti memikirkan sesuatu.


"Bukannya mommy juga harus tidur bersama ayah ya. Kenapa Ayah tak pernah tidur disini?" Lanjutnya.


Seperti panah yang menghujam dada Jasmine. Bagaimana ia harus menceritakan sejujurnya pada putrinya bahwa kenyataan dirinya dan ayah Asmira sudah berpisah sejak 4 bulan yang lalu.


Kini kandungan Jasmine sudah menginjak trimester kedua. Tepatnya 22 minggu. Sudah terlihat tonjolan di perut bawahnya. Tak pernah ada kekecewaan yang mendalam,Dika slalu tak pernah absen mengirimkan berbagai susu ibu hamil dan buah-buahan segar. Sudah hampir 3 bulan juga Dika resmi menikah dengan Amanda walaupun secara sirih.

__ADS_1


Laki-laki pemilik dua hati itu lebih membatasi dirinya saat bertemu dengan Jasmine. Sama seperti saat Jasmine dan Dika dulu hanya seorang teman. Hanya sebatas mengobrol soal Asmira dan perkembangan janin yang ada di rahim Jasmine. Jasmine tak pernah merasa keberatan dengan perlakuan Dika sekarang. Mungkin pria itu kini sudah benar-benar menautkan hatinya pada satu tuju. Hati seorang gadis malang yang menunggu nya sejak lama, Amanda Soedarjo.


"Ayo sayang, bersiaplah. Mommy akan mengantarmu ke rumah Opa lambang. Kau ingin berkuda kan?" Jasmine selesai membereskan baju seragam Asmira dan buku-buku pelajaran untuk hari Senin. Sebuah koper mini berwarna pink dan bergambar unicorn kini sudah bertengger di sofa biru muda kamarnya.


"Ya, mommy." Asmira berjalan menghampiri ibunya. "Hay adik kecil, kakak akan merindukan mu." Lanjutnya sambil mengusap dan menciumi perut ibunya.


"Mommy harus bertemu dengan ibu hamil disana. Okeyyy."


"Apa yang harus aku katakan pada anak kecil ini, oh tuhan." Batin Jasmine sambil mengusap wajahnya.


"Baiklah, mommy akan bertemu ibu hamil itu." Jasmine mengangguk. " Ayo turun, biar mommy yang menderek koper mu." Titah Jasmine.


*


Setibanya di rumah Dika, Jasmine menatap keseluruhan rumah yang pernah ia tempati dulu. Cat warna yang sudah berubah dan tumbangnya pohon kelengkeng yang menjadi rumah Miss K. Sesaat senyum Jasmine mengembang saat ingatannya berlalu pada masa-masa pacaran dulu. Saat pertama kalinya ia melihat penampakan di rumah Dika.


"Kak, kak, heyy...," Suara lembut seorang wanita.


"Ehm.... eh, Manda." Senyuman Jasmine tersungging sempurna.


"Kakak melamun?" Tanyanya sambil mengijinkan Jasmine masuk ke dalam rumahnya.


"Tidak,ehmm..., Kau sendiri di rumah?" Tanya Jasmine saat tak melihat Dika di dalam sana.

__ADS_1


"Iya kak, mas Dika lagi di toko." Jelas Amanda.


"Baiklah, aku hanya mengantar Asmira kesini. Dia sudah bercerita banyak tentangmu. Terimakasih kau sudah menjaganya dan maaf jika dia merepotkan mu." Jasmine masih berusaha tersenyum, ia melihat begitu banyak perubahan di rumah Dika. Ornamen dan hiasan rumah itu jadi lebih girly dan kalem. Tak seperti saat Jasmine tinggal di rumah itu yang lebih terlihat cold dan manly.


"Sudah seharusnya aku menjaga Asmira seperti anak ku sendiri kak. Dan kakak juga harus menganggap anak ku dan Dika seperti anak kakak sendiri, Bisakah?" Tangan Amanda kini sudah menggenggam tangan Jasmine.


"Mungkin hari ini kita bisa bicara sesama seorang wanita." Lanjut Amanda.


"Aku tahu antara aku dan Dika adalah sebuah kesalahan. Tak sepantasnya aku berbuat seperti itu padamu,jelas disini kakak yang tersakiti. Maafkan kekhilafan ku." Mata Amanda sudah tergenangi cairan bening yang siap meluncur.


"Hey sudahlah, jangan menangis. Jika orang lihat nanti dikira aku menyakiti mu." Jasmine mulai menjawab semua ketakutan Amanda.


"Biarkan semesta seperti ini, semesta tahu mana yang baik untukku dan untukmu. Aku sudah mengikhlaskan semuanya Manda. Percaya lah, Dika kini hanya milikmu." Jasmine mengeratkan genggaman tangan Amanda.


"Jagalah dika." Jasmine beralih memeluk Amanda hingga air matanya menetes perlahan.


"Terimakasih kak, aku akan menjaganya." Amanda membalas pelukan Jasmine dengan erat. Tak ada perselisihan lagi di antar wanita yang pernah mengisi hati Dika Andrea Bhagawanta.


"Aku memasang GPS di mobilnya, jika mobil Dika belum ganti, kau bisa mengeceknya nanti."


"GPS?" Dahi Amanda mengerenyit heran.


"Hahaha, itu salah satu trik untuk memata-matai suamiku dulu, Kau tahu?"

__ADS_1


"Kak!?" Suara Amanda memekik.


"Wkwkwk, sudah ya aku pamit. Ingat Dika suka sekali dengan gaya ini.'' Jasmine membisikan sesuatu yang membuat pipi Amanda memerah panas.


__ADS_2