
Bukan kah tidak ada yang baik-baik saja dalam sebuah perpisahan.
Seminggu berlalu setelah kejadian itu, Jasmine berdiri di gedung mall Bhagawanta. Tempat ia akan bertemu dengan mantan suaminya.
Tiga hari yang lalu, Jasmine memutuskan untuk menemui Dika. Keputusan yang teramat sangat berat untuk ia pilih.
Banyak hal yang perlu diperhatikan, terlebih banyak sekali tanggung jawab yang ia pikul.
Ruangan Dika ada lantai paling atas. Tempat dimana berjajar dengan kamar hotel miliknya.
Tidak ada niat apa pun, selain ia hanya mau meminta bantuan pada nya.
Jasmine berdiri di depan meja resepsionis. Dea yang masih bekerja dengan Dika dan berita tentang Jasmine yang berhembus di media sosial jika ia adalah wanita di masa lalu bosnya, hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
"Pak Dika ada di ruangan paling ujung, Nyonya."
Nyonya, hahaha.
Jasmine tersenyum dan mengangguk, Wajahnya pias.
Tepat di pintu bertuliskan Ruangan Khusus itu Jasmine mengetuk pintunya. Selang berapa menit. Dika keluar, menggunakan tuksedo dan baju kerjanya yang rapi.
Dia berbeda sekali, biasanya dulu hanya menggunakan celana jeans, jaket hitam dan sneaker. Lihatlah sekarang, pake celana formal, sepatu fantofel, berdasi. Kemana Bad boy yang ku kenal dulu.
Jasmine yang terpesona melihat tampilan Dika yang luar biasa berbeda ini hanya diam berdiri sembari melamun.
Lucunya lagi, Dika malah menyukai tingkah
konyol mantan istrinya.
"Melamun?" Dika menepuk bahu Jasmine.
"Hah...," Ingatannya menguap ke udara. Jasmine tersenyum.
"Aku mau bicara padamu." Bukannya menatap wajah Dika, Jasmine malah mengedarkan pandangannya.
"Mencari siapa? Ayo masuk." Dika menarik tangan Jasmine dan mengajaknya duduk di sofa berwarna hitam. Nuansa ruangan Dika sangatlah laki, tidak ada warna cerah. Hanya warna monokrom dengan tata ruang yang manly.
"Sudah berani menemui ku disini, apa kau tidak takut lagi dengan ku." Dika menggengam tangan Jasmine, sedangkan Jasmine membiarkan tautan itu bertahan.
"Kenapa semua orang yang aku sayangi pergi meninggalkan ku." Jasmine menggengam tangan Dika semakin erat.
"Aku kehilanganmu, Prince tidak mengingat ku. Sedangkan seminggu yang lalu aku harus berpisah dengan suamiku. Dika, kau tahu. Bahkan aku kehilangan bayi yang akan menyatukan hubungan ku dan Bryan."
Jasmine menatapnya dengan tatapan penuh harap, sendu dan air mata yang menggenggam. "Kenapa semua orang meninggalkan ku Dika, apa salahku."
Dika yang tak mengerti harus berbuat apa, hanya menyandarkan kepalanya Jasmine ke dalam dadanya. Mendekapnya, "Menangislah."
Sungguh aku tidak bermaksud menyakiti mu Amanda, tapi aku harus melakukan drama ini.
__ADS_1
Jasmine mengeratkan pelukannya, "Apa memang tidak ada orang yang mencintaiku dengan tulus. Apa kamu juga sudah tidak mencintaiku, Dika?"
Jasmine menatap Dika, dengan deraian air mata.
"Berhentilah menangis, apa kamu kesini hanya ingin mengadu dan kesepian." Dika merapikan rambut Jasmine yang menutupi wajahnya.
"Hanya kamu tempat yang ingin aku temui sekarang. Suamiku menjadi nara pidana, hubungan ku dan dia, akupun tak tahu harus bagaimana."
Dika mengambil tisu dan mengeringkan air mata buaya Jasmine.
"Apa maumu, Jasmine."
Cih! Dia seperti tahu saja aku sedang bersandiwara.
"Huh...., sungguh tak mudah menipumu lagi, Dika."
Jasmine mengambil sertifikat tanah panti asuhan milik keluarga Bryan.
"Belilah tanah ini, aku tahu uangmu banyak."
Dika mengambil alih sertifikat tanah yang di pegang Jasmine, ia membacanya dengan teliti dan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Hanya ini, tidak lebih."
"Tidak lebih maksudnya?"
"Apa yang ku dapat jika aku membeli tanah panti asuhan itu?"
Jelas Jasmine yang membuat Dika tertawa.
"Jasmine, Jasmine. Kau sudah 34 tahun tapi masih saja tidak pintar." Dika menganggat dagu Jasmine.
"Aku bisa membeli tanah itu ataupun menjadi donatur utama di sana. Aku tidak peduli dengan pahala atau apapun yang kau sebut tadi. Tapi bukankah ada harga yang harus dibayar."
"Dika yang ku kenal dulu tidak seperti ini." Jasmine menggengam tangan Dika, menatap dalam.
"Dika, kau tahu. Bukannya aku mau mengiba dengan mu untuk membeli tanah panti asuhan ini, ada 200 anak lebih dan pengasuh disana. Sedangkan donatur utamanya tidak ada. Banyak hal yang perlu aku perhatikan selain ini. Bahkan terkadang aku lupa untuk memperhatikan diriku sendiri. Kali ini saja, bantulah aku sebagai ganti dari rasa sakit yang kau tinggalkan dulu."
Jasmine kembali menangis, memukul-mukul dada Dika. Laki-laki itu tidak melawan, atau menghentikan pukulan yang semakin lama semakin menyerikan.
"Aku melakukan ini untuk tanggung jawabku, sebagai ganti tanggung jawab yang suamiku tinggalkan. Jika kau mau, kau bisa memperkosaku sekarang. Lakukan yang kau mau, sebagai ganti tempo lalu saat aku kabur darimu. Tolonglah aku kali ini saja."
Bersamaan dengan itu Jasmine mengehentikan pukulannya. Dika menangkup tubuh Jasmine.
"Janganlah seperti ini, janganlah terlihat menyedihkan di hadapan ku Jasmine. Aku akan membantumu, simpanlah lagi sertifikat tanah itu."
"Kau sedang tidak bercanda?" Suaranya yang serak membuat Dika menahan tawa, suara itu seperti suara saat-saat mereka sedang bercengkrama di atas ranjang.
"Tidak, berhentilah menangis." Dika menghapus air mata Jasmine.
__ADS_1
"Tidak ada syarat yang harus ku bayar? Kau juga tidak ingin memperkosa ku?"
Pertanyaan Jasmine membuatnya tertawa.
"Aku punya Manda di rumah, jika aku mau. Aku bisa memperkosanya nanti." Dika menjawab dengan entengnya. Dengan sungging senyum yang membuatnya semakin terlihat manis.
"Lalu? Kau ikhlas melakukannya untuk ku?"
"Iya, hanya ada satu syarat nya?"
Dahi Jasmine berkerut, "Katanya tidak ada. Ayo katakan."
"Jadilah pemilik kedua mall Bhagawanta. Mall di jalan Adipura dibangun atas nama mu sebagai warisan yang ayahku berikan."
Dengan begitu aku akan slalu ada alasan bertemu dengan mu, dengan dalih membicarakan pekerjaan.
Dika tersenyum penuh arti.
"Kalau begitu aku tidak perlu meminta bantuan mu, tinggal kau berikan saja keuntungan itu untuk ku." Bibir Jasmine mengerucut.
"Tidak semudah itu, kau dulu pernah bilang tanah warisan dari ayah untuk anak-anak. Jadi aku simpan keuntungan itu di tabungan atas nama anak-anak kita."
"Baiklah, tapi aku tidak paham soal bisnis. Jika kau memintaku untuk menyelidiki kasus lain dan memata-matai pemegang saham yang menyeleweng aku pastikan aku bisa membantumu."
"Baiklah, kapan kau akan mengajak ku ke panti asuhan milik suamimu?" Tanya Dika.
"Entah, besok sidang pertama. Jadi mungkin lusa kita bisa kesana." Jawab Jasmine yang berakhir sunggingan di bibir Dika.
"Baiklah, besok aku siapkan berkas-berkas untukmu dan sertifikat tanahnya. Jadi, kita akan menjadi partner bisnis." Dika menjabat tangan Jasmine.
Cih! dimana akal sehatmu Dika, kau pikir aku tidak tahu rencanamu.
"Oke, pastikan saja Amanda tidak marah dengan keputusan mu." Jasmine tersenyum kecut.
"Mall ini juga atas nama Amanda, hanya saja dia tidak tahu." Jelas Dika yang membuat Jasmine tak habis pikir.
"Jadi kau tidak punya apa-apa?"
"Hahaha, yang penting kan aku sudah dua kali mencicipi perawan."
Bugh...., pukulan dari sertifikat tanah yang Jasmine gulung mendarat di kepala Dika.
Keduanya terkekeh bersama.
*
Masihkah pada membenci mas Dika ku.
Mas Dika akan slalu ada. Jadi,
__ADS_1
Jangan benci nanti jadi cinta 🤣🤣🤣