Kiss The Rain

Kiss The Rain
Kemelut cinta.


__ADS_3

Tiga orang itu duduk melingkar, sunggingan senyum masih menghiasi wajah Jasmine. Ia seperti sedang mengasuh kedua adik yang sedang marahan.


Yang satu sedang mengerucutkan bibir merah jambunya. Yang satu sedang senyum-senyum senang.


"Baik, makanlah dalam diam dan habiskan." Pinta Jasmine sembari mengambilkan santapan lezat dipiring Bryan dan Shally.


"Ayo adik-adik makan yang kenyang." Jasmine tersenyum, Bryan mendengus sebal. Jika bukan sedang bersandiwara Bryan sudah benar-benar menerkam Jasmine di meja makan.


Mereka bertiga larut dalam piring masing-masing. Hanya dentingan garpu dan sendok yang mengisi dapur mini.


Selesai! Jasmine membereskan piring kotor dan seperti rutinitas biasanya, Mencucinya!


"Shally, tidak kuliah?" Tanya Jasmine basa-basi. Sedangkan Bryan masih duduk menatap Jasmine seperti biasanya.


"Ehmmm, nanti siang?" Shally menjawab dengan ragu.


"Yakin, jika ada jam kuliah berangkatlah dulu." Pinta Jasmine, "Besok Shally bisa kesini lagi. Iya kan Bryan?" Lanjut Jasmine sambil mengeringkan tangannya.


"Tante sendiri kenapa masih disini, Tante tidak pulang?" Pertanyaan Shally membuat Bryan yang hanya diam terkekeh, "Shal, Tante tinggal dan kerja disini. Kenapa harus pulang." Pekiknya lucu.


"Tante dulu selesai kuliah diusia 23 tahun, jadi Shally kalau mau menikah harus selesai kuliah dulu." Bujuk Jasmine halus.


"Tante gak bohong?" Lagi-lagi pertanyaan Shally membuat Bryan terkekeh. Gadis ini belum tahu jika wanitanya pintar berakting.


"Tidak Shal, Shally kuliah dulu oke. Ehmm," Tampak Jasmine menjeda ucapannya, "Mau uang jajan?" Lanjutnya.


Shally mengangguk, Bryan melotot. "Apa-apaan, gak!" Sergahnya.


"Ayo kak Bryan kasih Shally uang jajan." Mata Jasmine sudah berbinar-binar, sedikit mengerling.


"Oke, oke. Tunggu!" Bryan menggeretakan kakinya dilantai, berjalan menuju kamar mengambil dompetnya.


Selang 5 menit, laki-laki itu sudah berada lagi di dapur mini, menemui dua wanita berbeda generasi.


"Nih, sudah sana pergi." Titah Bryan sambil menyodorkan tiga lembar uang seratus ribuan.


"Terimakasih kak Bryan, besok Shally kesini lagi." Raut wajah Shally tersenyum senang, ia berjalan meninggalkan Bryan dan Jasmine yang saling pandang.


"Apa-apaan kamu babe, merepotkan saja." Bryan mulai mencebik Jasmine.


"Sudahlah, kita hanya sedang berakting. Bryan tidak kerja?"


"Kerja, aku tidak suka kau terlalu baik dengan Shally, Dia gadis licik."


Jasmine menghembuskan nafas panjang.


"Apa dia menyukaimu?"


Bryan menatap Jasmine penuh kasih, ia mengangguk.


"Keluarganya sllu membujukku untuk menerima Shally, dengan iming-iming kartel Fox Adois menjadi pembeli terbanyak Narkotika di kartel milikku."


"Lalu, ceritakan kartel Fox Adois padaku. Dimana saja jaringannya dan siapa saja sekutunya?" Pinta Jasmine.


"Hahaha, Apa kau mau menyelidiki dan menangkap mereka?"

__ADS_1


Jasmine menggeleng, "Jika Shally tahu kamu menikahiku bisa jadi kalian yang selama ini menjadi sekutu malah menjadi musuh besar, Aku butuh informasi."


Bryan tertawa, "Wanita pintar, biarkan saja jika mereka tahu. Aku sama sekali tidak menyukai gadis itu, hanya kamu yang mengisi ruang hatiku Jasmine."


"Bibirmu ini pintar sekali berbicara Bryan." Jasmine mendaratkan tubuhnya di pangkuan Bryan.


"Berat babe."


"Jahat ya, bilang aku gendut ya?" Bibir Jasmine mengerucut.


"Enggak, tapi kasihan kursi ini terlalu berat menahan beban hidup kita."


Jasmine tertawa berbahak-bahak, "Beban hidup apanya?"


"Beban kehadiran orang ketiga di rumah tangga kita."


Dahi Jasmine mengernyit, "Maksudnya?"


"Aku tidak mau ada orang lain yang mengusik ketenangan rumah ini. Jadi aku mohon jangan bersikap baik pada Shally."


"Baiklah Bry, sudah pergi kerja sana. Jangan lupa besok kita harus mencari kelinci."


Bryan hanya mengangguk-angguk, "Hanya melepas kelinci saja. Aku sudah tidak mau lagi berlatih menembak disana." Sergah Bryan.


"Kenapa?"


"Takut."


"Dasar penakut."


"Cup."


"Apa-apaan babe."


"Biar cepet berangkat kerja."


"Aku akan pulang cepat."


"Beri aku hadiah."


"Apapun untukmu, katakan."


"Besok Asmira ulangtahun. Hari ini aku akan membuatkannya roti tart, bisakah besok kamu antar kue yang aku buat untuknya." Pinta Jasmine.


"Iya babe, aku siap-siap dulu di kamar."


"Aku siapkan baju-bajunya."


Bryan dan Jasmine bergandengan tangan menuju kamar. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah mereka berdua. Tria yang menjaga tangga lantai duapun, tampak jengah dengan tingkah laku tuan mudanya.


*


Hari berhari terlalu dengan canda tawa Bryan dan Jasmine, laki-laki itu tak pernah malu untuk menunjukkan rasa sayangnya dan sifat mengekangnya pada Jasmine.


Bryan tak pernah ingkar dengan janjinya untuk mengantar kue tart buatan istrinya. Entah dengan cara apapun, kue tart itu sampai ke tangan putri sambungnya, Asmira. Bryan juga diam-diam memberikan kado untuk Asmira.

__ADS_1


Ia tak pernah berubah, ia masih menyuruh penjaga untuk mengawasi kedua anak sambungnya. Terbukti, Bryan juga menyuruh baby sitter untuk menjaga Prince. Tanpa sepengetahuan Jasmine maupun keluarga Dika.


Semua Bryan lakukan untuk bukti bahwa dirinya tak pernah main-main dengan pernikahan sirinya dengan Jasmine.


Bryan juga tak lupa melepas kelinci sebagai kelinci pengganti sasaran tembaknya dulu. Kini Bryan menjadi laki-laki yang sudah pandai membidik.


Kabar Husein yang berhembus jika ia menyukai Jasmine terdengar hingga ke telinga orangtuanya. Anthony dan Rose terang-terangan menolak, pertumpahan darah sangat dilarang di keluarganya apalagi hanya karena wanita. Husein mengalah, ia merelakan wanita yang ia kagumi. Ia merelakan kebahagiaannya untuk adiknya. Dan, Husein tetap berpura-pura menjadi sopir taksi online.


Entah sudah berapa lama Jasmine meninggalkan kediamannya, meninggalkan kedua anak-anaknya. Rasanya sudah lama sekali, bahkan ini nyaris 9 bulan Jasmine tinggal di rumah Bryan. Itu artinya, Prince putra kedua Jasmine sudah berusia 1 tahun, sedangkan Asmira berusia 7 tahun. Putrinya akan masuk Sekolah dasar.


Jasmine juga sudah rutin mengalami Menstruasi, jika saat melahirkan Asmira dulu ia akan mengalami Menstruasi kembali setelah masa nifas saat Asmira berusia 9 bulan. Entah wajar atau tidak tapi Author dulu juga begitu. 😂


Bryan mulai menyadari hal ini, ia akan menjadi suami siaga. Berbagai merk pembalut ia siapkan, tak kalah juga dengan mentalnya. Tak jarang selama PMS Jasmine berubah menjadi singa lapar yang minta di kawinin. Mengerikan!


Berkali-kali juga Bryan menanyakan hal yang sama pada Jasmine, "Apakah kau sudah mencintaiku? Apakah sudah ada ruang dihatimu untukku?"


Hanya saja Jasmine tak pernah membalas pertanyaan suaminya, Ia masih tetap menjadi istri yang baik. Tak pernah lelah melayani Bryan apapun kondisinya, biarkan waktu yang menjawab. Biarkan semua perbuatanya yang mewakili perasaannya, Biarkan cinta menjadi bisu, malu, dan bicara pada saatnya nanti.


Hal seperti ini terus berlangsung hingga berjalannya waktu dan menit. Minggu dan Bulan.


"Happy Birthday Jasmine, Happy Birthday Jasmine. Happy Birthday dear Jasmine. Happy birthday to you."


Bryan bernyanyi sambil membawa kue tart berwarna merah mawar, diatasnya terdapat lilin berbentuk angka 34 tahun. Jasmine tersenyum, air mata bahagianya mengalir lembut hingga menetes di dagu runcing miliknya. Ia terharu, Bryan mengetahui tanggal lahirnya.


"Kamu tahu Bry?"


"Aku tahu semau tentangmu Jasmine, tiup lilinnya. Make a wish dulu." Ucap Bryan, bibirnya terus melengkung senyum.


Jasmine mengangguk, mulutnya terlihat komat-kamit mendoakan harapannya. Hingga api di lilin itu mati tertiup.


"Apa permintaan mu babe?" Tanya Bryan.


Jasmine tak menjawab, ia sibuk memotong kue menjadi banyak bagian. Karena bukan hanya Bryan saja yang merayakan ulangtahunnya, Botak dan Tria juga ikut serta meramaikan.


"Botak, Tria, makan kuenya." Titah Jasmine dan di angguki dua bodyguard kesayangan Jasmine dan Bryan.


"Bryan, buka mulutmu." Sesendok kue memenuhi sendok yang sudah Jasmine sodorkan di depan mulut Bryan.


"Hak, yang lebar Bryan." Titah Jasmine lagi.


"Ia, ia." Bryan menurutinya.


"Terimakasih sudah merayakan ulangtahun ku, lalu mana hadiahnya?" Jasmine tersenyum, tangannya sudah menengadah.


"Haha, ulang tahunku kemarin kamu gak kasih hadiah sama sekali."


"Aku kan gak punya uang Bryan, lagian aku juga tidak tahu tanggal ulang tahunmu. Jadi aku gak salah." Jasmine berkelit tidak mau kalah.


"Kamu memang pintar dalam membual babe, hadiahnya dikamar, Ayo kita lihat."


Jasmine mengangguk, ia mengikuti langkah Bryan menuju kamar. Sesampainya di dalam kamar mata Jasmine terbelalak.


*


Jika suka cerita Jasmine dan Bryan, terus dukung ya. Jan bosen untuk like dan komen. 🙏

__ADS_1


Happy reading 🤗


__ADS_2