Kiss The Rain

Kiss The Rain
Have i told you Lately.


__ADS_3

Beberapa menit setelah kejadian yang mengganjal hati, Bryan muncul sambil menenteng makanannya. Ia masuk ke dalam mobil, bibirnya tersenyum saat mendapati Jasmine sudah terbangun.


"Sudah bangun, maaf lama." Jelas Bryan sambil mengulas senyumnya. "Mau makan disini atau dirumah?" Lanjut Bryan lagi.


"Terserah." Jasmine acuh, ia masih memikirkan visual yang ia lihat didalam restoran. Hingga mobilnya melaju pergi meninggalkan parkiran restoran, Jasmine masih membuang muka, Pikirkan berkelana sendiri.


Berkali-kali Bryan menanyakan hal, Jasmine hanya berdehem tanpa menoleh ke arah Bryan.


Setibanya di depan rumah, Bryan memakirkan mobilnya dengan asal. Jasmine keluar dari dalam mobil melangkahkan kakinya menuju arah lantai dua. Tubuhnya lelah, namun otak dan hatinya tidak sinkron. Langkahnya di ikuti Bryan yang berlari kecil dan merangkulkan tangannya di bahu Jasmine.


Jasmine dan Bryan tak menyadari jika sedari tadi ada seseorang yang mengikuti mereka. Mobil itu terus melaju kemana saja arah mobil Bryan berjalan. Hingga sampai di depan rumahnya, mereka masih tak menyadari sepasang sorot mata sedang mengawasi mereka.


"Jadi ini rumah kak Bryan." Shally tersenyum, rasa penasarannya bertahun-tahun terbayar sudah. "Wanita? Teman kak Bryan seorang wanita? Siapa dia, kenapa masuk ke rumah kak Bryan, apa-apaan coba kenapa kak Bryan merangkulnya." Shally memundurkan mobilnya dan berlalu meninggalkan rasa penasaranmya. "Kak Bryan punya pacar, terus aku gimana, papa harus tahu." Gumamnya sendiri.


"Marah?" Tanya Bryan yang heran melihat sikap Jasmine yang berubah.


"Aku lapar dan lelah Bry, mau mandi dulu terus makan." Jawab Jasmine meninggalkan Bryan di ambang pintu kamar.


"Mandilah, aku siapkan dulu makanannya." Bryan tersenyum, langkahnya menuju ke arah dapur. Menyiapkan makan malam mereka berdua. Setelah selesai kini Bryan yang bergantian membersihkan tubuhnya.


Satu setel baju tidur sudah Jasmine siapkan di atas ranjang. Ia hanya duduk di kursi sembari menyisir pelan rambutnya, memikirkan gadis seksi yang berada dibawah Bryan. Jasmine menoleh ketika pintu kamar mandi terbuka, menampakkan tubuh Bryan yang masih meneteskan air. Rambutnya yang basah terus ia keringkan dengan handuk kecil. Sama seperti Jasmine, laki-laki itu sering memakai pakaian di dalam kamar. Tak peduli, toh yang melihatnya hanya istrinya.


"Dia masih muda, wajar jika banyak wanita yang mengaguminya." Batin Jasmine menenangkan batinnya sendiri.


"Babe, ayo makan." Ajak Bryan setelah ia selesai memakai baju.


"Ya," Jasmine bangkit dari duduknya, mengikuti langkah Bryan di depannya.


"Makan yang banyak, biar bertenaga dan tak menjadi singa." Bryan terkekeh, tapi lagi-lagi hanya deheman yang ia dapati. Gelagat aneh timbul dari benak Bryan. "Makan dan bicarakan!" Hardik Bryan, Jasmine terlonjak kaget dengan geretakan Bryan yang tiba-tiba.


Tanpa pikir panjang, Jasmine menyuapkan makanannya berkali-kali. Sesekali matanya mengarah kepadanya. Bryan tampak tenang. Seakan-akan sudah tahu jalan pikiran Jasmine.

__ADS_1


Selesai menyantap makan malam, Bryan menunggu Jasmine yang sedang mencuci piring. Tak pindah dari tempat duduknya, ia sengaja memainkan ponsel pintarnya. Mencari akun Youtube milik istrinya. Berkali-kali juga ia menatap Jasmine yang masih membersihkan piring kotor. Berkali-kali juga tatapan marah itu berkobar.


Rentetan video kemesraan istrinya dengan Dika masih tersimpan rapi di beranda milik Jasmine, petikan gitar alunan lembut piano. senyum cerah mengembang, sentuhan-sentuhan lembut menyulut api yang semakin berkobar. Hingga video saat Jasmine menjadi Guest star diacara lomba skateboard beberapa tahun silam menjadi tontonan terakhir Bryan. Ia memutar video itu, mengeraskan suaranya.


Jasmine berbalik, merebut handphone Bryan dan mematikannya. "Jangan kau buka luka yang masih menganga Bryan." Sergah Jasmine.


"Lalu, kenapa tidak kau hapus semua video kemesraan mu dengan dia." Ucap Bryan penasaran.


"Biarkan itu menjadi kenangan keluarga kami." Jasmine menghindari tatapan marah Bryan, tatapan menghujam.


"Nyanyikan lagu untukku." Bryan menarik lengan Jasmine, menyeretnya pada piano hitam yang mewah, dingin dan mengkilat.


"Kenapa kau tak minta saja pada gadismu tadi."


"Gadisku?" Dahi Bryan mengerenyit heran.


"Bukannya di restoran tadi kalian bertemu, aku juga melihat kau berada diatasnya." Jelas Jasmine sembari mengibas-ibaskan tangannya, meronta-ronta meminta Bryan untuk melepasnya.


"Cemburu, hahaha." Tawa Jasmine berganti, "Untuk apa cemburu pada bocah ingusan!" Pekiknya.


"Jadi kau tidak cemburu, bahkan jika aku tadi menciumnya." Mata Bram menatap Jasmine dengan selidik.


"Oh, lakukanlah lakukanlah! Kau sama saja brengseknya dengan Dika. Arghhhh, Lepaskan tanganku. Lakukan jika kau ingin menyakitiku seperti Dika dulu, Lakukan!" Jasmine berteriak. Meracau, bibirnya tak henti-hentinya mengucap kata brengsek.


*


Saat dirinya terbangun, ia tak mendapati Bryan disisinya. Matanya menatap sebuah restoran, dengan senang hati Jasmine turun dan mencari keberadaan Bryan. Naas, nasib sial ia alami lagi.


Jasmine terpaku, mendapati Bryan berada di atas tubuh seorang gadis seksi, memakai rok jeans mini, baju sabrina yang menampakkan bahu putihnya. Gadis yang masih terlihat muda.


Nafas Jasmine beradu pikirannya mulai berlari-lari dengan liar. Ia mengurungkan niatnya untuk menemui Bryan, langkah kakinya mengajaknya untuk kembali ke dalam mobil. Membayangkan hal pahit lagi yang akan menimpa rumah tangganya. Membuat dadanya sesak tak karuan.

__ADS_1


**


"Hey, hey, tenanglah. Kumohon tenanglah, aku hanya bercanda babe." Bryan menarik paksa Jasmine dalam pelukannya. Jasmine semakin terisak, hidungnya kembang kempis seperti balon yang ditiup tapi kehabisan nafas.


"Bercandamu tidak lucu, aku tidak suka bercanda bawa-bawa perasaan. Aku tidak suka. Hiks..., Hiks."


"Aku tidak akan mencium wanita selain dirimu, Tenanglah."


"Tidak bisa." Sergah Jasmine.


"Bisa, aku hanya milikmu Jasmine. Sudah jangan menangis lagi. Dia hanya wanita yang dijadikan ayahnya untuk memperlancar bisnis di kartel keluarganya. Dia mendekatiku hanya untuk membujukku memberi harga murah untuk kartel keluarganya. Jangan berpikir lebih dari ini, percayalah." Bryan menjelaskan detail sesungguhnya.


Hingga isakan itu perlahan mulai memudar, "Bener, tidak bohong! Aku tidak segan-segan menghabisinya atau dirimu jika aku tahu kalau berbuat ulah dibelakangku."


"Tidak, semua yang ada padaku hanya milikmu." Bryan mengecupi kepala Jasmine, "Sudah jangan menangis lagi."


Jasmine mengangguk.


"Ayo nyanyikan lagu untukku." Bujuk Bryan lagi, ponsel pintarnya sudah berdiri tegak dengan layar kamera yang sudah menyala.


"Suaraku jelek kalau habis menangis." Ucap Jasmine, tapi tangannya sudah membuka tutup Tuts Hitam-Putih yang berjejer rapi. Bibirnya menyunggingkan senyuman, sudah lama sekali ia tak bermain piano.


Wajahnya menatap penuh dalam wajah Bryan, laki-laki itu mengangguk meyakinkan.


Alunan piano malam ini begitu mendayu-dayu, suaranya menjalar-jalar pada dinding. Membiarkan seorang Jasmine Adriana menyuarakan isi hatinya yang layu, hingga lantunan suara piano berhenti saat lirik lagu Have I Told You Lately - Rod Steward berakhir.


There's a love that's divine, And it's yours and it's mine, Like the sun....,


*


Jika suka dengan karyaku, terus dukung ya reader. Sudah pada pintar kan caranya, 😆

__ADS_1


Like, koment, dikritik juga boleh sukur-sukur dibaca. Udah author paling suka kalau yang baca banyak. 🥰🥰🥰


__ADS_2