Kiss The Rain

Kiss The Rain
Permintaan Amanda.


__ADS_3

Setelah kepulangannya dari markas besar, Jasmine dan Raka memutuskan kembali ke rumah saat hari sudah menjelang senja.


Meninggalkan Tria dengan segerombolan orang yang sama sekali tak ia kenali. Tapi Tria yang memiliki watak santun dan tidak enakan ini membuat siapa saja agak segan untuk mengerjainya.


Sesuai arahan Jasmine pada tim pengintai, Tria menjadi anggota baru di tim itu. Ia benar-benar menceritakan semua yang ia dengar dari alat penyadap selama 4 hari belakangan ini dan pergerakan mobil Shally yang hanya ada di rumah.


Yang bisa di artikan, Bryan juga masih ada di tempat itu.


"Catat titik koordinat dan alamat rumah. Catat semua yang menjadi poin pokok pergerakan mereka." Perintah dari Ketua tim pengintai.


"Siap."


"Siapa nama mu, anak muda?" Tanya Candra, nama ketua pengintai.


"Tria, Pak."


"Kau sama saja menyerahkan diri pada sarang singa Tria. Seberapa besar nyalimu?" Candra berjalan mendekati Tria. Tubuh kekarnya yang hanya di balut kaos dan celana santai membuat Tria sedikit memundurkan langkahnya.


Tria hanya terdiam, ia sudah menyiapkan kuda-kuda menyerang jika Candra ingin memulai usaha pengecoh'an.


"Sepertinya besar juga nyalimu!" Candra tertawa.


"Aku hanya menjalankan tugas."


"Tugas! Hahaha!" Candra menepuk pundak Tria, "Pengintai harus jeli, tidak budek dan matamu harus was was."


Bersama itu selongsong peluru melesat dari belakang Tria. Ia berhasil menghindari, peluru menyangsang melubangi tembok.


"Hahaha, tidak salah Jasmine memilihmu menjadi tim pengintai. Kembali lah ke kamarmu, tugasmu sudah selesai malam ini." Candra berbalik menatap layar besar di depannya. Titik koordinat rumah Fox Adois sudah di tandai, hanya tinggal menerima perintah pergerakan dan menyelesaikan bukti-bukti kuat untuk menangkap Kartel terbesar kedua setelah kartel Nicolas.


*


Di kediaman Jayantaka, Jasmine sudah selesai membersihkan diri. Kini ia hanya memakai kaos dan celana santai. Ia tersenyum saat mendapati baju-bajunya saat muda masih tersimpan rapi dan bersih di lemari pakaian miliknya.


Semua keluarga tampak bersiap dengan makan malam, meja makan kali ini di pesan dengan jumlah tempat duduk yang tidak masuk akal. 14 kursi beserta meja oval yang panjangnya lima meter.


"Semua sudah berkumpul, nunggu apa lagi yah?" Raka mulai sebal saat ayahnya tak segera memulai ritual makan malam.


"Nunggu cucu ayah."


"Asmira?"


"He'em, tadi pagi Dika meminta ijin untuk makan malam bersama di sini."


"Kurang kerjaan banget sih dia, makan aja harus pindah tempat." Raka mencebik.


"Biarkan saja, mungkin dia rindu kakakmu."


"Cih!" Jasmine menggeleng. "Gak usah asal bicara yah!"


"Hahaha, ayah mau bicara dengan mu nanti. Bisakah ayah bertemu dengan putri kecil ayah?"


"He'emm."

__ADS_1


Hingga tak lama, keluarga Dika datang. Benar saja Dika juga mengajak orang tuanya. Anak-anak sudah berhamburan menuju ruang keluarga, mengobrak-abrik mainan dan berlarian.


Jasmine yang melihat Herlambang dan Rina datang, dengan langkah cepat ia mendatangi mantan mertuanya. "Ibu, Ayah." Jasmine berganti memeluk kedua orang tua Dika.


"Ibu merindukan mu, Jasmine." Rina menahan pelukan Jasmine. "Ibu merindukanmu."


"Jasmine juga rindu, Ibu. Ayo langsung ke meja makan Bu. Semua sudah menunggu."


Kini giliran Herlambang yang menatap Jasmine, ia tak menyangka jika pernah mendapat menantu seorang anggota Intel.


"Ada apa ayah?" Jasmine bertanya sembari berjalan ke ruang makan.


"Hahaha, tidak Jasmine. Aku hanya tak menyangka saja ada darah koboi yang mengalir di darah cucuku."


"Hahaha, apa ayah masih berkuda?"


"Masih, ayah sedang mendidik Asmira menjadi atlet kecil berkuda."


"Haha, kelak dia akan menjadi gadis keren. Akan sulit untuk menjaganya."


"Hahaha, tentu tidak Jasmine. Kau juga harus membekali putrimu bela diri dan menembak seperti mu."


"Ha-ha-ha." Jasmine hanya tertawa kecil.


Sampai di meja makan, semua sudah siap dengan piring masing-masing.


"Baik, makan malamlah dengan tenang. Jangan ada yang bicara dan habiskan apa yang sudah kalian ambil." Kamto mengawali mengambil nasi dan teman-temannya. Di ikuti anggota keluarga lainnya.


Jasmine tak luput dari sambel ikan pedak dan bayam rebus buatan ibunya. Ia mengambil dengan porsi yang cukup besar. Hingga tatapan mata Dika terus mengamati gerak-gerik Jasmine.


Makan malam selesai, kini semua di bebaskan untuk bicara.


Semua beralih menuju ruang keluarga, dimana Prince dan Jeannice sedang bermain. Rasa rindu Jasmine yang menggebu dan rasa bersalahnya meninggalkan Prince membuatnya sedikit ragu untuk mendekati anak keduanya.


Jasmine tahu anak itu sudah lupa dengan dirinya, hingga Amanda yang melihat Jasmine yang resah mulai menggendong Prince mendekati Jasmine.


"Prince anak yang aktif, butuh sesuatu untuk membuatnya tenang." Amanda menaruh Prince di pangkuan ibu kandungnya. Prince yang merasa asing dengan wanita yang tak pernah ia temui. Membuatnya merengek takut.


"Ma..,"


"Ma..,"


Tangan kecilnya sudah meraih tangan Amanda. Tak mau di lepaskan, "Maaf kak."


Jasmine menutupi kesedihannya dengan tertawa kecil.


"Tidak apa-apa Manda, biarkan dia main dengan Jeannice."


Prince dengan cepatnya berlari menuju Jeannice yang bermain dengan Adelle dan Raka.


"Mereka seperti anak kembar, semua yang dibelikan mas Dika slalu sama hanya berbeda warna dan motif." Amanda duduk di samping Jasmine bercerita tentang dua bayi kembarnya yang berbeda rahim.


"Kau pasti kerepotan mengurus mereka, maafkan aku."

__ADS_1


Amanda tertawa kecil.


"Aku ada baby sitter kak. Sedikit membantuku, sedangkan Asmira lebih sering dirumah Opa Omanya."


"Apa yang dilakukan Asmira selama aku pergi, Manda?"


"Berkuda, main, ikut ayahnya ke mall. Bahkan dia sekarang juga ingin ikut les bernyanyi agar seperti ayahnya."


"Apa dia bersedih saat aku tidak kembali selama ini?"


"Hanya satu bulan saat kakak tidak ada kabar. Asmira dan Dika seperti hidup tak mau, apalagi mati."


Jasmine tertawa.


"Terimakasih kau sudah menjaga anak-anak dengan baik Manda. Aku hanya dua hari disini, setelah ini aku akan pergi lagi."


"Kemana kak?"


"Melanjutkan misi."


"Kakak tidak kasihan dengan Asmira?"


Lalu Jasmine menatap Asmira yang sibuk memandangi layar televisi. Di temani Dika disampingnya.


"Biarkan aku bicara dengannya nanti."


"Kak, dia slalu berandai-andai bisa bermain dengan kakak di mall bersama mas Dika. Gunakan waktu dua hari bersama mereka."


Amanda memohon dengan mengiba.


"Kau gila Manda, bagaimana bisa kau mengijinkan suamimu bermain dengan mantan istrinya." Jasmine menaikan nada bicaranya, ia terkejut dengan permintaan Amanda.


"Demi Asmira, aku tahu mas Dika juga merindukan Kakak."


"Kau gila Manda, aku juga sudah memiliki suami."


"Hanya dua hari saja, aku juga ingin melihat mas Dika bahagia."


"Sinting kau Manda! Kau membunuh perasaan mu sendiri. Kau gila, harusnya kau yang bisa membuat Dika bahagia."


"Hanya demi Asmira kak, aku mohon. Dua hari bersama mereka berdua."


Jasmine mengacak-acak rambutnya. Frustasi, dua hari ia memang memilih untuk berada di rumah, ia ingin menghabiskan waktunya bersama keluarga yang ia rindukan. Tapi putri kecilnya juga mengharapkan keutuhan orangtuanya yang jelas sudah terekam di memori otaknya.


"Baiklah, biarkan Asmira tidur dengan ku. Dika bawalah pulang!"


"Kak! Di mall ada hotel yang di sewakan. Kalian bisa menghabiskan waktu bersama di sana."


"Hahaha, baiklah-baiklah. Tapi ingat baik-baik ya Manda. Aku sudah tidak menyukai Dika, hatiku sudah di isi penuh oleh seseorang. Ingat baik-baik!"


Amanda mengangguk.


Jasmine menghela nafas panjang.

__ADS_1


Amanda tak lebih dari wanita yang sinting seperti ku. Dulu aku mengorbankan Dika untuknya, sekarang dia dengan rela membiarkan Dika bersama ku walaupun hanya demi kebahagiaan putri kami. Dia gila! Dia menjual perasaan nya demi kebahagiaan suaminya.


__ADS_2