Kiss The Rain

Kiss The Rain
Awal perkara II


__ADS_3

Lima belas menit Jasmine berdiri di samping meja makan, mengetuk-etuk nampan yang sudah berjajar rapi dua cangkir kopi hitam dan dua gelas susu coklat.


Sedangkan Bryan berada di ruang keluarga. Menyambut kedua tamu yang tak dia inginkan.


Ketiga manusia itu saling menatap, berdialog dengan pikirannya masing-masing. Hingga tatapan mereka tertuju pada Jasmine.


"Minumlah, maaf menunggu lama." Jasmine tersenyum, sembari tangannya menaruh minuman di depan masing-masing tamu dan tuan rumah itu sendiri.


"Shally, apa kabar?" Tanya Jasmine dengan ulasan senyum yang masih menghiasi wajahnya.


"Baik, aku sudah selesai kuliah diusia yang sama dengan Tante. Jadi aku kesini meminta papaku untuk membujuk Bryan untuk menikahiku."


Jasmine tersedak-sedak saat seruputan susu coklat baru saja melewati kerongkong tenggorokannya, "Menikah?"


Mata Jasmine menatap dalam mata Bryan, seuntaian kata tersirat didalamnya. Jika di terjemahkan Jasmine terang-terangan akan menolak ide gila ini.


"Iya Tante menikah dengan kak Bryan." Jelas Shally sekali lagi.


Kerongkong Jasmine rasanya tercekat, kepalanya mulai tertunduk lesu. Air wajahnya mulai masam. "Apa kabar diriku jika Bryan memilih gadis di depannya dan mendepakku dari rumahnya. Aku tak lebih dari seorang perempuan malang lagi." Batin Jasmine. Ia hanya menatap datar wajah Bryan, laki-laki itu hanya tersenyum. Tangannya mengusap pucuk kepala Jasmine.


"Aku sudah menikah Shally, ini istriku." Jelas Bryan tanpa menoleh ke arah Shally sedikitpun.


Shally terbelalak, begitu juga Fox Adois. Guratan kekecewaan terhias dari wajah Shally. Ia masih tak begitu percaya dengan penjelasan Bryan jika dia menikah.


"ARE YOU KIDDING ME BRYAN?" Nafas Shally naik turun. Nada suaranya sudah melekik tajam.


"Aku tak pernah bercanda Shally, wanita yang kau sebut Tante ini adalah istriku. Wanita yang sudah aku nikahi sembilan bulan lalu."


"Bohong, wanita ini hanya kakak jadikan budak sex. Untuk apa kakak menikahinya?"


"Karena aku mencintainya." Bryan menarik tangan Jasmine dan mendekapnya, mencium kening Jasmine tak peduli dengan tatapan ke dua orang yang muak dengan tontonannya.


Fox Adois mulai angkat bicara, "Kau benar-benar menarik genderang perang Bryan. Aku sudah tidak mau lagi bersekutu dengan kartel milikmu." Geram Fox dengan Bryan, ia menarik tangan putrinya. Shally yang masih tak percaya, meronta-ronta meminta penjelasan lagi pada Bryan.


"Aku sudah menunggu lama kak, kakak tega nyakitin aku."


"Aku juga sudah menunggu lama wanitaku Shally. Sudah 10 tahun aku menunggunya, jadi mau bagaimanapun kau membujukku untuk menikahi mu, aku tetap tidak bisa." Ucap Bryan. "Dan kau Fox Adois, kartel ku tak akan rugi jika kau tak membeli lagi barang di tempatku. Apa lagi kau membeli dengan harga murah, Cih! Kau pikir aku tidak rugi."

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Fox Adois menyeret putrinya yang masih meronta-ronta.


"Bry, kau benar-benar menarik genderang perang." Cebik Jasmine saat melihat kedua tamunya sudah pergi.


"Tidak perlu kau pikirkan Jasmine. Semua sudah selesai urusanku dengan kartel Fox Adois. Dia slalu licik dalam permainannya."


"Lalu bagaimana denganmu?" Jasmine menggengam tangan Bryan, kepalanya menggeleng, "Ini benar-benar akan menjadi perang antar kartel Bryan. Aku takut mereka menyentuh kita."


"Masak sana aku lapar, biar aku urus para penjaga. Kenapa mereka berdua bisa naik ke lantai dua." Tangan Bryan mengusap-usap perutnya, wajahnya tak menunjukkan gelagat takut dengan keputusan bulatnya.


"Bryan, Aku serius."


"Aku lebih serius jika aku lapar Jasmine."


Jasmine menggerutu kesal, "Aku masak dulu, jangan pernah keluar rumah tanpa bodyguard. Lakukan penjagaan juga untuk mama papa, kalau perlu bawa mereka kemari."


Belum juga langkah Jasmine pergi menuju dapur, Bryan menarik tangan Jasmine. "Apa lagi?" Tanya Jasmine.


"Kau khawatir denganku?"


Hembusan nafas panjang keluar dari hidung Jasmine. "Tidak akan ada perang kartel jika tidak ada aku."


"Jadi kau tidak takut kehilanganku?" Tanya Bryan, tangannya memegang dagu Jasmine, mengangkatnya untuk bisa menatap mata sendu itu.


"Aku tidak ada alasan kuat untuk menahan mu Bryan, tapi apa kau juga akan meninggalkanku?"


Bryan sungguh tergelak dengan jawaban Jasmine. "Bilang saja kau takut, kenapa kau slalu gengsi untuk bilang mencintaiku Jasmine."


"Maafkan aku." Jasmine tertunduk lagi, "Yasudah masak saja sana. Aku akan menunggumu sampai kau benar-benar berkata jujur. Jika kau sangat-sangat mencintaiku."


Jasmine tersenyum, memeluk erat tubuh Bryan. "Jangan pernah beranggapan jika aku tak mencintaimu Bryan, biarkan saja seperti ini."


Belum sempat Jasmine melihat senyuman Bryan, botak sudah berdiri tegak di depan Bryan. Kepalanya menggeleng-geleng.


"Tuan, banyak yang harus kita urus." Jelasnya.


"Sudah ya, aku tidak akan meninggalkan mu, Masak sana." Pinta Bryan lagi.

__ADS_1


"Janji?" Jari kelingking Jasmine sudah berdiri, Bryan menautnya. Bibir merah jambunya tersenyum, "Iya."


Jasmine dan Bryan berjalan menuju botak, "Jaga suamiku dengan baik Botak." Titah Jasmine, Botak yang mendengarnya mengerutkan dahinya. Sedangkan Bryan hanya mengisyaratkan untuk mengangguk.


Langkah Jasmine menuju Tria. Matanya mengisyaratkan agar bersiaga.


"Mari tuan, urgent."


"Kumpulan semua penjaga, hubungi Husein."


Botak mengangguk, menepuk bahu Tria. Tria tampak tersentak. Tepukan itu menunjukkan bahwa aku mengetahui gelagatmu dengan istri tuan kita.


"Apa tuan dan Nyonya sudah berniat mempunyai anak?" Tanya Botak basa-basi.


"Aku sudah 29 tahun 'Tak. Sudah pantaskah mempunyai bayi?" Bryan berbalik bertanya pada Botak, sembari mereka berdua menuruni anak tangga.


"Aku tidak sabar tuan memiliki bayi yang lucu." Botak menepuk bahu Bryan, senyumnya menandakan sesuatu yang tak baik-baik saja.


"Ada apa ini?"


Ruangan di lantai bawah sungguh porak poranda. Banyak sekali porselen Tiongkok milik Bryan yang pecah berserakan diatas lantai. Beberapa penjaga berwajah lebam.


"Penjaga Fox tadi membabi buta sebelum pergi." Jelas Botak, "Ada apa tuan, apa anda sudah mengatakannya?"


"He'emm, bersihkan ruangan ini. Botak, jemput mama dan papa." Titah Bryan, Botak mengangguk. Dengan langkah cepat ini menuju mobil Van hitam di garasi depan.


"Kumpulkan semua penjaga, temui aku jam 10 nanti di ruang biasa."


Langkah Bryan kembali menuju lantai atas, hingga sampai di anak tangga paling atas. "Tria, lakukan penjagaan ketat dilantai dua."


Tria yang sudah tahu pun hanya bisa mengangguk, dia sendiri juga gundah. Langkahnya kembali berjalan ke ruangan "Jangan masuk kecuali Bryan."


Jasmine yang sibuk memasak pun tak kalah gundahnya dengan situasi genting ini. Hingga pisau tajam menyentuh kulit Jasmine "Awww...," Tetesan darah segar menetes di bagian ujung jari telunjuk kiri Jasmine. Ia menyesapnya, namun pikirnya sudah berkelana sendiri.


Hanya Tria yang bisa ia mintai bantuan, tapi bahan masakannya melambai-lambai minta segera ia celupkan pada wajan yang sudah memanas.


Happy Reading 🤗

__ADS_1


*


Gak up dua hari aja, level udah turun. Ngenes banget dah 😞


__ADS_2