Kiss The Rain

Kiss The Rain
Bryan Imanuel Nicolas


__ADS_3

10 tahun yang lalu saat usia ku 18 tahun dan dihari dimana aku merayakan hari kelulusan sekolah menengah atas dengan orangtua ku dan kakak ku. Kami pergi tanpa seorang pengawal pun. Ayahku berfikir tidak akan ada orang yang peduli dengan kami atau musuh ayah yang tak aku ketahui. Karena aku sendiri tidak tahu, kenapa setiap keluar rumah ada bodyguard yang mengawasi ku diam-diam.


Aku tidak tahu, sebenarnya apa pekerjaan kakak dan ayahku. Karena mereka sama sekali tidak memberitahuku alasan klasik,aku baru lulus SMA.


Saat baru setengah perjalanan, tiba-tiba tiga buah mobil Van hitam mengepung mobil kami, kakak ku berdecak kesal dan mengeram. Aku terkejut saat ayah ku dan kakak ku mengambil sebuah pistol yang di bawa dibalik kemeja mereka.


Aku semakin terkejut saat segerombolan berbaju hitam itu keluar dan mengebrak-gebrak pintu kaca mobil. Huft.... Seharusnya ini menjadi hari bahagia untuk ku,aku sudah lulus SMA dan akan memasuki jenjang Perkuliahan. Aku sudah sedikit dewasa untuk tahu apa sesungguhnya perkejaan orang tua ku dan kakak ku. Kenapa mereka slalu saja membawa bodyguard dan belum lagi pistol yang menggelantung di sabuk hitam di balik kemeja mereka.


Air muka mama ku berubah menjadi khawatir dan takut, tak jarang juga beliau memaki ayah kenapa tidak membawa bodyguard, dan pertanyaan-pertanyaan lain dari tanda tanya kenapa?


Kami terpaksa keluar, ibu ku slalu berada di depan ku, sedangkan aku hanya mengedar pandangan ku ke arah semua orang-orang berbaju hitam. Mereka tinggi dan besar, lebih-lebih juga sangar. Tak jauh beda dari bodyguard milik keluarga ku. Aku berusaha bertanya pada ayah siapa mereka. Jawaban ayah pun sangat menghentak jantung ku yang sedari tadi sudah berdetak tak karuan, aku berada di posisi yang chaos. "Mereka musuh terbesar keluarga kita,kita bisa mati." Begitulah jawaban ayah ku.


Aku masih mengedarkan pandangan ku,tak percaya. Bisa-bisa saja aku mati hari itu juga. Hingga aku menangkap beberapa orang yang berpakaian lengkap seperti anggota FBI bersembunyi dibalik mobil-mobil dan beberapa tempat usaha,mataku terpincing melihat seorang wanita berjalan berlenggak dengan santainya,ia hanya memakai dress hitam dengan lilitan kemeja flanel kotak-kotak di pinggangnya. Tak lupa rambutnya di kuncir kuda dan kaca mata hitam bertengger di hidungnya yang tidak pesek dan tidak mancung.


Sungguh kondisi itu berbalik dengan apa yang terjadi di keluargaku ,kami di kepung dipaksa mengangkat tangan seperti seorang pidana dan menurut seperti seorang babu.


Mataku masih menatap wanita berkuncir kuda itu, tatapan matanya mengedar juga seperti ku dan lantas terus mengangguk.


Dia melangkahkan kakinya lebih cepat dan berbalik di salah satu mobil, aku terkejut saat wanita itu menyibakkan dress hitamnya dan sebuah pistol melekat di paha putihnya, aku terpana.


Ia berlari dan beberapa orang seperti anggota FBI itu juga berlari ke arah ku. Menodongkan pistol revolver hitam miliknya dan memetik pelatuk itu tepat di bos besar musuh terbesar ayah ku. Aku semakin terperanjat, banyak sekali darah yang keluar dari tubuhnya.


Badanku gemetar,aku hanya bisa bersembunyi dibalik tubuh mama ku. Sesekali menatap wanita yang tak terduga tadi, senyumku melebar ia cantik. Di setiap pancaran matanya terlihat sebuah kedewasaan. Aku terpesona pada setiap gerak-geriknya. Ia mungkin pahlawan keluarga ku, dan ayahku tersenyum. Lantas kami masuk kembali ke dalam mobil, tapi sebelum nya aku memotret dirinya, wanita dewasa yang menggetarkan hatiku saat itu.

__ADS_1


*


"Apa kau dengar ceritaku?" Tanya Bryan saat dirinya menyudahi cerita kisah hidupnya 10 tahun lalu.


Jasmine memutar kepalanya, menatap Bryan yang duduk di ranjang sambil menyandarkan punggungnya. Menatap plafon,sambil matanya menerawang kejadian yang amat mengejutkan baginya.


"Sebentar,aku ada sesuatu untukmu." Bryan berdiri, melangkah kan kakinya ke sebuah laci berwarna abu-abu. Ia berjongkok dan membuka laci dan memilah barang yang mau ia ambil.


"Ini, lihatlah." Bryan menyodorkan berbagai foto yang terlihat agak buram dan warna sudah berubah kecoklatan.


Kini mata Jasmine yang terperanjat kaget, mulutnya ternganga tanpa suara. "Ini.... ini." Jasmine menatap Bryan. "Ini aku...."


**


*


"Sayang sekali kau harus melihat kejadian itu saat usiamu masih muda." Jasmine menaruh lembaran foto-foto itu dan berdiri menatap Bryan yang juga menatap Jasmine.


"Iya,aku tak menyangka. Wanita yang menyelamatkan keluarga ku saat itu adalah dirimu. Wanita yang membuat ku terpana." Bryan menarik senyuman.


"Kau datang sendiri kehadapan ku,aku tak perlu lagi mencari-cari wanita yang membuat ku jatuh cinta untuk pertama kalinya." Lanjut Bryan lagi yang kini ikut berdiri menghampiri Jasmine.


"Bukankah kau juga akan sama seperti laki-laki yang aku tembak saat itu. Bukankah kau juga akan sepertinya." Jasmine tertunduk tak berani menatap Bryan yang berada di radius 1 meter di depannya.

__ADS_1


"Tapi usahamu gagal, aku sangat senang kau sendiri yang membawa dirimu ke pelukan ku." Bryan merentangkan kedua tangannya.


"Kau benar-benar gila Bry." Jasmine mencebik. "Aku pembunuh." Lanjutnya.


"Tak peduli kau pembunuh,kau mata-mata bayaran atau apa. Tapi aku butuh wanita seperti mu untuk mendampingi ku sekarang." Bryan sudah mendekap Jasmine dalam pelukannya.


"Lepaskan aku,kau masih orang asing bagiku." Jasmine meronta-ronta.


"Aku tak akan memaksamu,tapi menurutlah." Bryan mengusap-usap punggung Jasmine yang hanya berdiri tanpa membalas pelukan Bryan. "Kau wanitaku, keluarga ku berhutang Budi pada kelompok mu. Mungkin keluarga ku bisa mati saat itu. Aku sangat berterima kasih,10 tahun yang lalu sangat mengesankan,saat aku terpana dan jatuh cinta untuk pertama kalinya pada seseorang yang tak aku kenali. Aku tak peduli kau sekarang sudah menjadi seorang ibu atau janda. Aku tak peduli dengan statusmu. Bagiku kau wanita dewasa ku,wanitaku." Bryan mengeratkan pelukannya,membuat Jasmine terisak,ia sedang merasakan kegundahan hatinya sendiri. Laki-laki muda di depannya ini sedang mengutarakan perasaannya.


"Kau akan membuat ku mati kehabisan nafas,lepaskan aku." Jasmine kembali meronta-ronta.


"Jadi...." Bryan melepas pelukannya sembari mengulas senyumnya. Manis sekali.


"Jadi apa? Tanya Jasmine bingung.


"Bagaimana dengan pria perjaka mu ini?" Bryan tersenyum-senyum. Meng-kode maksud hatinya.


"Aku lapar dan aku mau ganti baju dulu." Jasmine melengos tak peduli.


"Mau kemana, tempat mu disini. Di sana kamar mandinya. Dan, di dalam lemari putih itu baju-baju mu. Seminggu yang lalu aku sudah menyiapkan nya. "Bryan menunjukkan seluruh isi ruangan kamar itu yang di dominasi warna monokrom.


Jasmine hanya mengangguk-angguk pasrah,menurut saja jika ingin kenyang dan selamat.

__ADS_1


__ADS_2