Kiss The Rain

Kiss The Rain
Bryan Imanuel Nicolas. (2)


__ADS_3

Tentang hujan.


Di sini tempatku berdiri


Aku terpaku pada setiap tetes rintiknya rindu.


Mengucur deras mengguyur bumi.


Membasahi setiap dasar kehidupan.


Andai hujan ini bukan hanya sekedar perantara jauhnya langit dan bumi.


Aku akan meminta hujan menjadi perantara jarak di antara kita.


Andai hujan ini bisa menjadi perantara rinduku padamu, ku minta ia untuk membasahimu dengan rindu yang semakin lama semakin membasahi relung hatiku.


Andai hujan ini bisa mengalirkan rinduku padamu.


Aku akan meminta TUHAN.


Untuk terus menurunkan air kehidupan.


Tapi nyatanya, hujan hanyalah air.


satu elemen penting dalam kehidupan.


Seperti kamu, elemen penting dalam hidupku.


Kini, aku tak mengerti.


Kenapa hujan begitu fasih mempermainkanku.


Mempermainkan ku yang terus mengingat mu dalam setiap derasnya hujan.


*


Aku marah, saat aku mengetahui orangtua ku dan kakak ku ternyata pengedar narkoba. Aku tak habis pikir lagi, kenapa mereka melakukan itu semua. Aku tahu Ini sudah melanggar aturan hukum. Bahkan pengedar narkoba sudah pasti di hukum mati. Tapi orangtua ku mengingatkan bahwa mereka melakukan itu untuk kebaikan bersama.


Statra ekonomi yang lebih baik. Dan, alasan lain selain adalah diriku. Orangtuaku ingin aku mendapat pendidikan yang lebih baik dari mereka.


Bahkan tadi, satu jam setelah kejadian menegangkan setelah kelulusan sekolah ku.


Papa ku dengan entengnya masih mengedarkan barang sialan yang membawa kami dalam marabahaya. Coba kalau tidak ada wanita tadi, iya wanita berkuncir kuda. Berambut pirang dan berwajah dingin. Keren sekali aksinya. Tapi siapa dirinya, apa aku harus mengikuti jejak papa dan kakak. Untuk bisa di bertemu lagi dengannya.

__ADS_1


Tapi kata papa aku harus kuliah. Oke fix, aku akan kuliah di jurusan kedokteran, farmasi, penelitian obat-obatan.


Paling tidak aku bisa meneliti tentang manfaat lain dari barang sialan itu.


Niatku mantab, sekaligus ada niat terselubung di baliknya. Aku harus mencari tahu wanita tadi.


Akhirnya aku menempuh pendidikan selama 6 tahun, dengan gelar doktor yang aku miliki sekarang. Niatku hanya satu, mengambil alih jabatan pemimpin Nicolas Family dan menarik perhatian wanita itu. Wanita yang aku cari-cari. Kata papa kelompoknya adalah salah satu kelompok pengintai orang-orang seperti ku.


*


Petugas sipir mengajakku untuk ke ruang khusus, aku tidak tahu siapa tamu ku saat itu. Karena yang tahu aku di pindahkan di pulau ini hanyalah petugas di lapas sebelumnya.


Di ruang khusus, terlihat seorang pria paruh baya yang berdiri membelakangi ku. Memakai seragam khusus dengan nama Brandles Wolfgang di belakang. Berdiri tegap tanpa menolehku.


"Katakan siapa dirimu, dari mana asalmu? Katakan lagi apa hubunganmu dengan anakku, sejauh mana kau berhubungan dengannya."


Aku mulai mengerti saat beliau berkata "Anakku". Karena hanya satu wanita yang berhubungan dengan ku.


Hari itu aku menceritakan semua tentang ku, semuanya. Tanpa ada yang aku tutup-tutupi.


Beliau memberiku sebuah kertas bertuliskan "Tulis alamat markasmu dan tim ahli. Biarkan aku yang menjadi perantara antara dirimu dan tim ahli."


Aku masih tak mengerti maksud dari semua ini. yang bisa aku lakukan hanya menulis semua permintaan orangtua ini.


Dia keluar dari ruang khusus.


Begitu seterusnya, setiap satu bulan sekali dia datang mengunjungi ku. Melaporkan apa yang terjadi dengan putrinya dan hasil-hasil penelitian di lab. Lab rahasia yang ia dirikan katanya.


Jika aku tanya kenapa bersusuh payah membantuku mengurangi hukuman mati. Dia hanya slalu bilang, "Putriku semakin hari semakin gila. Kerjaannya hanya di kantor, bersama Dika. Dan, jarang pulang ke rumah."


Aku bisa menerima alasannya kenapa, karena wajahnya slalu menghiasi majalah-majalah bisnis dan laman berita. Dia berkembang menjadi wanita hebat. Hingga akhirnya perlahan aku mengulur hatiku, tapi yang tak aku mengerti sebulan sekali juga dia datang mengunjungi ku. Membawa rantang berwarna pink dengan menu masakan seperti saat dia serumah denganku.


Entah apa yang dilakukan bapak-anak ini di luar sana. Sungguh tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Mereka orang-orang luar biasa yang aku kenali.


Aku hanya berharap keajaiban bisa terjadi, aku ingin membalas semua yang sudah di lakukan anak beranak ini untuk ku dan keluarga ku.


Aku ingin membalas semua perlakuan manis mantan istri ku. Jika bisa, aku ingin menikahinya lagi dan membalas semua perlakuannya selama ini.


Aku Bryan Imanuel Nicolas, "Ada saatnya kita kembali kepada titik terendah dalam hidup. Ada saatnya kita bangkit dari keterpurukan. Cinta mengajari untuk bertahan. Cinta mengajari untuk berjuang. Tanpa manis-manis, Tanpa di paksa , Cinta akan mengerti jalannya kembali."


Dari sudut kota yang jauh, Perasaan kepadamu tetaplah hal yang utuh.


Sebab kamu bagian dari rencana-rencana besarku. Bagian penting dari hal-hal yang kumiliki dalam hidupku.

__ADS_1


Maka, bertahanlah di sana tanpa rasa curiga.


Tanamkan dalam dadamu apa yang aku perjuangkan sepenuh jiwa.


Bersabarlah disana, biar ku kembangkan lebih besar lagi sayap ku di sini. Semoga tidak lama lagi semesta memisahkan kita. Agar segala yang membuatmu cemas dan ragu bisa tiada. (Boy Candra - Cinta paling rumit)


*


Hari ini konfrensi pres di gedung utama lapas ini berlangsung, dua tim ahli dan Kamto Jayantaka datang memberi tahu penemuan baru. Penemuan yang sudah di teliti pihak kepolisian dan memiliki persetujuan konkrit.


Kamto menunjukkan bukti-bukti dari sebuah kertas yang Bryan sering tuliskan. Bukti-bukti yang membuat Bryan di lepas dari tuntutan hukuman mati.


Pihak kepolisian akan menyetujui, pengeluaran Bryan dari penjara dan melanjutkan lagi penelitian dengan syarat. Wajib lapor setiap dua Minggu sekali dan dibawah pengawasan Brandles Wolfgang.


Jasmine berdiri di belakang kerumunan wartawan yang meliput jalanan konferensi pers. Di belakangnya ada seorang Dika yang menepuk pundak Jasmine berkali-kali.


"Do'a kita, Do'a anak-anak, terdengar sang maha Kuasa. Percayalah, setelah ini. Aku bisa melepasmu dengan tenang."


Jasmine berbalik mendekap Dika dengan erat, "Kau memang manusia menyebalkan yang aku kenal, tapi kamu tahu aku juga bahagia bisa bersamamu. Terimakasih, kau slalu hadir di setiap keluh kesahku. Terimakasih atas semua yang kau lakukan untuk ku dan anak-anak di panti. Terimakasih sudah menerima hadirnya dihidupku."


Jasmine menangis dengan tersedu-sedu.


"Jadi kau hutang Budi dengan ku?"


"Tidak, hutang Budi di bawa mati, Dik. Biarkan ini menjadi hutang di masa lalu kita. Jadi kita masih partner?" Jasmine mengusap-usap air matanya di kemeja Dika.


"Katanya bedak tahan minyak dan air 24 jam, kenapa ini udah luntur. Cepetan touch up, biar kerutan mu tidak terlihat." Jasmine mengepalkan tangannya, meninju perut Dika dengan cepat.


"Sepulang dari sini, aku mau perawatan. Biar awet muda." Jasmine terkekeh, sedangkan Dika dengan senyum manisnya hanya bisa mengangguk. "Lakukan apa yang membuatmu senang."


Dika membalas pelukan Jasmine, dalam pejaman matanya.


Setelah ini, jarak akan memisahkan kita kembali. Dalam ruang keluarga yang kita bangun sendiri-sendiri.


Dia sudah kembali, yang berarti tugasku sudah selesai.


Selamat jalan kekasih sejati ku, kembalilah dengan dirinya.


Biarkan aku melepasmu dengan pelukan.


Tak terasa cairan bening menetes dari matanya, Mata Dika.


Aku akan mulai terbiasa, merindukanmu dalam jarak.

__ADS_1


__ADS_2