
Berkali-kali benturan terjadi di mobil bagian belakang. Karena asik mengobrol, Bryan dan Jasmine tak menyadari, bahwa mobil hitam yang mengikutinya sudah berganti dengan mobil Van berbeda orang.
"Brengsek!!" Bryan membanting stir ke arah kanan dan menancap pedal gas menjauhi Van hitam yang membuntutinya.
"Siapa mereka, dimana para pengawal." Jasmine berkali-kali menoleh ke arah belakang, mobil hitam itu masih terus mengejar mereka.
"Telepon Botak."
Bryan melempar ponsel nya ke arah Jasmine.
"Siapa nama kontaknya? Bagaimana cara membukanya, ini harus pakai password."
Bryan memelankan laju mobilnya, "Tanggal pernikahan kita." Ucapnya cepat.
"Berapa?"
"28-05-2013"
"Cepat telepon Botak."
"Ya."
Dengan teliti Jasmine mencari kontak bernama Botak.
"Dimana? Kenapa lengah!!!"
Tanya Jasmine dengan nada mengebu-gebu. Kepanikan membuatnya hilang kendali.
"Dimana kalian, jawab aku!!!"
(......)
"Brengsek, bedebah kecil itu memulai perang. Dia tidak tahu siapa diriku."
Jasmine melempar ponsel Bryan. Nafasnya naik turun, sebuah amarah bergemuruh di dalam dadanya.
Kebut-kebutan di jalanan semakin liar saat mobil itu memasuki area jalan tol.
"Brengsek, dia mau menggagalkan rencana ku hari ini." Umpatan lagi keluar dari mulut Jasmine, sesuatu sudah menyulut api yang sengaja ia padamkan selama ini.
"Dia siapa, lalu dimana Botak dan lainnya?" Tanya Bryan sambil mengamati jalanan di depannya.
"Botak dan lainnya di hadang kelompok Fox Adois, dan yang dibelakang kita itu Shally."
"Shally?"
Jasmine mengangguk.
Bryan mencengkeram kemudi erat-erat. Guratan marah terlihat diwajahnya.
"Jangan memasuki area lintas selatan, masuk lagi ke area kota." Pekik Jasmine.
"Kenapa?"
"Tidak akan ada orang disana. ikuti perintah ku, masuki area kota."
Bryan mengangguk, Naas saat berbelok. Tubrukan lagi dari arah belakang membuat mobil Bryan oleng ke kanan.
Kepulan asap keluar dari kap mobil depan. Guncangan hebat membuat Bryan kehilangan kesadaran. Sedangkan Jasmine yang berada di sisi kiri mengalami pendarahan di bagian kepala. Perutnya terasa kram, darah segar juga mengalir di siku bagian kanan.
"Bangun, Bryan. Bangun." Panggilnya lirih.
Dengan kepala pening dan badan yang terasa berat, Jasmine bersusah payah untuk keluar mobil meminta bantuan.
Shally berdiri sambil menarik sudut bibirnya melihat Jasmine dengan sempoyongan keluar mobil. Melompat kecil dan mengusap darah segar yang menetes di pelipis mata.
"Bajing kecil!" Jasmine tersenyum kaku.
"Serahkan Bryan kepadaku atau dia akan mati!" Ucap Shally sambil matanya menyuruh pengawalnya mengangkat mobil Bryan yang terjatuh miring.
Jasmine tampak berfikir sebentar, berkali-kali ia menatap banyak darah yang mengalir di kepala dan hidung Bryan. Terlambat sedikit saja, Bryan benar-benar tiada.
Jasmine tersenyum kecut, "Ambilah Bryan, bajing kecil! Dia hanya BEKASKU."
Dengan tertatih-tatih Jasmine menyingkir dari mobil yang ringsek di bagian kanan, tepat dimana Bryan jatuh pingsan.
Shally tersenyum, "Jangan harap bertemu Bryan setelah ini!" Nadanya sumbang, guratan khawatir juga terlihat dari wajahnya.
Shally pergi memberi perintah pada pengawalnya untuk menarik Bryan.
Nyawamu lebih berarti dari apapun, pergilah Bryan. Berjanjilah untuk menungguku,
Aku akan menjemputmu nanti.
Jasmine menyeka air di sudut matanya.
Beberapa saat, tubuh Bryan berhasil di keluarkan dari mobil. Dua orang pengawal Shally memasukannya dalam mobil yang mereka bawa. Mereka pergi meninggalkan Jasmine yang meraung-raung. Isakkan tangisnya semakin mengeras, saat mobil yang di tumpangi suaminya perlahan menjauh.
__ADS_1
Bajing kecil, tunggu pembalasan ku.
Jasmine berusaha membuka pintu mobil dan mencari ponsel Bryan yang ia lempar tadi. Mengambil barang yang bisa menjadi bukti keberadaan Bryan.
Dua pistol revolver miliknya dulu ia temukan di dalam dashboard mobil bercampur dengan surat-surat lengkap kendaraan.
Jasmine menyelipkan pistolnya di celana dalam miliknya dan meletakan surat-surat kendaraan di pengait tali Bra.
Dengan langkah tertatih-tatih Jasmine menjauhi mobil dan menghubungi Botak.
Jasmine masih mengingat password ponsel milik Bryan.
Berkali-kali sambungan tidak dijawab.
Hingga panggilan ke tiga, panggilan itu tersambung.
(......)
"Jemput aku di tol km 45, bawa derek sebelum polisi datang. Cepat!!!" Titahnya lantang.
Jasmine masih melangkahkan kakinya di pinggir jalan tol. Banyak pengendara yang iba melihatnya, tapi Jasmine merasa tak acuh. Ia terus berjalan menjauhi titik perkara.
Tin.......,
Bunyi klakson membuyarkan lamunan Jasmine.
"Masuk, Nyonya." Botak membukakan pintu mobil.
Dengan langkah cepat Jasmine masuk ke dalam mobil Van.
"Dimana tuan, Nyonya?" Tanya botak.
"Shally."
Botak tampak menggeram dan mengepalkan tangannya.
"Mobil tuan sudah saya urus, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit Nyonya."
Jasmine menggeleng, "Aku tidak apa-apa."
Botak berkelit memaksa Jasmine untuk mau pergi ke rumah sakit. Akhirnya Jasmine menuruti keinginan Botak atas titah suaminya.
Di Rumah Sakit.
Sesampainya di area rumah sakit, Jasmine mengeluarkan pistol miliknya dari balik dress hitam yang ia pakai.
Botak mengangguk.
"Uang."
Jasmine menengadahkan tangannya.
"Uang?" Botak tampak bingung dengan permintaan Nyonya mudanya.
"Bagaimana aku harus membayar tagihan RS kalau tidak membawa uang botak." Jelasnya lagi sambil menggeleng.
"Berapa Nyonya?"
Jasmine menghendikkan bahunya.
"Aku tidak bawa banyak Nyonya, bagaimana jika kurang."
Jasmine menghela nafas kasar. Rasa pusing dan nyeri di badannya semakin menggila di tubuhnya.
"Husei...,"
Belum menyelesaikan ucapannya, tubuh Jasmine limbung. Dengan cepat Botak membawa Nyonya mudanya ke ruang UGD.
Keterampilan Botak dalam berkelit membuat para dokter dan perawat tidak curiga dengan dirinya.
Ia berkata bahwa Jasmine korban kecelakaan dan pingsan. Suaminya sudah ia hubungi dan sebentar lagi akan datang.
Dokter segera memberi tindakan lanjut memeriksa keseluruhan tubuh Jasmine. memasang infus dan memeriksa denyut nadi. Membersihkan luka di kepala dan sikunya. Dokter tampak terkejut, namun belum ada keluarga pasien yang bisa dimintai keterangan.
Tiga puluh menit berlalu , tubuh Jasmine masih tidak menunjukan pergerakan. Badan itu masih tergulai tak berdaya di atas ranjang pasien.
*
Botak keluar dari rumah sakit dan menghubungi Husein. Karena hanya laki-laki itulah yang cocok di jadikan suami pura-pura untuk Jasmine.
Sambungan telepon tersambung.
"Tuan Husein datanglah ke rumah sakit kasih ibu."
(.....)
"Nyonya Jasmine dan tuan Bryan kecelakaan."
__ADS_1
Tidak ada jawaban, Botak beralih menuju parkiran mobil.
Ia pun juga harap-harap cemas dengan keadaan tuan mudanya. Ia sendiri tidak tahu harus melakukan pengejaran dari mana.
Hanya satu yang menjadi kunci jawabnya. Tria.
*
Selang satu jam Husein datang, mencari dimana Botak berada.
Ketemu! Brakkk!
Dengan terkencing-kencing Botak keluar dari mobilnya.
"Maksudmu apa?"
"Shally, penyebab Tuan dan Nyonya kecelakaan."
"Shally?" Dahi Husein mengernyit.
Botak mengangguk.
"Bodoh, menjaga mereka berdua saja tidak pecus!!!"
"Maaf Tuan, kami hanya membawa delapan pengawal, sedangkan pengawal Shally ada dua belas orang."
Jelas Botak tertunduk, "Ada ranjau darat yang mereka pasang, sepertinya Shally mengawasi pergerakan kami diam-diam."
"Lalu bagaimana Bryan dan Jasmine?"
"Shally membawa Tuan Bryan, Nyonya pingsan."
"Pulanglah, tinggalkan dua penjaga untuk ku." Titah Husein, Ia berlari menuju ruang informasi. Menanyakan dimana letak ruangan pasien bernama Jasmine.
Ruang Melati 33
Jasmine di pindahkan dari ruang UGD setelah dokter selesai melakukan pengecekan.
Tidak ada pembengkakan di kepala atau pendarahan berlebihan, hingga Jasmine di pindah di ruang perawatan.
Husein sampai di ruangan itu, mendapati wanita yang semalam mencuri kue tart tergeletak tak berdaya.
"Bodoh!" Pekiknya berkali-kali mengumpat kata bodoh.
"Bangunlah pencuri kue. Kau menjijikan jika lemah seperti ini." Husein menggengam tangan Jasmine.
"Bangunlah wanita pemberani, bangunlah." Husein menepuk-nepuk pipi Jasmine. Hingga panggilan dari dokter yang sedang melakukan visit menyuruhnya untuk beranjak mengikutinya ke ruangan dokter bernama Elda.
"Apa anda suaminya?" Tanya dokter Elda.
Ehm,ehm...
"Ya, bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Husein sedikit ragu.
"Siapa nama anda?" Elda menyunggingkan senyum ramah.
"Husein."
"Baiklah bapak Husein, ada akan memiliki anak. Mohon jaga istri anda dengan baik dan jangan membiarkannya stress berlebih atau melakukan tindakan yang menguras tenaga."
Husein terkesiap, "Hamil?"
Dokter Elda mengangguk, "Usia kandungan istri anda masih muda, jalan empat minggu. Masih riskan untuk melakukan hubungan suami-istri. Jadi saya mohon, untuk menahannya dulu." Dokter itu tersenyum sembari menyerahkan resep vitamin dan obat luka untuk Jasmine.
"Biarkan istri anda bedrest beberapa hari disini. Guncangan kecelakaan tadi membuatnya syok dan mengalami flek."
Husein mengangguk dan tersenyum, ia keluar dari ruang dokter Elda dan menuju area farmasi.
Setelah menebus obat dan membayar tagihan rumah sakit, Husein menuju ruangan Jasmine.
"Sudah bangun." Husein tersenyum.
"Aku mau pulang." Sergah Jasmine cepat.
"Tidak bisa, kau harus istirahat disini."
"Aku harus mencari Bryan!" Nada Jasmine meninggi, terduyun-duyun ia berusaha bangkit.
"Kendalikan dirimu, kau sedang hamil!" Husein menggeretak.
"Hamil?"
Husein mengangguk.
Air mata mengenang lagi di sudut mata Jasmine. Ia kembali menangis dalam diam.
Aku kembali merasakan pahitnya mengandung tanpa suami disisi ku.
__ADS_1