
Benar saja saat Jasmine sampai di rumah orangtua nya, ibu Ani tak henti-hentinya memeluk putrinya hingga Jasmine kesusahan bernafas. "Ibu, hentikan....," Jasmine tersenyum dan mengecupi pipi ibunya. "Aku tidak apa-apa Bu, percayalah." Jasmine berusaha meyakinkan ibunya bahwa ia sedang baik dan sehat.
"Putriku, ibu tau kau sudah melakukan yang terbaik. Bukan salahmu jika dia seperti itu." Ibu Ani kembali memeluk Jasmine dan mengusap lembut kepala putrinya.
"Sudahlah ibu, jadi hari ini ibu mau memasakkan aku apa? Sudah lama sekali aku tidak memakan masakan ibu." Jasmine memasang wajah manjanya. " Setiap kesini yang kau pikirkan hanya makanan saja." Ibu Ani melepaskan pelukannya dan menoel pipi Jasmine membuat putrinya itu tertawa geli.
"Istirahat lah, ibu akan memasakkan makanan kesukaan mu."
"Jangan lupa susu coklat buatan ibu." Jasmine tersenyum. "Raka dimana Bu?" Tanya Jasmine saat tak ada adiknya di dalam rumah. "Biasa dia pergi bersama Adelle." Jawab ibu Ani sambil mengaduk-aduk susu coklat keinginan putrinya. "Minumlah." Segelas susu coklat hangat sudah ada di tangan ibu Ani dan ia sodorkan pada putrinya. "the best." Jasmine mengangkat kedua ibu jarinya.
Kini Jasmine sudah berada di dalam kamar lamanya, berbaring di ranjang penuh kenangan. Menatap plafon bercat putih, mengingat-ingat siluet kenangan bersama mantan suaminya. "Aku bahagia untukmu." Bisik Jasmine dalam hati.
"Boleh ibu masuk?" Tanya ibu Ani saat ia berjalan di depan pintu kamar Jasmine yang masih terbuka. "Masuklah ibu, aku tidak tidur." Jawab Jasmine sambil bangkit dari posisi sebelumnya.
"Apa ibu udah selesai memasak?" Lanjutnya karena tadi sebelum Jasmine ke kamar ibu Ani masih sibuk mengurus sayuran di meja dapur.
"Sudah. Kau yakin baik-baik saja 'Mine? Kau tak ingin tinggal bersama ibu lagi? Ibu akan senang jika kau dan Asmira tinggal disini." Ibu Ani tersenyum sambil menanyakan pertanyaan beruntun.
"Tidak Bu, aku akan merepotkan ibu jika tinggal disini lagi. Belum juga Asmira pasti akan slalu manja dengan ibu, minta ini itu harus di turuti."
"Justru itu yg ibu sukai, ibu merasa di perhatikan dan di butuhkan."
"Ibu sudah tua, waktunya ibu menikmati hari-hari ibu."
"Hey, jangan bicara seperti itu. Ibu masih kuat mengurusmu dan cucu ibu nanti."
"Ya, ya, ya. Jasmine tau ibu masih kuat, termasuk kuat memarahiku."
"Ibu sungguh kasian kepadamu Jasmine,ibu masih ingat dulu dia kesini dengan baju yg acak-acakan dan tidak mandi. Apa itu yang membuat mu masih jatuh cinta padanya?" Bagaimana mungkin ibu bisa lupa,dulu beliau lah yg menemani Dika saat Jasmine pergi bekerja. (Cerita ini ada di chat story', saat Dika kabur dari rumah dan tinggal dirumah Jasmine)
"Mana bisa aku jatuh cinta pada laki-laki yang tidak mandi. Ibu asal bicara." Jasmine tertawa saat ingat dulu ia membawa dika ke rumahnya.
__ADS_1
"Pria patah hati yang sekarang membuatmu patah hati. Kau harus bahagia Jasmine, percayalah ibu selalu berdoa yang terbaik untukmu." Ibu Ani membawa Jasmine ke pelukannya. Pelukan hangat seorang ibu.
"Ayo makan Bu, anak ibu butuh banyak asupan makanan untuk menjalani hidup." Jasmine berdiri di iringi tawa ke dua wanita keluarga Kamto.
"Makan yang banyak kalau perlu nanti bawa bekal untukmu makan malam." Lanjut ibu Ani saat tahu nafsu makan anaknya tak pernah berubah. "Dengan senang hati bu." Jasmine menjawab sambil mengunyah lauk paut di mulutnya.
*
Malam harinya Jasmine sudah berada di rumahnya sendiri, saat sore hari tadi ayah Kamto mengantarkan Jasmine pulang. Rasa sepi kembali menggelayuti jiwa dan raga Jasmine. Karena Asmira akan pulang ke rumah setelah selesai sekolah hari Senin besok.
"Huft, sepi lagi, sendiri lagi." Jasmine ngomel-ngomel sendiri sambil berjalan kesana kemari entah apa yang mau ia lakukan malam ini.
Tok, tok, tok....., Bunyi ketukan pintu menjadi jawaban atas kegundahan hati Jasmine. Dengan senang hati dan wajah gembira ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Kau....,!" Jasmine memelotot kan matanya.
"Hay....," Senyum laki-laki itu mengembang sempurna seperti memakai banyak baking soda di wajahnya.
"Boleh aku masuk?" Tanyanya.
"Mana Asmira, kenapa sendiri?" Lanjut Jasmine saat sudah mengijinkan laki-laki pengacau hatinya itu duduk di sofa ruang tamu.
"Asmira masih bersama Oma Opanya. Kau rindu dengan nya?" Tanyanya lagi sambil melihat-lihat isi rumah Jasmine.
"Hmmmm...., Mau apa kau kesini?"
"Kenapa kau tadi ke dokter kandungan, kau hamil?"
"Kau banyak tanya!" Jasmine membuang muka.
"Aku tamu disini, tak kau buatkan minum?"
__ADS_1
"Sudah banyak tanya, banyak maunya lagi." Jasmine berdiri dan menggeretakan kakinya di lantai.
"lucu sekali jika ia ngomel-ngomel seperti itu." Batin dika sambil menyunggingkan senyuman.
"Minumlah, setelah itu pergi dari sini." Jasmine menaruh kopi hitam dengan asap yang masih mengepul tipis.
"Jawab dulu pertanyaan ku, baru aku akan pergi." Jawab Dika menyeruput kopi hitam kesukaannya.
"Sudahlah untuk apa kamu tahu, toh kamu juga akan punya anak dari Amanda."
"Jika itu memang anak ku aku berhak atas dia nanti setelah lahir."
"Kau!!!" Nada Jasmine sedikit geram. "Kau sudah mengambil kebahagiaan ku, lalu kau juga akan membuatku merasa kesepian." Lanjutnya.
"Aku berhak atas dirinya, karena aku ayahnya."
"Kau memang ayah dari janin ini, tapi kau tak berhak mengambil nya dariku. Belum cukup kau menyakiti ku." Air mata Jasmine sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Kau pikir aku tidak tersakiti dengan keadaan ini. Kau pikir hanya kau saja yang merasa kecewa. Jasmine, jika kau tahu aku melakukan itu karena aku mabuk dan aku mengira jika Manda itu kau." Jelas Dika.
"Penjelasan mu itu tidak bisa dibenarkan sama sekali. Jika Manda tak bersama mu pasti kejadian itu tidak terjadi."
"Bukan kah hal ini sama dengan saat aku mengandung Asmira. Rasanya ini seperti Dejavu." Lanjut Jasmine saat ingatan nya berlari ke enam tahun silam,saat dirinya hamil Asmira dan Dika mengacuhkan dirinya demi Amanda.
"Aku akan menanggung semua kebutuhan mu saat mengandung anak itu. Jaga dia." Dika berdiri dan berlalu ingin pergi.
"Tidak kau suruh pun aku sudah menjaga benih ini. Pergi sana, seminggu lagi kau menikah. Tidak bisakah kau menjaga perasaan calon istri mu."
"Aku hanya ingin melihatmu." Dika menatap Jasmine, matanya seperti menahan kerinduan.
"Sudahlah Dika, pergilah."
__ADS_1
"Aku pamit, jaga dia seperti kau menjaga Asmira dulu." Dika berlalu pergi keluar dari rumah bercat putih, sesaat tubuhnya berbalik menatap Jasmine kembali, ia menatap Jasmine yang berdiri mematung.